Imas Hatori

Imas Hatori
Teman Baru


__ADS_3

Aku berjalan disepanjang taman kota sambil menikmati cuaca yang sangat indah pagi itu. Ya, hari minggu ini aku mencoba melakukan kegiatan lain dan mencoba untuk lebih memanjakan diri sejenak untuk melepas penat dari kesibukanku sehari-hari.


Saat aku melangkah lebih jauh ke dalam taman kota, pandanganku tertuju pada seorang gadis yang sedang duduk di bangku taman dengan buku di tangannya. Wajahnya terlihat tenang dan fokus pada apa yang dia baca. Aku merasa tertarik dan memutuskan untuk mendekatinya.


"Boleh aku bergabung?" tanyaku dengan senyum ramah.


Gadis itu mengangkat kepalanya dan tersenyum sambil mengangguk. "Tentu saja, silakan duduk. Cuaca sangat indah hari ini, bukan?"


Aku duduk di sampingnya dan kami mulai berbicara tentang buku yang sedang dia baca. Kami berbagi minat yang sama terhadap fauna dan menemukan bahwa kami memiliki banyak kesamaan dalam preferensi bacaan kami. Percakapan kami berlanjut dengan begitu alami, seolah kami sudah saling mengenal sejak lama.


Gadis itu memperkenalkan dirinya sebagai Santi, seorang penulis muda yang sedang mencoba mewujudkan mimpinya. Dia bercerita tentang kecintaannya pada kata-kata dan keinginannya untuk berbagi cerita melalui tulisan-tulisannya. Aku terpesona oleh semangat dan dedikasinya.


Seiring berjalannya waktu, kami semakin mengenal satu sama lain. Kami berjalan-jalan, dan menghabiskan waktu bersama. Aku belajar banyak dari Santi tentang kreativitas, ketekunan, dan semangat untuk mengikuti impian.


Hari-hari itu diisi dengan kegembiraan dan petualangan. Kami menjelajahi tempat-tempat baru, mencicipi makanan lezat, dan menikmati momen sederhana bersama. Saat dengan Santi terasa begitu menyenangkan dan menyegarkan. Dia membuatku melupakan kepenatan dan stres sejenak, memberiku waktu untuk merasakan kebahagiaan murni.


"Imas, dari tadi aku terus yang bercerita, sekarang giliranmu. Ceritakan apa saja kegiatanmu." Ujar Santi sambil menikmati cemilan yang baru saja kami beli.


"Baiklah, aku seorang siswi dari salah satu SMA di desa dekat sini, namanya SMA Spotaker. Aku hobi mencari belut dan sekarang sedang mencoba mengembangkan bisnis dalam bidang penjualan belut online." Ujarku menjelaskan secara detail mengenai kegiatanku sehari-hari.


Santi mendengarkan dengan antusias saat aku menceritakan tentang kegiatan sehari-hariku. Dia terlihat tertarik dan bertanya lebih banyak tentang bisnis penjualan belut online yang sedang aku kembangkan.


"Aku sangat terkesan dengan inisiatifmu, Imas. Bagaimana kamu mulai tertarik pada belut dan apa yang membuatmu memutuskan untuk memulai bisnis ini?" tanya Santi dengan penuh minat.

__ADS_1


Aku tersenyum dan menjawab, "Awalnya, ketertarikanku pada belut dimulai saat aku mengikuti kegiatan di sekolah yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Aku belajar tentang pentingnya menjaga ekosistem dan konservasi satwa. Saat itu, aku menemukan betapa pentingnya peran belut dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan juga sebagai sumber daya ekonomi. Dan, percaya tidak percaya, aku menikmati sensasi saat berburu belut."


"Ibuku menyuruhku untuk menjadikan hobiku menjadi sebuah penghasilan, lalu aku mulai mempelajari lebih dalam tentang belut, mengunjungi peternakan belut, dan belajar dari para ahli di bidangnya. Aku menyadari bahwa ada permintaan yang cukup besar untuk belut segar, terutama di kalangan restoran dan pasar makanan laut lokal. Itulah saat aku memutuskan untuk memulai bisnis penjualan belut secara online," lanjutku.


Santi terlihat terkesan dengan dedikasiku dan menyatakan dukungannya. Dia memberiku dorongan untuk terus mengembangkan bisnisku dan berbagi cerita suksesku dengan orang lain melalui tulisan-tulisanku.


"Imas, aku benar-benar mengagumi semangatmu dan keberanianmu untuk mengejar impianmu. Aku yakin kamu akan berhasil dalam bisnis ini dan juga dalam menulis cerita-ceritamu. Ayo, teruslah berkarya dan jangan pernah menyerah," ucap Santi dengan penuh semangat.


"Ahh.. aku tidak tertarik dalam dunia menulis, aku hanya melakukan yang aku rasa menarik untuk diriku sendiri." Ujarku kepada Santi.


Santi melihatku dengan penuh keheranan. "Tapi, Imas, setiap orang memiliki kisah yang unik dan menarik untuk diceritakan. Mungkin kamu belum menemukan cara yang tepat untuk menyampaikannya, tapi aku yakin ada sesuatu di dalam dirimu yang bisa diinspirasikan oleh orang lain. Jangan pernah meremehkan potensimu."


Aku merenung sejenak atas kata-kata Santi. Mungkin dia benar. Mungkin ada sesuatu yang bisa aku bagikan kepada orang lain, meskipun tidak melalui tulisan seperti yang dilakukan Santi. Mungkin aku bisa menginspirasi orang lain dengan kesukaanku terhadap belut atau dengan cerita-cerita petualanganku mencari belut di sekitar desa.


"Aku akan memikirkannya, Santi," ujarku sambil tersenyum. "Siapa tahu, mungkin aku bisa menemukan cara baru untuk berbagi kegiatan dan hobi-hobiku kepada orang lain."


Saat perbincangan semakin menarik, handphoneku tiba-tiba berdering. "Ohh.. maaf, pacarku menelepon." Aku menjauh dari Santi untuk menjawab telepon dari Usep.


"Aku ditaman Kota, Usep. Kamu kesini aja kalau mau ketemu." Ujarku penuh antusias.


Setelah berbicara sebentar dengan Usep, aku kembali ke Santi dengan senyuman. "Maaf, itu pacarku, Usep. Dia ingin bergabung dengan kita di taman kota. Aku berharap kamu tidak keberatan."


Santi tersenyum ramah. "Tentu saja tidak, Imas. Aku senang bisa bertemu dengan Usep dan mengenal lebih banyak teman baru."

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Usep tiba di taman kota. Aku memperkenalkan Usep kepada Santi, dan mereka dengan cepat terlibat dalam percakapan yang menyenangkan. Santi mengajak mereka berdua untuk berjalan-jalan dan mengeksplorasi taman kota.


Kami berkeliling, tertawa, dan berbagi cerita satu sama lain. Percakapan kami menjadi semakin hidup dengan kehadiran Usep. Kami menikmati momen-momen bersama, memotret pemandangan yang indah, dan menikmati kebersamaan dalam cuaca yang masih indah.


Waktu berlalu begitu cepat, dan tiba saatnya untuk berpisah. Meskipun kami baru bertemu, tetapi kami merasa telah menghabiskan waktu yang berharga bersama. Kami bertukar nomor telepon dan berjanji untuk bertemu lagi di lain kesempatan.


Diperjalanan pulang, Usep berbisik sambil menebar senyuman manisnya kepadaku. "Imas, aku menemukan bandar ternak belut yang bisa memasok usaha kita." Ujarnya begitu bersemangat membagikan kabar bahagia itu.


Mendengar kabar bahagia dari Usep tentang penemuan bandar ternak belut yang dapat memasok usaha kami, aku merasa sangat antusias. Senyuman tak bisa lepas dari wajahku karena aku menyadari bahwa ini adalah peluang besar bagi bisnis penjualan belut online kami.


"Apa kamu serius, Usep? Itu kabar yang luar biasa!" ujarku dengan penuh kegembiraan.


Usep mengangguk sambil tertawa. "Ya, Imas, aku serius. Aku telah melakukan riset dan menemukan produsen belut yang terpercaya dengan kualitas yang baik. Mereka dapat memasok belut segar dengan kuantitas yang memadai untuk memenuhi permintaan pelanggan kita."


Kami berdiskusi lebih lanjut tentang kemungkinan kerjasama dengan bandar ternak belut tersebut. Kami membahas hal-hal seperti harga, kualitas, jangkauan pengiriman, dan persyaratan lain yang perlu dipertimbangkan.


"Apa kamu berpikir bahwa ini akan menjadi langkah yang tepat untuk bisnis kita, Imas?" tanya Usep dengan serius.


Aku merenung sejenak sebelum menjawab. "Secara jujur, Usep, aku sangat bersemangat dengan peluang ini. Jika bandar ternak belut tersebut dapat memenuhi persyaratan dan memberikan pasokan yang andal, itu akan membantu kami mengembangkan bisnis penjualan belut secara signifikan. Kita harus melakukan evaluasi lebih lanjut dan membuat keputusan yang tepat, tetapi aku merasa optimis tentang potensi kerjasama ini."


Usep tersenyum puas mendengar jawabanku. "Aku juga merasa seperti itu, Imas. Kita telah melakukan langkah yang baik dalam mengembangkan bisnis ini."


Kami berbicara tentang rencana-rencana selanjutnya untuk bisnis kami dan berbagi ide-ide baru. Semangat dan semangat kami semakin berkobar, karena kami melihat masa depan yang cerah untuk usaha penjualan belut online kami.

__ADS_1


Saat akhirnya sampai di rumah, aku berterima kasih kepada Usep karena telah memberikan kabar baik tersebut. Kami berjanji untuk terus bekerja sama, melakukan riset lebih lanjut, dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk mengembangkan bisnis kami.


Kami tidak menyadari, bahwa obrolan dan kegiatan kami sudah diawasi oleh Tony yang masih menyimpan dendam kepada Usep.


__ADS_2