Impian Gadis Yang Malang

Impian Gadis Yang Malang
Bab 17


__ADS_3

"Kita berangkat sekarang, Tuan!" ajak Dimas.


"Ayo, sekalian nunggu kabar dari Marco!"


"Baik, Tuan."


Dimas dan Dirga melangkah keluar kantor menuju tempat parkir, Dimas dan Dirga mulai masuk mobil dan mereka berangkat ke Kota P.


Selama perjalanan, pandangan Dirga tak lepas dari ponselnya. Dia menunggu kabar dari Marco yang masih setia memantau Zulfa.


Ting


Tak berselang lama ada notif masuk pada ponselnya. Ternyata, pesan dari Marco.


Target sudah berangkat, Bos.


Ok, dengan siapa dia berangkat? balas Dirga.


Ting


Bersama kakaknya dan suami dari kakaknya.


Baiklah, pantau terus sampai saya datang!


Baik, Bos.


Setelah membaca pesan dari Marco, Dirga memasukkan ponselnya pada saku jas. Dan dia mulai menikmati perjalanannya menuju Kota P.


Dia sudah tidak sabar untuk melihat gadis pujaannya. Walaupun hanya dari kejauhan, itu sudah cukup mengobati rindu di hatinya.


"Tuan, Anda ingin langsung ke hotel atau ingin pergi ke suatu tempat terlebih dahulu? Karena kunjungannya selesai waktu makan siang."


"Kita temui Marco, Dim. Aku ingin melihat gadisku saat ini, seandainya ada kesempatan, aku ingin menemuinya secara langsung," ucap Dirga sembari membayangkan senyuman Zulfa yang bagai candu untuknya.


"Baik, Tuan."


"Baru kali ini saya melihat Anda begitu bahagia hanya karena seorang gadis belia. Semoga saja nasib beruntung memihak padamu, Tuan," batin Dimas.


****


Di lain tempat, tapi satu tujuan. Zulfa dan kakaknya serta kakak iparnya berada di perjalanan menuju Kota P.


"Kakak, kenapa sih dari tadi kok murung gitu?" tanya Zulfa.


"Huh, rumah bakalan sepi nggak ada kamu. Entar siapa yang bakal nemenin Kakak kalau Mas Amir lagi kerja?"


"Kan aku pergi juga untuk menimba ilmu, Kak. Aku pasti pulang, kok. Kalau sudah selesai semua urusanku, aku bakal temenin Kakak sampai puas," ucap Zulfa sambil memeluk kakaknya.


"Kakak jangan sedih lagi! Aku pergi nggak lama kok, Kak. Cuma 3 tahun itupun kalau beneran diterima jadi mahasiswa di sana," sambung Zulfa.


"Iya, Dek. Kakak masih belum rela aja lepasin kamu sendirian. Bagi Kakak, kamu itu tetap adik kecil yang selalu manja dengan Kakak."

__ADS_1


"Aku akan tetap jadi adik kecil Kakak. Karena cuma Kakak yang aku punya."


Sementara Amir hanya menyimak obrolan istri dan adik iparnya itu. Dia tahu betul bagaimana perasaan sang istri, yang begitu menyayangi adiknya setulus hati tanpa pamrih.


Kehilangan sosok bapak yang seharusnya menjadi tulang punggung keluarga, ditinggalkan ibunya yang entah ke mana. Tak lantas membuat Zahra menjadi orang yang menyedihkan, justru dialah yang menjadi sumber semangat adiknya saat ini.


Adik yang begitu perhatian dan pengertian di segala kondisi. Disaat anak seumurannya sedang menikmati masa remaja, tapi dia hanya fokus belajar dan belajar.


Tak ingin mengecewakan kakak yang telah berjuang membiayai hidupnya, memenuhi segala kebutuhannya.


Hingga tanpa terasa mereka telah tiba di kost yang dikatakan Iwan kemarin. Zulfa, Zahra dan Amir keluar dari taksi. Tak lupa Zulfa mengambil tas yang berisi pakaian dan keperluannya sehari-hari.


Setelah taksi meninggalkan mereka, Amir lekas menghubungi Iwan.


"Halo, Wan. Kamu di mana? Kita udah sampai di kost yang kamu katakan kemarin."


"Iya, Mir. Tunggu sebentar, aku ke sana!"


"Ok, aku tunggu."


Setelah mengatakan itu, Amir langsung mematikan sambungan teleponnya.


"Gimana, Mas?" tanya Zahra.


"Iwan lagi mau ke sini, kita tunggu di sana saja," jawab Amir sambil menunjuk bangku yang tak jauh dari tempat kost.


Setelah menunggu 15 menit, Iwan pun sampai di sana.


"Enggak apa-apa, Wan. Kita juga sekalian istirahat," balas Amir.


"Ya udah, aku antar kalian ke kost yang sudah aku pesan untuk Zulfa!" ajak Iwan.


Mereka mengikuti langkah Iwan yang mulai masuk area kost. Sesampainya di depan kamar kost, Iwan memutar anak kunci agar Zulfa bisa langsung meletakkan barang bawaannya.


"Ayo, masuk! Tempatnya udah dibersihin, jadi tinggal pakai aja," ucap Iwan.


"Makasih ya, Mas. Udah banyak bantu aku," ucap Zulfa pada Iwan.


"It's ok, Fa. Kamu santai aja."


-


-


-


-


"Kamu udah bawa semua persyaratannya kan, Fa?" tanya Iwan.


"Sudah semua, Mas."

__ADS_1


"Ok, nanti aku antar kamu ke kampus buat daftar."


"Apa nggak ngerepotin, Mas?"


"Enggak kok, kebetulan aku masuk siang. Jadi, kita bisa barengan ke sana."


"Ya udah, nggak apa-apa."


Setelah dirasa cukup beristirahat dan memastikan adiknya aman di tempat baru, Zahra dan Amir memutuskan untuk pamit pulang.


"Dek, Kakak pulang dulu ya! Jangan lupa kasih kabar ke Kakak! Dan hati-hati di sini!" ucap Zahra menasihati adiknya.


"Iya, Kak. Kakak juga hati-hati! Do'ain semoga semuanya lancar dan aku bisa diterima kuliah di sini."


"Aamiin," ucap mereka serempak.


"Wan, aku titip Zulfa! Kalau ada apa-langsung kabari kami," ucap Amir.


"Iya, kalian tenang aja. Aku akan jaga Zulfa seperti adikku sendiri."


"Kalau begitu, kami pamit pulang. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam," jawab Zufa dan Iwan bersamaan.


***


"Udah siap, Fa?"


"Udah, Mas."


"Ayo, kita berangkat sekarang!"


Zulfa dan Iwan berangkat menggunakan motor. Dengan canggung, Zulfa duduk di jok belakang sambil memegang tepian baju Iwan.


"Santai, Fa. Aku nggak bakal macam-macam," ucap Iwan lalu menarik tangan Zulfa agar berpegangan pada pinggangnya.


"Eh iya, Mas."


Setelah itu keduanya berangkat menuju kampus, tanpa keduanya sadari ada sosok yang saat ini tengah menahan amarahnya ketika melihat pemandangan tersebut.


Ya, setelah mendapat kabar dari Marco. Dirga langsung menuju tempat kost Zulfa dan disaat itulah dia melihat Zulfa yang dibonceng Iwan yang seperti sepasang kekasih.


"Co, cari tahu gadisku kuliah jurusan apa?" perintah Dirga.


"Baik, Bos. Saya akan kabari Anda secepatnya."


"Hemm."


Dirga pun meminta Dimas untuk pergi dari sana dan melanjutka perjalanan menuju Perusahaan Vinda Group.


Selama perjalanan Dirga hanya terdiam sambil memikirkan langkah apa yang akan dia ambil. Dia akan terus berusaha membuat Zulfa jatuh dalam pelukannya, dia tidak akan membiarkan siapapun memiliki gadis itu.

__ADS_1


Kasih semangatnya, dong ๐Ÿ™๐Ÿ™. Dan jangan lupa tinggalkan like dan komen kalian ๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2