Imas Hatori

Imas Hatori
Tingkah Tony


__ADS_3

"Imas, tolong Ibu, belikan terasi 500 sama bawang merah 1000." Ibuku menyodorkan uang 5000 rupiah.


"Kurang, bu." Ucapku sambil mengasongkan tanganku kearah ibu.


"Ehh.. masih kecil mau belajar korupsi?" Ibuku menggetok kepalaku menggunakan centong sayurnya.


"Aduhh... Imas juga mau jajan atuh, Bu." Jawabku sambil meringis kesakitan dan memegang kepala.


"Nanti lagi, sekarang mah cepetan belikan Ibu terasi sama bawang merah." Ibuku kembali kedalam dapur meninggalkan aku yang masih menggaruk-garuk kepala.


Dengan kepala yang masih terasa sedikit sakit, aku bergegas pergi ke toko terdekat untuk membeli terasi dan bawang merah sesuai permintaan ibuku. Sambil berjalan, aku menghela napas dalam-dalam dan berusaha mengingat pesanan Ibuku tadi.


Tiba di toko, aku mencari rak tempat terasi biasanya diletakkan. Setelah sedikit mencari, akhirnya aku menemukan terasi yang aku butuhkan. Aku mengambil sebuah bungkus terasi dengan berat 500 gram dan memeriksa harganya. Senangnya, harganya sesuai dengan uang yang ibu berikan.


Selanjutnya, aku menuju bagian bawang merah. Aku memilih sepuluh bawang merah yang terlihat segar dan berkualitas baik. Aku memeriksa lagi beratnya dan ternyata mencapai 1000 gram. Sama seperti terasi, harganya juga cocok dengan jumlah uang yang ada di tanganku.


Aku membayar barang belanjaanku di kasir dan menerima kembali uang kembalian yang cukup.


"Bu Tati, gaya bener sekarang pake mesin kasir segala." Ujarku menggoda bu Tati.


"Hahaha.. mengikuti kemajuan jaman atuh, Imas." Jawabnya ramah sekali.


Dengan hati lega, aku kembali pulang dengan membawa terasi dan bawang merah yang dibeli. Namun, ditengah jalan aku dihadang oleh Tony si preman kampung. Dia mengitariku layaknya koboy sambil menggigit rumput di giginya.


"Imas, kapan atuh kamu mau jalan jalan sama Tony?" Tanya dia sambil terus memutar mengitari badanku.


"Kapan kapan kalau Imas gak lupa." Jawabku singkat dan sinis.


"Jangan jutek gitu atuh!" Tony bicara dengan nada sedikit memaksa.


"Ton, kamu tau ini apa?" Aku mengacungkan sebungkus bawang merah kearah mukanya.


"Tau, bawang merah." Tony menjawab dan sedikit kebingungan.


"Kalau aku kupas dan aku tempelkan dimukamu, gimana rasanya?" Aku mulai mengancam Tony saat itu.

__ADS_1


"Yaaa... pedih atuh, Imas." Jawabnya mengerutkan dahi dan menjauhkan kepalanya dari bawang merahku.


"Matakna, Awas! Jangan menghalangi jalan Imas!" Ujarku kesal, lalu aku berjalan sambil menubruk badan Tony yang tepat didepanku.


Dikejauhan Tony berteriak kesal, "Awas kamu, Imas. nyesel seumur hidup maneh, menolak Tony pemuda paling tampan dikampung ini." Ujarnya.


Sesampainya di rumah, aku menyerahkan terasi dan bawang merah kepada ibu. Ibu tersenyum melihat barang belanjaan yang aku bawa.


"Terima kasih, Imas. Baiklah, nanti ibu belikan kamu jajanan lain kali," kata ibu sambil mengambil terasi dan bawang merah dari tanganku.


Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada ibu. Meskipun ada sedikit kejadian lucu tadi, aku merasa senang bisa membantu ibu dan memenuhi permintaannya.


"Kamu kenapa, Imas. Kok kelihatan kesel?" Ibu bertanya setelah melihatku cemberut didepan TV.


"Si Tony, Ibu. Godain Imas terus." Jawabku dengan nada menggerutu.


Ibu mendengar keluhanku tentang Tony dan mengangguk dengan pengertian.


"Jangan terlalu dipikirkan, Imas. Kadang-kadang orang seperti Tony hanya mencari perhatian. Kamu hanya perlu tetap tenang dan menghindarinya dengan bijaksana," ujar ibu dengan penuh kesabaran.


"Terima kasih, Bu," jawabku sambil menghela napas lega. "Aku akan mencoba untuk menjejalkan belut dimulut Tony."


Ibu tertawa terbahak-bahak mendengarkan ucapanku. Kami berdua duduk di ruang keluarga, menikmati suasana yang tenang sambil menonton acara televisi kesukaan kami.


Tidak lama berselang, terdengar suara laki-laki memanggil namaku dibalik pintu.


"Imas, Imas, Assalamualaikum... Imas."


Saat aku membuka pintu rumah, kulihat Tony berlutut didepan pintu dengan kedua tangan dijulurkan kedepan memegang seikat bunga kamboja.


"Kamu sehat, Tony? Kamu pikir Imas teh sudah mati?" Ujarku sedikit membentak.


"Lahh.. emangnya kenapa, Imas?" Tanya tony kebingungan.


"Kamboja, bunga kuburan!" Ucapku makin keras.

__ADS_1


"Aduhh.. maaf, Tony gak tau. Tony cuma membawa bunga yang Tony lihat aja.


Melihat Tony yang tampak bingung dan kebingungan, aku memutuskan untuk mengendurkan sedikit ketegangan dalam suara.


"Maaf, Tony. Aku terkejut melihat kamu membawa bunga kamboja. Biasanya, bunga itu sering digunakan untuk menghias kuburan," jelasku.


Tony mengangguk paham sambil menatap bunga kamboja yang masih ia pegang erat-erat. Wajahnya terlihat memelas, seolah meminta pengertian.


"Aku sebenarnya tidak bermaksud menyinggung perasaanmu, Tony. Hanya saja, bunga kamboja biasanya dihubungkan dengan kematian. Mungkin lain kali, kamu bisa memilih bunga lain yang lebih menyenangkan," lanjutku dengan.


Tony tampak memahami penjelasanku. Ia menatap bunga kamboja di tangannya sejenak, kemudian perlahan meletakkannya di depan pintu rumahku.


Tiba-tiba, ibuku muncul dari belakang, melihat kami berdua dengan raut keheranan. "Ada apa dengan bunga kamboja di depan pintu?"


Kami berdua menjelaskan kepada ibu tentang kejadian tadi, dan ibu hanya bisa tertawa melihat situasi yang lucu ini.


"Baiklah, Tony. Kami mengerti niat baikmu. Aku akan menyimpan bunga ini di dalam rumah dan menghargainya," ujar ibu sambil mengambil bunga kamboja dan membawanya ke dalam rumah.


Tony lantas pergi dengan senyuman jeleknya. Dia melambaikan tangannya lalu memberikan kiss bye kepadaku. Aku yang melihat itu menjadi jijik dan membalasnya dengan gestur muntah. "Weeeekkkk."


Setelah Tony pergi dengan senyumnya yang kurang sedap, aku tidak bisa menahan tawaku. Rasanya lucu melihat tingkah lakunya yang cenderung norak. Meskipun awalnya aku merasa jijik dengan gestur yang dia tunjukkan, tapi sekarang aku hanya bisa menganggapnya sebagai tingkah laku khas Tony.


Aku kembali masuk ke dalam rumah sambil terus tersenyum sendiri. Ibu yang melihat kejadian itu dari jendela, menatapku dengan ekspresi penasaran.


"Ada apa, Imas? Kenapa kamu terlihat senang sekali?" tanya ibu sambil berjalan mendekatiku.


Aku menjelaskan dengan riang cerita tentang apa yang baru saja terjadi dengan Tony di luar rumah. Ibu terkekeh mendengarnya dan menggeleng-gelengkan kepala.


"Tony memang memiliki kepribadian yang unik, Imas. Tetapi, di balik sikapnya yang norak itu, mungkin dia hanya ingin kamu merasa nyaman dengan kehadirannya," ujar ibu dengan bijak.


Aku mengangguk setuju, memahami apa yang ibu katakan. Mungkin caranya yang kaku dan cenderung aneh adalah upaya Tony untuk membuatku tersenyum atau menghiburku.


"Aku akan mencoba lebih terbuka, Bu, dan tidak terlalu cepat menilai seseorang dari penampilannya," jawabku sambil menyadari bahwa Tony juga mungkin hanya ingin menjadi teman yang baik.


Ibu tersenyum bangga. "Itu sikap yang baik, Imas. Setiap orang memiliki keunikan dan kelebihan masing-masing. Penting bagi kita untuk memahami dan menerima perbedaan."

__ADS_1


"Tapi, Imas sudah berharap bahwa yang datang itu Usep bukan Tony." Jawabku singkat.


__ADS_2