
"Imaasssss... cepat bangun, sekolah!" Ibuku berteriak didepan pintu kamarku.
Astaga, pagi ini aku malas sekali untuk pergi sekolah. Tapi, Bapak dengan gayung berisi air sudah siap beraksi disampingku. "Bangun anak manis." Ayah menaruh gayung berisi air diatas kepalaku.
"Astagfirullah, Bapak gak usah kayak gitu juga keles!" Aku bicara dengan nada kesal.
Aku beranjak dari tempat tidurku dan melangkah menuju kamar mandi. Dengan handuk menempel di pundakku, aku menengok kiri dan kanan. Lalu, sat set aku mencuci mukaku.
"malas ah, gak mandi hari ini." Ujarku dalam hati sambil mata tetap berjaga-jaga siapa tau Bapak sama Ibuku mengawasi.
Kusemprotkan parfum ke seluruh badanku sebanyak-banyaknya untuk menutupi nuansa tak sedap karena aku gak mandi pagi ini. seperti biasa, kaos kaki 2 toko masih setia menemani perjalananku pergi ke sekolah.
"Pak, buu.. Imas pergi sekarang yaaa!" Aku berteriak dan berlari meninggalkan rumah. Hampir setiap melewati tetangga yang sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing, aku menyapa mereka dengan ramah.
Suasana pagi itu sungguh sangat cerah, aku menari-nari sepanjang jalan sambil meregangkan tanganku seperti burung. "Pagiku cerah, matahari bersinar..." aku bernyanyi riang sepanjang jalan.
Saat aku hendak memasuki pesawahan besar, tiba-tiba dibelakang terdengar suara Ujang berteriak memanggil namaku. "Imaaaaasss, tungguuu!"
Ujang berlari mengejar langkahku dengan nafas yang terengah-engah. "Imas, maafkan aku ya, aku mau berteman dengan kamu lagi." Ujang bicara sambil memegang lututnya karena kecapean.
"Hahahaa.. siapa suruh menghilang dikehidupanku?" Aku melirik sinis sama Ujang sambil menggodanya.
"Iya, maapin aku ya, Imas. Aku salah." Ujang memohon kepadaku untuk memaafkannya.
"Sudahlah Ujang, aku gak pernah sedikitpun menganggap kamu musuh. Kita tetap berteman seperti biasa." Ujarku dengan mantap.
"Siap berlomba sampai sekolah?" Ujang menatap dengan senyuman sinis dan menantangku berlomba lari sampai sekolah.
"Woaahh... siapa takut!" Aku lalu jongkok bersiap untuk lari secepat mungkin. Namun, Ujang seperti biasanya berlaku curang. Dia berlari bak Naruto meninggalkan aku tanpa aba-aba.
__ADS_1
"Ujang, kampret!" kukejar Ujang dari belakang, dengan canda tawa kita yang memecahkan keheningan sawah yang luas itu.
Derap kaki kami yang sat set meliuk-liuk melompat kekiri dan kekanan melewati rintangan yang menghadang. Ujang terus-terusan menghalangi lajuku sambil berteriak, "Tak akan kubiarkan Hatori mengalahkan Naruto!"
Kamu pun tiba didepan gerbang sekolah dengan nafas ngos-ngosan dan, yaa.. badan kami basah kuyup karena keringat mengucur deras. Tepat dihadapan kami, Vey sudah terlihat standby dengan tangan dilipat diatas dadanya. "Kalian ini kocak, kenapa gak ikut mobil ayahku setiap berangkat sekolah?" Vey tersenyum sedikit meledek kami.
"Ogah lah, lebih seru jalan kaki sambil menikmati pemandangan Desa yang keren." Ujang menjawabasih dengan nafas yang cepat.
"Gak perlu repot-repot, Vey. Kita udah biasa seperti ini, dan kita menikmatinya." Ucapku kepada Vey disertai tepukan tangan dipundaknya.
"SPOTAKER, KAMI DATANG!" Aku dan Ujang kompak berteriak, sedangkan Vey hanya tersenyum melihat tingkah kami yang seperti anak kecil.
"Sudah lama aku tidak melihat Usep si murid baru itu." Aku berbicara dalam hati sambil melihat situasi sekolah dan berharap aku melihat Usep lagi. Aku penasaran karena belum sempat berkenalan dengannya.
Aku melihat Ujang sangat bersemangat hari ini. Ujang yang dulu sudah kembali normal dan bisa menikmati aktivitasnya seperti sediakala. Aku merasa tenang sekarang, karena tidak ada orang yang sakit hati karena aku lagi.
Menjelang jam istirahat, aku melirik kearah luar kelas. Aku merasa ini hari keberuntunganku saat aku melihat Usep berjalan menuju kantin sekolah. Aku yang memiliki sifat sedikit jahil, mencoba untuk melakukan tindakan konyol pada Usep.
Aku buat pesawat kertas secepat kilat, lalu aku membuka jendela kelas dan melemparkan pesawat kertas tersebut kearah Usep. "Pletaaaak." Pesawat kertas itu mendarat tepat di kepala Usep.
"Aduh, apaan ini?" Usep menggaruk-garuk kepalanya karena sakit. Dia menengok kiri dan kanannya mencari tersangka pelemparan pesawat kertas tersebut. Dan, saat usep menatap kearahku, aku memberikan kode kepada usep untuk membuka pesawat kertas tersebut dan membaca tulisan yang sengaja aku buat.
Usep perlahan membuka kertas tersebut dan membacanya. "Woyyy anak baru, beraninya kamu keluar kelas sebelum jam Istirahat." Aku menuliskan tulisan tersebut tanpa berpikir panjang.
Usep melihat kearahku dengan tatapan sinis dan membalikan badannya dan tiba-tiba dia menepuk-nepuk pantatnya sendiri sambil menggoyangkan pinggulnya kekanan dan kekiri.
"Sialan, anak baru beraninya meledek aku!" Ucapku dalam hati dan memberi kode kepada Usep dengan mengacungkan jari tengahku kearahnya. Usep kaget melihat reaksiku, dia lalu membalasnya dengan mengepalkan jarinya dan mengacungkannya kearahku.
"Waaahh... ngajar ribut ni anak!" Aku makin tersulut dan semakin emosi. "Tunggu aja nanti di kantin!" Ujarku.
__ADS_1
Bel istirahat pun berbunyi, aku segera membereskan buku dan memasukannya kedalam tas. Aku bergegas beranjak dan pergi menuju kantin. "Sialan, mana tuh si Usep. Belum tau Imas Hatori dia." Ujarku dalam hati.
Saat kulihat Usep duduk di meja pojok sebelah pintu WC, aku segera menghampirinya dan hendak mengoceh semampuku. Baru saja aku membuka mulut untuk memarahi Usep, aku tertegun melihat Usep sedang bermain dengan seekor hamster kecil yang lucu dan menggemaskan.
"Eh, itu hamster kamu?" Aku bertanya dengan lembut dan duduk disampingnya. Aku mengelus-elus Hamster itu.
"Iya, ini hamsterku. Kamu suka binatang yah?" Usep menjawab dan bertanya balik kepadaku.
"Wahh.. aku penyayang hewan." Jawabku dengan fokus tetap kepada hamster lucu dan imut tersebut.
"Bukannya tadi mau mengajakku berantem?" Usep kembali bertanya kepadaku.
"Eh.. gak jadi. Kamu ternyata punya hobi yang sama denganku." Aku menjawab sambil terus bermain dengan hamster itu.
Akhirnya aku dan Usep terlibat percakapan seru, dan kami membahas tentang hobi dan minat kami. Usep begitu antusias saat kubilang kebiasaanku sepulang sekolah adalah mencari belut.
"Waaahh.. Imas. Nanti aku ikut mencari belut sama kamu yah?" Usep memohon untuk menemaniku mencari belut, karena dia juga suka dengan petualangan seperti itu.
"Tentu saja boleh." Jawabku senang dan bahagia.
Ditengah keseruan kami menghabiskan waktu istirahat untuk berbincang di kantin, ternyata Ujang dan Vey begitu serius dan fokus memperhatikan kami berdua. Sesekali mereka saling berbisik satu sama lain.
"Wahh, parah nih si Imas. Bilangnya mau fokus pendidikan dan gak peduli masalah cinta-cintaan, nyatanya dia sedang jatuh cinta." Ujang mengumpat dan mencoba mengadu kepada Vey.
"Tau darimana kamu kalau Imas lagi jatuh cinta?" Vey bertanya keheranan.
"Vey, aku berteman dengan Imas dari kecil. Aku tau gelagat dia kalau sedang menyukai sesuatu." Jawab ujang masih dengan nada kesal.
Vey mengangguk dan kembali fokus melihat dan memperhatikan kami. "Gawat, saingan bertambah lagi, mana si Usep ganteng pula." Vey mulai insecure dengan kehadiran Usep dikehidupan Imas.
__ADS_1