
Pelupuk mataku kepanasan. Rupanya ayah sengaja membuka jendela untuk membiarkan sinar Matahari masuk dan memberikan “diskon”, hehe bercanda, maksudnya agar sinar matahari bisa memberikan pengaruh pada mataku dan aku bisa bangun.
Kulihat jam di beker sudah hampir menunjukkan pukul 6 pagi. “Waahhh.. Kesiangan nih,” ujarku dengan terkejut dan segera berlari keluar untuk pergi ke sekolah.
Seperti biasa, Ujang sudah menungguku di depan pintu dengan senyum khasnya yang mirip dengan Sharukh Khan, bahkan Ujang senang sekali bersenandung, “Bolu curian, dirumah janda, bolu curian, camar camar bacem,” begitu terus sampai di sekolah.
Ujang tertawa cengengesan sepanjang perjalanan, entah apa yang sedang dipikirkannya. Awalnya aku tidak peduli, tapi lama-lama ia membuatku kesal. “Jang, kenapa sih dari tadi tertawa terus?” tanyaku dengan ekspresi kesal di wajahku.
“Tertawa itu meningkatkan suasana hati, Imas!” Ujang mulai berfilosofi.
“Kata siapa?” tanyaku, mencoba memancing sikap sotoynya.
"Menurut ilmu kanuragan, tertawa dapat meningkatkan produksi endorfin, yaitu hormon yang bertanggung jawab atas perasaan bahagia.” Ujang tiba-tiba mulai berbicara panjang lebar.
Aku malas mendengar Ujang berbicara seperti itu, jadi aku memutuskan mengalihkan pembicaraan ke topik yang lain. “Jang, kita sudah hampir terlambat, ayo cepat jalannya nanti gerbang sekolah keburu ditutup. Satpam di sekolah belum mengenal kebiasaan kita,” pintaku.
Ujang terus-terusan berjalan di belakangku sambil berusaha mengejarku yang berjalan cepat. “Tunggu, Imas! Ini penting, kita harus membahas manfaat tertawa,” ajaknya.
“Ah, sudahlah, Jang. Kita bisa membahasnya lain kali saja. Sekarang, hal yang penting adalah kita harus segera sampai di sekolah sebelum gerbangnya ditutup,” jawabku.
Ujang menggumam pelan, tetapi terdengar olehku, “Baiklah, Imas. Tapi ingat, tertawa juga bisa membuat kita santai dan dapat menikmati perjalanan ini lebih baik.”
Aku agak jengkel pada saat itu. “Santai? Gila, Jang! Kita hampir terlambat! Ayo, cepat!” Aku mulai berlari kecil. Akhirnya, kami berdua berlari cepat menuju sekolah, fokus untuk mencapai sekolah tepat waktu.
Ketika sampai di gerbang sekolah, kami merasa lega karena berhasil mencapai tujuan kami tepat waktu. “Lihat, Jang, kita berhasil! Sekarang, kita bisa duduk tenang dan tertawa bersama teman-teman,” kataku sambil mengatur nafasku yang masih terengah-engah.
Saat itu, SMA Spotaker mendapat tamu dari Puskesmas yang akan memberikan informasi tentang bahaya demam berdarah. Kami semua diminta berkumpul di lapangan basket selama jam istirahat.
Tak lama kemudian, kepala sekolah muncul di depan kami di atas panggung kecil yang sudah disiapkan. Dengan semangat, beliau memberikan pengumuman.
“Hai semua siswa dan siswi SMA Spotaker! Hari ini kita memiliki kesempatan istimewa karena ada tim dari Puskesmas yang akan memberikan informasi tentang bahaya demam berdarah. Ini adalah kesempatan yang sangat baik bagi kita semua untuk lebih memahami pentingnya menjaga kesehatan dan kebersihan kita semua.”
Di sekeliling lapangan, semua mendengarkan pengumuman dari kepala sekolah dengan serius meskipun masih merasa terengah-engah setelah berlari menuju sekolah, antusiasme tidak hilang.
__ADS_1
“Saya berharap kita semua dapat mengikuti informasi ini dengan serius, dan jika ada hal yang belum jelas jangan ragu untuk bertanya. Kesehatan sangatlah penting, dan dengan pengetahuan yang kita dapatkan hari ini, kita dapat mencegah penyebaran demam berdarah dan menjaga kesehatan kita sendiri.” ujar kepala sekolah.
Setelah pengumuman selesai, petugas dari Puskesmas naik ke panggung dan memulai sesi pemberian informasi.
“Halo siswa-siswa SMA Spotaker! Saya dari Puskesmas dan akan membahas pentingnya pencegahan demam berdarah. Mari kita belajar bersama tentang gejala, penyebaran, dan tindakan pencegahannya.”
Selama pemberian informasi, suasana menjadi serius dengan informasi yang bermanfaat. Kami semua mendengarkan dengan seksama, mengajukan pertanyaan, dan mencatat poin-poin penting yang disampaikan.
Setelah pemberian informasi selesai, kami kembali ke kelas dengan pengetahuan baru yang berguna. Walaupun topiknya serius, aku dan Ujang saling bertatap mata dan tertawa kecil. Ternyata, selama sesi penyuluhan, Ujang kentut berulang kali.
“Imas, bukan momen untuk tertawa!” Ujang berbisik.
“Maaf, Jang. Tadi katamu tertawa itu menyehatkan, kan? Bahkan dalam situasi seperti ini.” Aku membalas kalimat Ujang yang tadi.
"Tertawa itu penting, tapi kita harus tahu kapan dan di mana kita bisa melakukannya. Saat ini, kita harus fokus dan menghormati kegiatan di kelas.” ucapku sambil memperingatkan Ujang.
Ujang mengangguk setuju dan mengerti kesalahannya. Kami berdua mencoba untuk menahan tawa mereka dan kembali ke kegiatan belajar. Selama pelajaran berlangsung, suasana kelas menjadi serius dan semua fokus pada materi yang diajarkan. Aku dan Ujang terlihat sangat fokus, mencatat catatan penting.
“Sudahlah, Jang. Kentutmu tak sebaik nyanyian dan tak sewangi kasturi. Jadi, tidak usah dibahas lagi!" Aku berjalan menjauhinya dengan sedikit kesal pada Ujang.
"Iya, Imas. Aku akan lebih berhati-hati dan memperhitungkan timing, kapan harus kentut di depanmu dan kapan harus di tempat umum," ujar Ujang, mencoba membuat lelucon yang masih sama.
"Haha... Tidak lucu!" aku terus berjalan menjauhi Ujang sampai dia tidak kelihatan lagi.
Saat bel pelajaran berbunyi, kami kembali duduk di kursi masing-masing dan guru memulai pengajarannya.
Suasana kelas kembali menjadi serius dan kami dengan sungguh-sungguh mendengarkan penjelasan guru. Aku mencatat catatan penting dan berusaha memahami setiap materi yang diajarkan.
Setelah pelajaran berakhir, aku melihat Ujang duduk sendirian di pojok kelas dengan wajah sedikit cemberut. Aku mendekatinya dengan sikap yang lebih lunak.
"Maafkan aku, Jang, kalau tadi aku agak terlalu kesal. Mungkin aku harus lebih terbuka terhadap humor kamu."
Ujang tersenyum, "Tidak apa-apa, Imas. Aku juga berlebihan dengan lelucon kentutku tadi. Kita teman baik kan? Kita bisa saling mengerti dan menerima kelemahan masing-masing."
__ADS_1
Aku mengangguk setuju, "Iya, Jang. Sebenarnya tidak masalah jika kamu kentut, tapi tadi, Wallahi Jang, kentutmu sangat bau. Yang paling membuatku kesal, kenapa kamu kentut di Medley? Dan kenapa ada tulisan "to be continued"?"
"Namanya juga mules, Imas." Jawab Ujang sambil memerah.
Aku tertawa mendengar penjelasan Ujang yang malu-malu. "Mules atau tidak, Jang, sebaiknya kamu mengontrol dirimu sedikit lebih baik di tempat umum. Kita tidak ingin orang lain terganggu dengan aroma yang tidak sedap."
Ujang mengangguk setuju, "Iya, Imas, maafkan aku kalau aku mengganggu. Aku akan berusaha lebih hati-hati nanti."
"Sekarang, Imas, mari kita lupakan kentut dan fokus pada sisa hari ini. Apa yang menarik terjadi di sekolah hari ini?" tanya Ujang dengan semangat.
Aku tersenyum, "Ada perlombaan pulang duluan, ingin bertaruh?"
"Siapa takut!" jawab Ujang.
Kami saling beradu pandang dengan semangat yang membara. Tiba-tiba, bel pulang sekolah berbunyi dengan riuhnya. Tanpa ragu, kami berdua berlari cepat keluar menuju pintu keluar sekolah.
Langkah kami cepat dan hati berdebar-debar, karena kemenangan menjadi incaran kami.
Di tengah perlombaan, kami saling berlirik memberikan isyarat bahwa kami berdua ingin menang.
Tiba-tiba, terjadi insiden tak terduga. Ujang terpeleset di genangan air karena tidak melihat tumpahan air minum dari tas siswa lain. Aku terhenti sejenak, merasa bimbang antara melanjutkan perlombaan atau membantu Ujang.
"Jang, kamu baik-baik saja?" tanyaku dengan cemas.
Ujang mengangguk dengan senyum malu, "Iya, Imas, terima kasih. Aku sedikit ceroboh."
Di tengah perjalanan pulang, Ujang tiba-tiba berhenti dan menatapku dengan serius. "Imas, ada satu hal lagi yang bisa kita lakukan untuk membuat hari ini lebih menyenangkan. Apa ya?" tanya Ujang sambil memasang wajah misterius.
Aku menatapnya dengan rasa ingin tahu, "Apa itu, Jang?"
Ujang tersenyum lebar dan dengan suara aneh yang menggelitik telinga kami berdua, "Duuuutttt.... preet... preeettt..."
"UJAAAAAAANNGGG!"
__ADS_1