Impian Gadis Manis

Impian Gadis Manis
Terciduk.


__ADS_3

" Iya aku ingin segera punya anak darimu sayang." Andra pun kembali mengecup kening Iza.


" Makanya kamu harus Nurut sama aku, jangan membantah lagi ya." tutur Andra kembali sembari mengelus pucuk kepala Iza.


" Iya mas, tapi bagaimana kalau aku tidak bisa hamil dalam waktu dekat ini." lirih Iza sedikit ragu. Iza berfikiran yang tidak-tidak. Dengan cepat Andra pun menutup mulut Iza dengan tangannya.


" Kamu jangan ngomong begitu lagi aku tidak suka. Kalau kita mau berusaha apa yang kita inginkan pasti akan segera di kabulkan oleh yang di atas, jadi lebih baik kita berfikir yang positif saja." Tutur Andra dengan muka seriusnya ia memberi pengertian kepada Iza.


" Iya mas aku mengerti, maafkan aku ya." Iza pun menunduk, ia hanya merasa takut kalau sampai tidak bisa memberikan keturunan kepada Andra, setelah tau kalau Andra ingin sekali segera memiliki anak darinya. Andra pun menyadari kehawatiran di wajah Iza saat ini yang terlihat sangat jelas.


" Besok lusa aku ingin mengajak kamu pergi bulan madu." Ucap Andra.


" Bulan madu." Iza mendongak menatap wajah Andra.


"Iya kita akan pergi bulan madu. Aku ingin menghabiskan waktuku berduaan bersamamu, agar kamu cepetan segera hamil." Ucap Andra.


" Memangnya kamu mau mengajak aku pergi ke mana ?" tanya Iza.


" Kita akan pergi ke Bali saja, sekalian nanti kita di sana bisa mampir ke mama dan papa pasti mereka akan senang melihat kedatangan kita berdua." jelas Andra lagi.


"Yasudah terserah kamu saja." Iza pun hanya menurut.


Jam menunjukan pukul 21.30 malam. Setelah mengobrol panjang lebar di ruang tengah mereka tidak menyadari bahwa waktu sudah semakin larut malam, akibat keasikan mengobrol berbagai hal. Akhirnya mereka berdua pun memutuskan kembali masuk kedalam kamar untuk segera tidur.


__________________


Keesokan harinya.


Seperti biasa bangun pagi mengerjakan tugasnya memasak di Dapur biasanya Iza selaluh membantu bik Tatik, tapi kebetulan saat ini Bik Tatik tidak ada jadi Iza yang mengerjakan semua tugasnya. Bik Tatik izin pulang kampung selama 1 Minggu karena anaknya yang berada di kampung sedang mengalami kecelakaan.


Iza masih sibuk berkutat di dalam Dapur membuat sarapan paginya, tapi tiba-tiba Thika datang menghampirinya dan menyapanya." Kakak lagi masak apa ?" tanya Thika.


Iza pun menolehkan pandangannya menghadap ke arah Thika yang baru saja datang menghampirinya.


" Aku lagi membuat nasi goreng kebetulan bahan makanan sudah habis, jadi aku masak yang seadanya saja." Iza masih tetap sibuk menggoreng nasi yang berada di dalam wajan.


" Sini biar aku bantu kak...!" Thika berusah merebut spatula yang di pegang oleh Iza.

__ADS_1


" Tidak usah Thika biar aku sendiri yang kerjakan lagian ini juga sudah hampir selesai." dengan cepat Iza menjauhkan spatulanya dari tangan Thika." Lebih baik sekarang kamu buatkan saja kopi untuk Danang lalu hantarkan kedalam kamarnya pasti dia akan senang." perintah Iza.


" Kenapa harus aku kak ? kan aku bukan siapa-siapanya " Thika berusah menolaknya.


" Memangnya kenapa apa kamu merasa keberatan ?" Iza kembali merasa curiga kepada Thika.


" Bukan begitu kak tapi..." Kata-kata Thika terpotong oleh perkataan Iza.


" Yasudah kalau kamu tidak mau juga nggak papa." Iza sekilas melirik ke arah Thika.


" Bukan begitu kak... aku mau kok, biar aku buatkan kopinya sekarang ya." Thika pun akhirnya dengan terpaksa menuruti perintah Iza.


☕☕☕


Kamar Danang.


10 menit kemudian.


Kopi sudah jadi. Thika pun langsung berjalan menuju kearah kamar Danang yang berada di lantai dua guna untuk menghantarkan kopinya.


Thika pun mengetuk pintunya terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kamar. Setelah beberapa kali mencoba mengetuk pintunya tapi masih saja tidak ada sahutan dari dalam akhirnya Thika pun mulai memberanikan dirinya untuk membuka pintunya, perlahan Thika mulai menarik kebawah pegangan pintu tersebut hingga pintu pun mulai terbuka.


" Sepi banget...." Thika pun celingak-celinguk memperhatikan sekeliling. " Ahh bodoh amat lebih baik aku masuk saja." Gumam Thika pelan.


Kemudian Thika pun mulai melangkah masuk ke dalam kamar Danang. Setelah sudah di pastikan sendiri bahwa tidak ada orangnya. Thika berjalan lurus menuju meja kecil yang berada di sebelah tempat tidur untuk meletakkan kopinya di sana.


Tapi tiba-tiba tanpa Thika sadari di belakangnya ada seorang laki-laki yang baru saja keluar dari kamar mandi yang hanya mengunakan handuknya. Siapa lagi kalau bukan Danang sih empunya kamar itu.


"Berani juga wanita ini main masuk seenaknya saja ke dalam kamar orang apa masih belum kapok sama kejadian kemarin sore yang menimpanya."


Danang melihat Thika yang berada di dalam kamarnya ia pun langsung berjalan mendekatinya. Setelah meletakkan kopi di atas meja Thika pun langsung berbalik dan betapa terkejutnya Thika terperanjat melihat kedatangan Danang di depannya, dengan cepat ia pun berteriak.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaa...... " Teriak Thika Sangat keras hingga membuat telinga Danang sakit ketika mendengarnya, dengan cepat ia pun langsung membungkam mulut Thika dengan tangan besarnya.


" Jangan berteriak di kamarku." ketus Danang sembari melototkan kedua matanya.Thika pun berusaha melepaskan tangan Danang dari mulutnya.


eemm....eemm.....eemm...

__ADS_1


Danang belum melepaskan tangannya dari mulut Thika, sampai akhirnya Thika pun merasa emosi dan marah akhirnya ia mulai menginjak keras kaki Danang.


"Auuuuuu......!"Danang pun memekik kesakitan akibat kakinya di injak keras oleh Thika.


"Kamu sudah gila." Teriak Danang sembari menghentakkan kakinya karena merasa sakit di bagian bawah kakinya. Hingga tanpa sadar handuknya pun terjatuh kebawah dan di saksikan oleh Thika yang masih berada di depannya.


Thika pun tersentak kembali setelah menyaksikan pemandangan di depannya, dengan cepat ia pun menutup kedua matanya. Sedangkan Danang pun dengan cepat langsung mengambil handuknya kembali lalu memakainya.


" Buka matamu." Teriak Danang.


" Apa kamu sudah memakai handukmu ?" tanya Thika memastikan ia masih menutup rapat kedua matanya dengan mengunakan tangannya.


"Cepat buka matamu." Teriak Danang lagi. Perlahan Thika menurunkan kedua tangannya lalu membuka kedua matanya.


" Kamu sudah melihatnya jadi kamu harus bertanggung jawab." Ketus Danang setelan Thika membukak matanya kembali.


" Apa maksudmu...?" tanya Thika tidak mengerti.


"Kamu harus menikah dengan ku." jelas Danang.


"Kenapa harus begitu kan aku tadi tidak sengaja melihatnya, lagian itu kan salahmu sendiri bukan salahku ?" Ucap Thika tidak terimah ia pun kembali menyalahkan Danang.


" Pokoknya kamu harus menikah denganku kalau kamu tidak mau aku akan...!" kata-kata Danang terpotong oleh perkataan Andra yang baru saja datang menghampirinya bersama dengan Iza.


" Ada apa ini ? kenapa kalian berdua ribut-ribut di dalam kamar?" Andra dan Iza memperhatikan Danang dan juga Thika secara bergantian.


Sedangkan Danang dan Thika yang berada di dalam kamar pun merasa terciduk setelah ketahuan Andra dan juga Iza, apalagi saat ini Danang hanya mengunakan handuknya saja. Thika pun langsung menundukkan kepalanya karena merasa malu.


" Tidak ada apa-apa lebih baik kalian semuanya keluar aku ingin segera ganti baju." usir Danang cepat Sembari memalingkan wajahnya, karena saat ini ia juga merasa maluh.


" Ayo kita keluar, Tapi ingat Setelah ini aku ingin bicara dengan kalian berdua." Ucap Andra memberitahu sebelum ia pergi.


Kemudian Andra pun pergi keluar meninggalkan kamar Danang di ikuti Iza dan Juga Thika dari arah belakang.


🍃🍃🍃🍃


like, Komen, vote. 🙏

__ADS_1


__ADS_2