
Makin hari sikap Tony semakin menyebalkan. Dia sekarang sudah berani mendatangi sekolahku bersama teman-temannya. Dia selalu mengawasiku dari kejauhan didepan sebuah kios kecil.
"Tumben si Tony mau main sampe sejauh ini, biasanya dia hanya main sampai perbatasan saja." Gumamku dalam hati.
"Imas, Imas. Pulangnya nanti bareng Tony ya." Tony berkata dengan berlagak seperti jagoan.
"Maaf, Tony. Aku sekarang sudah ada yang nganter." Ucapku sopan kepadanya.
"Siapa? si Usep tengil itu?" Dia kembali bertanya dengan nada marah.
"Bukan urusanmu, Tony." Ujarku kesal.
"Awas saja, kalau memang si Usep, aku gak akan tinggal diam sekarang." Tony berkata dengan kata-kata mengancam.
Rasa kesal dan kekhawatiran semakin memuncak di dalam diriku. Aku merasa terpojok oleh sikap Tony yang semakin menyebalkan dan mengganggu kehidupanku. Namun, aku memilih untuk tetap tenang dan tidak memperpanjang perdebatan dengan Tony.
"Aku sudah bilang, bukan urusanmu, Tony. Kamu tidak perlu ikut campur dalam kehidupanku," kataku dengan tegas, berusaha menenangkan diri.
Tony menatapku dengan tatapan tajam, mencoba menakut-nakuti aku. Namun, aku memilih untuk tetap tegar dan tidak menunjukkan ketakutanku.
"Aku tidak takut padamu, Tony. Kamu tidak bisa mengendalikan hidupku atau mengatur dengan siapa aku bergaul," kataku dengan keberanian yang kuinginkan agar terpancar dari diriku.
"Baik, kita lihat saja nanti." Ujar Tony seraya pergi meninggalkan aku.
__ADS_1
Setelah Tony pergi, aku menghela nafas lega. Namun, ketegangan dan kekhawatiran masih mengendap di dalam diriku. Aku bergegas masuk ke dalam sekolah, berharap dapat menenangkan pikiranku dengan suasana kelas yang familiar.
Aku melangkah menuju ruang kelasku dengan langkah hati-hati. Saat memasuki kelas, pandanganku langsung tertuju pada teman-teman sekelas yang sudah berkumpul di meja-meja mereka. Aku melihat wajah-wajah yang akrab dan tersenyum kecil, merasa sedikit lega bahwa aku tidak sendirian.
Aku duduk di tempatku dan mencoba untuk fokus pada pelajaran yang akan dimulai. Namun, pikiranku masih terus menerawang ke insiden dengan Tony. Aku merenung dalam hati, mencoba mencari solusi untuk menghadapi sikapnya yang semakin menyebalkan.
Ketika bel masuk berbunyi, guru masuk ke kelas dan mengambil perhatian kami. Pelajaran dimulai, dan aku berusaha keras untuk mengalihkan pikiranku dari masalah yang sedang kuhadapi. Namun, Tony terus terlintas di benakku, dan aku merasa tegang sepanjang pelajaran.
Setelah pelajaran berakhir, aku merasa lega. Aku mengumpulkan buku-buku dan melangkah keluar dari kelas, berharap bisa menenangkan diri sejenak sebelum pulang.
Namun, saat aku berjalan di koridor sekolah, aku mendapati Tony bersama teman-temannya berdiri di depanku. Hatiku berdebar keras, namun aku memilih untuk tetap tenang dan berjalan dengan percaya diri.
Tony melangkah mendekatiku, wajahnya dipenuhi dengan ketidaksenangan. "Jadi, kamu masih berani mengabaikanku, huh?" ujarnya dengan nada merendahkan.
Aku menatapnya dengan sikap tegas. "Aku tidak takut padamu, Tony. Tidak ada alasan bagiku untuk takut. Apa yang kamu inginkan dariku?"
Aku mengepalkan tanganku, mencoba mengendalikan emosi yang mulai memuncak. "Hubunganku dengan Usep adalah urusanku sendiri. Kamu tidak berhak memasuki hidupku dan mengontrol siapa yang boleh atau tidak boleh menjadi temanku. Hentikan sikap ini, Tony."
Tony mengeluarkan tawa sinis. "Kamu akan menyesal telah mengabaikan peringatanku, Imas. Kamu tidak tahu dengan siapa kamu berurusan."
Aku merasa geram dan kecewa pada Tony. Namun, aku memilih untuk tidak terbawa emosi. "Tony, aku sudah cukup. Aku tidak ingin lagi berbicara denganmu. Biarkan aku hidup dengan damai dan jangan ganggu lagi."
Tony menatapku dengan tatapan tajam, kemudian perlahan-lahan menghela nafasnya. "Baiklah, Imas. Tapi jangan harap kamu bisa lepas dari perhatianku."
__ADS_1
Aku menggelengkan kepala, mengabaikan ancamannya. Aku berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Tony dan teman-temannya di belakang. Hatiku masih berdegup kencang, tapi aku bertekad untuk tidak membiarkan sikap Tony menghancurkan semangatku.
Saat aku pulang, aku mengambil jalur yang berbeda dan berhati-hati agar tidak diikuti. Setelah tiba di rumah, aku merasa lega bahwa aku berhasil menghindari Tony dan teman-temannya. Namun, kekhawatiran masih menghantui pikiranku. Aku sadar bahwa situasi ini semakin rumit dan perlu penanganan yang tepat.
Aku memutuskan untuk tidak memberitahu Usep tentang insiden dengan Tony. Aku tidak ingin menariknya ke dalam masalah ini dan menghindari potensi bentrokan fisik yang bisa terjadi antara mereka. Meskipun Usep terlihat berani, aku tidak ingin risiko fisik dan konflik semakin membesar.
Sebagai gantinya, aku memutuskan untuk mencari dukungan dan nasihat dari orang dewasa yang bisa membantu menyelesaikan masalah ini dengan cara yang lebih aman. Aku tahu bahwa menghadapi Tony secara langsung atau melibatkan Usep hanya akan memperburuk situasi.
Aku memutuskan untuk berbicara dengan seorang guru yang aku percayai. Aku tahu bahwa guru tersebut tidak hanya peduli pada pembelajaran kami di sekolah, tetapi juga kehidupan pribadi kami. Aku yakin bahwa dia bisa memberikan saran dan membantu menangani masalah ini dengan bijaksana.
Keesokan harinya, setelah pelajaran selesai, aku mengunjungi guru yang aku percayai. Aku menjelaskan kepadanya tentang sikap Tony yang semakin mengganggu dan intimidasi yang aku rasakan. Aku meminta nasihat dan bantuan dalam menyelesaikan masalah ini tanpa melibatkan konflik fisik.
Guru tersebut mendengarkan dengan penuh perhatian dan menghargai keberanianku untuk mencari solusi yang damai. Dia memberikan dukungan dan memastikan bahwa aku tidak sendirian dalam menghadapi masalah ini.
Guru tersebut berjanji untuk mengambil tindakan yang tepat dan melibatkan pihak yang berwenang di sekolah. Dia berjanji akan menjaga kerahasiaan tentang permasalahan ini dan akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi aku dari intimidasi Tony.
Aku merasa lega dan sedikit lebih percaya diri setelah berbicara dengan guru tersebut. Aku menyadari bahwa ada sumber dukungan dan perlindungan di sekitarku yang bisa membantu menghadapi situasi ini.
Usep menghampiriku ketika aku duduk beristirahat di kantin sekolah. Dia melambaikan tangan dan lalu bicara. "Imas, kemarin kemana aja seharian? kenapa tidak menghubungiku?" Ujarnya sedikit menampakan rasa kecewanya.
"Aku sangat sibuk kemarin, Usep. Banyak sekali tugas yang harus aku selesaikan." Ucapku sedikit berbohong.
Usep terlihat curiga dengan sikapku, karena Usep memang sedikitnya paham dengan sikapku sehari-hari. "Hmmm.. baiklah. Kalau ada hal yang ingin kamu ceritakan, kamu tau harus kemana, kan?" Usep berpura-pura tidak tau dengan kecemasanku.
__ADS_1
Saat kami berbincang dikantin, teman-teman yang lain dihebohkan dengan kedatangan sekelompok pemuda kampung yang berpakaian seperti preman. Mereka terlihat sedang berkumpul sambil merokok di kios kecil depan sekolahku.
Berita itu cepat tersebar hingga sampai ketelinga kami. "Hmm.. Jangan-jangan si Tony mau bikin ulah." Ujarku dalam hati.