
Usep pergi meninggalkan rumahku dengan sepeda motornya. Ditengah jalan Tony dan teman-temannya ternyata sudah menghadang Usep. Lebih dari 10 orang kini mengelilingi Usep dengan niat mencelakainya.
Saat ketegangan semakin memuncak, Ujang yang secara tidak sengaja lewat tempat itu mengenali sosok yang sedang berseteru. "Usep? wahh... Tony sepertinya ingin mencelakai Usep. Aku harus cepat memberitahu Imas soal ini." Ujang berinisiatif untuk segera melapor kejadian tersebut kepadaku.
Tepat didepan rumah, Ujang berteriak memanggil namaku dan aku yang terkejut akhirnya segera keluar. Ujang menceritakan semua kejadian yang ia lihat. Aku dan Ujang bergegas pergi ketempat kejadian.
"Hentikan, Tony!" Aku berteriak dan membentak Tony yang sedang melakukan aksi tidak terpuji bersama teman-temannya.
"aarrggghh... kenapa kamu selalu muncul disaat momen seperti ini, Imas." Tony menggerutu sambil melempar rumput yang selama ini selalu ia gigit.
"Hentikan semuanya, atau kalian akan menyesal." Ujarku mencoba balik mengancam Tony.
"Silahkan, Imas. Aku mau tau apa yang bakal kamu lakuin." Tony menantang sambil melayangkan pukulan kewajah Usep.
"Plaaakk" Satu bogem mentah mendarat diwajah Usep dan membuat Usep terjungkal kesamping.
Usep yang selama ini terkenal baik dan pendiam akhirnya bertindak. Dia berdiri dan menendang Tony dari arah belakang dan membuat Tony terjatuh kedepan.
Setelah Usep berhasil menjatuhkan Tony dengan tendangan dari belakang, suasana semakin memanas. Ujang melihat kesempatan ini untuk membantu Usep. Ia mengambil sebatang kayu yang ada di sekitarnya dan melawan beberapa anggota geng Tony yang mencoba mendekatinya.
Sementara itu, aku berusaha memisahkan beberapa orang yang terlibat dalam perkelahian. Aku mendekati salah satu anggota geng Tony yang tampaknya agresif dan mencoba menenangkannya. "Cukuplah, ini tidak perlu terjadi. Mari kita selesaikan masalah ini dengan cara yang lebih baik," ucapku dengan tenang.
Namun, anggota geng Tony tersebut justru mencoba menyerangku. Dalam keadaan itu, Usep melihat dan dengan cepat bergerak ke arahku, mempertahankan diri dengan keahliannya yang tak terduga. Sambil menghindari serangan dari anggota geng Tony yang lain, Usep berhasil menjatuhkan lawannya dengan beberapa pukulan dan tendangan yang terarah.
Ujang, yang tetap berpegangan pada sebatang kayu, berusaha membantu Usep dengan menghadapi anggota geng Tony yang tersisa. Meskipun Ujang bukanlah seorang petarung yang terlatih, namun semangat dan tekadnya untuk melindungi teman-temannya membuatnya tetap gigih.
Melihat teman-temannya mulai kewalahan, beberapa anggota geng Tony yang tersisa mencoba melarikan diri. Mereka sadar bahwa mereka tidak bisa menghadapi kekuatan gabungan Usep, Ujang, dan aku.
__ADS_1
"Ini tidak bisa dibiarkan, Imas. Aku harus mengejar Tony." Ujar Usep dengan napas terengah-engah.
"Usep, sudah. Tidak ada untungnya memperpanjang masalah." Ujarku mencoba menahan Usep.
"Tidak, Imas. Justru jika dibiarkan, kejadian ini akan terus berulang, apalagi Tony asli penduduk sini. Dia akan semakin berani dan merasa jagoan." Ujar Usep mencoba memberikan alasan yang masuk akal.
Usep beranjak dari posisinya dan mengejar Tony yang lari tunggang langgang bersama teman-temannya.
"Wooyy... berhenti kalian!" Usep meneriaki Tony CS dan Ujang spontan mengikuti langkah Usep untuk membantunya.
Tony yang ketakutan akhirnya tersandung batu dan terjatuh. Usep yang melihat itu segera mempercepat gerakannya dan menggapai tubuh Tony.
"Mau lari kemana kamu? Mau jadi jagoan? jangan disini, pergi ke terminal, adu nyali disana!" Ujar Usep dengan nada geram.
Tony yang terjatuh dan ketakutan merasa terpojok. Ia menyadari bahwa Usep dan Ujang memiliki keberanian dan kekuatan yang lebih besar darinya. Dalam keadaan yang terdesak, Tony akhirnya menyerah dan mengakui kesalahannya.
"Baiklah, baiklah! Aku menyerah!" Tony berkata dengan nada yang penuh kekalutan. "Aku minta maaf, Usep. Aku tidak seharusnya memulai masalah ini."
Ujang juga berdiri di samping Usep, menatap Tony dengan tatapan tajam. "Tony, hidup ini sudah penuh dengan masalah dan konflik. Kita harus belajar mencari jalan damai dan menyelesaikan perbedaan dengan cara yang bijaksana."
Setelah itu, suasana mulai mereda. Beberapa orang yang tadinya berada dalam kelompok Tony perlahan-lahan menghampiri Tony untuk meredam keadaan. Mereka juga menyadari bahwa kekerasan tidak akan membawa solusi yang baik.
Aku mendekati Usep, Ujang, dan Tony. "Tony, hentikan semuanya. Aku sudah berkali-kali mengatakannya kepadamu, aku tidak tertarik kepadamu dan aku sudah punya pacar yaitu Usep." Aku ingin Tony paham bahwa sikapnya itu salah besar.
Tony mengangguk dan mengucapkan permintaan maafnya kepada Usep, Ujang, dan kami yang lainnya. Meskipun masih ada ketegangan di udara, tapi setidaknya konflik ini berakhir dengan cara yang lebih baik daripada kekerasan.
Kami semua sepakat untuk mengakhiri konfrontasi ini dan mencari jalan damai. Usep, Ujang, dan aku mengajak Tony dan kelompoknya untuk duduk bersama dan berbicara untuk mencari solusi yang dapat memperbaiki hubungan kami di masa depan.
__ADS_1
"Baik, Imas. Aku berjanji tidak akan mengganggu kalian lagi." Tony berbicara sambil menundukan pandangannya.
Setelah semuanya selesai, aku, Ujang dan Usep kembali menuju rumahku untuk mengobati beberapa luka yang didapatkan dikarenakan perkelahian tersebut.
Saat aku mencoba mengobati Ujang, aku terdiam dan bertanya kepadanya. "Ujang, apa kamu sudah tidak marah kepada kami?" Ujarku pelan.
"Tidak, Imas. Aku menyadari kalau cinta tidak bisa dipaksakan. Aku ingin kita berteman seperti dulu lagi, mencari belut bersama lagi. Aku juga ikhlas kamu berpacaran dengan Usep." Ujang melontarkan senyuman manisnya kepada Usep pertanda dia mendukung hubunganku.
Sorot matanya terlihat tulus dan penuh keikhlasan. Ujang mengambil napas dalam-dalam sejenak sebelum melanjutkan pembicaraan.
"Imas, selama ini aku memang marah dan terluka karena kamu memilih Usep daripada aku. Tapi aku menyadari bahwa itu adalah hak pilihanmu. Aku tidak bisa memaksa perasaanku padamu, dan tidak pantas juga jika aku memendam rasa marah terus-menerus."
Dia menatapku dengan penuh kehangatan, dan aku bisa merasakan bahwa dia benar-benar menginginkan kebahagiaanku.
"Aku ingin kita kembali menjadi teman yang baik seperti dulu. Kita bisa melakukan hal-hal yang kita sukai bersama-sama, seperti mencari belut di sungai atau bermain sepak bola. Aku ingin melihatmu bahagia, Imas, dan jika itu artinya kamu harus bersama Usep, maka aku mendukungmu sepenuh hati."
Mendengar kata-kata itu, hatiku terenyuh. Aku merasa bersalah karena telah menyakiti perasaan Ujang selama ini, tetapi juga terharu dengan sikap dan keikhlasannya. Dia adalah teman sejati yang mampu melepaskan ego dan mendukung kebahagiaan orang lain.
Aku melangkah mendekati Ujang dan menepuk pundaknya. Air mata pun mengalir di kedua pipiku.
"Terima kasih, Ujang. Aku sangat menghargaimu sebagai teman sejati. Aku berharap kita dapat kembali membangun hubungan yang baik seperti dulu, dan aku akan selalu menghormati perasaanmu."
Ujang tersenyum lembut. "Tentu, Imas. Persahabatan kita berharga bagiku, dan aku yakin kita dapat melampaui masa-masa sulit ini. Ayo kita mulai dari awal dan menciptakan kenangan yang indah bersama."
Dengan hati lega dan senyuman di wajah, kami berjalan bersama-sama menuju sungai tempat kami sering mencari belut. Perlahan tapi pasti, kami kembali membangun ikatan persahabatan yang kuat, yang tidak terpengaruh oleh keputusan cinta kami.
Usep tersenyum melihat Ujang yang kini sudah bisa menerima keadaan dan kembali menjadi Ujang yang dulu telah hilang.
__ADS_1
Saat kami menikmati ketenangan hati tersebut, tak lama berselang datang Vey membawa beberapa bungkus makanan. "Waahh.. kebetulan kalian sedang berkumpul disini. Ayo kita makan malam bersama, kebetulan aku sengaja membeli makanan untuk kita semua." Ujar Vey dengan wajah begitu ceria.
Aku dan Usep saling bertukar pandang, kami heran dengan sikap Vey yang tiba-tiba menjadi baik itu.