
Pagi-pagi buta yang masih gelap gurih nyoy, ehhh... salah, gelap gulita, Tony si preman kampung terlihat sedang jongkok dipinggir kali. Aku penasaran dan curiga dengan apa yang sedang dia kerjakan. Saat aku melintas tepat didepan dia, jantungku serasa berhenti berdetak, kaget setengah mati melihat pemandangan yang benar-benar tidak aku harapkan.
"Astagfirullah, Tonyyyyyy! Kamu teh nanaonan???" Aku berteriak sambil menendang tubuh Tony yang tepat berada didepanku hanya mengenakan kain sarung.
"Byuuuuuurrrrr." Dalam sekejap Tony tercebur kedalam kali.
"Imaaaaaasss, Buu..aahh.. Baaaa.. aahhh... Imas, ngapain kamu main tendang-tendang segala? gak liat Tony lagi setor? aduuhhh... jadi kena badan Tony." Tony marah-marah kepadaku karena kini badannya penuh dengan kotorannya sendiri.
"Naha atuh kamu modol teh bukan dirumah sendiri? Imas kaget liat burung kamu yang segede burung pipit, ihh.. najis... jijaaayyy." Sahutku merasa jijik melihatnya.
"WC rumah lagi mendet, Imas. Makanya Tony modol disini." Jawabnya sambil berusaha naik keatas.
"yaaa, mikir aja atuh, ini kan jalan umum, cari tempat lain yang gak bisa diliat orang!" Jawabku sambil menaikan intonasi suaraku.
Tony merangkak keluar dari kali dengan kain sarungnya yang basah terkena kotoran. Ia tampak kesal dan malu karena kejadian tersebut. Aku merasa sedikit bersalah karena tanpa sengaja membuatnya tercebur ke dalam kali, meskipun dia sebenarnya yang memulai dengan aktivitasnya yang kurang pantas di tempat umum.
"Maaf, Tony. Aku teh tidak bermaksud membuatmu jatuh ke dalam kali. Tapi sebaiknya kamu memilih tempat yang lebih pantas untuk melakukannya," ucapku dengan nada penyesalan.
Tony mengangkat bahunya sambil membersihkan dirinya dengan tangan yang kotor. "Ya sudahlah, Imas. Aku juga salah sih, seharusnya lebih berhati-hati. Tapi jangan berteriak-teriak seperti tadi, bisa malu aku di depan orang banyak," katanya sambil mencoba memperbaiki sarung yang basah dan kotor.
Aku merasa sedikit bersalah dan merasa perlu meminta maaf dengan tulus. "Baiklah, maafkan aku, Tony. Aku tidak seharusnya berteriak padamu seperti itu. Aku hanya terkejut dan tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan di sini."
Tony menghela nafas dan melihatku dengan pandangan lembut. "Sudahlah, Imas. Kita sama-sama punya kesalahan. Ayo, jangan saling marah. Bagaimana kalau kita lupakan kejadian ini?"
"Mana bisa lupa? kamu bikin Imas jijik." Aku berlari meninggalkan Tony yang bau dan kotor dipinggir kali.
"Dasar Imaaaasss!" Tony terlihat benar-benar marah terhadapku.
__ADS_1
Tony, yang merasa tersinggung dengan komentar terakhirku, menghela nafas dengan kesal. Dia tidak menyukai responsku yang menunjukkan ketidakpengertian dan kejijikan terhadap situasi yang terjadi.
"Imas, aku sudah meminta maaf dan berusaha melupakan kejadian ini. Tapi sepertinya kamu masih terus membesar-besarkan masalah ini dan membuatku semakin marah. Apa kamu tidak bisa memahami situasi dan mengerti bahwa setiap orang bisa melakukan kesalahan?"
Aku berhenti sejenak, merenungkan kata-katanya. Memang, mungkin aku terlalu keras dalam mengomentari apa yang terjadi.
"Tony, kamu teh udah besar, udah gede. Mikir kalau mau modol teh!" Ujarku dengan nada sinis lalu aku kembali berjalan pergi.
Tony, yang merasa semakin kesal dengan sikapku, menggelengkan kepala dengan frustrasi. Dia merasa bahwa aku tidak menghargai permintaan maafnya dan masih terus mengejeknya.
"Imas, aku sudah mencoba untuk meminta maaf dan melupakan kejadian ini, tetapi kamu terus memperbesar masalah ini dan menyakiti perasaanku. Aku berharap kamu bisa lebih memahami dan menghargai perasaanku sebagai manusia yang juga punya kesalahan."
"BAB dipinggir kali mah bukan kesalahan, tapi kebodohan untuk pria seumuran kamu!" Jawabku semakin kesal karena Tony masih belum menyadari kebodohannya.
"Ini masih pagi buta, Imas. Aku pikir gada orang yang akan lewat." Tony mulai melunakkan nada suaranya.
"makanya, aku bilang kamu bodoh, gak mikir, gak ngotak." Aku langsung pergi meninggalkan Tony yang terlihat masih bingung.
Namun, setelah beberapa saat berjalan, aku mulai merenungkan kembali sikapku. Aku menyadari bahwa kemarahanku dan sikap sinis tidak akan membawa solusi apapun. Lebih baik jika aku mencoba untuk berkomunikasi dengan lebih bijaksana dan membuka ruang untuk berbicara.
Aku memutuskan untuk kembali ke tempat Tony berada. Ketika aku mendekatinya, aku berusaha untuk menenangkan diri dan mengungkapkan perasaanku dengan lebih bijaksana.
"Tony, tutupi dulu badanmu semua! Dan, maafkan aku jika aku tadi terlalu emosional dalam menyampaikan ketidaknyamananku. Aku hanya ingin kamu memahami bahwa ada cara yang lebih baik dan pantas dalam menangani kebutuhan pribadi seperti itu. Bukan untuk menyalahkanmu, tapi sebagai teman, aku ingin memberikan saran yang lebih baik untuk kedepannya."
Tony mengangguk dan terlihat lebih terbuka untuk mendengarku. "Imas, aku minta maaf jika tindakanku membuatmu marah. Aku memang perlu lebih berhati-hati dan mempertimbangkan orang-orang di sekitarku. Terima kasih atas saran dan peringatanmu."
Aku menghela nafas lega, "Baiklah, aku pergi sekolah dulu." Ucapku singkat dan kembali melanjutkan perjalanan kesekolah.
__ADS_1
sesampainya disekolah, aku menjadi sangat tidak fokus dengan pelajaran karena pemandangan yang memalukan itu membuatku merasa jijik dan benar-benar diluar ekspektasi.
Aku ingin bercerita dengan teman-teman soal kejadian tadi pagi. Tapi, aku malu sendiri. Rasanya tidak kuasa untuk bercerita tentang hal memalukan tersebut.
"Heran, kok bisa-bisanya si Tony Buang Air Besar di tempat umum?" Ujarku didalam hati.
Saat melihat Tony buang air besar di tempat umum, aku merasa heran dan bingung. Adegan tersebut memicu pertanyaan dalam hatiku, mencoba mencari pemahaman tentang alasannya.
"Kenapa Tony melakukan itu di tempat umum? Apakah dia tidak tahu bahwa itu tidak pantas dilakukan? Apa yang mendorongnya untuk mengambil tindakan semacam itu?"
Meskipun aku merasa bingung dan tidak menyukai tindakan Tony, aku menyadari bahwa setiap individu memiliki latar belakang, pengalaman, dan pertimbangan pribadi yang mungkin mempengaruhi perilaku mereka. Meski begitu, tetap saja, itu bukan alasan yang membenarkan tindakan yang tidak pantas tersebut.
Saat aku fokus melamun, tiba-tiba Usep datang menghapiriku dan membuat aku kaget bukan main. "Ehh modol, eh copot copot."
Usep yang melihat aku latah, secara spontan dia tertawa terbahak-bahak. "Hahahaa... Imas. Maaf kalau kedatangan aku membuat kamu terkejut." Usep berkata sambil memegang perutnya karena menahan tawa.
Aku menarik napas panjang, lalu aku tendang kaki Usep sampai dia berteriak kesakitan. "Gak Lucu." Sahutku sambil beranjak pergi.
Usep dengan cepat meraih tanganku lalu dia meminta maaf. "Imas, kamu kenapa? beneran, maafkan aku, Imas." Usep berkata dengan suara bergetar seperti orang sedang ketakutan.
"Gapapa, Usep. Imas cuma lagi kesel dengan kejadian tadi waktu berangkat sekolah." Jawabku dengan wajah cemberut.
"Cerita dong! kita kan pacaran, harus saling terbuka." Usep menjadi tertarik untuk mendengar cerita dariku.
"Hah...? emang kita pacaran?" Jawabku sedikit kaget dan kebingungan.
"Lahh... kemarin?" Usep menjadi bingung dan terlihat agak malu mendengar ucapanku.
__ADS_1
"Aku kan belum jawab, Usep." Aku mencoba menjelaskan pada Usep.
Usep terlihat kecewa, kepalanya menunduk lemas dan berkata, "Aku pikir... kitaaaa... ahhh.. sudahlah.. gapapa, aku paham." Usep lalu pergi meninggalkan aku yang dalam sekejap merasa bersalah dengan ucapanku terhadap Usep.