Impian Gadis Yang Malang

Impian Gadis Yang Malang
Bab 10


__ADS_3

Hari yang ditunggu telah tiba, hari di mana Zulfa akan melaksanakan ujian kelulusan. Dengan langkah yang penuh semangat, dia bergegas masuk ke ruang kelas.


Sebentar lagi ujian hari pertama akan dimulai. Bel sekolah sudah berbunyi, menandakan akan dimulainya ujian.


Guru yang menjadi pengawas masuk ke kelas, sebelum membagikan lembar soal dan lembar jawaban semua murid berdoa terlebih dahulu.


Selesai berdoa, guru pengawas mulai membagikan lembar soal dan jawaban. Semua mengerjakan dengan tenang, begitu pun dengan Zulfa yang begitu teliti menjawab satu per satu soal yang ada di hadapannya.


2 jam kemudian.


Waktu untuk mengerjakan ujian pun sudah berakhir, kini semua murid mulai mengumpulkan semua lembar soal dan jawaban.


Setelah pengawas keluar dari ruang kelas, semua murid mulai ikut keluar dari kelas. Sementara Zulfa memilih pergi ke perpustakaan untuk belajar.


"Gimana ujian tadi, Fa?" tanya Widya salah satu siswa yang juga bernasib sama seperti Zulfa, yakni korban bullyan Rosa.


"Alhamdulillah semua lancar, Wid. Kamu sendiri gimana?" bisik Zulfa.


"Sama, semua berjalan lancar. Oh ya, kamu bakal masuk perguruan mana kalau udah lulus nanti?"


"Aku belum tahu, Wid. Di mana pun nanti aku masuk perguruan yang penting semangat untuk meraih cita-cita tetap ada. Kalau kamu mau lanjut ke mana?"


"Aku kayaknya mau langsung kerja aja, Fa. Kamu tahu sendiri kan keadaan keluargaku, bisa lanjut sampai SMA aja aku udah senang."


"Semangat ya, apapun nanti jalan yang kamu tempuh, kamu harus optimis. Insha Allah nanti akan ada rejeki sendiri supaya kamu bisa lanjut kuliah."


"Aamiin. Makasih ya, Fa. Do'a terbaik untuk kamu juga."


"Aamiin."


Kini ujian sesi kedua sudah dimulai, Zulfa dengan semangat dan teliti mengerjakan setiap soal agar tak ada jawaban yang salah.


Jika sudah menghadap soal, Zulfa tak menghiraukan kondisi sekitarnya. Ada beberapa siswa yang mencoba mencari contekan ketika pengawas sedang lengah.

__ADS_1


Namun, itu tak berlaku untuk Zulfa. Sebab dia sudah bertekad apapun hasilnya nanti yang penting memuaskan untuknya karena dari jerih payahnya sendiri.


Pukul 12 siang, ujian di hari pertama telah usai. Kini Zulfa sedang berjalan menuju rumah.


Sepanjang perjalanan ada seseorang yang membuntuti Zulfa tanpa sepengetahuannya. Akan tetapi, Zulfa juga merasakan jika ada yang mengikutinya. Tapi dia berusaha acuh dan pura-pura tak tahu.


Dia sampai rumah dengan selamat walau jantungnya berdebar tak karuan lantaran cemas.


"Kamu kenapa, Dek? Kok ngos-ngosan gitu," tanya Zahra yang membuat Zulfa langsung terlonjak kaget.


"Astaghfirullah, Kakak ngagetin aja sih."


"Lagian dari tadi dipanggil nggak jawab, ditanya gitu aja langsung kaget."


"Ada apa?" sambung Zahra.


"Enggak apa-apa, Kak. Cuma perasaanku tadi nggak enak kayak ada yang ngikutin aku," jelas Zulfa.


Zahra mengerutkan dahinya lalu melihat sekeliling rumahnya, tapi tak ada siapapun yang terlihat.


"Aku berdo'a kok, Kak. Ya udah aku mau ganti baju dulu," pamit Zulfa lalu masuk rumah menuju kamarnya, sedangkan Zahra mengikuti di belakang.


-


-


-


-


"Tuan, dari mana?" tanya Dimas pada tuannya.


"Tadi mau cari tempat untuk istirahat, tapi saat di sebelah sekolah aku lihat ada gadis manis yang baru pulang sekolah."

__ADS_1


"Lalu, memangnya kenapa Tuan?"


"Entahlah, tiba-tiba ada dorongan untuk mengikuti gadis itu sampai rumahnya."


"Astaga, apa Tuan sedang jatuh cinta pada anak sekolah?" tanya Dimas tak percaya.


"Aku tidak tahu, ketika melihat gadis itu seperti ada yang berbeda. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya."


Dimas hanya melongo mendengar penjelasan tuannya, ini pertama kalinya tuannya ini tertarik pada seorang gadis. Tapi yang jadi permasalahan, kenapa harus anak sekolah?


"Kamu cari tahu tentang gadis itu! Akan aku kirimkan fotonya nanti."


"Baik, Tuan."


Akhirnya, Dimas dan Dirga melanjutkan perjalanannya menuju proyek pembangunan yang ada di kampung Zulfa tinggal.


Ya, seseorang yang mengikuti Zulfa tadi adalah Dirga. Seorang pengusaha muda yang memiliki paras wajah tampan, membuat wanita manapun pasti akan kagum dengan ketampanannya.


Dirga hanya hidup berduan dengan Dimas, asistennya. Sebab semenjak kedua orang tuanya meninggal, dia lebih sering pulang ke apartemen daripada ke rumah.


Hingga dia mengajak asistennya itu untuk tinggal bersama di rumah peninggalan orang tuanya.


Setelah menempuh waktu 15 menit, mereka telah tiba di proyek yang akan mereka tinjau.


"Ternyata lokasinya tak jauh dari rumah dia," gumam Dirga sambil melihat sekeliling proyek.


"Apa Tuan bicara sesuatu?" tanya Dimas.


"Tidak, oh ya siapkan satu orang kepercayaan kita untuk memantau setiap kegiatan gadis itu dan laporkan padaku!"


"Baik, Tuan. Akan saya laksanakan!" jawab Dimas sambil menunduk hormat bagaikan prajurit kerajaan.


Sementara Dirga hanya menepuk pundak Dimas, lalu dia melanjutkan tinjauannya.

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan like dan komen kalian ๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2