Impian Gadis Manis

Impian Gadis Manis
Bertanggung jawab.


__ADS_3

Di dalam rumah.


" Thika lebih baik kamu istirahat saja biar cepat sembuh, Ayo aku antar kamu masuk kedalam kamar tamu." Ajak Iza sembari mengandeng tangan Thika.


" Baik kak." Thika pun menurut. Kemudian mereka berdua mulai berjalan menuju kearah kamar tamu.


Sesampainya di dalam kamar.


"Aku tinggal keluar dulu ya." Pamit Iza Setelah mengantarkan Thika masuk ke dalam kamar.


" Kak... kamu mau kemana ?" tanya Thika sembari meraih cepat tangan Iza yang hendak pergi meninggalkannya.


" Aku ingin membuat bubur untuk mu. Jadi lepaskan tanganmu itu dari tanganku, disini tidak ada hantu jadi kamu tidak usah takut." Jelas Iza sembari menatap wajah Thika ia merasa lucu dengan tingkahnya saat ini yang menurutnya sangat manja.


" Kak... aku sudah merepotkan mu, maafkan aku ya." lirih Thika merasa tidak enak kemudian ia pun mulai melepaskan tangan Iza.


"Aku sama sekali tidak merasa di repotkan sama kamu, jadi jangan berfikiran begitu. Lagian kan kamu sudah aku anggap sebagai adikku sendiri, jadi itu sudah tanggung jawabku untuk menjagamu." Jelas Iza panjang lebar.


"Terimakasih banyak ya atas semua kebaikanmu." Thika pun menghambur ke dalam pelukan Iza. Sebaliknya dengan senang hati Iza pun membalas pelukannya.


" Kak sebenarnya aku merasa tidak enak dengan keluarga kak Andra yang lainya." Bisik Thika di telinga Iza.


" Di sini hanya ada Mas Andra dan Adiknya, mama dan papa mereka sedang pergi keluar kota." Balas Iza memberitahu.


" Apa benar ...?" tanya Thika kembali memastikan.


" Heemm ..." Iza pun mengangguk.


" Yasudah aku tinggal keluar dulu ya." Pamit Iza kembali, Thika pun mengiyakan nya.


Sore harinya.


" Sayang ...? " Panggil Andra yang baru saja pulang ia masuk ke dalam kamar lalu mencari keberadaan Iza di dalam kamar yang terlihat sangat sepi. Andra celingak-celinguk memperhatikan sekeliling.


Kemana dia kok tidak ada? Gumam Andra dalam hati.


tok...tok...tok..


Sebelum masuk Iza mengetuk pintunya terlebih dahulu. Andra pun menoleh menghadap ke arah belakang Setelah mendengar ketukan suara pintu barusan.


" Maaf mas aku tadi dari Dapur." Iza datang menghampiri Andra sembari membawakan secangkir kopi hangat untuknya.


"Pantas saja aku cari-cari tidak ada." Andra mulai duduk di sofa kecil Iza pun berjalan menghampirinya lalu ikut duduk di sebelahnya.


"Ini lebih baik kamu minum dulu." Iza Menyodorkan kopi hangat yang di bawahnya tadi. Andra pun langsung menerimanya.


" Terimakasih ya." Ucapnya sembari tersenyum. Iza pun mengangguk.


" Bagaimana keadaannya Thika, apa sekarang Dia sudah agak mendingan? tanya Andra di selang beberapa menit setelah ia meminum kopinya.


" Lumayan agak membaik ..." Jawab Iza singkat.


" Yasudah aku mau mandih dulu ya sayang." Andra bangkit dari duduknya kemudian ia sekilas mencium kening Iza.


Iza pun sudah terbiasa dengan perlakuan Andra saat ini. Jadi ia tidak kaget lagi jika mendapatkan serangan-serangan mendadak dari Andra,sekilas tangannya mengusap bagian atas keningnya yang bekas di cium oleh Andra tadi.


🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


*Thika dan Danang*


Thika mulai keluar dari kamar tamu ia merasa jenuh setelah seharian berada di dalam kamar.


Setelah sudah berada di luar kamar ia tidak sengaja berpapasan dengan Danang yang baru saja pulang dari kantor.


"Loh kamu kok ada di sini ?" Danang kebingungan menatap wajah Thika yang sekarang berada di hadapannya.


Bukanya menjawab pertanyaan Danang.


Thika pun hanya diam memperhatikannya, fikirannya tiba-tiba mengingat kembali kejadian tadi pagi waktu dia pingsan di pinggir jalan, lalu di tolong oleh pria di hadapannya sekarang.


Dia yang menolongku tadi pagi, dia adalah adiknya kak Andra. Batin Thika dalam hati setelah mengingatnya kembali.


" Hey Nona ...." Panggil Danang dengan suara kerasnya.


Danang pun mengagetkan Thika yang sedang melamun di hadapannya. Refleks Thika pun langsung tersentak dibuatnya.


" Di tanya kok malah diam saja." Ucap Danang dengan muka ketusnya.


" Maaf ..." lirih Thika menundukkan kepalanya.


"Kenapa kamu ada di sini ?" Danang kembali bertanya kepada Thika.


" Kak Andra tadi yang mengajak aku kesini." Jelas Thika masih dengan menundukkan pandangannya.


" Hey kalau bicara itu lihat orangnya, jangan lihat sepatunya." celetuk Danang kembali menegur Thika.


Thika pun langsung mendongak menatap wajah Danang sesaat kemudian mereka berdua saling bertatapan muka.


" Sekali lagi Aku minta maaf ya, tadi pagi di jalan aku sudah merepotkan mu." Ucap Thika dengan suara lembutnya.


" Apa maksud kamu? Siapa yang tidur di pinggir jalan ?" Thika mulai kesal dengan perkataannya Danang barusan.


" Siapa lagi kalau bukan kamu." Danang menunjukkan jarinya ke arah Dahi Thika.


" Hey jangan kurang ajar ya kenapa kamu main menunjuk-nunjuk aku." Thika menepis kasar tangan Danang, ia semakin kesal dengan sikapnya.


Gadis ini berani juga denganku, dia menantang ku rupanya. Lihat saja apa yang akan aku lakukan kepadanya. Gumam Danang dalam hati.


Danang pun langsung mendekati Tubuh Thika ia mengiringnya masuk kembali kedalam kamar tamu, kebetulan saat ini tidak ada orang yang melihat mereka berdua.


" Apa yang sedang kamu lakukan ? " Thika mulai Panik Setelah Danang mendekatinya. Danang pun hanya diam tidak menjawabnya.


" Kamu jangan macam-macam, Cepat menjauh dari ku." Teriak Thika sembari melototkan kedua matanya. Danang pun semakin mendekatkan dirinya ia sama sekali tidak takut dengan Thika.


Apalagi Thika adalah tipe gadis yang sangat lembut suaranya pun terdengar sangat pelan di telinga Danang meskipun ia berteriak sangat keras di hadapannya.


Setelah sudah berada di dalam kamar dengan cepat Danang pun berbalik kemudian mengunci kamar tamu itu. Thika pun semakin panik setelah melihat Danang mengunci kamarnya.


" Kenapa kamu menguncinya cepat kembalikan kuncinya aku ingin keluar." Thika pun berusaha merebut kembali kunci di tangan Danang.


Dengan cepat Danang pun melempar kunci itu ke atas lemari.


" Ayo kamu bisa ambil di sana." Danang menunjukkan jarinya ke arah lemari, ia tersenyum menyeringai menatap wajah kesal Thika yang terlihat sangat imut di matanya.


" Sebenarnya apa mau mu ?" Teriak Thika.

__ADS_1


"Aku ingin kamu menjadi istriku.?" Jelas Danang.


" Apa aku tidak salah dengar." Thika mengerutkan keningnya setelah mendengar perkataan Danang.


" Kamu jangan GR dulu..." Ucap Danang santai. Ia tersenyum melihat Thika menanggapi perkataannya dengan serius.


" Apa maksudmu itu...?" tanya Thika masih belum mengerti.


" Tadi pagi aku sudah menolongmu, sekarang giliran kamu yang harus menolongku, Orang tuaku ingin menjodohkan aku. Jadi kamu harus berpura-pura menjadi calon istriku biar mereka tidak jadi menjodohkan aku, Apa kamu mengerti." Jelas Danang panjang lebar.


" Aku tidak mau...!" tolak Thika sembari memalingkan wajahnya dari Danang.


" Kamu harus mau ..." Bentak Danang.


"Aku tidak mau, Kenapa kamu memaksaku?"Thika kembali menolaknya.


Danang pun langsung mendekat ke arah Thika, kemudian dengan cepat ia langsung menciumnya dengan paksa. Thika meronta ia tidak bisa mengalahkan tenaga Danang saat ini, apalagi sekarang tubuhnya masih lemas karena masih sakit.


Danang mendorong tubuh Thika hingga jatuh di tempat tidur ia masih ******* bibir Thika karena merasa emosi akibat Thika menolak permintaannya tadi.


eemm...eemm....


Thika berusah melepaskan ciuman Danang dari mulutnya. Saat ini Danang menindih tubuhnya. Thika pun kesulitan untuk bergerak hanya kedua kakinya yang bisa ia gerakan saat ini.


Sesaat kemudian Danang mulai melepaskan ciumannya Setelah sadar bahwa saat ini Thika sedang sakit.


Dengan cepat Thika pun langsung bangun dan menamparnya sangat keras


Pllakkkk.....


"Kamu kurang Ajar aku akan beritahukan semua kelakuan burukmu itu kepada kak Andra." Teriak Thika sembari terisak.


Danang pun langsung mengacak rambutnya dengan frustrasi. ia mencoba mendekati Thika kembali.


" Jangan mendekat lagi..." Teriak Thika.


"Maafkan aku..." Ucap Danang menyesali perbuatannya ia duduk di lantai menghadap ke arah Thika.


Namun Thika hanya diam tidak menjawabnya ia masih merasa sakit hati kepada Danang akibat perbuatannya barusan.


" Kamu tidak usah khawatirin aku akan bertanggung jawab." Ucap Danang lagi memberitahu.


" Kamu jangan bilang kepada kak Andra aku akan bertanggung jawab atas perbuatan ku barusan kepadamu, Aku akan menikahi mu jadi kamu tenang saja." Jelas Danang kembali di hadapan Thika.


Thika pun menatap wajah Danang, Ia melihat ada penyesalan di wajahnya itu.


"Kamu tidak perlu melakukan itu, Aku tidak akan memberitahukannya kepada siapapun." Ucap Thika sembari memalingkan wajahnya.


"Anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita." Imbuhnya lagi.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.Maaf jika ada typo di mana-mana harap di maklumi. Tetap dukung Author dengan cara like komen dan vote 🙏


__ADS_2