
Tak terasa satu bulan sudah, Zulfa menjadi mahasiswi di Universitas P. Selama itu pula, dia juga mendapatkan teman baik, yakni Giska.
Keduanya selalu bersama-sama ketika di kampus, bahkan tak jarang Giska mendatangi kostan Zulfa untuk mengerjakan tugas.
Hari ini Zulfa masuk siang, pukul 2 dia baru berangkat menuju kampus. Saat tengah berjalan, dia berhenti sejenak karena ada yang memanggilnya.
"Zulfa!"
"Kak Rangga, kok bisa ada di sini?"
"Iya, tadi kebetulan habis ngantar temanku. Kamu ada kelas siang?"
"Iya, Kak. Ini mau ke kampus."
"Mau aku antar?" tawar Rangga.
"Enggak usah, Kak. Kampusnya juga udah dekat kok."
"Baiklah, hati-hati di jalan! Kalau gitu aku duluan," pamit Rangga.
"Iya, Kak."
Setelah kepergian Rangga, Zulfa melanjutkan perjalanannya menuju kampus. Tak butuh waktu lama, dia sudah sampai di kampus. Zulfa langsung menuju kelasnya sebelum dosen datang.
"Cie, ada yang lagi PDKT kayaknya," goda Giska saat Zulfa baru duduk di bangkunya.
"PDKT apaan sih, Gis?" tanya Zulfa heran.
"Aku tadi lihat kamu di jalan lagi ngobrol sama Kak Rangga," bisik Giska.
"Tadi itu cuma kebetulan aja ketemu, bukan PDKT."
"Iya juga nggak apa-apa kok, Fa. Secara dia itu salah satu mahasiswa yang paling dikagumi banyak cewek. Dan kamu jadi orang pertama yang didekati Kak Rangga."
__ADS_1
"Ada-ada aja kamu, Gis. Aku jauh-jauh ke sini untuk menimba ilmu, bukan untuk cari jodoh."
"Ya, kali aja kamu itu emang jodohnya Kak Rangga. Kamu tenang aja, aku ikhlas dan merestui kalian."
"Dasar somplak, emang hubungannya apa sama kamu?" ucap Zulfa sambil memukul pelan lengan Giska. Sementara Giska hanya cengengesan melihat ekspresi kesal Zulfa.
Dosen yang mengajar telah datang, Zulfa dan Giska langsung menghentikan obrolannya. Mereka tampak serius mendengarkan dan memahami setiap penjelasan dari dosen.
Dua jam kemudian, kelas siang sudah selesai. Zulfa merapikan buku dan alat tulisnya. Saat selesai merapikan peralatannya, Giska menghampiri Zulfa untuk mengajak istirahat di kantin.
"Fa, ke kantin yuk! Nanti baru pulang."
"Boleh, Gis. Ayo!"
Setelah tiba di kantin keduanya memesan makan dan minum.
"Kamu mau pesan apa, Fa?"
"Aku bakso sama es jeruk aja, Gis."
Saat Giska sedang memesan makan dan minum, Zulfa tengah berbalas pesan dengan Iwan yang menanyakan keberadaannya.
Tak lama Giska datang membawa pesanannya, lalu mereka langsung menyantap makanan itu.
Selesai makan, tiba-tiba Zulfa dihampiri Keyla dan teman-temannya.
"Heh, kamu! Aku peringatin kamu, jangan pernah dekat dengan Pak Iwan! Pak Iwan itu nggak level sama cewek kampungan kayak kamu!" hina Keyla, sedangkan Zulfa hanya diam dan mendengarkan tanpa menyahuti ucapan Keyla.
"Memangnya kamu siapa? Beraninya kamu menghina dan mencemooh adik saya."
Deg
Tubuh Keyla seketika mematung dengan wajah yang pucat pasi.
__ADS_1
"Kenapa diam? Apa seperti ini sikap seorang mahasiswa yang baik dan bermoral?" tegas Iwan.
"Saya ingatkan kamu sekali lagi, kalau sampai kamu berani mengganggu atau mengusik adik saya, maka jangan salahkan saya jika saya akan memanggil kedua orang tua kamu!" ucap Iwan penuh penekanan, membuat Keyla hanya diam tak berkutik.
"Kita pulang, Fa!" ajak Iwan lalu menggandeng tangan Zulfa dan Giska mengikuti di belakang.
Sementara Keyla, hanya bisa merutuki dirinya sendiri. Iwan sengaja berkata jika Zulfa adalah adiknya, lantaran dia pernah diberitahu Zahra tentang Zulfa yang tak pernah punya teman selama sekolah.
-
-
-
-
Iwan tak langsung mengajak Zulfa pulang, melainkan pergi ke sebuah cafe yang letaknya tak jauh dari kostan Zulfa.
Sesampainya di cafe, Iwan mengajak Zulfa untuk duduk di bangku yang agak sepi. Kemudian Iwan memesan 2 minuman untuknya dan Zulfa.
"Fa, aku mau ngomong sesuatu ke kamu."
"Apa Mas?"
"Kamu sekarang udah kuliah, itu artinya kamu mulai beranjak dewasa. Aku minta sama kamu, jadilah orang yang tegas, yang nggak mudah ditindas orang lain.
Kalau ada orang yang menghina atau mencemooh kamu, kamu harus lawan selama masih wajar dan kamu pada posisi benar. Seperti tadi misalnya, jangan hanya diam aja kalau ada orang yang mencoba menjatuhkan harga diri kamu.
Orang yang nggak suka sama kamu, akan semakin menjatuhkan harga diri kamu kalau kamu nggak ngelawan dengan tegas. Kamu jangan takut! Aku akan jadi pengganti kakakmu yang akan melindungi kamu selama di sini," jelas Iwan panjang lebar untuk meyakinkan Zulfa.
"Iya, Mas. Sudah saatnya aku bangkit dan membungkam mulut orang-orang yang pernah merendahkan bahkan menghinaku secara terang-terangan."
"Bagus, selagi kamu pada posisi benar maka kamu harus lawan mereka."
__ADS_1
Obrolan mereka terhenti saat minuman yang dipesan Iwan datang. Mereka lanjut mengobrol tentang yang lain, hingga waktu sudah semakin sore. Iwan lantas mengantarkan Zulfa pulang ke kostan.