
Bel sekolah berbunyi, tanda masuk kelas dan dimulainya kegiatan belajar mengajar. Aku, karena aku murid terpelajar dan cerdas makanya aku duduk dikursi paling depan. Tak lama berselang, Bu Imas guru Kimia pun masuk dan memberi Salam.
Bu Imas meminta kami mengumpulkan PR yang ia berikan minggu kemarin. Aku sedikit lupa-lupa ingat, apa aku sudah mengerjakan PR nya atau belum. Segera aku cari buku kimiaku, aku cek dan Alhamdulillah semuanya beres. Aku segera mengumpulkan tugasnya dan karena aku kebelet pipis aku meminta ijin untuk pergi ke toilet.
"Bu, Imas ijin ke toilet sebentar ya?" Aku bertanya dan meminta ijin dengan senyuman manisku.
"Lah, kamu kok berani-beraninya menyuruh Ibu pergi ke toilet?" Jawab bu Imas dengan mata melotot dan tajam melihat aku.
"Ya Allah, maaf bu, bukan menyuruh Ibu, tapi aku minta ijin untuk ke toilet sebentar." Jawabku sambil menahan rasa kebeletku.
"Ya ngomong dong kalau mau ke toilet, bukan malah nyuruh ibu yang ke toilet." Jawaban bu Imas bikin aku bingung. "Maksudnya gimana bu? kan tadi Imas udah bilang, Imas ijin ke toilet sebentar." Aku jelaskan sekali lagi.
"Ahh.. maaf, Ibu baru sadar kalau nama kita sama. Ya sudah sana, jangan sampai kamu ngompol dikelas." Bu Imas bicara dengan tertawa puas.
Aku bergegas berlari menyusuri koridor sekolah menuju toilet dengan perasaan bete akibat perkataan bu Imas tadi. Saat aku buru-buru berlari menuju toilet, tanpa sengaja aku menabrak seorang laki-laki yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
Aku terjatuh dan laki-laki itu bengong melihatku dan tersenyum. "Aduuhh, maaf ya." Dia menyodorkan tangannya bermaksud membantuku untuk berdiri.
"Liat-liat dong kalo jalan!" Aku marah dengan mulut manyun dan tanganku membersikan pakaianku. Aku bangkit dan kulihat wajahnya, "MashaAllah, baru kali ini aku melihat cowok tampan sekali didepanku."
"Aku, Usep, anak baru disekolah ini. Maafkan aku ya." Dia berbicara lembut dengan senyuman manisnya.
Aku salting saat itu, dan mungkin wajahku memerah andai saja ada yang melihatku saat itu. Tapi rasa kebeletku sudah mengalahkan rasa kagumku kepada Usep, aku secepat roket berlari ke toilet, aku lupa memperkenalkan diriku sama Usep.
__ADS_1
"Hey, kamu belum kasih tau siapa nama kamu!" Usep berteriak melihat aku pergi begitu saja. Aku bukannya tidak mau kenalan, tapi jujur saja aku takut ngompol di koridor sekolah.
Didalam toilet aku berpikir lagi, "Eh.. cowok tadi ganteng banget ya Allah, Istirahat mau cari tau aahhh.." seruku dalam hati.
Setelah menuntaskan hajatku, aku bergegas kembali ke kelasku, dan aku ceritakan kejadian kepada Ujang. Aku tidak menyangka reaksi Ujang akan seperti ini, dia terlihat kecewa, marah dan mulai cuek kepadaku.
"Ujang, ai kamu kenapa jadi cuek gitu? Kunaon?" tanyaku dengan wajah penuh kebingungan.
Ujang menggelengkan kepalanya dan menjawab dengan nada dingin, "Kamu tuh selalu saja fokus pada penampilan orang dan langsung jatuh cinta. Tapi kamu lupa bahwa kamu punya teman yang selama ini selalu setia menanti kamu."
Aku terkejut mendengar kata-kata Ujang. Aku menyadari bahwa selama ini aku memang terlalu terpaku pada penampilan dan kejadian-kejadian romantis di sekitarku, sehingga mengabaikan perasaan Ujang.
"Ujang, maafkan aku. Aku memang terlalu terdistraksi dengan hal-hal yang tidak penting. Kamu selalu ada untukku, tapi hanya sebagai teman," kataku dengan tulus.
"Aku tau, Imas. Aku tau kamu tidak suka sama aku, tapi hargai perasaan aku dong." Ujang beranjak pergi dari kursi.
"Jang, Ujaaang!" Aku memanggil Ujang setengah berteriak. Namun, Ujang tetap pergi tanpa menoleh kebelakang.
Aku merasa hancur dan menyesal menyadari bahwa sikapku telah menyakiti temanku. Aku berdiri dari kursi dan berlari mengejar Ujang.
"Ujang, tunggu sebentar!" seruku sambil mencoba mengejar Ujang yang langkahnya begitu cepat. "Aku minta maaf, aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu. Aku menghargai kamu sebagai temanku, dan itu sangat berarti bagiku. Aku menyesal atas sikapku yang egois."
Ujang berhenti sejenak dan berbalik menghadapiku. Ekspresinya masih penuh kekecewaan, tetapi aku bisa melihat ada keraguan di matanya. "Aku capek, Imas. Capek menjadi teman yang selalu berada di sampingmu. Aku juga ingin dihargai dan dicintai."
__ADS_1
Aku duduk lesu dan gak bisa berkomentar. Aku hanya menganggap Ujang sebagai teman sejatiku saja. "Aku minta maaf, Ujang," ujarku dengan suara terdengar lemah. "Aku menyadari bahwa aku terlalu banyak mengandalkanmu tanpa memberikan yang sama kepadamu. Aku bersalah karena tidak pernah menghargai perasaanmu sepenuhnya. Aku mengerti bahwa kamu juga butuh dihargai dan dicintai sebagai seorang teman."
Kutatap matanya dengan tulus, berharap dia bisa melihat rasa penyesalanku yang mendalam. "Aku menyesal telah membuatmu merasa tidak dihargai. Aku ingin memperbaiki hubungan kita dan memberikanmu perhatian yang pantas kamu dapatkan. Kamu adalah teman yang berarti bagiku, dan aku ingin memperbaiki kesalahan yang sudah terjadi."
Aku memberikan senyuman kecil, berharap bisa memperbaiki keretakan dalam persahabatan kami. "Apakah ada yang bisa aku lakukan untuk memperbaiki hubungan kita? Aku ingin membuktikan bahwa aku menghargai kamu dan peduli dengan perasaanmu."
"Aku ingin dicintai sebagai kekasihmu, Imas. Sudah lama aku suka sama kamu, tapi kamu tidak pernah menanggapinya, kamu selalu menganggap aku hanya bercanda, menganggap semua hanya lelucon." Tidak biasanya Ujang bicara dengan mata berkaca-kaca.
"Tapi, maaf Ujang, aku tidak ada perasaan kepadamu selain hanya sebagai seorang teman." Aku mencoba memberitahu Ujang namun dengan tidak menyinggung perasaannya.
"Ujang, memang kadang-kadang ada situasi di mana seseorang mengembangkan perasaan lebih dari sekadar persahabatan. Namun, takdir terkadang tidak selalu sejalan dengan harapan kita. Aku mengerti bahwa perasaanmu terhadapku adalah perasaan yang kuat, tetapi aku berharap kamu juga bisa memahami bahwa perasaanku tidak sama seperti yang kamu harapkan.
"Aku sangat menghargai persahabatan kita, dan aku tidak ingin kehilanganmu sebagai teman. Aku mengerti bahwa ini mungkin akan mengecewakan bagimu, tetapi aku berharap kita bisa menjaga hubungan persahabatan kita tanpa menimbulkan ketidaknyamanan di antara kita."
"Apakah kamu bersedia melanjutkan persahabatan kita seperti sebelumnya? Aku berharap kita bisa tetap saling mendukung, saling menghargai, dan saling mengerti satu sama lain. Jika ada hal-hal yang membuatmu merasa tidak nyaman atau terbebani, aku ingin kamu tahu bahwa aku selalu siap mendengarkan dan bekerja bersama untuk menyelesaikannya." Aku berusaha berbicara sedetail mungkin agar Ujang tidak sakit hati.
Ujang mendengarkan kata-kataku dengan hati-hati. Wajahnya terlihat sedikit terkejut dan terguncang oleh apa yang kudiskusikan. Setelah beberapa saat yang terasa seperti keabadian, dia akhirnya menjawab dengan hati-hati, "Aku menghargai kejujuranmu, teman. Terima kasih sudah menjadi teman terbaik selama ini." Ujang kemudian pergi dan berniat untuk tidak bicara lagi denganku.
Aku merasa hancur melihat Ujang pergi dengan begitu saja. Air mataku mengalir deras, dan hatiku penuh dengan penyesalan dan kesedihan. Aku berharap segalanya bisa berjalan dengan baik, tetapi takdir memutuskan jalannya dengan cara yang berbeda.
Beberapa hari berlalu, dan aku merasa kehilangan tanpa Ujang di sekitarku. Aku merindukan percakapan kami, tawanya yang menggema, dan kehadirannya yang selalu membuatku merasa nyaman. Aku menyadari bahwa kehilangan Ujang sebagai teman adalah sesuatu yang sangat berat bagiku.
Tanpa ragu, aku memutuskan untuk menghubungi Ujang dan meminta kesempatan untuk berbicara dengan jujur. Aku ingin menjelaskan perasaanku, meminta maaf atas apa yang terjadi, dan berharap bisa memulihkan hubungan persahabatan kami.
__ADS_1
Aku mengirim pesan lewat Surat untuk Ujang yang kutitip kepada ibunya."Ujang, aku tahu bahwa aku mungkin telah menyakiti perasaanmu dan aku sangat menyesal. Aku tidak ingin kehilanganmu sebagai teman, dan aku ingin kita bisa bicara secara terbuka untuk memperbaiki hubungan kita. Apakah kamu bersedia bertemu dan mendengarkan apa yang ingin aku sampaikan?"