Impian Gadis Manis

Impian Gadis Manis
Keluarga baru


__ADS_3

"Selama pagi semuanya. Maaf tadi Iza bangunya sedikit terlambat." Iza Merasa tidak enak hati kepada mertuanya.


"Tidak Apa-apa sayang Mama ngerti kok."


"Ayok cepat kita makan dulu, Setelah makan nanti kita lanjutkan mengobrol lagi."


Windah mengajak keluarganya segera menikmati sarapan paginya.


Mereka pun langsung duduk dan melakukan makan bersama. Iza duduk di sebelah Andra menghadap kearah ke dua mertuanya, sedangkan Danang duduk sendiri di kursi yang lainnya.


Iza pun mengambilkan makanan untuk Andra. Mengambil piring lalu mengisi nasi lengkap dengan lauk- pauk nya. Melayaninya dengan baik layaknya seorang istri. Semua orang pun pada memperhatikan nya.


Melihat sikapnya yang telaten membuat Windah sangat kagum kepadanya.


"Anak ku sangat beruntung banget mendapatkan calon istri seperti Iza. Belum menjadihl istri saja sudah mengerti kewajibannya sebagai seorang istri yang baik"


Windah bergumam dalam hati sambil terus memandangi calon menantunya itu. Lalu teruki senyuman di wajahnya.


Tidak hanya Windah bahkan Ardi dan Danang pun juga ikutan memperhatikan sikap Iza saat ini. Pandangan mereka tak luput Sama sekali.


"Benar-benar istri idaman kalau begini aku juga mau kalau di suruh kawinin dia. Sudah cantik manis lagi, kak Andra sangat beruntung mendapatkan nya"


Batin Danang dalam hati. Sebenarnya ia juga sangat berharap pada suatu saat nanti ia akan mendapatkan calon istri seperti Iza.


Merasa di perhatikan Iza pun mulai tidak nyaman. Andra juga menyadari bahwa saat ini Calon istrinya itu merasa tidak nyaman, karena terus di perhatikan oleh seluruh keluarganya.


Akhirnya terbesit di pikiran Andra untuk membuat Suasana menjadi Santai kembali.


"Ehemm... ehemm...!" Suara Andra berdehemm membuat semua orang melihat ke arahnya.


"Ayok kita makan dulu." Andra mengagetkan mereka. Ia menyuruhnya agar segera makan.


Windah hanya tersenyum melihat tingkah putranya itu.


Sedangkan Ardi hanya memperhatikan nya saja tanpa banyak bicara.


Danang pun menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Semuanya pun kembali melanjutkan sarapan paginya. Tidak ada suara mereka tetap fokus menikmati suasana makan mereka dengan lahapnya.


Setelah sudah selesai makan semuanya. Iza pun mencoba berdiri memunguti piring kotor bekas makan tadi. Seperti sudah terbiasa karena sudah hampir tiap hari ia mengerjakan tugasnya seperti itu.


Belum sempat melakukan nya tanggan Andra pun langsung mencegahnya.


"Sudah duduklah." Ucapnya memerintah.


"Emangnya Kenapa apa ada yang salah?" Iza merasa bingung.

__ADS_1


"Duduk.." Andra kembali mengulangi kata-katanya.


"Sudah ada bibik, biar bibik yang kerjain. Jadi lebih baik kamu nggak usah repot-repot sayang." Windah menjelaskan kepada Iza. Agar Ia tidak melakukannya.


"Tapi Iza tidak merasa di repotkan Ma." Ucapnya tidak merasa keberatan.


"Sudah kamu duduk saja kakak ipar, kan kamu di sini tamu." Sahut Danang ikut menimpali.


Akhirnya tanpa membantah lagi Iza pun menurut. Ia kembali duduk seperti semula.


Selang beberapa waktu.


"Sayang Mama ingin bicara berdua sama kamu. Ayok kamu ikut sama Mama." Windah mengajak Iza pergi meninggalkan meja makan.


"Baik ma." Ucapnya menurut kemudian mengikuti langkah Windah pergi meninggalkan meja makan itu.


Kini hanya tinggal Andra, Danang dan Papanya. Kebetulan ini Hari weekend mereka memutuskan untuk istirahat di rumah, menghabiskan waktunya dengan keluarga. Mengingat bahwa sebentar lagi mereka juga akan ada acara pernikahan putra Sulungnya itu.


Mereka pun berbincang-bincang di ruang tengah. Sambil menikmati kopi, yang baru saja di bawakan oleh bik Tatik.


"Nak bagaimana Soal pernikahan kalian nanti? " Tanya Ardi memulai bicaranya.


"Sesuai rencana Awal pa." Jawab Andra Singkat.


"Baiklah kalau begitu terserah kalian berdua. Papa rasa sekarang Iza sudah tidak sedih lagi. Sepertinya ia sudah mengikhlaskan kepergian ibunya."


Ardi pun menerka-nerka.Ia bisa menebak apa yang Ia lihat tadi, Ketika Ia memperhatikan nya Sendiri.


"Ya seperti yang papa lihat tadi, Memang Dia itu gadis mandiri dan sangat tegar."


Andra pun merasa salut kepala Iza. Setelah mendengar perkataan papanya ia kembali menggingat tentang sikap pribadinya Iza. Ia sudah faham Semua tentang Iza.


"Jodoh memang tidak kemana." Danang pun mulai ikut bicara, Menyauti perkataan Andra dan Ardi.


"Benar- benar beruntung kamu kak mendapatkan Seorang istri seperti kakak ipar."


Lanjutnya lagi kembali memuji Iza. Jujur di hari kecilnya ia juga ingin memiliki seorang istri seperti kakaknya.


"Makanya cepetan kamu menikah. Biar ada yang melayani dan mengurus kamu." Tutur Ardi kepada Danang. Di iringi tawanya yang sangat keras.


"Nika sama siapa Emangnya Pa ?...Kalau beneran di dunia ini ada satu lagi wanita yang seperti kakak ipar, sudah pasti langsung Aku ajak Nikah !" Cerocos Danang menanggapi perkataan papanya Dengan serius.


"Kamu itu Terlalu banyak omong, Manah ada wanita yang mau sama kamu, dasar jomblo lapuk." Andra tersenyum mengejek.


"Jahat banget kamu kak mentang-mentang sudah mau menikah saja sombong banget."


Danang merasa kesal setelah mendengar perkataan Andra tadi mukanya langsung berubah cemberut.

__ADS_1


"Heey kenapa kamu marah aku hanya bercanda. Kalau begitu ayo buktikan kalau kamu benar-benar lelaki Sejati." Andra menantangnya. Ia juga menggingatkan nya


"Bener Apa yang di katakan kakak mu itu. Cobala serius kamu itu sudah dewasa umurmu Semakin hari kian bertambah. Jadi jangan main-main lagi." Tutur Ardi kembali.


Namun setelah mendengar perkataan Andra dan papanya, Danang hanya memilih diam saja tanpa menanggapinya lagi. Ia pun mencerna maksud dari omongan mereka berdua. Setelah menyadarinya ia pun merasa ada benarnya juga perkataan mereka.


********


*Iza dan Windah*


Saat ini Iza berada di dalam kamar. Ia mengikuti Windah masuk kedalam kamar Sesuai Ajakannya tadi.


Windah mengajak Iza duduk di sofa kecil yang letaknya bersebelahan dengan lemari kaca besar. Lemari itu banyak di penuhi macam aksesoris, bingkai foto keluarga, hiasan, lukisan kecil, vas bunga, buku, boneka, mainan anak, mobil dan banyak macam lainya.


Iza pun memperhatikan sekeliling dan ia merasa heran dengan isi lemari kaca tersebut, yang menurutnya seperti orang berjualan Saja.


"Kamu tau nggak sayang ? pasti kamu kaget dan heran dengan Isi lemari itu." Windah Menunjuknya.


Windah menebak apa yang sedang di fikiran Iza saat ini.


"Iya mah aku sedikit terkejut saja." Jawabnya jujur.


"Itu Semua Adalah kenang-kenangan dari masa kecil Andra dan Danang Nak. Mama sengaja menyimpanya di dalam lemari itu." jelasnya lagi memberi tau.


"Sayang Mama mau kamu tetap tinggal di sini saja ya sama kita. Lagian kan kamu sebentar lagi mau menikah dengan Andra."


Windah pun mulai membicarakan tujuan awalnya kepada Iza.


"Mama ingin sekali kamu tinggal disini, Anggaplah kami sebagai keluarga barumu Setelah kepergian ibumu." Ucapnya lagi penuh harapan sambil menggenggam tangan Iza ia menunjukkan rasa kasih sayangnya layaknya seperti seorang ibu kandungnya sendiri.


Iza yang di perlakukan calon mertuanya seperti itu pun merasa tidak enak untuk menolaknya. Tapi Ia juga masih belum yakin untuk tinggal bersama mereka sebelum resmi menikah.


"Tapi Iza merasa tidak enak ma sama semua orang. Gimana pandangan mereka nantinya pasti mereka bakalan menilai Iza buruk." Ucapnya merasa takut


" Waktu di kampung saja Iza memilih tinggal di rumah bibik dan mas Andra tinggal di rumah Iza. Iza hanya Nggak mau orang menilai kita yang bukan-bukan..."


Iza mencoba untuk menjelaskan kembali agar Calon mertuanya itu mengerti.


Akhirnya Windah pun tidak bisa berkata-kata lagi setelah mendengar jawaban calon menantunya itu. Yang ia rasa sangat bijak dan memiliki fikiran sangat matang ketika mengambil sebuah keputusan.


___________


.


.


.

__ADS_1


.Cuman sekedar mengingatkan untuk pembaca setia ❤️ tolong beri semangat untuk Author, dengan cara like komentar vote.


Terimakasih 🙏


__ADS_2