Imas Hatori

Imas Hatori
Dukungan semua pihak


__ADS_3

Aku duduk dirumah dengan perasaan deg-degan sambil menunggu Usep datang. Ibuku yang melihat aku begitu gelisah menghampiriku dan bertanya dengan lembut, "Imas, tenang. Bicarakan semuanya dengan jelas dan santai."


"Iya, bu. Aku sudah tau kok apa yang harus aku katakan sama Usep." Jawabku sambil tetap mencoba menenangkan diri.


"Apa kamu sudah yakin, Imas?" Ibuku sekali lagi bertanya dan memeluk pundakku.


"InshaAllah, Imas yakin 100%. Semua adalah cita-cita yang mungkin saja sudah menjadi ketetapan Allah, Ibu." Jawabku mantap.


Tak lama berselang, Usep datang kerumahku menggunakan sepeda motornya. "Assalamualaikum, Imas."


Ibu beranjak keluar menyambut Usep dan mempersilahkan dia untuk masuk dan menemuiku. "Wa'alaikumussalam, Usep. Silahkan masuk, Imas sudah menunggu dari tadi." Terdengar Ibuku menjawab salam Usep.


Usep duduk di kursi tamu dan aku segera membawakannya air putih dan duduk didepan Usep.


"Apa kabar, Usep?" tanyaku dengan sedikit gemetar dalam suara.


"Alhamdulillah, Imas. Baik-baik saja. Ada yang ingin kamu bicarakan?" jawab Usep sambil tersenyum ramah.


Aku mengambil napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaanku. "Usep, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu."


Usep mengangguk, memberikan perhatiannya sepenuhnya padaku. Ibu duduk di sampingku, memberikan dukungan dengan senyumannya.


"Aku baru saja mendapat kabar yang mungkin baik untukku dan buruk untuk kita, Usep. Aku ternyata lolos seleksi untuk mendapatkan beasiswa melanjutkan kuliah di Australia. Sekarang aku bingung dengan sikapku, apakah aku ambil kesempatan ini atau aku lupakan semuanya."


Usep terlihat terkejut mendengar kabar itu, namun ia tetap tenang. Ia memandangku dengan penuh perhatian. "Imas, apapun keputusanmu itu, aku akan selalu mendukungmu."


Aku mengerti bahwa Usep butuh waktu untuk memproses berita ini. Ibu memegang tanganku dengan lembut, memberikan dukungan dan ketenangan. "Imas, lanjutkan. Semuanya akan baik-baik saja. Biarkan Usep memikirkan semuanya dengan baik."


Aku mengangguk, mencoba menerima kenyataan bahwa segalanya masih belum pasti. Meski dalam hatiku aku berharap Usep akan merespons berita ini dengan baik.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Usep mengambil napas dalam-dalam. "Imas, aku memang berharap kamu tetap disini. Tapi, aku juga harus mendukung kamu sebagai pacarku maju dan berkembang dalam merintis karir dan kehidupannya."


Mendengar jawaban Usep, hatiku berdesir bahagia. Aku tersenyum lebar dan merasa lega. Ibu tersenyum bangga melihat kebahagiaanku.


"Terima kasih, Usep. Aku sangat senang mendengarnya. Semoga hubungan kita tidak terganggu gara-gara rencanaku untuk menuntut ilmu di negeri orang," ucapku dengan suara penuh harap.


Dalam pelukan ibu, perasaan syukur campur bahagia memenuhi hatiku. Aku merasa beruntung memiliki seorang pacar yang begitu pengertian dan mendukung cita-cita masa depanku.


"Usep, ini bukan keputusan yang mudah bagiku juga. Tapi, aku berjanji akan tetap menjaga hubungan kita dan berusaha untuk membuat semuanya berjalan dengan baik," kataku dengan tulus.


Usep tersenyum penuh pengertian. "Imas, aku tahu kamu pasti akan berusaha semaksimal mungkin. Kita harus tetap komunikatif dan saling mendukung dalam segala hal. Jarak bukanlah halangan bagi cinta sejati."


Ibu mengangguk setuju. "Benar, anakku. Jarak memang bisa menjadi ujian, tetapi jika cinta dan komitmen kalian kuat, maka kalian bisa menghadapinya dengan baik. Dan tentu saja, doa dan usaha ikhtiar juga harus selalu ada."


"Tapi... bisnis belutku, bagaimana?" Aku kepikiran bisnisku yang sedang dalam proses berkembang ini.


"Tenang saja, Imas. Biar aku yang mengurus semua bisnismu disini. Laporan akan tetap masuk kepadamu setiap minggunya." Ujar Usep mencoba memberikan solusi kepadaku.


"Apa kamu serius, Usep?" tanyaku, masih sedikit tidak percaya.


"Iya, Imas. Aku serius. Bisnismu akan tetap berjalan dengan baik. Aku akan menjaga segalanya sebaik mungkin," jawab Usep dengan mantap.


Aku tersenyum bahagia. "Terima kasih, Usep. Aku sangat menghargai tawaranmu itu. Aku percaya bisnisku akan aman di tanganmu."


Ibu tersenyum bangga melihat kami berdua. "Lihatlah, anakku, kamu memiliki pasangan yang begitu peduli dan siap mendukungmu. Itu adalah anugerah yang sangat berharga."


Saat obrolan semakin dalam, terdengar suara Ujang memanggil namaku dari luar rumah. "Imas... Imas..."


Aku bangkit dari kursi dan pergi ke pintu untuk menemui Ujang, teman kecilku sejak kecil. "Ada apa, Ujang?" tanyaku penasaran.

__ADS_1


Ujang terengah-engah, "Imas, aku ada berita penting. Aku tadi kebetulan kesekolah untuk melegalisir ijazahku, dan aku melihat poster pengumuman penerimaan beasiswa kuliah di Australia. Nama kamu tertera di poster itu!"


"Kamu mendaftar program beasiswa itu?" Tanya Ujang terlihat sangat penasaran.


"Iya, Ujang. Aku memang mendaftar dan Alhamdulillah aku terpilih." Jawabku singkat.


"Ya, semua siswa yang kebetulan ada disekolah ikutan kaget. Seorang Imas yang pecicilan bisa juga berprestasi." Sahut Ujang mencoba menghibur kesedihan dirinya yang akan berpisah denganku.


Aku tersenyum mendengar berita itu. Aku tidak menyangka bahwa poster pengumuman beasiswa tersebut telah dipasang di sekolah SMA Spotaker.


"Terima kasih, Ujang! Iya, Ujang. Kemarin aku mendapat pesan singkat soal berita ini," kataku sambil tersenyum dan merasa semakin yakin dengan keputusanku.


Ujang tersenyum lebar. "Aku sangat bangga padamu, Imas! Semoga kamu sukses di Australia dan jangan lupakan kami di sini."


"Aku tidak akan pernah melupakan teman-temanku dan masa kecilku, Ujang. Kalian akan selalu ada di hatiku," jawabku penuh harap.


"Pokoknya, Imas Hatori harus tetap menjadi Hatori. Aku akan merindukan momen kita saat menangkap Belut." Ujang menunduk terlihat sedih saat mengingat semua kenangan yang mungkin lama untuk bisa kita ulangi lagi.


"Tentu saja, Ujang. Nanti saat aku pulang, aku akan menghabiskan waktu untuk melakukan hobiku itu." Sahutku mencoba Menghilangkan kesedihan.


Ibu tersenyum bahagia. "Imas, jangan pernah takut untuk mengejar mimpi-mu. Kami akan selalu mendukungmu sepenuh hati."


Aku menatap ibuku dengan perasaan bangga dan lalu berkata, "Bisnis belutku juga akan tetap berjalan berkat bantuan Usep. Aku sangat bersyukur memiliki kalian dalam hidupku," kataku dengan rasa syukur yang mendalam.


Usep tersenyum lembut. "Imas, jangan terlalu kamu pikirkan. Aku akan menjaga bisnismu tetap berjalan dengan baik.


Aku merasa lega dan bahagia mendengar dukungan dari Usep dan ibuku. Meskipun keputusan ini tidak mudah bagiku, aku yakin bahwa kami dapat menghadapinya dengan saling mendukung.


"Aku akan merindukanmu, Imas. Tetap semangat di sana dan berjuang untuk impianmu. Aku akan selalu mendukungmu dari jauh," kata Usep sambil mengusap rambutku.

__ADS_1


"Aku juga akan merindukanmu, Usep. Terima kasih atas segalanya. Kita akan tetap kuat dan menjaga hubungan ini. Aku berjanji," jawabku dengan suara yang bergetar.


Kami berdua saling tersenyum, meskipun hati kami sedikit teriris. Usep dan Ujang lalu berpamitan untuk pulang dan memberikan aku kesempatan untuk prepare barang yang akan aku bawa ke Australia.


__ADS_2