
Pagi hari setelah aku selesai mandi, aku segera bersiap-siap untuk pergi kesekolah. Saat aku selesai mengenakan seragam, handphone ku berbunyi. Aku lihat layarnya, ada pesan WhatsApp dari Usep. "Pagi, Imas. 5 menit lagi aku sampai dirumah kamu." Aku tersenyum dan membalasnya dengan segera. "Iya, Usep."
Aku bergegas pergi keluar rumah, lalu aku dikagetkan dengan sosok yang sedang berdiri didepan rumah dengan senyumannya. "Pagi Imas, bareng lagi sama aku yuk!" Vey menawarkan diri lagi untuk berangkat sekolah bareng.
"Aduh.. maaf, Vey. Aku sudah ada janji untuk berangkat sekolah bareng sama Usep." Jawabku penuh rasa bersalah.
Vey mengerutkan keningnya, tapi segera mengembalikan senyumannya. "Oh, tidak apa-apa, Imas. Sama-sama teman sekolah kan? Jadi, kita masih bisa berangkat bareng."
Tak lama kemudian Aku melihat Usep datang dengan sepeda motornya. Aku lalu menyapa duluan.
"Pagi, Usep!" sapaku sambil mendekati Usep.
"Pagi, Imas!" jawab Usep sambil tersenyum. "Siap untuk berangkat?"
"Aku sudah siap, tapi Vey juga ada di sini. Dia mau ikut bareng kita," jelasku.
Usep melirik Vey yang berdiri di depan pintu dengan senyuman. "Tentu, tidak masalah. Mau cabe-cabean?" Usep berkata sedikit menyindir Vey.
"Ohh.. aku pikir kamu bawa mobil, Sep." Vey berkata dengan nada sinis juga.
"Nggak lah, awalnya aku pikir kami cuma berdua, ngapain juga harus pake mobil, Vey?" Usep kembali menjawab dengan nada sinis juga.
Aku memandang mereka berdua, sedikit khawatir bahwa suasana bisa menjadi tidak nyaman. "Ayo, jangan ribut kalian berdua. Kita sudah terlambat," kataku sambil mencoba meredakan suasana.
Aku berangkat bersama Usep sedangkan Vey mengikuti kami dari belakang dengan mobilnya.
Setibanya disekolah, aku mencoba untuk menghibur Vey dengan mengajaknya bicara.
"Akhir pekan ini ada rencana apa, Vey?" tanyaku, mencoba untuk mengalihkan perhatian.
Vey tersenyum dan menjawab, "Aku berencana pergi ke taman hiburan bersama keluarga. Sudah lama tidak pergi bersama-sama."
"Apa kamu akan naik wahana yang seru?" tanyaku dengan antusias.
Vey mengangguk. "Tentu saja! Aku suka tantangan dan sensasi wahana yang menegangkan."
__ADS_1
Usep yang mendengarkan percakapan kami, ikut berbicara, "Aku juga suka wahana yang menguji adrenalin, seperti mencari belut."
Aku tersenyum mendengar ucapan Usep, entah mengapa aku merasa Usep tau betul cara membuatku kagum dan simpatik kepadanya.
"Pulang sekolah mau nemenin aku cari belut, Sep?" tanyaku sedikit antusias.
"Hohoho.. so pasti lah. Aku tunggu didepan kelas pulang jam belajar ya." Usep berkata sambil pamit dan melambaikan tangan.
Vey terdiam dan berkata, "Bukankah kita juga pernah nangkep belut bareng-bareng, Imas?"
"Ya, aku ingat. Waktu itu hari pertama kamu resmi pindah rumah, aku dan Ujang mengajakmu ikut mencari belut." Jawabku santai.
Sebelum Vey menjawab dan disaat mulutnya mangap, bel sekolah berbunyi tanda pelajaran pertama dimulai.
Kami berpisah dan masuk ke dalam kelas masing-masing. Selama pelajaran berlangsung, aku teringat kembali pada momen-momen yang indah bersama Usep dan Vey. Meskipun awalnya aku merasa bersalah karena harus memilih antara mereka, namun aku merasa beruntung memiliki dua teman seperti mereka.
Setelah pelajaran berakhir, aku langsung menuju tempat pertemuan dengan Usep di depan kelas. Usep sudah menunggu dengan senyumannya yang khas.
"Ayo, Imas. Kita langsung pergi mencari belut," ajak Usep semangat.
Kami berjalan menuju sebuah area sawah yang tidak jauh dari rumahku. Suasana sore yang sejuk dan pemandangan hijau sawah membuat perasaan kami semakin riang. Kami berjalan pelan sambil menikmati percakapan ringan.
"Kamu siap?" tanyaku kepada Usep.
"Siap!" jawab Usep dengan fokus.
Kami mulai menggali lumpur dengan tangan kami, mencari belut yang tersembunyi di dalamnya. Beberapa kali kami menemukan belut kecil yang licin dan licik. Kami tertawa riang setiap kali berhasil menangkap satu.
Saat hari mulai gelap, kami memutuskan untuk pulang. Usep mampir sambil membawakan ember yang berisi belut. Di depan rumah, Ujang sudah duduk menunggu kami. Aku agak sedikit canggung karena sudah lama kami tidak berbicara.
"Ujang, nungguin siapa?" tanyaku gugup.
"nungguin Belut hunter." Jawab Ujang pendek dan terlihat mukanya murung.
Aku merasa sedikit kikuk dengan jawaban Ujang yang terkesan singkat dan murung. Aku mendekati Ujang dengan penuh perhatian.
__ADS_1
"Ada apa, Ujang? Kamu terlihat sedih," tanyaku dengan nada lembut.
Ujang menghela nafas dan menatapku dengan mata penuh kekhawatiran. "Imas, maafkan aku kalau terlihat murung. Sebenarnya, aku ada masalah dengan keluargaku. Ayahku kehilangan pekerjaannya dan kami mengalami kesulitan keuangan."
"Aku gak tau harus ngomong apa, Ujang. Kamu tahu kan, tapi nanti kita akan mencari cara untuk membantu keluargamu. Jangan menanggung beban sendiri," ucapku dengan penuh semangat.
Ujang tersenyum kecil dan mengangguk. "Terima kasih, Imas. Aku beruntung punya teman seperti kamu."
Kami berbicara lebih lanjut tentang situasi Ujang dan membicarakan kemungkinan langkah-langkah yang dapat kami ambil untuk membantu keluarganya. Usep juga ikut memberikan saran dan dukungan.
"Ayahku memiliki teman yang bekerja di perusahaan konstruksi. Aku bisa mencoba menghubungi mereka untuk mencari pekerjaan sementara bagi ayahmu," saran Usep.
Ujang mengangguk dengan antusias. "Terima kasih, Usep. Aku akan coba menghubungi mereka segera."
Malam itu, kami menghabiskan waktu bersama, saling mendengarkan dan memberikan semangat satu sama lain. Kami melewati malam dengan tawa, curhat, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Saat kami asik ngobrol, tiba-tiba muncul Tony. Dia lewat tepat di didepan kami duduk. Tony adalah preman di kampung ini, semua warga sangat tidak suka dengan tingkah lakunya.
"Weiss.. gadis pujaan Aa tony sedang dikencani dua orang laki." Tony berkata dengan ekspresi marah.
"Maksud maneh teh naon sih, Ton?" aku mencoba mengambil sikap tegas duluan, maksudnya biar Tony tidak macem-macem dengan Usep yang kebetulan bukan warga kampung sini.
Melihat Tony datang dengan sikap yang provokatif, aku mencoba mempertahankan ketenangan diri.
Usep, yang biasanya tenang dan tidak suka berkonfrontasi, juga ikut berbicara dengan nada lembut, "Kita semua adalah teman-teman di sini. Dan, gada larangan untuk kami bertamu ataupun ngobrol."
Tony menatap kami dengan ekspresi yang menunjukkan kemarahan. Namun, dia tampak sedikit terkejut dengan sikap kami yang tenang dan tidak menanggapi dengan agresifitas.
"Aku tidak peduli dengan masalah kalian! Gadis pujaan Aku tidak boleh didekati oleh siapa pun, termasuk kalian berdua!" Tony berkata dengan suara keras, mencoba mengintimidasi kami.
Aku tetap berusaha menjaga ketenangan dan menunjukkan sikap bijaksana. "Tony, tidak perlu memperburuk situasi. Mari kita bicarakan secara dewasa dan temukan cara yang saling menguntungkan bagi semua orang."
Usep mengangguk setuju dengan kata-kataku. "Kita tidak ingin berkonflik denganmu, Tony. Kami hanya ingin membantu Ujang dan mengatasi masalahnya bersama-sama."
Tony terdiam sejenak, tampak sedikit ragu dalam sikapnya. Kemudian, dia mengeluarkan suara tertawa sinis. "Baiklah, untuk kali ini aku akan membiarkan kalian. Tapi jangan harap aku akan melupakan ini."
__ADS_1
Kami menyadari bahwa situasi dengan Tony tidak sepenuhnya teratasi, tetapi kami memilih untuk menghindari konflik yang lebih besar dan fokus pada masalah yang sedang kami hadapi.
Setelah Tony pergi, kami kembali membahas langkah-langkah yang dapat kami ambil untuk membantu keluarga Ujang.