Impian Gadis Yang Malang

Impian Gadis Yang Malang
Bab 28


__ADS_3

Setelah beberapa jam perjalanan, Zulfa sudah sampai di depan rumahnya. Dia memandangi sekitar rumah, suasana yang masih sama seperti tiga tahun lalu.


Dia melangkah ke depan pintu lalu mengetuknya.


Tok tok tok


"Assalamualaikum! Kak, aku pulang," ucap Zulfa.


"Waalaikumsalam, sebentar!" sahut Zahra.


Terdengar bunyi kunci rumah diputar, dan terbukalah pintu rumah.


"Dek! Kenapa nggak bilang kalau pulang? Kan tadi Kakak bisa minta tolong Mas Amir buat jemput kamu."


"Enggak apa-apa, Kak. Kasihan, Mas Amir pasti capek kalau harus jemput aku."


"Ya sudah, masuk dulu! Biar Kakak buatin teh."


"Iya, Kak."


Zulfa mengikuti langkah kakaknya masuk rumah, dia menuju kamarnya untuk meletakkan barang-barang yang dibawanya.


Dia mengambil handuk dan baju ganti di lemari, Zulfa memutuskan untuk mandi karena badannya terasa gerah.


"Diminum dulu tehnya, Dek!" ucap Zahra saat berpapasan dengan Zulfa.


"Iya, Kak." Zulfa meminum teh buatan kakaknya untuk melepas dahaga.


Setelah meminum tehnya, Zulfa langsung ke kamar mandi. Usai mandi, Zulfa menyusul kakaknya yang sibuk di dapur.


"Kakak nggak anter makan siang buat Mas Amir?" tanya Zulfa sambil membantu Zahra membersihkan sayur.


"Hari ini Mas Amir makan siang di rumah, jadi Kakak nggak ke bengkel."


Bukan tanpa sebab Zulfa bertanya seperti tadi, dia hanya tidak ingin kakaknya tahu jika dia meminum obat.


"Kamu makan dulu, terus istirahat! Pasti capek habis perjalanan jauh."


"Iya, Kak."


Tak ingin menyiakan kesempatan, Zulfa langsung menuju meja makan untuk mengambil makanan. Dia tampak menikmati makanannya, makanan yang selalu dia rindukan, yakni masakan kakaknya.


Selesai makan dia mencuci piring bekas makannya, kemudian dia mengambil segelas air putih untuk dibawa ke kamarnya.


"Aku istirahat di kamar, ya, Kak!" pamit Zulfa.


"Iya, Dek."

__ADS_1


Zulfa bergegas ke kamarnya, tak lupa dia mengunci pintu kamar agar tidak ada yang masuk.


Setelah di kamar, Zulfa membuka tas selempangnya untuk mengambil obat. Dia membuka satu per satu bungkus obat lalu meminumnya.


Usai minum obat, Zulfa membaringkan tubuhnya di kasur. Bukan kasur bagus, tapi membuat nyaman Zulfa. Tak berapa lama Zulfa sudah terbang ke alam mimpi, mungkin karena efek obat yang diminumnya, hingga dengan cepat dia terlelap.


***


"Assalamualaikum!"


"Waalaikimsalam! Sudah pulang, Mas? Langsung makan atau mau sholat dulu?" tanya Zahra


"Kita sholat dulu, habis itu baru makan!"


"Iya, Mas. Aku ambil air wudhu dulu."


Zahra dan Amir pun melaksanakan sholat dhuhur berjamaah, usai sholat tak lupa Zahra mencium punggung tangan suaminya, dab Amir pun mencium kening Zahra.


"Tadi aku lihat ada sandalnya Zulfa, emang dia sudah pulang, Dek?" tanya Amir saat di meja makan.


"Sudah, Mas. Belum lama sampai rumah, dia juga baru aja istirahat habis makan."


"Kok nggak telepon suruh jemput?"


"Kamu tahu sendiri Zulfa itu anaknya keras kepala, pas ditanya alasannya kasihan kamu pasti capek kalau harus jemput dia."


"Enak aja, kapan aku keras kepala?"


"Buktinya kalau malam suruh di atas enggak mau," goda Amir.


"Ngomong apa sih kamu, Mas? Malah ngelantur ke mana-mana," elak Zahra dengan pipi merona.


Memang setiap melakukan hubungan suami istri, Zahra tak mau jika di posisi atas. Alasannya karena malu, berulang kali Amir membujuk tapi Zahra tetep kekeh dengan pendiriannya.


-


-


Pukul 3 sore Zulfa terbangun dari tidur lelapnya.


Tok tok tok


"Dek, kenapa pintunya dikunci?" tanya Zahra dari luar.


"Sebentar, Kak!" sahut Zulfa lalu bergegas membuka pintu kamar.


Setelah pintu terbuka, Zahra langsung masuk kamar.

__ADS_1


"Tumben banget ngunci pintu, biasanya juga nggak pernah," cerocos Zahra dengan tatapan mengintimidasi.


"Maaf, Kak. Kebiasaan waktu di kost pasti kunci pintu kamar," jawab Zulfa sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Dan saat menatap adiknya, tak sengaja Zahra melihat obat yang ada di meja Zulfa. Dia langsung mengambil obat itu dan bertanya pada adiknya.


"Ini obat apa?"


"I-itu bukan obat, Kak. Itu vitamin aku soalnya aku sering lembur buat kerjain tugas, makanya aku minum vitamin biar nggak gampang capek," sanggah Zulfa.


"Beneran cuma vitamin? Kenapa ada 3 bungkus?"


"Oh, itu suplemen buat jaga daya tahan tubuh."


"Ya sudah, buruan mandi! Nanti keburu Mas Amir pulang," suruh Zahra seraya memberikan obat di tangannya pada Zulfa.


"Iya, Kak." Zulfa langsung memasukkan obatnya ke dalam tas.


Sementara di belakang rumah, Zahra masih memikirkan perihal obat tadi. Dia merasa tak asing dengan obat itu, tapi dia lupa di mana pernah melihat obat yang sama seperti milik Zulfa.


"Dek!" panggil Amir seraya menyentuh pundak Zahra.


Zahra yang masih memikirkan obat tadi, langsung terlonjak kala suaminya sudah di belakangnya.


"Mas! Kok aku nggak dengar sepeda motor kamu?"


"Kamu ngelamunin apa? Aku salam dari tadi nggak ada yang jawab, itu juga air sudah mendidih nggak dimatikan kompornya."


"Astaghfirullah, iya aku lupa!" Zahra langsung ke dapur untuk mematikan kompornya.


Namun, saat di dapur ternyata kompornya sudah mati.


"Kamu lagi mikirin apa sih, Dek? Nggak biasanya kamu kayak gini," tanya Amir lalu menyodorkan segelas air minum pada Zahra.


Zahra menerima air itu dan langsung meneguknya hingga tersisa setengah. Diapun menceritakan apa yang tengah dipikirkannya pada Amir.


"Mungkin memang benar apa yang dikatakan Zulfa, dia pasti sangat sibuk dengan tugas kuliahnya. Makanya dia mengkonsumsi vitamin itu," ucap Amir setelah mendengar penjelasan Zahra.


"Iya, Mas. Tapi kenapa rasanya masih ada yang mengganjal, aku kayak nggak asing sama obat itu."


"Sudah, ya. Sebaiknya kamu berpikir positif, jangan hanya karena praduga kamu itu, Zulfa jadi nggak nyaman di rumah."


"Iya, Mas."


Tanpa mereka sadari, Zulfa telah mendengar percakapan itu. Dia menangis menahan sesak di dadanya karena harus berbohong pada kakaknya.


"Maafin aku, kak. Aku terpaksa lakuin ini karena nggak mau lihat kakak sedih," gumam Zulfa lalu kembali ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2