
Dengan perasaan bingung dan penuh keraguan, aku menatap ibuku yang membawakan makanan kepadaku. Rasanya aneh melihatnya dengan perasaan asing, namun ada getaran yang lembut dan akrab dalam tatapannya yang membuatku merasa tenang.
"Imas sayang, makan dulu ya," kata ibuku dengan senyum hangat. Dia duduk di samping tempat tidurku dan menempatkan mangkuk bubur di pangkuannya.
Aku memperhatikan bubur yang ada di hadapanku, mencoba mengingat saat-saat menyantap makanan seperti ini. Namun, semuanya hanya berupa bayangan yang tidak dapat kuhubungkan dengan kehidupanku saat ini.
"Dengan penuh kelembutan, ibuku berkata, "Ya, Imas, aku adalah ibumu. Dan ini adalah rumah kita."
Aku memandang sekeliling kamar rumah tempatku berada. Sudah mulai ada sedikit kejelasan tentang keadaan sekitarku, tetapi tidak cukup untuk mengingat setiap detail tentang rumah atau hubunganku dengan ibu dan bapakku.
"Aku minta maaf, ibu. Aku tidak bisa mengingat semuanya," ujarku dengan suara lemah. Raut kebingunganku tergambar jelas di wajahku, dan keadaan itu membuatku merasa putus asa.
Ibu menempatkan mangkuk bubur di atas meja kecil di samping tempat tidurku, lalu ia memegang tanganku dengan lembut. "Tidak apa-apa, Imas. Ibu mengerti bahwa kamu sedang mengalami kesulitan ini. Ingatanmu akan kembali seiring waktu. Kami akan selalu ada di sini untukmu."
Aku merasakan kehangatan dalam genggaman tangannya dan kata-kata yang diucapkannya. Meskipun aku tidak bisa mengingat hubungan kami saat ini, rasa cinta dan perhatian yang terpancar darinya membuatku yakin bahwa ia adalah ibuku yang penuh kasih sayang.
"Makanlah dulu, Imas. Ini akan membantu tubuhmu pulih," kata ibu sambil mengelus rambutku dengan penuh kelembutan.
Aku mengikuti permintaannya dan mulai menyantap bubur dengan lambat. Meskipun ingatan tentang kebiasaan makan di keluarga ini belum terulang, tetapi rasanya masih familiar dan memberikan sedikit kelegaan di tengah kebingungan yang ku alami.
Saat aku makan, ibu duduk di sampingku dan mulai bercerita tentang berbagai hal yang mungkin dapat membangkitkan ingatanku. Dia bercerita tentang saat-saat kecilku, petualangan kami bersama, dan momen-momen bahagia yang kami bagikan sebagai keluarga.
Setiap kata yang diucapkannya menjadi benang merah yang mencoba mengaitkan kenangan yang hilang. Aku mencoba memperhatikan dengan seksama, berusaha menangkap setiap detail dan menghubungkannya dengan perasaan yang mungkin aku rasakan saat itu.
Meskipun hasilnya belum memunculkan ingatan yang jelas, tapi setidaknya aku merasa sedikit lebih dekat dengan ibu. Dalam setiap kata dan sentuhan, aku bisa merasakan kasih sayang yang tulus dari ibuku, dan itu memberiku harapan bahwa aku akan mengingat semuanya suatu hari nanti.
Pintu rumahku diketuk dari luar, dan aku mendengar suara ramai dari sejumlah orang. Teman-teman sekolahku, guru, dan kepala sekolah semuanya datang untuk menjengukku. Suara tawa dan bisikan hangat memenuhi ruangan saat mereka memasuki kamar.
__ADS_1
Ibu tersenyum dan memberikan isyarat kepada mereka untuk masuk. Mereka berjalan perlahan menuju tempat tidurku, dengan wajah penuh kekhawatiran namun juga penuh harapan.
"Mengapa mereka semua di sini?" tanyaku bingung kepada ibu.
Ibu menjawab dengan lembut, "Mereka adalah teman-temanmu, Imas. Mereka ingin memberimu dukungan dan ingin membantu memulihkan ingatanmu."
Teman-teman sekolahku duduk di sekitar tempat tidurku, menunjukkan ekspresi campuran antara kegembiraan dan kekhawatiran. Beberapa dari mereka membawa hadiah dan kartu get well soon. Salah satu teman dekatku, Rani, menggenggam tanganku dengan penuh kehangatan.
"Imas, kami sangat merindukanmu. Semoga kamu cepat sembuh dan ingatanmu pulih," ucap Rani dengan suara lembut.
Kepala sekolah, Bapak Surya, berdiri di samping tempat tidurku. Wajahnya penuh empati saat ia berbicara, "Imas, kami semua berharap kamu segera pulih. Kami siap membantu apapun yang kamu butuhkan. Jangan khawatir, kami akan selalu ada di sini untukmu."
Melihat semua wajah yang akrab namun masih asing bagiku, hatiku terombang-ambing antara perasaan terharu dan frustrasi. Aku merindukan hubungan yang telah tercipta, kenangan yang berharga, dan ikatan yang kuat yang mungkin telah kualami bersama mereka.
"Aku minta maaf, teman-teman. Aku tidak bisa mengingat kalian," ujarku dengan suara lemah, menahan air mata yang mulai menggenang di sudut mataku.
Kepala sekolah menambahkan, "Jangan khawatir, Imas. Kamu tidak sendiri dalam perjalanan ini. Kami akan mendukungmu sejauh yang kami bisa. Percayalah, ingatanmu akan kembali."
Walaupun perasaanku masih dipenuhi dengan kebingungan dan ketidakpastian, tapi adanya dukungan dari teman-teman dan guru-guruku membuatku merasa lebih kuat. Aku merasa beruntung memiliki orang-orang yang peduli di sekitarku, siap membantu dalam setiap langkahku menuju pemulihan.
Diantara mereka, Usep tiba-tiba menyodorkan kepadaku sepasang kaos kaki namun beda corak. "Imas, kamu ingat ini? aku pernah memberimu sepasang kaos kaki yang coraknya berbeda, aku mengikuti trend kamu loh." Usep berharap aku bisa mengingat kebiasaanku yang selalu memakai kaos kaki berbeda corak. Namun, sekali lagi kepalaku seperti ditusuk ribuan pedang, sakit sekali.
Aku memandang sepasang kaos kaki yang disodorkan oleh Usep dengan penuh kebingungan. Meskipun tanganku meraihnya, tapi tidak ada kenangan yang datang terhubung dengan benda itu. Rasa sakit di kepalaku semakin menjadi-jadi, dan aku merasa putus asa karena ketidakmampuanku mengingat sesuatu yang begitu penting bagiku.
"Tidak, aku benar-benar tidak bisa mengingatnya," ujarku dengan suara yang penuh dengan kekecewaan dan frustrasi. "Maaf, aku merasa begitu lemah. Sepertinya semua yang berhubungan dengan masa laluku masih terkubur dalam kegelapan."
Usep menatapku dengan wajah prihatin, dan aku bisa melihat rasa kekecewaannya seiring dengan kebingunganku. Dia mencoba memberikan dukungan dengan senyum lembut. "Tidak apa-apa, Imas."
__ADS_1
Rani, yang duduk di sebelahku, menambahkan dengan penuh empati, "Ingatan itu bukanlah segalanya, Imas. Yang terpenting adalah siapa kamu sekarang dan hubungan yang kita bangun saat ini. Kami ada di sini untukmu, apa pun yang terjadi."
Saat mendengar kata-kata mereka, sedikit demi sedikit, rasa putus asaku mulai berkurang. Meskipun aku tidak bisa mengingat kenangan-kenangan itu, tapi masih ada teman-teman yang berada di sisiku, mendukungku dan menerima aku apa adanya.
"Aku bersyukur memiliki kalian semua di sini," ucapku dengan suara yang penuh rasa terima kasih. "Meskipun aku tidak bisa mengingat masa laluku, tapi aku berharap kita bisa membuat kenangan baru bersama. Aku tidak ingin kehilangan apa pun lagi."
Saat semua terdiam dan dalam keadaan bersedih, tiba-tiba Ujang berdiri dan berbicara lantang. "Imas, coba kamu lihat sekarang jam berapa?"
Aku menengok kearah jam dinding. "Jam 4 sore. Kenapa?" Jawabku lemas.
"Biasanya jam segini kamu kemana? ngapain?" Ujang kembali bertanya dengan wajah serius dan berharap mendapat jawaban yang sesuai dengan yang dia harapkan.
"Mencari Belut!" Sahutku lugas dan mengalir begitu saja.
Sontak saja jawabanku itu membuat semua orang yang ada dikamarku menjadi kaget dan heran, termasuk bapak kepala sekolah, Ibu dan bapakku.
Bapak kepala sekolah, yang awalnya diam di sudut ruangan, berjalan mendekatiku dengan tatapan penuh pertanyaan. "Imas, apa maksudmu dengan mencari belut? Bisakah kamu jelaskan lebih lanjut?"
Aku merasa kebingungan semakin memenuhi pikiranku. Meskipun jawabanku keluar dengan begitu spontan, tapi aku tidak memiliki pemahaman yang jelas tentang apa yang aku maksud. Aku mencoba mengingat kenapa kata-kata itu terlontar begitu saja, tapi sekali lagi, kepalaku terasa sakit dan kebingunganku semakin bertambah.
Ujang bersorak bahagia, "Yaaayyy... betul sekali Imas. Kamu sekarang ingat, dengan siapa biasanya kamu pergi mencari Belut?" Ujang makin penasaran dan tertarik, berharap jawaban selanjutnya masih sesuai harapannya.
"Dengan cowok bernama Ujang!" Jawabku, lalu kepalaku terasa sakit lagi.
"BETUL!" Ujang semakin merasa ada harapan bahwa ingatanku akan segera pulih. "Sekarang kamu tau, yang namanya Ujang tuh yang mana?"
Aku mencoba mengingat lebih dalam dan lebih jauh, lalu aku terdiam sejenak dan menarik nafas dalam-dalam.
__ADS_1