
Tak terasa ini hari terakhir pelaksanaan ujian kelulusan, Zulfa menghela napas lega karena bisa menyelesaikan ujian dengan baik.
"Alhamdulillah, ujian berjalan lancar. Aku bisa sedikit lega karena nggak sibuk lagi, jadi bisa bantuin kakak di rumah," ucap Zulfa.
Dan sejak hari di mana Dirga melihat Zulfa, dia sering menerima laporan dari anak buahnya yang memantau segala kegiatan Zulfa.
Sementara Zulfa tak menyadari jika dirinya sedang dimata-matai.
Sepulang sekolah, Zulfa langsung menemui kakaknya di belakang rumah.
"Kakak!" panggil Zulfa sambil memeluk tubuh Zahra dari belakang.
"Ada apa?" tanya Zahra tanpa menghentikan kegiatannya menjemur cucian.
"Aku lega banget bisa selesaiin ujian dengan baik, do'ain biar bisa dapat nilai memuaskan ya, Kak!" pinta Zulfa.
"Do'a Kakak pasti selalu menyertai kamu. Bagaimana pun nanti hasilnya, yang penting kamu sudah usaha untuk bisa dapat yang terbaik."
"Iya, Kak. Oh ya, Kak. Seandainya aku lanjut kuliah di Kota P boleh nggak?" tanya Zulfa dengan lirih.
Zahra terdiam sejenak, bukannya ingin melarang adiknya untuk kuliah, tapi dia tak tega jika harus berjauhan dengan adiknya.
Apalagi di kota yang jauh dari tempat tinggalnya sekarang. Dia hanya khawatir jika Zulfa dalam masalah tak ada anggota keluarga yang di dekatnya.
"Kenapa kamu pilih ke sana?"
"Sudah saatnya aku untuk belajar mandiri, Kak. Sebentar lagi Kakak akan menjadi tanggung jawab Mas Amir."
"Tapi Kakak nggak tega kalau harus jauh dari kamu," lirih Zahra.
"Kak, aku janji akan menjadi kebanggaan untuk Kakak. Aku akan buktikan kalau aku kelak juga bisa menjadi orang sukses. Tolong, beri restu Kakak untuk aku menggapai impianku!"
Dengan berat hati Zahra pun mengizinkan adiknya itu untuk kuliah di Kota P.
"Baiklah, Kakak izinkan kamu kuliah di sana. Tapi kamu harus janji untuk selalu kasih kabar ke Kakak setiap waktu."
"Iya, Kak. Aku janji."
Zulfa lantas memeluk erat tubuh kakaknya yang bergetar karena menangis.
2 minggu kemudian
Hari bahagia yang begitu dinantikan pun telah tiba, besok adalah acara pernikahan Zahra dengan Amir.
__ADS_1
Zulfa membantu menyiapkan segala kebutuhan yang diperlukan Zahra.
"Dek, bisa minta tolong nggak, ambilin kue buat pengajian nanti!" pinta Zahra.
"Iya, Kak. Aku selesaiin ini dulu, ya," jawab Zulfa sambil mengelap piring yang akan digunakan untuk menyajikan makanan.
Selesai mengelap piring Zulfa bergegas berangkat mengambil kue yang sudah dipesan kakaknya.
Selama perjalanan Zulfa selalu diikuti oleh mata-mata yang ditugaskan oleh Dirga. Dan dia juga melaporkan apapun yang dilakukan oleh Zulfa bahkan saat tanpa sengaja bertemu dengan Bryan.
"Hai, Fa!" sapa Bryan yang kebetulan sehabis pulang dari lapangan.
"Hai, Bry. Habis dari mana?"
"Dari lapangan, Fa. Kamu sendiri dari mana?"
"Aku baru dari toko kue, ambil pesenan Kak Zahra buat pengajian nanti."
"Oh gitu, ngomong-ngomong kamu mau lanjut kuliah di mana?"
"Aku mau coba lanjut di Kota P, Bry. Sekalian belajar mandiri soalnya Kak Zahra kan bakal punya keluarga sendiri."
"Iya, juga sih."
Semenjak Bryan mengetahui alasan yang membuat Zulfa menghindarinya, hubungan keduanya pun kembali seperti semula sebab Bryan sudah memberikan ultimatum pada Rosa. Jika masih berani mengganggu Zulfa maka Bryan tidak akan tinggal diam.
Sementara di tempat lain, Dirga sedang menahan gemuruh di dadanya setelah menerima foto dari anak buahnya.
Dalam foto itu memperlihatkan Zulfa yang tengah tertawa dengan Bryan yang hanya terlihat dari belakang.
"Siapa pria ini? Berani sekali dia tertawa pada pria lain, aku nggak akan biarkan kamu memperlihatkan tawamu pada orang lain. Karena kamu hanya milikku!" geram Dirga.
Sementara Dimas hanya bisa menghela napas melihat kelakuan bosnya yang sedang jatuh cinta.
"Dasar aneh, sekalinya jatuh cinta kok sama anak di bawah umur," batin Dimas.
"Dim!" panggil Dirga.
"Ya, Tuan."
"Apa kamu sedang mengataiku?" tanya Dirga tanpa mengalihkan pandangannya pada foto Zulfa yang ada di ponselnya.
"Eh, ti-tidak Tuan. Mana berani saya mengatai Anda," jawab Dimas terbata-bata.
__ADS_1
"Bagus, kalau sampai aku tahu kamu mengataiku. Habis kamu!" ancam Dirga.
Gleg
Dimas menelan ludahnya dengan susah payah, dia tahu apa yang dimaksud bosnya itu. Apalagi jika bukan bonus bulanan yang akan hangus karena kecerobohannya.
"Ba-baik, Tuan."
*****
Siang pun berganti malam, di rumah Zahra sedang mengadakan pengajian untuk meminta do'a agar pernikahannya besok diberikan kelancaran.
Ibu-ibu mulai membuka acara pengajian yang diawali dengan pembacaan ayat suci Al Qur'an serta Surah Yasiin.
Selesai mengaji, dilanjutkan dengan tausyiah dari ustadzah yang ikut dalam rombongan pengajian. Tak lupa diakhir acara beliau mendo'akan Zahra sekeluarga diberikan kesehatan, rezeki yang cukup dan dihindarkan dari sifat dzolim.
Beliau juga memberikan beberapa nasihat pada Zahra tentang kewajiban sebagai seorang istri disertai do'a semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warrahmah.
Selesai acara pengajian, Zulfa lekas membersihkan piring dan gelas kotor. Tak lupa juga menggulung tikar yang digunakan lalu menyapu lantainya agar tidak ada debu ataupun kotoran.
Sementara Zahra sedang membungkus beberapa kue yang masih tersisa, untuk dibagikan pada tetangganya dan orang yang sudah membantunya menyiapkan jamuan tadi.
Pukul 9 malam, Zulfa mendatangi kakaknya di kamar.
"Kak!" panggil Zulfa.
"Iya, Dek. Kok belum tidur, ada apa?" tanya Zahra yang melihat adiknya terus menunduk sejak tadi.
"Aku mau tidur di sini boleh?"
"Tumben banget, kenapa emangnya?"
"Aku cuma mau menghabiskan malam ini dengan Kakak. Karena mulai besok aku udah gak bisa memeluk dan bermanja pada Kakak seperti biasanya," jelas Zulfa yang diiringi isak tangis.
"Hei, kenapa ngomongnya gitu? Kamu tetap bisa memeluk dan bermanja sepuasmu pada Kakak. Kakak tetap akan menjadi orang pertama tempat kamu bersandar dan berkeluh kesah, walaupun status Kakak akan menjadi seorang istri," terang Zahra sambil mengusap air mata adiknya.
"Maafin Fafa, kalau selama ini sering menyusahkan dan merepotkan Kakak."
"Enggak ada kata susah dan repot bagi Kakak jika itu untuk kebahagiaan kamu. Kamu akan tetap menjadi adik kesayangan Kakak sampai kapanpun. Karena kamu ada tempat sendiri di hati Kakak."
Setelah mengatakan itu Zahra langsung menarik Zulfa ke dalam pelukannya. Dengan saling berderai air mata, mereka menghabiskan waktu malam ini dengan tidur saling berpelukan.
Jangan lupa untuk tinggalkan like dan komen ๐๐๐๐
__ADS_1