
"Aku mau kuliah jurusan peternakan, tapi belum tau dimana." Aku memberitahu Usep tentang minatku setelah lulus kuliah.
"Baik, mari kita masuk ke IPK dan kita fokus pada bisnis kita, Imas." Ujar Usep penuh dengan semangat.
Aku terkejut dengan keputusan Usep yang malah ikut dengan keinginanku. "Ehh... kenapa kamu tidak memilih kampus dan jurusan yang kamu mau?" Tanyaku heran kepada Usep.
"Aku tidak butuh gelar, Imas. Tanpa gelar pun kita sebenarnya sudah sukses di bisnis Belut. Kita cuma terpaku kepada pendidikan, sedangkan yang sudah jelas-jelas menguntungkan didepan kita, kamu lupakan." Usep menjawab sambil tersenyum.
Aku terdiam dan merenungkan ucapan Usep. "Benar juga, bisnis belutku hampir bisa dipastikan segera mendunia, kenapa aku menelantarkannya begitu saja hanya demi pendidikan." Aku berkata dalam hatiku sendiri.
Setelah merenung sejenak, aku mengangguk setuju dengan perkataan Usep. Meskipun awalnya aku ragu dan terkejut, keputusan Usep membuatku menyadari bahwa pendidikan bukanlah satu-satunya jalan menuju kesuksesan.
"Aku mengerti apa yang kamu maksud, Usep," kataku akhirnya. "Kamu benar, bisnis belut kita memiliki potensi besar dan sudah menunjukkan hasil yang menguntungkan. Mengapa aku harus membuang kesempatan itu hanya demi gelar?"
Usep tersenyum dan mengangguk setuju. "Tepat sekali, Imas. Kita telah bekerja keras untuk membangun bisnis ini, dan kesempatan yang ada di depan mata kita begitu menggiurkan. Aku yakin kita bisa mencapai kesuksesan yang lebih besar jika fokus pada bisnis ini."
Dengan semangat baru yang menggelora, kami berdua sepakat untuk fokus mengembangkan bisnis belut kami. Kami menyadari bahwa kesuksesan tidak selalu tergantung pada gelar atau pendidikan formal, tetapi lebih pada kerja keras, kreativitas, dan kemampuan untuk melihat peluang di sekitar kita.
Meskipun aku masih berencana untuk melanjutkan pendidikan di jurusan peternakan di masa depan, kami memutuskan untuk menunda rencana itu dan memprioritaskan pengembangan bisnis kami saat ini. Kami menyadari bahwa keputusan ini mungkin memerlukan komitmen dan pengorbanan, tetapi kami yakin bahwa itu adalah langkah yang tepat untuk menggapai kesuksesan yang kami impikan.
"Baiklah, Imas. kita sudah pusing dengan obrolan serius kita hari ini. Sekarang waktunya kita bersenang-senang. Besok kita pergi ke Pantai, bagaimana?" Ajak Usep sambil memegang kepalaku penuh rasa sayang.
__ADS_1
Aku tersenyum dan merasa lega dengan saran Usep untuk bersenang-senang. Setelah diskusi yang cukup serius, kami memang membutuhkan waktu untuk bersantai dan melepaskan beban sejenak.
"Bagus, ide itu terdengar menyenangkan," jawabku sambil merasa semakin bersemangat. "Kita bisa menikmati waktu luang kita, menikmati pantai, dan menghilangkan stres sejenak. Itu pasti akan menyegarkan pikiran kita."
Kami memutuskan untuk pergi ke Pantai Anyer, yang terkenal dengan keindahan pantainya. Aku bergegas pulang dan hendak menceritakan semua rencanaku kepada ibu dan bapakku.
Aku pulang ke rumah dengan senyuman yang tak bisa kubendung. Aku bersemangat untuk berbagi rencana dan keputusanku kepada orangtuaku. Ketika aku memasuki rumah, aku melihat ibu sedang sibuk di dapur.
"Ibu, Bapak, ada hal yang ingin kubicarakan," ucapku sambil mencoba menenangkan diri.
Ibu menoleh ke arahku dengan senyuman hangat. "Ada apa, Nak? Ceritakanlah," kata ibu.
Ibu dan Bapak mendengarkan dengan penuh perhatian. Setelah aku selesai bercerita, mereka saling pandang sejenak sebelum akhirnya Bapak memberikan tanggapannya.
"Imas, kami mendukungmu dalam apapun pilihanmu," ujar Bapak dengan suara tegas namun penuh dukungan. "Kami percaya bahwa kamu adalah anak yang cerdas dan memiliki visi yang jelas untuk masa depanmu. Jika kamu merasa bahwa bisnis belut adalah jalan yang tepat untukmu saat ini, maka lanjutkanlah. Kami akan selalu mendukungmu."
Aku merasa sangat bersyukur memiliki orangtua yang begitu memahami dan mendukung impianku. Ibu menyambung perkataan Bapak dengan mengatakan, "Tapi, Nak, jangan lupa bahwa pendidikan tetaplah penting. Jika suatu saat kamu ingin melanjutkan kuliah di jurusan peternakan, itu adalah pilihan yang baik. Kembangkan bisnismu sekarang, dan kesempatan untuk belajar selalu ada di masa depan."
Aku mengangguk, mengerti apa yang mereka sampaikan. Aku merasa lega dan diberi kepercayaan oleh orangtua. Aku tahu bahwa mereka mendukungku sepenuhnya, baik dalam mengembangkan bisnis maupun dalam memilih pendidikan.
"Oya, besok aku mau liburan ke Pantai. Ibu dan bapak mau ikut?" Tanyaku sambil memakan cemilan yang ada di meja makan.
__ADS_1
Ibu dan Bapak saling bertatapan dan tersenyum. "Tentu, Nak. Liburan ke Pantai terdengar seperti rencana yang menyenangkan," ujar ibu dengan antusias.
Bapak menambahkan, "Kami juga butuh waktu untuk bersantai dan menikmati momen bersama keluarga. Pantai adalah tempat yang tepat untuk itu. Kita bisa menghabiskan waktu bersama, bermain air, dan menikmati keindahan alam."
Aku merasa senang dan berterima kasih atas dukungan orangtuaku. Liburan ke Pantai akan menjadi waktu yang menyenangkan bagi kami untuk mengisi energi, menikmati kebersamaan, dan menenangkan pikiran setelah diskusi serius tadi.
Keesokan harinya, kami berangkat menuju Pantai Anyer dengan penuh semangat. Kami membawa perlengkapan pantai, bekal makanan ringan, serta hati yang penuh kegembiraan. Perjalanan kami menuju pantai penuh tawa dan canda.
Setibanya di pantai, kami menemukan tempat yang nyaman untuk meletakkan perlengkapan kami. Aku dan Usep langsung berlarian ke arah ombak, membiarkan air laut menyentuh kaki kami. Ibu dan Bapak duduk di dekat pantai, menikmati angin sepoi-sepoi dan pemandangan yang indah.
Kami menghabiskan waktu bermain-main di pantai, berenang, membangun istana pasir, dan menikmati keindahan alam sekitar. Kami tertawa, berbicara, dan mengisi hari dengan kegembiraan. Semua kekhawatiran dan keputusan yang berat tadi seakan terasa jauh di tempat ini.
Saat matahari mulai terbenam, kami duduk bersama di pantai, menikmati momen yang tenang dan damai. Suasana pantai yang indah dan kedekatan kami sebagai keluarga membuatku merasa beruntung dan bersyukur.
"Aku merasa begitu bahagia bisa menghabiskan waktu ini bersama kalian," kataku dengan penuh rasa syukur.
Ibu tersenyum dan mengusap kepalaku lembut. "Ibu juga merasakan hal yang sama, Nak. Ini adalah momen yang berharga bagi ibu dan bapak. Kami selalu ada untukmu dan mendukungmu dalam setiap pilihan yang kamu ambil."
Bapak mengangguk setuju. "Ingatlah, Nak, kebahagiaan dan kesuksesanmu tidak hanya ditentukan oleh satu hal, seperti pendidikan atau bisnis. Ini adalah perjalanan hidupmu, dan kamu memiliki kemampuan dan kebebasan untuk menentukan arahnya. Kami akan selalu mendukungmu dalam apa pun yang kamu pilih."
Saat kami menikmati BBQ party, tiba-tiba terdengar teriakan histeris datang dari arah pantai.
__ADS_1