
"Usep, temenin aku kebelakang sekolah!" Ujarku sedikit tergesa-gesa.
"Mau kemana, Imas? tumben ngajak kebelakang sekolah." Usep menjawab dengan alis dikerutkan pertanda dia kebingungan.
"Kita ke sawah belakang sekolah, Usep. Kita nangkep belut." Ujarku dengan sedikit memaksa.
"Laahh, ini jam belajar. Kamu mau mangkir?" Usep ketakutan dengan ideku ini.
"Gak lah, ini kan jam istirahat. Lagian nyari belut cuma sebentar. Udah gak usah banyak nanya, cepetan temenin." Ujarku sambil menarik tangan Usep.
Kami pun bergegas menuju sawah yang berada tepat dibelakang sekolah kami. Kami berdua mencari tanda-tanda keberadaan belut.
Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang mengarah ke sawah belakang sekolah. Udara terasa segar dan cahaya matahari memancar dengan indah di antara rerimbunan pepohonan. Sepanjang perjalanan, aku memberikan penjelasan kepada Usep tentang cara menangkap belut.
"Ayo, Usep! Pertama, kita harus mencari tanda-tanda belut seperti lubang-lubang kecil di tanah atau jejak-jejak lumpur segar," ujarku sembari berjalan perlahan.
Kami mengamati tanah dengan saksama, mencari tanda-tanda kehadiran belut. Beberapa saat kemudian, kami menemukan beberapa lubang kecil di sekitar sawah. Itu menjadi petunjuk bahwa belut mungkin berada di dekat sana.
"Aku rasa kita sudah dekat, Usep. Sekarang, kita butuh peralatan untuk menangkap belut," kataku sambil mengeluarkan jaring kecil dan ember dari tas ranselku.
Usep melihat dengan heran. "Serius, Imas? Kamu membawa peralatan seperti itu?"
Aku tersenyum dan menjawab, "Tentu saja! Aku memang sudah merencanakan ini dari rumah. Sekarang, ikut aku."
Kami memasuki area yang terlihat paling menjanjikan. Aku menunjukkan ke Usep bagaimana cara mengayunkan jaring dengan cepat dan tepat ketika melihat gerakan belut di tanah atau air. Kami berjalan perlahan sambil mengamati tanah dengan saksama.
Tiba-tiba, aku melihat getaran kecil di dekat sebuah lubang. "Usep, ada belut di sini! Bersiap-siaplah," bisikku sambil menunjuk ke arah lubang.
Dengan hati-hati, aku mendekati lubang tersebut dan memperhatikan gerakan belut yang bersembunyi di dalamnya. Begitu aku yakin bahwa belut itu berada dalam jangkauan, aku segera melemparkan jaring dengan cepat dan presisi yang aku pelajari dari pengalaman sebelumnya.
Tangkapannya berhasil! Aku mengangkat jaring dengan hati-hati, dan benar saja, ada seekor belut yang terperangkap di dalamnya. Usep melihat dengan kagum.
__ADS_1
"Wow, Imas! Kamu benar-benar tahu cara menangkap belut," katanya sambil tertawa.
Kami melanjutkan pencarian kami dengan semangat yang membara. Menggunakan teknik yang sama, kami berhasil menangkap beberapa belut lagi. Setiap tangkapan membuat kami semakin bersemangat dan gembira.
Setelah beberapa saat, kami memutuskan untuk mengakhiri petualangan kami dan kembali ke sekolah. Usep menatapku dengan rasa kagum dan terima kasih.
"Terima kasih, Imas, sudah mengajakku. Ini petualangan yang seru dan aku belajar banyak," ucapnya dengan penuh rasa terima kasih.
Aku tersenyum puas. "sebenarnya ini bukan dalam rangka untuk mengajarimu cara menangkap belut, Usep." Ujarku perlahan.
"Laahhh.... trua buat apa, Imas?" Usep menatapku dengan sangat serius.
"Aku mau bikin perhitungan dengan Tony. Dia sudah menunggu kita di kios depan sekolah, dan nampaknya niat dia tidak baik." Jawabku menjelaskan secara detail kepada Usep.
Usep menatapku dengan ekspresi campur aduk. "Serius, Imas? Apa yang terjadi dengan Tony?"
"Aku curiga Tony memiliki niat yang buruk, Usep. Dia tampak cemburu dan kesal karena kamu selalu jalan sama aku" jelasku dengan serius.
Usep menelan ludah dan tampak khawatir. "Tapi aku kan tidak ada hubungannya dengan itu, Imas. Tapi kalau Tony bersikukuh mau duel, Aku ladeni."
Kami berjalan dengan cepat menuju kios depan sekolah, di mana Tony sedang menunggu. Ketika kami mendekat, aku melihat ekspresi wajahnya yang muram dan tatapan tajam yang ditujukan kepada Usep. Aku merasa semakin yakin dengan kecurigaanku.
"Imas, Usep, kenapa kalian berdua terlalu akrab?" tanya Tony dengan nada sinis.
"Apa maksudmu, Tony? bukan urusanmu," jawabku dengan tenang, mencoba menenangkan situasi.
Tony menghela nafas panjang dan melirik tajam ke arah Usep. "Jangan berpikir aku bodoh, Imas. Aku tahu Usep menyukaimu dan dia mencoba mendekatimu."
Usep mencoba menahan emosi mendengar ucapan Tony. "Kamu cemburu, Tony? kalau memang aku sudah pacaran sama Imas, kamu mau apa?"
Tony melangkah mendekati Usep dengan tatapan marah. "Kau berani padaku? Kamu mau mengambil Imas dariku? Kau akan menyesal!"
__ADS_1
Aku segera berdiri di antara mereka berdua, mencoba menghentikan pertikaian yang semakin memanas. "Cukup, Tony! Usep memang pacarku, jadi aku mohon berhenti berharap dariku."
Tapi Tony sudah terlalu emosi. Dia dengan cepat melancarkan pukulan ke arah Usep, berusaha melukainya. Usep menghindar dengan gesit, tetapi situasi semakin tidak terkendali. Teman-teman Tony yang segambreng itu ikut melancarkan serangan kepada Usep.
Pemandangan luar biasa baru aku saksikan didepan mata dan kepalaku sendiri. Usep ternyata terlalu tangguh untuk Tony dan teman-temannya. walaupun jumlah Tony CS lebih dari 10, tapi Usep dengan sangat mudah membuat mereka tumbang.
Aku lalu memasukan semua belut hasil tangkapan tadi kedalam bajunya Tony. Tony yang memang paling takut sama belut berteriak dan melompat-lompat kepanikan.
Dalam kepanikan Tony, aku tidak bisa menahan tawa melihat adegannya yang lucu. Usep dan aku saling pandang, mencoba menahan gelak tawa yang menggebu-gebu.
"Sudahlah, Tony! Sekarang kamu tahu rasanya ketakutan," kataku sambil tertawa.
Tony mencoba melepaskan belut-belut yang menempel di bajunya dengan panik. Teman-temannya yang lain juga merasa jijik dan berusaha membantu Tony mengusir belut-belut tersebut.
Sementara itu, Usep dan aku saling memberikan kode untuk mengakhiri pertikaian ini dengan baik-baik. Kami berdua menghampiri Tony yang sedang berjuang melawan serangan belut-belut.
"Tony, sudah cukup. Kita tidak perlu bertengkar hanya karena hal ini. Mari kita selesaikan dengan damai," kata Usep dengan suara yang tenang.
Tony, yang masih dalam kepanikan, akhirnya mengangguk setuju. Ia menyadari bahwa pertarungan tidak akan membawa kebaikan bagi siapa pun. Kami membantu Tony membersihkan bajunya dari belut-belut yang menempel, sambil tetap menghindari serangan mereka.
Akhirnya, suasana kembali tenang. Tony dan teman-temannya pergi dengan malu-malu, sambil meninggalkan kami berdua di kios depan sekolah.
"Aduh, Imas. Ini petualangan belut yang paling aneh yang pernah aku alami," ujar Usep sambil masih terkekeh.
"Aku juga merasa begitu, Usep. Tapi setidaknya pertikaian telah usai tanpa ada yang terluka," jawabku sambil menyeka air mata karena tertawa terlalu keras.
Aku terdiam, lalu aku teringat tentang begitu hebatnya Usep dalam hal bertarung. "Gak nyangka aku, Usep. Kamu keren banget pas berkelahi tadi. Mirip petarung MMA and pokoknya Imas kagum liat kamu tadi."
Usep tersenyum malu-malu mendengar pujianku. "Ah, Imas, bukan hal yang keren sih. Hanya sekadar bertahan saja. Tapi aku senang kamu terkesan."
"Aku serius, Usep. Kamu luar biasa! Tadi kamu berhasil menghadapi Tony dan teman-temannya dengan begitu lihai. Aku benar-benar takjub," ujarku dengan penuh kekaguman.
__ADS_1
Usep menggaruk-garuk kepalanya sambil tersenyum. "Terima kasih, Imas. Aku hanya belajar sedikit dari olahraga beladiri. Tapi tetap, aku tidak suka berkelahi atau mencari masalah. Lebih baik menjaga kedamaian dan menghindari pertikaian."
Aku mengangguk setuju. "Kamu benar, Usep. Menghindari pertikaian adalah pilihan yang bijak. Aku senang bahwa semuanya berakhir dengan baik dan kita bisa kembali berteman dengan Tony seperti sebelumnya."