Impian Gadis Yang Malang

Impian Gadis Yang Malang
Bab 41


__ADS_3

Hari demi hari berlalu, sekarang tepat satu tahun Zulfa menjadi istri seorang Dirga Zein Fernandez. Selama itu pula, Zulfa tak bekerja lagi di perusahaan milik Dirga. Dirga sangat meratukan istrinya, dia tak mengizinkan Zulfa untuk bekerja sekalipun hanya membersihkan rumah.


Pagi ini Zulfa sedang duduk di gazebo yang ada di halaman belakang, tempat yang luas dikelilingi bunga beraneka warna dan juga kolam ikan. Di sana juga ada kolam renang untuk dewasa, tapi Zulfa lebih tertarik untuk menikmati bunga-bunga yang bermekaran.


"Permisi, Non. Ada tamu yang cari Non Zulfa," ucap Bi Tuti yang menghampiri Zulfa di gazebo.


"Siapa, Bik?"


"Waduh, Bibi tadi lupa nggak nanya! Tamunya laki-laki dan perempuan," jelas bi Tuti.


"Ya sudah, Bibi buatin minum biar saya temuin tamunya."


"Baik, Non."


Zulfa bergegas ke ruang tamu untuk menemui tamunya. Sesampainya di sana, Zulfa langsung mengembangkan senyumnya, tatkala tamu itu adalah Iwan dan Anis.


"Mas Iwan, Mbak Anis, apa kabar?" sapa Zulfa lalu mencium tangan Anis dan Iwan bergantian.


"Alhamdulillah, kami baik. Kamu sendiri apa kabar?" jawab Iwan.


"Alhamdulillah, baik juga. Kenapa nggak bilang dulu kalau mau ke sini?"


"Kita cuma sebentar kok, mau kasih undangan ini buat kamu," ucap Anis menyerahkan sebuah undangan pernikahan.


"Akhirnya, kalian nikah juga. Selamat ya, semoga diberikan kelancaran sampai hari H!"


"Aamiin, jangan lupa untuk datang!" ujar Anis.


"Insha allah, aku usahakan untuk datang, Mbak."


"Jaga kesehatan kamu, Fa! Karena aku mau kamu bisa hadir di acara penting kami," harap Iwan.


"Iya, Mas. Nanti aku bicarakan dengan Mas Dirga, semoga saja dia nggak sibuk," tutur Zulfa.


Tak berselang lama, bi Tuti datang membawakan minuman. Kemudian menyajikannya dihadapan Iwan dan Anis.

__ADS_1


"Silakan, diminum dulu! Maaf, adanya cuma minuman, soalnya belum masak. Kalau tadi ngabarin bakal ke sini, pasti udah aku buatin makanan," ungkap Zulfa.


"Enggak apa-apa, Fa. Mungkin dilain waktu kita bisa kumpul bareng lagi," jawab Iwan.


"Iya, Mas."


"Kita langsung pamit ya, Fa. Soalnya masih banyak yang harus kita antar undangannya," pamit Anis.


"Kok buru-buru, sih! Kan, aku masih kangen."


"Ya, gimana lagi? Acaranya juga tinggal dua minggu lagi, jadi harus selesai hari ini," ucap Iwan.


"Baiklah, kalian hati-hati di jalan!"


"Iya, sampai ketemu lagi! Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumsalam!"


Setelah Iwan dan Anis pergi, Zulfa menutup kembali pintunya kemudian menghampiri bi Tuti di dapur.


***


Kebetulan di waktu yang bersamaan, Dirga baru saja sampai di rumah. Dia mencari keberadaan Zulfa karena biasanya selalu menyambut kepulangannya.


"Sayang! Kamu di mana?" panggil Dirga setelah membuka pintu kamar.


Saat mencari Zulfa, telinganya menangkap suara gemercik air dari dalam kamar mandi. Dengan langkah pelan, Dirga menghampiri pintu kamar mandi. Dia membuka pelan pintunya agar tak menimbulkan suara, begitu pintu terbuka pemandangan pertama yang dia lihat, yakni Zulfa sedang keramas.


Tak ingin membuang waktu, Dirga menutup kembali pintunya lalu melepas semua pakaiannya. Dia segera menghampiri Zulfa yang berdiri di bawah guyuran air dari shower.


Grepp


Zulfa yang merasakan pelukan dari belakang langsung terlonjak, pasalnya dia terkejut ternyata suaminya sudah ada di belakangnya.


"Mas, kamu ngagetin aja! Tumben sudah pulang," ucap Zulfa.

__ADS_1


"Sengaja pulang agak awal, aku mau ajak kamu jalan," tutur Dirga sambil tangannya yang mulai bergerak ke mana-mana.


Dirga membalik tubuh Zulfa agar menghadapnya, dia memandangi wajah Zulfa yang basah. Perlahan tapi pasti, bibir Dirga sudah mendarat sempurna di bibir Zulfa.


Kecupan manis yang berubah menjadi ciuman panas, membangkitkan gelora dalam diri keduanya. Dirga terus mel*mat bibir Zulfa dengan satu tangan yang digunakan untuk menahan tengkuk Zulfa.


Sementara tangan yang satunya juga tak tinggal diam, meraba dan mer*mas dua bukit indah istrinya. Karena sudah tak bisa menahan lagi, Dirga mematikan showernya lalu mengangkat tubuh Zulfa.


Keduanya pun melanjutkan aktivitas tadi di atas ranjang. Dua insan yang sudah dimabuk cinta, saling bertukar peluh di bawah selimut. Sore yang sangat indah untuk dikenang.


......................


Setelah 30 menit, keduanya sudah terbaring lemas dengan napas yang masih memburu. Dirga mengecup kening Zulfa lalu tangannya mengusap perut datar istrinya itu.


"Tadi pagi rewel nggak?" tanya Dirga.


"Alhamdulillah, enggak. Tapi kalau menjelang siang bawaannya ngantuk," jawab Zulfa.


"Enggak apa-apa, dia tahu kalau mamanya nggak boleh terlalu capek."


"Kan tiap hari cuma rebahan, nonton tv, jalan-jalan di halaman, nggak pernah ngerjain pekerjaan rumah juga."


"Itu karena kesehatan kamu dan calon anak kita yang paling penting, aku cuma nggak mau kalian kenapa-napa," ungkap Dirga.


Tiga minggu yang lalu Zulfa dinyatakan positif hamil, dan usia kehamilannya sudah berjalan 4 minggu. Kabar itu langsung membuat keduanya sangat bersyukur, dibalik sakit yang sedang dialami Zulfa, ada penyemangat baru yang akan membuat Zulfa semakin yakin untuk bisa sembuh dan melawan penyakitnya itu.


"Oh ya, tadi mas Iwan dan mbak Anis datang ke sini. Mereka datang buat anterin undangan pernikahan," ucap Zulfa.


"Kapan?"


"Dua minggu lagi, kira-kira Mas sibuk nggak? Soalnya mereka pengen kita bisa datang ke acara pernikahannya."


"Besok aku tanyakan Dimas dulu jadwal dua minggu ke depan, semoga saja nggak padat biar bisa datang ke sana."


"Iya, Mas."

__ADS_1


"Mandi dulu, yuk! Nanti kita jalan-jalan setelah maghrib," ajak Dirga.


Zulfa menganggukkan kepalanya lalu beranjak dari ranjang.


__ADS_2