Impian Gadis Yang Malang

Impian Gadis Yang Malang
#IGYM Season 2


__ADS_3

Setelah mendengar ucapan sang istri, Dirga memutuskan menyendiri di ruang kerja. Trauma akan kehilangan masih menghantuinya.


Sementara itu di kamar, Zulfa justru dilanda gelisah karena reaksi Dirga. Pikiran negatif mulai memenuhi isi kepalanya, dia berpikir jika Dirga tak menerima kehamilannya saat ini.


"Aku harus bagaimana?" lirih Zulfa yang kini tengah berbaring di ranjang.


Air mata mulai jatuh membasahi pipinya, berada di posisi yang serba salah membuat Zulfa tak bisa berpikir jernih. Tak berapa lama, mata Zulfa perlahan terpejam karena lelah menangis.


Pukul 2 dini hari, Zulfa terbangun dari tidurnya. Dia meraba sisi ranjang sebelahnya, rupanya Dirga tak kembali ke kamar. Zulfa beranjak dari tidurnya lalu ke kamar mandi, tiba-tiba perutnya terasa mual.


Setelah dari kamar mandi, Zulfa turun ke lantai bawah untuk membuat wedang jahe. Kehamilannya saat ini berbeda ketika dia hamil Assyifa, dia lebih cepat lelah dan sering mual.


Selesai membuat wedang jahe, Zulfa kembali ke kamarnya. Zulfa menghentikan langkahnya ketika melewati ruang kerja Dirga. Pintu yang sedikit terbuka membuat Zulfa bisa melihat suaminya yang tengah tertidur di sofa.


Perlahan Zulfa masuk untuk membangunkan Dirga agar tidur di kamar.


"Mas, bangun! Mas!" panggil Zulfa sembari menggoyang pelan lengan Dirga.


Dirga yang merasakan sentuhan tangan Zulfa seketika membuka matanya. Dia mengucek matanya lalu melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul 2.30 dini hari.


"Kamu kenapa belum tidur?" tanya Dirga.


"Aku tadi kebangun karena perutku mual, terus aku buat wedang jahe di dapur," jelas Zulfa.


"Ya sudah, sekarang kita ke kamar! Masih malam, sebaiknya tidur lagi," ajak Dirga kemudian berlalu keluar dari ruang kerjanya.


Melihat hal itu, Zulfa merasa tak dipedulikan lagi oleh Dirga. Ini pertama kalinya, Dirga bersikap acuh padanya. Dan yang membuat Dirga seperti ini karena kehamilan Zulfa.


"Kenapa kamu berubah, Mas? Sebegitu tak inginnya kamu dengan kehamilanku saat ini," gumam Zulfa.


Zulfa beranjak keluar dari ruang kerja Dirga, lalu menuju kamar. Dengan hati dan pikiran yang kacau, Zulfa berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Dia tak ingin Assyifa tahu akan kesedihan yang dirasakannya.


................


Kicau burung dan sorot cahaya mentari, membangunkan Zulfa yang masih terlelap. Dia membuka matanya lalu melihat sisi sebelahnya, dan Dirga yang sudah tak ada di ranjang. Dia mengira jika Dirga sedang mandi, tapi hingga lima belas menit menunggu, tak ada suara gemercik air dari dalam kamar mandi.


Tak ingin menduga-duga, dia lantas ke dapur untuk menemui bibi. Dia ingin menanyakan keberadaan Dirga.


"Bi, lihat mas Dirga nggak?" tanya Zulfa setelah tiba di dapur.


"Sudah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali, Non. Memangnya, den Dirga nggak pamit?"


"Enggak, Bi. Mungkin dia nggak mau bangunin saya tidur," ucap Zulfa membuat alibi agar bibi tak curiga.

__ADS_1


"Syifa sudah bangun belum?" Zulfa langsung mengalihkan pembicaraannya.


"Sudah, Non. Mungkin lagi siap-siap di kamar," jawab bibi.


"Kalau gitu, saya ke kamar Syifa dulu!"


Di kamar Syifa sudah siap dengan seragam sekolahnya, dia juga sudah memakai sepatu dan siap untuk berangkat.


"Sayang, sudah siap belum?" tanya Zulfa ketika sudah di dalam.


"Sudah, Ma."


"Ayo, sarapan dulu! Nanti mama yang antar kamu ke sekolah," ucap Zulfa sembari mengelus kepala Syifa yang tertutup hijab.


"Papa ke mana? Kok mama yang antar aku," tanya Syifa heran.


"Papa ada meeting, jadi pagi-pagi sudah berangkat."


Syifa pun mengangguk setelah mendengar ucapan mamanya. Zulfa dan Syifa langsung turun untuk sarapan.


Selesai sarapan, Zulfa ke kamarnya untuk ganti baju lalu mengantar Syifa ke sekolah. Setibanya di sekolah, Syifa langsung bergegas ke kelasnya setelah berpamitan pada mamanya.


****


Satu minggu berlalu, Zulfa semakin dibuat gelisah dengan sikap Dirga. Selalu berangkat pagi-pagi dan pulang larut malam, bahkan kadang tak pulang.


Sesampainya di kantor, Zulfa langsung bergegas ke ruangan Dirga. Tanpa mengetuk pintu, Zulfa langsung membuka pintu ruangan Dirga.


Brughh


Kotak bekal di tangan Zulfa jatuh berhamburan, pemandangan yang membuat hatinya hancur berkeping. Dirga yang mendengar suara benda terjatuh langsung terkejut, terlebih saat melihat istrinya yang sudah berderai air mata.


"Maaf, sudah mengganggu. Saya permisi," ucap Zulfa lalu pergi dari ruangan Dirga.


Dimas yang kebetulan baru datang dari makan siang di luar, sontak terkejut saat melihat Zulfa yang berjalan tergesa-gesa sambil menangis.


Tak lama kemudian, Dirga berlari keluar ruangan guna menyusul Zulfa. Zulfa berjalan melewati trotoar tanpa menghiraukan teriakan Dirga yang memanggilnya.


"Yang, tunggu!" seru Dirga lalu menarik tangan Zulfa.


"Dengerin penjelasan aku! Semuanya nggak seperti yang kamu pikirkan," ucap Dirga berusaha membujuk Zulfa agar tak salah paham.


"Apalagi yang harus aku dengar, Mas? Untuk apa kamu menjelaskan semuanya, bukankah kamu sudah nggak menganggap aku lagi?" Zulfa melepaskan cekalan tangan Dirga lalu ingin pergi, tapi Dirga kembali menarik tangannya hingga dia berada dalam pelukan Dirga.

__ADS_1


"Aku mohon dengarkan penjelasanku! Aku nggak bermaksud untuk menyakiti kamu."


"Meskipun kamu bilang tak bermaksud menyakiti hatiku, tapi kenyataannya kamu sudah menghancurkan perasaanku, Mas.


Kalau memang kamu nggak mau menerima kehamilanku ini, kamu bicara saja nggak perlu menghindari aku! Tolong, pikirkan perasaan Syifa! Dia masih butuh perhatian kamu, setiap saat dia selalu nanya kamu yang nggak pernah ada waktu buat dia akhir-akhir ini," ungkap Zulfa.


"Maaf, aku benar-benar minta maaf!" Hanya kalimat itu yang mampu keluar dari mulut Dirga. Dia sangat merasa bersalah terutama pada putrinya.


"Cukup aku yang nggak bisa merasakan perhatian dari orang tua, jangan sampai Syifa merasakan apa yang pernah aku rasakan." Lagi-lagi ucapan Zulfa semakin menyayat hatinya, hanya karena egonya dia tak memikirkan perasaan istri dan anaknya.


Zulfa melepas pelukan Dirga setelah puas mengeluarkan segala uneg-unegnya.


"Semua keputusan ada pada kamu, Mas. Jika memang kamu nggak bisa menerima keadaanku saat ini, aku terima. Satu hal yang aku minta dari kamu, jangan pernah menghancurkan perasaan Syifa!"


Usai mengucapkan itu, Zulfa langsung berlalu pergi dari hadapan Dirga dengan segudang rasa bersalah.


................


Sementara di kantor, Dimas tengah duduk di sofa ruangannya, sedangkan Tania dilanda gelisah setelah apa yang terjadi tadi.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa nyonya Zulfa keluar dari ruangan tuan Dirga dalam keadaan menangis?" cecar Dimas.


"Se-sebenarnya tadi-"


#flashback on


Tok tok tok


"Masuk!" sahut Dirga.


"Permisi, Pak! Ini makan siang yang bapak pesan," ucap Tania lalu meletakkan makanan di meja.


"Terima kasih. Tolong, buatkan jus jeruk di pantry!"


"Baik, Pak."


Tania langsung menuju pantry untuk menyiapkan jus jeruk yang diminta Dirga. Setelah selesai dia segera mengantarkan ke ruangan Dirga.


Setelah meletakkan minuman di meja, tanpa sengaja kaki Tania terhantuk kaki meja. Hingga membuat tubuhnya tiba-tiba oleng laku jatuh menimpa Dirga yang hendak membuka kotak makannya.


Saat itulah, Zulfa yang baru saja membuka pintu melihat pemandangan di mana Tania berada di atas tubuh Dirga.


#flashback off

__ADS_1


"Begitu ceritanya, Pak. Jujur, saya nggak bermaksud menggoda pak Dirga. Saya takut kalau sampai hubungan pak Dirga dan istrinya berantakan gara-gara kejadian tadi," pungkas Tania.


Dimas hanya bisa menghela napasnya, dia sendiri juga bingung harus berkata apa. Karena ini pertama kalinya dia melihat hubungan Dirga dan Zulfa tak baik-baik saja.


__ADS_2