
Aku melihat perubahan positif dari Vey, kini dia mulai bisa tersenyum dan bercanda bersama teman-temannya. "Alhamdulillah, walaupun Vey tidak mau berbicara denganku, setidaknya dia sudah tidak galau lagi." Ujarku dalam hati.
Usep yang melihatku melamun sendirian tiba-tiba datang mengagetkan aku. Dia menempuk pungguku dari belakang. "Imas, mikirin apa, hayooooo???" Usep bertanya dengan rasa penasaran.
"Eh... Anu... Anu... Belut lari." Ujarku setengah kaget.
"Hahahaa.. Imas, kamu ada-ada saja. Mana ada belut bisa berlari." Usep berkata sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"Sudah lama sekali kita tidak bercanda seperti ini, Imas," kata Usep sambil menggenggam erat tanganku.
Aku tersenyum dan mengangguk setuju. "Iya, Usep. Terakhir kali kita bisa santai seperti ini sepertinya sudah beberapa bulan yang lalu. Aku merindukan momen-momen seperti ini."
Usep menatapku dengan penuh kehangatan. "Aku juga merindukanmu, Imas. Kesibukan kita mengelola bisnis belut on-line menjadikan kita lupa dengan hal-hal kecil seperti ini." Usep memelukku penuh kehangatan.
Kami tiba di kantin dan mencari tempat duduk bersama teman-teman kami. Meja yang biasanya kami pilih sudah penuh, tetapi teman-teman kami mempersilakan kami duduk bersama mereka.
"Sudah makan siang belum, Imas?" tanya Rina, salah satu teman kami.
"Belum, Rina. Aku baru saja sampai di sini," jawabku sambil tersenyum.
Rina tersenyum dan berkata, "Kamu dan Usep terlihat bahagia hari ini. Apa yang terjadi?"
Aku melihat Usep sejenak sebelum menjawab, "Kami hanya menikmati waktu bersama dan senang bisa melihat Vey baik-baik saja. Kadang-kadang, momen kecil seperti ini bisa membuat kita bahagia, kan?"
Teman-teman kami mengangguk dan menyambut perkataanku dengan senyuman. Kami memesan makanan dan mulai bercanda serta bercerita tentang kejadian lucu di sekolah. Suasana kantin menjadi semakin riuh, dipenuhi dengan tawa dan canda.
__ADS_1
Ketika melihat Vey dari kejauhan, aku melambaikan tangan kepadanya. Meski dia tidak mau berbicara denganku, aku tetap berharap bahwa suatu hari nanti hubungan kami akan membaik. Sementara itu, aku bersyukur atas perubahan positif yang aku lihat pada dirinya. Semoga kebahagiaan dan keceriaan ini tetap bertahan dalam hidup kami semua.
"Oya, Rokayah kemarin menceritakan kejadian konyol. Vey kan sering melamun, nah saat Rokayah menyapa dia, Vey kaget dan lupa kalau dirinya sudah menginjak tai kucing." Rina bercerita diselingi tawa riang teman-temannya yang lain.
Tawa riang pecah di meja kami saat Rina menceritakan kejadian lucu yang melibatkan Vey. Aku tidak bisa menahan tawaku ketika membayangkan ekspresi terkejut Vey dan insiden menginjak tai kucing. Semua teman-teman kami terlibat dalam candaan dan cerita konyol, menciptakan momen yang penuh kegembiraan di antara kami.
"Aduh, kasihan Vey," kataku sambil tertawa. "Tapi itu pasti menghibur sekali. Setidaknya dia bisa terkejut dari lamunannya."
Usep menambahkan, "Ya, memang penting untuk bisa tertawa dan menikmati momen kecil seperti ini. Terkadang, kehidupan bisa terlalu serius, dan kita perlu mengambil waktu sejenak untuk bersenang-senang bersama teman-teman."
Kami menikmati makan siang kami dengan penuh keceriaan. Selama waktu itu, Vey terlihat lebih rileks dan ikut tersenyum melihat kami semua tertawa. Meski belum mau berbicara denganku, melihatnya bahagia membuat hatiku senang.
Setelah makan siang selesai, kami semua berpisah untuk melanjutkan kegiatan masing-masing. Usep dan aku berjalan berdua menuju kelas kami, sambil saling berpegangan tangan. Suasana riang dari makan siang bersama teman-teman masih terasa dalam pikiran kami.
Saat kami sampai di kelas, Usep berhenti sejenak dan menatapku dengan lembut. "Imas, aku bahagia bisa melihatmu tersenyum dan tertawa seperti ini. Aku mencintaimu, dan aku berjanji akan selalu ada untukmu, mendukungmu dalam segala hal."
Kami berpelukan sejenak sebelum masuk ke dalam kelas. Aku tidak menyadari, ternyata momen disaat aku berpelukan dengan Usep disaksikan oleh Vey yang juga hendak masuk ke kelas.
Vey diam sejenak dihadapan kami dan dengan tatapan mata yang sinis dia berbelok arah masuk kedalam kelas.
Didalam kelas, suasana canggung menghinggapi kami. Vey terlihat begitu kecewa dan benar-benar tidak memperhatikan pelajaran sekolah.
"Baik, anak-anak. Siapakah penemuan mesin Uap?" Bu Ratna melontarkan kesemua siswa. Namun, Vey yang terlihat melamun itu ternyata mengundang perhatian Ibu Ratna, lalu Ibu Ratna melanjutkan kalimatnya. "Vey, kamu jawab. Siapa penemu mesin Uap?"
"Vey yang kaget saat mendapat pertanyaan dadakan itu menjawab secara spontan, "Imas, Bu."
__ADS_1
Gelak tawa mengisi ruangan kelas saat Vey dengan spontan menjawab bahwa penemu mesin uap adalah "Imas". Semua siswa, termasuk Bu Ratna, tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban konyol Vey.
"Apa? Imas? Bukan James Watt?" kata Bu Ratna sambil tertawa.
Vey merasa sedikit malu dengan jawabannya yang salah dan situasi yang memalukan. Dia menggosok-gosok belakang kepalanya sambil tersenyum malu.
Aku tidak bisa menahan tawaku melihat ekspresi lucu Vey. Kemudian, aku mengangkat tangan dan berkata, "Maaf, Bu Ratna. Aku tidak pernah merasa membuat mesin uap. James Watt yang menemukannya."
Bu Ratna tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja, Imas. Terima kasih sudah memperbaiki jawaban Vey. Hehehe."
Kelas kembali normal dan pelajaran berlanjut dengan suasana yang lebih santai. Meskipun Vey salah menjawab pertanyaan, semua orang tahu bahwa itu hanya kejadian lucu dan tidak ada niatan untuk menyinggung atau membuatnya merasa tidak nyaman.
Setelah pelajaran selesai, Vey mendekatiku dengan wajah yang masih sedikit merah karena malu. "Maaf, Imas. Aku tidak fokus saat pelajaran. Aku tidak bermaksud seperti itu."
Aku tersenyum dan menepuk pelan bahunya. "Tenang saja, Vey. Itu hanya kejadian lucu. Kita semua melakukan kesalahan. Yang penting, kita bisa tertawa dan saling menghibur satu sama lain."
Vey mengangguk dan tersenyum. "Terima kasih, Imas. Aku senang bisa melihatmu bahagia dan bersenang-senang dengan pacarmu. Mungkin suatu hari nanti, aku juga bisa bergabung dalam momen-momen seperti itu."
Aku merasa haru mendengar perkataan Vey. "Tentu, Vey. Aku yakin suatu hari nanti kita akan bisa berbicara lagi dan menjadi teman seperti dulu. Jangan khawatir, aku akan selalu ada untukmu."
Aku melihat Usep memperhatikanku saat berbicara dengan Vey. Aku tidak mau ada salah paham, lalu aku melambaikan tangan kepada Usep untuk datang bergabung bersama kami.
Namun, disaat Usep menghampiri, Vey tiba-tiba pergi begitu saja. Aku merasa Vey tidak suka dengan kehadiran Usep diantara kami.
"Imas, Vey kenapa? kenapa saat aku datang, dia pergi begitu saja tanpa bicara sepatah katapun?" Usep terlihat kebingungan sambil menggaruk kepalanya.
__ADS_1
"Kamu pasti tau alasannya, Usep. Dia cemburu dengan hubungan kita." Jawabku sambil mengangkat kedua bahuku.
"Aku jadi merasa gak enak sama Vey." Kata Usep masih dengan gerakan menggaruk kepalanya.