Imas Hatori

Imas Hatori
Mendapatkan hadiah


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Vey memanggil namaku dari Luar. "Imas, berangkat sekolah bareng yuk!" Vey menawarkan diri untuk pergi kesekolah bareng dia.


"Aduh makasih, Vey. Tapi, aku..." Belum sempat aku membereskan kalimatku, Vey menimpali, "Mau berlagak jadi Ninja Hatori? janganlah, Imas. Kamu masih kurang fit untuk berjalan jauh, lebih baik ikut bareng dengan mobilku." Vey memberi alasan yang masuk akal buatku. Akhirnya Vey dan aku berangkat sekolah dengan menggunakan mobil Ayahnya Vey.


Kami berdua masuk ke mobil Ayah Vey yang nyaman. Vey mengemudikan dengan hati-hati, memperhatikan setiap rambu lalu lintas dan memastikan perjalanan kami aman.


Di dalam mobil, kami terus berbincang dan berbagi cerita. Vey memberitahuku tentang hal-hal menarik yang terjadi di sekolah selama aku absen. Aku merasa senang bisa mendengarnya dan merasa kembali terhubung dengan dunia sekolahku.


"Sekarang sudah hampir seminggu kamu tidak masuk sekolah, Imas. Guru dan teman-temanmu pasti merindukanmu," ujar Vey dengan penuh keceriaan.


Aku tersenyum. "Ya, aku juga merindukan mereka. Aku kangen belajar bersama dan menghabiskan waktu di sekolah. Terima kasih, Vey, karena mengantarku ke sana hari ini."


Tiba di sekolah, aku turun dari mobil dengan Vey. Segera aku melihat senyum hangat dari teman-teman sekelas yang sedang berkumpul di depan pintu masuk.


"Imas! Kamu sudah kembali!" seru Rina, salah satu teman sekelasku, sambil berlari mendekatiku. Teman-teman lainnya juga menyambutku dengan antusias.


Aku merasa bahagia dan terharu melihat dukungan dan kehangatan mereka. Aku merasa seperti kembali ke rumah setelah waktu yang lama. Aku tahu bahwa aku dikelilingi oleh teman-teman yang peduli dan siap mendukungku.


Sambil berjalan menuju kelas, Vey tetap bersamaku. "Lihatlah, Imas. Kamu benar-benar berarti banyak bagi kami. Selamat datang kembali!"


Aku tersenyum pada Vey. "Terima kasih, Vey. Kamu adalah teman terbaik yang bisa aku harapkan. Aku bersyukur memilikimu di sampingku."


Hari itu, di sekolah, aku merasa semakin kuat dan penuh semangat. Aku menikmati setiap momen belajar dan berinteraksi dengan teman-teman.


Ketika pelajaran berakhir, aku bersama Vey pulang dengan mobilnya. Dalam perjalanan pulang, aku berterima kasih kepada Vey. "Vey, aku benar-benar berterima kasih atas semua bantuanmu dan dukunganmu. Tanpamu, mungkin aku belum bisa kembali ke sekolah dengan semangat seperti ini."


Vey tersenyum dan membalas, "Kamu tahu, Imas, kamu berhutang dua kali."


Aku terdiam, "sepertinya Vey tidak main-main soal hutang jasa." Ucapku dalam hati. Aku harap ini hanyalah ketakutanku saja, semoga Vey hanya bercanda setiap menghitung hutang jasanya padaku.


Sesampainya dirumah, aku kaget karena ternyata didalam rumah Usep sudah duduk diruang tamu menungguku pulang. "Usep, dari kapan kamu disini?"

__ADS_1


"15 menit yang lalu, kamu darimana?" Usep terlihat cemas dan cemburu.


"Aku pulang bareng sama Vey, Sep. Aku masih belum bisa berjalan terlalu jauh, aku takut kondisiku masih belum stabil." Aku coba menjelaskan kepada Usep agar tidak terjadi kesalahpahaman.


"Ohhh... gini aja, karena kamu belum sehat betul, mulai besok aku antar jemput kamu sekolah." Usep bicara sambil mengeluarkan handphone nya. "Nomor WhatsApp kamu berapa, Imas?" Usep menyambung kembali ucapannya.


"Imas mah gak punya handphone, Sep." Jawabku lurus-lurus aja.


"Hmm.. tunggu sebentar, aku mau bicara sama Ibu kamu." Usep berdiri dan bergegas menemui ibuku. Aku hanya duduk dan bengong dengan situasi sekarang ini. Aku bingung, sebenarnya ada apa ini.


Tak lama kemudian, Usep kembali dengan senyum bahagia diwajahnya. "Sekarang cepetan kamu ganti baju, Imas. Kita jalan keluar sebentar." Usep mengedipkan matanya.


"Mau kemana, Usep?" Tanyaku agak bingung.


"Aku sudah ijin sama ibu kok, aku mau kasih kamu sesuatu." Jawab Usep dengan ekspresi semangat.


setelah aku ganti baju, kami pun berangkat menuju pasar yang jaraknya lumayan jauh dari rumahku. Usep membawaku menuju satu toko handphone.


Usep berjalan di sebelahku sambil memberikan panduan. "Lihatlah semua pilihan yang ada, Imas. Pilih yang menurutmu paling cocok dan sesuai dengan kebutuhanmu."


"Maksudnya, Sep?" Aku semakin bingung dengan maksud Usep.


"Aku begitu kesulitan untuk bisa komunikasi denganmu, Imas. Makanya, anggap saja handphone ini sebagai hadiahku untuk kesembuhan kamu." Jawab Usep dengan penuh perhatian.


Aku melihat-lihat berbagai model dan merek handphone. Beberapa di antaranya tampak sangat canggih dengan fitur-fitur yang menarik, namun aku tidak terlalu paham mengenai spesifikasi teknisnya.


Akhirnya, mataku tertuju pada satu handphone yang terlihat sederhana namun fungsional. "Usep, bagaimana dengan yang ini?" tanyaku sambil menunjuk handphone dengan layar sedang dan desain yang simpel.


Usep melihat handphone yang aku tunjuk dengan senyum. "Bagus pilihanmu, Imas. Itu adalah handphone yang cukup populer dan mudah digunakan. Kamu pasti akan merasakan manfaatnya."


Aku memutuskan untuk membeli handphone tersebut. Usep membantuku dalam proses pembelian dan pengaturan kartu SIM. Setelah selesai, kami keluar dari toko dengan handphone baru di tangan.

__ADS_1


"Terima kasih, Usep. Aku tidak menyangka bahwa kamu akan memberiku handphone." Aku mengucapkan terima kasih dengan tulus.


Usep tersenyum. "Kamu adalah... teman terbaikku, Imas. Aku ingin kamu memiliki handphone agar kita bisa lebih mudah berkomunikasi dan saling berbagi."


Kami berjalan kembali pulang sambil berbincang tentang penggunaan handphone dan apa yang bisa kami lakukan dengan teknologi tersebut. Aku merasa senang memiliki handphone, bukan hanya karena kecanggihannya, tetapi karena hadiah itu datang dari teman sejatiku, Usep.


Ketika sampai di rumah, aku memasuki kamar dengan hati yang penuh terima kasih. Aku duduk di kasur dan mengamati handphone baruku. Aku merasa lebih terhubung dengan dunia di luar sana dan siap menjalin komunikasi dengan teman-teman di sekolah.


Aku mengirim pesan kepada teman-teman sekelas untuk memberitahu mereka bahwa aku kini memiliki handphone. Tanggapan mereka sangat positif dan antusias. Aku merasa semakin dekat dengan mereka dan senang bisa berbagi momen bersama.


Sambil menatap layar handphone, aku tersenyum. Aku merasa beruntung memiliki teman-teman seperti Usep dan orang-orang terdekat dalam hidupku yang selalu peduli dan mendukungku.


Sebelum tidur, Usep mengirim pesan kepadaku.


"Selamat malam, Imas. Bagaimana handphone barunya, kamu suka?" Tanya Usep.


Aku tersenyum melihat pesan dari Usep. Aku segera meresponsnya dengan rasa gembira.


"Selamat malam, Sep. Aku sangat suka dengan handphone baruku! Terima kasih sekali lagi, kamu benar-benar teman yang luar biasa. Handphone ini akan memudahkan komunikasi kita dan membuat kita lebih dekat. Terima kasih sudah selalu peduli dan mendukungku."


Tidak lama setelah itu, pesan balasan dari Usep muncul di layar handphoneku.


"Tidak perlu berterima kasih, Imas. Aku hanya ingin melihatmu bahagia dan senang. Kita sudah melewati banyak hal bersama, dan aku berharap kita bisa terus memperkuat persahabatan kita. Jika ada apapun yang kamu butuhkan atau jika kamu ingin berbagi cerita, jangan ragu untuk menghubungiku, ya! Selamat tidur, Imas. Semoga esok pagi kamu bangun dengan semangat yang baru."


Aku tersenyum dan merasa hangat di dalam hati. Aku menyadari betapa beruntungnya aku memiliki teman sepert Usep, yang selalu ada di sampingku dalam suka dan duka. Pesan Usep membuatku merasa didukung dan diperhatikan.


Dengan rasa syukur dan kebahagiaan, aku membalas pesan dari Usep.


"Terima kasih, Sep. Aku benar-benar bersyukur memiliki teman sebaik kamu. Semoga kita terus bersama dan menghadapi banyak petualangan bersama. Selamat tidur juga, Sep. Sampai jumpa besok!"


Aku mematikan layar handphone dan merasakan kelelahan menyelimuti tubuhku setelah hari yang penuh dengan kejutan dan perasaan bahagia. Aku merasa optimis dan bersemangat untuk menghadapi hari esok yang baru.

__ADS_1


__ADS_2