
Ridwan mulai menunjukan sikap yang kurang berkenan dihatiku. Dia mulai menggoda dan kadang terlihat seperti menunjukan ketertarikannya kepadaku. Aku berusaha jujur kepadanya bahwa aku sudah punya pacar di Indonesia.
"Ridwan, aku mau jujur sama kamu. Aku tidak suka jikalau kedekatan kita kamu sikapi dari sisi yang berbeda." Ujarku kepada Ridwan.
"Maksudnya?" Ridwan menjawab dengan bersikap pura-pura tidak mengerti.
"Aku merasa bahwa kamu menggoda dan menunjukkan ketertarikan padaku, meskipun aku sudah memiliki pacar di Indonesia," lanjutku dengan tegas.
Ridwan masih terlihat sedikit bingung, namun aku memutuskan untuk menjelaskan lebih lanjut. "Sikapmu terkadang terlalu mendekati dan memberikan sinyal yang ambigu. Ini membuatku tidak nyaman dan aku ingin menjaga batasan antara kita."
Ridwan mengernyitkan dahinya, namun akhirnya mengakui, "Maaf, Imas. Aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman. Aku hanya ingin menjalin hubungan yang baik denganmu."
Aku menghargai upayanya untuk menjelaskan dirinya, namun aku tetap merasa perlu menegaskan batasan. "Terima kasih atas penjelasannya, tetapi aku ingin memastikan bahwa kita tetap menjaga hubungan sebagai teman. Aku berharap kamu menghormati keputusanku dan memahami posisiku."
Ridwan terdiam lalu wajahnya terlihat sedang berpikir keras. Dia kemudian melanjutkan kalimatnya. "Ok, aku mau jujur kalau aku memang suka sama kamu, Imas."
Aku tidak terkejut karena aku sudah tau dari tingkah lakunya. "Ya, aku tau. Makanya aku tegaskan disini, kalau aku sudah memiliki pacar." Jawabku ketus.
"Tapi pacarmu jauh, Imas. Aku tau kamu kesepian disini." Ujar Ridwan dan kalimat itu benar-benar menyinggung perasaanku.
Aku memutuskan untuk tetap tenang namun teguh dalam sikapku. "Ridwan, aku menghargai perasaanmu, tetapi itu tidak berarti kamu dapat mengabaikan keputusanku atau menganggap remeh hubunganku dengan pacarku. Aku mengharapkan kamu menghormati keputusanku dan memahami bahwa aku tidak ingin melampaui batasan sebagai teman."
Ridwan terlihat agak tersentuh dengan kata-kataku, namun dia masih mencoba mempengaruhi pikiranku. "Aku hanya ingin memberikanmu perhatian dan kehangatan yang kamu butuhkan di sini. Aku yakin pacarmu tidak bisa memberikanmu semua itu."
Aku merasa tidak nyaman dengan upayanya yang terus-menerus untuk membujukku. "Ridwan, itu bukan alasan yang valid untuk melanggar batasan dan mengganggu hubunganku. Aku tidak menginginkan hal-hal seperti ini terjadi. Aku ingin kita tetap menjaga persahabatan kita tanpa adanya ketegangan atau ekspektasi yang tidak pantas."
Ridwan akhirnya pergi meninggalkan aku tanpa sepatah kata pun. Aku merasa semakin tidak nyaman dengan situasi seperti ini. Aku akhirnya menceritakan semua hal yang terjadi kepada Laura.
Laura mendengarkan dengan penuh perhatian dan empati. Dia mengerti perasaanku dan mengungkapkan dukungannya. "Imas, aku menghargai kejujuranmu dalam menghadapi situasi ini. Kamu sudah melakukan yang terbaik dengan mengkomunikasikan perasaanmu kepada Ridwan. Tapi sepertinya dia tidak menghormati keputusanmu dan mencoba meyakinkanmu untuk merespons perasaannya."
__ADS_1
Aku mengangguk setuju, merasa lega bahwa Laura memahami perasaanku. "Ya, benar. Aku merasa semakin tidak nyaman dengan sikapnya. Aku ingin menjaga hubungan kita sebagai teman, tapi aku juga tidak ingin melukai perasaannya."
Laura memberiku dukungan tambahan. "Imas, kamu tidak bertanggung jawab atas perasaan Ridwan. Kamu sudah jelas dan tegas mengungkapkan bahwa kamu memiliki pacar dan ingin menjaga hubungan ini sebagai teman. Jika Ridwan tidak bisa menghormati itu, mungkin kita perlu mempertimbangkan menjaga jarak dengan dia."
Aku merenungkan kata-kata Laura dan menyadari bahwa memang mungkin terbaik untuk menjaga jarak dengan Ridwan jika dia tidak menghormati keputusanku. Aku berterima kasih atas dukungannya dan merasa lebih kuat dalam menghadapi situasi ini.
Beberapa hari kemudian, hal-hal yang tidak aku inginkan pun terjadi. Loker tempat aku menyimpan barang di kampus sepertinya sudah dirusak oleh seseorang. Ketika aku membuka lokerku, aku lihat begitu banyak sampah yang menjijikan ditaruh disana.
"Astagfirullah, siapa yang berani menyimpan sampah di lokerku?" Ucapku dalam hati.
Aku segera membersihkan sampah tersebut dengan hati-hati, berusaha menjaga ketenangan diriku. Kemudian, aku memutuskan untuk memberitahukan kejadian ini kepada pihak berwenang di kampus.
Setelah melaporkan insiden tersebut, aku juga memutuskan untuk berbagi cerita dengan Laura. Aku menggambarkan detail kejadian dan mengungkapkan kebingunganku tentang siapa yang mungkin melakukan hal tersebut. Laura mendengarkanku dengan empati dan memahami perasaanku.
"Imas, itu benar-benar perilaku yang tidak pantas. Aku tidak bisa membayangkan siapa yang akan melakukan sesuatu seperti itu kepadamu. Apakah kamu memiliki dugaan siapa yang bisa melakukannya?" tanya Laura dengan khawatir.
Aku menggelengkan kepala. "Aku tidak yakin, Laura. Tapi ini terjadi setelah aku menolak ketertarikan Ridwan padaku. Aku berharap ini bukan karena itu, tapi rasanya aneh."
Aku mengangguk. "Ya, aku sudah melaporkannya dan menyebutkan bahwa ini mungkin ada hubungannya dengan situasi antara aku dan Ridwan. Mereka akan menyelidikinya dan memberikan tindakan yang tepat."
Laura meletakkan tangannya di atas tanganku dengan lembut. "Aku berharap mereka bisa menemukan siapa pelakunya dan mengambil tindakan yang tegas. Tetapi aku juga ingin kamu tetap waspada dan menjaga keamananmu sendiri. Jika kamu merasa tidak nyaman atau terancam, beri tahu aku atau orang lain yang bisa membantu."
Aku tersenyum pada Laura, merasakan dukungan dan cinta yang terpancar darinya. "Terima kasih, Laura. Aku beruntung memilikimu sebagai sumber dukungan dalam situasi ini. Aku akan tetap waspada dan berusaha menjaga keamanan diriku."
Beberapa minggu berlalu, teror kepadaku semakin menjadi-jadi. Kini, tasku menjadi sangat kotor karena penuh dengan coretan dengan kata-kata yang sangat kotor. "Astagfirullah, apa lagi ini?"
Laura yang melihat segera menghampiriku dan berkata kepadaku, "Ayo kita temui Ridwan!" Ajaknya penuh rasa amarah.
Aku dan Laura mencari Ridwan disekeliling kampus. Dan, setelah sekian lama kami mencari, akhirnya kami menemukan Ridwan sedang bermain basket dengan teman-temannya.
__ADS_1
Aku dan Laura mendekati Ridwan yang sedang bermain basket dengan teman-temannya. Wajahku penuh dengan kekesalan dan keputusasaan, namun aku berusaha tetap tenang dan menjaga diriku.
"Ridwan," panggil Laura dengan suara tegas. Ridwan dan teman-temannya berhenti bermain dan menoleh ke arah kami.
Ridwan mengerutkan kening, "Ada apa, Laura?"
"Aku dan Imas menemukan beberapa kejadian yang tidak pantas terjadi terhadap Imas. Apa kamu tahu apa yang terjadi?" tanya Laura dengan nada yang tegas.
Ridwan tersenyum sinis, "Oh, jadi kamu menganggapku sebagai tersangka? Apakah Imas mengatakan itu padamu?"
Aku melangkah maju, mencoba mengendalikan emosiku yang meledak-ledak. "Ridwan, ini sudah terlalu jauh. Aku sudah menghormati keputusanmu sebagai teman, tapi kamu terus melampaui batasan. Mengapa kamu melakukan semua ini?"
Ridwan menggelengkan kepalanya, "Kamu pikir aku peduli dengan hubunganmu? Aku mencoba membuatmu sadar bahwa pacarmu tidak ada di sini, dan kamu bisa mendapatkan perhatian dan kehangatan dariku. Tapi ternyata kamu memilih untuk tetap setia pada pacarmu yang jauh."
Aku merasa semakin marah dan terluka dengan sikap Ridwan. "Ridwan, itu bukan alasan yang valid untuk memperlakukanku seperti ini. Aku memiliki hak untuk menjaga hubungan dengan pacarku dan kamu tidak berhak mengganggu atau mengintervensi dalam kehidupan pribadiku. Apa yang kamu lakukan sangat tidak pantas!"
Ridwan tertawa dengan sinis, "Tidak pantas? Aku hanya menunjukkan betapa pentingnya aku dalam hidupmu. Jika kamu tidak menghargai itu, maka kamu harus menerima konsekuensinya."
Laura melangkah maju dan berdiri di sampingku dengan tegas. "Ridwan, apa yang kamu lakukan adalah perilaku yang tidak dapat diterima. Kamu tidak memiliki hak untuk memaksakan perasaanmu kepada Imas atau melukainya secara emosional atau fisik. Kami tidak akan membiarkan kamu melanjutkan perilaku ini."
Ridwan merasa tersinggung oleh kata-kata Laura. "Apa yang bisa kamu lakukan? Hanya teman-temanmu yang akan mendukungmu. Tapi aku akan membuat kalian menyesal."
Aku merasa takut dan marah pada saat yang bersamaan. Namun, aku juga merasa didukung oleh keberanian Laura dan semangat untuk melawan perlakuan tidak adil ini. Aku menatap Ridwan dengan tegas, "Ridwan, jika kamu terus melanjutkan perilaku ini, kami akan melaporkannya ke pihak berwenang kampus dan mengambil tindakan yang tepat. Kamu tidak bisa sembarang memperlakukan orang lain dengan semena-mena."
Ridwan terlihat terkejut sejenak, tapi kemudian ia mengambil sikap melemparkan senyuman sinis dan mengatakan, "Lakukan apa yang kamu mau. Aku tidak akan berhenti sampai aku mendapatkan yang aku inginkan."
Laura memegang tanganku erat dan memberiku dukungan. "Kita akan menghadapinya bersama, Imas. Kamu tidak sendiri dalam menghadapi ini. Kita akan melindungi diri kita dan memastikan bahwa Ridwan mendapatkan konsekuensi yang pantas atas perilakunya."
Belum sempat kami kembali ke kelas, tiba-tiba semprotan cat mengenai tubuhku disertai gelak tawa bahagia dari Ridwan dan teman-temannya.
__ADS_1
"Ridwan, tidak lucu sama sekali! Ujarku sambil menangis dengan apa yang sudah terjadi.
Ridwan dan teman-temannya semakin tertawa terbahak-bahak mendengan ucapanku. Mereka terlihat begitu menikmati disaat aku merasa tersinggung.