Impian Gadis Yang Malang

Impian Gadis Yang Malang
Bab 33


__ADS_3

Akhirnya, Dimas dan Zulfa sampai di rumah yang dibicarakan tadi. Dimas turun dari mobil kemudian diikuti Zulfa, sambil melihat suasana sekitar.


"Ini rumahnya, Pak?" tanya Zulfa.


"Iya, ini rumahnya. Apa kamu suka kalau tinggal di sini?"


"Insha allah, saya suka, Pak. Terima kasih karena sudah membantu saya," ucap Zulfa tulus.


"Sama-sama, kebetulan rumah ini lokasinya nggak terlalu jauh dari perusahaan. Jadi, kamu nggak perlu bingung untuk mencari alat transportasi," ucap Dimas.


"Iya, Pak."


"Ini kunci rumahnya, kalau perlu apa-apa jangan sungkan untuk hubungi saya!" ucap Dimas lalu menyerahkan kunci rumah.


"Iya, Pak. Maaf belum bisa balas kebaikan Bapak," ucap Zulfa setelah menerima kunci rumah dari Dimas.


"Kalau begitu saya balik ke kantor lagi, jam istirahat sudah hampir habis," pamit Dimas.


"Iya, Pak. Hati-hati!"


Dimas pun masuk mobil lalu melajukannya menuju kantor, setelah mobil Dimas sudah tak terlihat lagi, Zulfa baru masuk rumah.


Di rumah itu sudah disediakan perabotan rumah, termasuk meja kursi untuk ruang tamu dan peralatan memasak. Zulfa bergegas menuju kamar lalu merapikan pakaian serta ruangan lainnya.


Setelah satu jam membersihkan seluruh ruangan, Zulfa mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Dia duduk bersandar di kursi denga pikiran yang mulai berkelana, dia memikirkan nasibnya kedepan. Dia hanya bisa berdoa dan berharap selalu diberikan kelancaran disetiap langkahnya.


"Ya Allah, lapangkanlah hatiku untuk menjalani semua ini. Dan lindungilah keluarga kakak di manapun berada, meskipun aku tak bertemu dengannya," batin Zulfa.


Mulai hari ini dia harus benar-benar hidup mandiri tanpa ada dukungan dari orang terdekatnya. Namun, Zulfa sangat bersyukur karena masih ada orang baik yang peduli padanya. Bertemu dengan Dimas yang menawarinya pekerjaan hingga membantunya mencari tempat tinggal sementara.


Andai saja, Zulfa tahu bahwa itu semua sudah direncanakan, mungkin dia tak akan pernah mau menerimanya. Setelah rasa lelahnya berkurang, Zulfa memutuskan untuk membersihkan diri karena badannya telah banyak mengeluarkan keringat.

__ADS_1


Selesai mandi dan berganti pakaian, Zulfa pun keluar dari rumah untuk membeli bahan makanan, seperti beras, sayur dan lauk. Namun, belum sempat Zulfa melangkahkan kakinya dari teras, Dimas sudah datang lagi dengan membawa bungkusan dalam kresek.


"Pak Dimas, ada apa?" tanya Zulfa.


"Mau anterin makan siang buat kamu. Kamu pasti belum makan dari tadi, makanya saya ijin buat beliin makanan," jelas Dimas.


"Aduh, saya jadi nggak enak udah banyak ngerepotin Pak Dimas!"


"Enggak apa-apa, sebentar lagi kita kan jadi partner kerja di kantor yang sama."


"Iya, Pak. Saya juga mohon bimbingannya karena ini pertama kalinya saya bekerja."


"Kamu tenang saja, kalau besok sudah tiba di kantor, kamu langsung ke ruangan saya. Saya akan beritahu tugas kamu sebagai sekertaris pribadi Tuan Dirga."


"Oh, namanya Pak Dirga," batin Zulfa saat Dimas menjelaskan tadi.


"Baik, Pak."


"Iya, Pak. Silakan!" ucap Zulfa setelah menerima pemberian dari Dimas.


Sementara itu, di tempat yang tak jauh dari Zulfa, Dirga sedang memperhatikannya. Ya, Dirga dan Dimas sedang menuju tempat meeting, tapi karena Dimas berkata jika Zulfa belum punya stok bahan makanan, Dirga langsung menyuruh Dimas untuk membeli makanan.


Dirga tahu jika nanti dia memberikan bahan makanan, justru akan menimbulkan kecurigaan pada Zulfa. Itu sebabnya, dia hanya membelikan makanan yang siap makan.


-


-


-


Keesokan paginya, Zulfa sudah bangun sejak subuh. Usai melaksanakan ibadah dua rakaat, Zulfa langsung memasak untuk sarapan karena ini merupakan hari pertamanya bekerja.

__ADS_1


Dia tak ingin memberikan kesan buruk karena datang terlambat di hari pertama masuk kerja. Selesai membuat sarapan dan membersihkan peralatan memasaknya, Zulfa langsung mandi dan berganti pakaian untuk dia kenakan pagi ini.


Dia memakai kemeja putih polos dengan bawahan celana kain berwarna hitam, tak lupa dia juga mengenakan hijab. Mengingat dia memiliki riwayat penyakit leukimia, dia tak ingin orang lain tahu rahasianya itu.


Pukul 6 Zulfa sudah rapi dengan pakaian kerja dan bersiap sarapan. Selesai sarapan, dia mencuci piring bekas makannya lalu barulah dia berangkat ke kantor.


Zulfa memilih berjalan kaki menuju kantor, selain karena jaraknya yang tak terlalu jauh, di juga harus berhemat untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.


Karena hari masih pagi, jadi Zulfa tak terburu-buru. Dia bisa menikmati udara pagi sambil berjalan kaki, Zulfa merindukan masa-masa saat masih SMA. Dia juga berangkat dengan berjalan kaki setiap harinya.


Tak terasa Zulfa sudah sampai di kantor, suasana masih belum ramai karena jam kerja belum dimulai.


"Pagi, Mbak!" sapa Zulfa pada resepsionis yang mengantarnya kemarin.


"Pagi juga, Mbak!" balas repsionis itu.


"Pantas saja Tuan Dirga sampai jatuh hati pada gadis itu, ternyata dia anak yang ramah dan sopan," gumam Mita, resepsionis tadi.


Sesampainya di lantai paling atas, yakni tempat ruangan Dirga dan Dimas berada. Karena Dirga dan Dimas belum sampai, Zulfa memutuskan untuk menunggu di depan ruangan Dimas.


Belum memulai pekerjaannya saja, Zulfa sudah grogi dan jantungnya berdetak kencang. Telapak tangannya juga mendadak terasa dingin.


Tak tak tak


Terdengar suara pantulan dari langkah kaki seseorang, Zulfa langsung mengarahkan pandangannya pada sumber suara. Ternyata, Dirga dan Dimas sudah tiba, Zulfa langsung berdiri dan membungkuk hormat.


"Selamat pagi, Pak!" sapa Zulfa.


"Selamat pagi! Kamu bisa ke ruangan Dimas untuk meminta rincian pekerjaan yang harus kamu lakukan! Dan kamu bisa pelajari lebih dulu!" titah Dirga lalu melanjutkan langkahnya masuk ruangan.


"Ayo, masuk! Biar saya jelaskan apa saja yang harus kamu lakukan," ajak Dimas lalu membuka pintu ruangannya.

__ADS_1


Zulfa mengikuti langkah Dimas yang masuk ruangan. Lalu Dimas menyalakan laptop miliknya kemudian mencari berkas-berkas yang harus dipelajari Zulfa sebagai sekertaris.


__ADS_2