
Jam kerja sudah berakhir, Zulfa segera merapikan semua pekerjaannya. Sementara Dirga masih sibuk di depan laptopnya, entah apa yang sedang dia kerjakan. Zulfa beranjak dari kursi lalu menyimpan berkas penting ditempat yang sudah disediakan.
Dirga yang melihat Zulfa ada di belakangnya langsung berdiri menghampiri, dia menarik tangan Zulfa dan membuat Zulfa seketika berbalik badan.
Deg deg deg
Jantung keduanya berdetak kencang, Dirga dan Zulfa saling tatap dengan jarak yang begitu dekat. Dirga memandang wajah Zulfa dengan intens, hingga pandangannya turun di bibir Zulfa yang menggoda iman Dirga.
Perlahan Dirga mulai memangkas jarak, hidungnya sudah menempel di hidung Zulfa. Zulfa semakin dibuat tak karuan karena posisi keduanya yang cukup intim.
Pelan tapi pasti, bibir Dirga sudah berlabuh di bibir Zulfa. Awalnya, hanya sebuah kecupan biasa, tapi lama-lama berubah menjadi ciuman yang memabukkan.
Zulfa berusaha mendorong tubuh Dirga, tapi Dirga semakin menekan tengkuk Zulfa guna memperdalam ciumannya. Muncul desiran aneh pada diri Zulfa, rasanya tak seperti saat Bryan mencuri ciuman pertamanya.
"Tuan, Anda pulang sekarang atau nan-" Ucapan Dimas terhenti saat melihat adegan di depannya.
"Astaga, mata perjakaku ternoda!" batin Dimas.
Dirga dan Zulfa yang mendengar suara Dimas langsung melepas ciumannya. Jangan tanya bagaimana ekspresi wajah Dirga, sudah pasti siap untuk menerkam mangsanya, sedangkan Zulfa langsung menutupi wajahnya karena malu kepergok Dimas saat sedang ciuman.
"Apa kamu sudah lupa peraturan di sini, Dim?" tanya Dirga sambil menahan emosinya.
"Ma-maaf, Tuan. Ta-tadi saya sudah ketuk pintu, tapi nggak ada yang jawab, makanya saya langsung masuk saja. Eh, nggak tahunya Anda sedang-" Dimas tak berani melanjutkan ucapannya karena tatapan mematikan dari Dirga.
"Ada perlu apa kamu ke sini?"
"Sudah waktunya pulang, Tuan. Anda ingin pulang sekarang atau nanti?"
Dirga melihat jam yang melingkar ditangannya, dan benar jamnya menunjukkan pukul 16.30.
"Baiklah, kita pulang sekarang. Antar Zulfa sekalian!"
"Ti-tidak perlu, Pak! Saya pulang sendiri saja, soalnya mau mampir ke minimarket untuk belanja," tolak Zulfa berusaha menghindari Dirga, apalagi setelah kejadian tadi.
Dia hanya malu jika bertemu Dirga, akan mengingatkan dia dengan ciuman tadi. Apalagi, Dimas juga melihat sendiri.
"Kenapa? Kamu mau menghindar dari saya?" tanya Dirga.
"Ti-tidak, Pak. Saya memang mau ke minimarket untuk belanja," ucap Zulfa dengan detak jantung yang berdebar.
"Saya tak suka penolakan! Jadi, ikut saya atau saya pecat karena tak mematuhi perintah atasanmu?"
"Ja-jangan, Pak. Baiklah, saya ikut Bapak."
__ADS_1
Mau tak mau Zulfa pun mengikuti apa kata Dirga, daripada dia harus dipecat.
"Cih, Anda bukan memerintah, Tuan. Namun, pemaksaan," batin Dimas.
"Kamu kenapa masih di sini? Cepat ambil mobilnya! Saya tunggu di depan," ujar Dirga lalu berjalan mendahului Dimas.
Dimas dan Zulfa saling pandang, mungkin mereka merasa bingung dan aneh dengan sikap bosnya itu. Karena tak ingin membuat Dirga marah, Dimas langsung berjalan dengan cepat menuju tempat parkir. Sementara Zulfa berjalan agak santai, agar Dirga lupa dengan ucapannya tadi yang ingin mengantarnya pulang.
Namun, sepertinya nasib baik tak berpihak pada Zulfa. Sebab Dirga masih menunggunya di depan kantor, tapi tiba-tiba ada suara seseorang memanggil Zulfa.
"Zulfa!"
Zulfa yang mendengar namanya dipanggil langsung menoleh ke sumber suara.
"Mas Iwan!" seru Zulfa lalu berlari menghampiri Iwan.
"Kok nggak bilang kalau mau ke sini?" tanya Zulfa.
"Kejutan, dong."
"Sendirian aja, Mas?" tanya Zulfa lagi.
"Iyalah, kan emang mau jemput kamu."
"Mbak Anis marah nggak kalau Mas Iwan ke sini?" goda Zulfa.
"Mas Iwan, sakit tahu! Ntar kalau aku nggak punya hidung gimana?" protes Zulfa.
"Ganti aja pakai hidung kucing."
"Pesek, dong."
Zulfa dan Iwan tertawa karena candaan mereka, tapi tidak dengan orang yang sejak tadi memandangi keduanya. Dirga benar-benar tak bisa menahan emosinya, dia melangkah menghampiri Zulfa untuk diajak pulang.
"Ayo, pulang!" Dirga menarik tangan Zulfa agar mengikutinya.
"Tunggu, Pak! Bapak langsung pulang saja, saya sudah dijemput," ucap Zulfa menolak ajakan Dirga.
"Kamu masih ingat ucapan saya tadi, bukan?"
Bingung, itu yang dirasakan Zulfa. Dia jadi serba salah, tak mungkin dia pulang dengan Dirga, sedangkan Iwan sudah jauh-jauh menjemputnya. Namun, jika dia pulang dengan Iwan maka pekerjaannya yang akan jadi taruhan.
"Em, Mas Iwan duluan aja, ya! Aku mau bicara sesuatu dulu dengan bosku, penting!"
__ADS_1
"Ya sudah, aku tunggu kamu di rumah."
Iwan memilih mengalah karena dia yakin jika ada sesuatu antara Zulfa dengan bosnya. Apalagi, setelah melihat tatapan tajam Dirga, Iwan bisa menyimpulkan jika Dirga tengah menahan cemburu.
Setelah Iwan pergi, Dirga langsung menarik Zulfa untuk masuk mobil. Setelah keduanya duduk di dalam mobil, Dimas segera melajukan mobilnya.
......................
Malam minggu telah tiba, Dirga dan Zulfa tengah berada di sebuah restoran yang sudah direservasi oleh Dirga.
Keduanya sedang menikmati makan malam dengan nuansa outdoor, Dirga sengaja memilih restoran ini karena ingin terasa lebih romantis.
Selesai makan, keduanya masih sama-sama diam. Zulfa bingung harus memulai pembicaraan, sedangkan Dirga sedang merangkai kalimat yang tepat untuk mengutarakan perasaannya.
"Zulfa, apa kamu tahu alasan saya mengajak kamu ke sini?"
"Tidak, Pak."
"Baiklah, sudah saatnya saya menyampaikan hal ini ke kamu. Zulfa, sejak pertama kali melihatmu, aku sudah jatuh hati padamu. Awalnya, aku hanya mengira rasa itu sebatas mengagumi, tapi rasa itu semakin subur saat melihatmu setiap waktu.
Zulfa, malam ini dan di tempat ini. Aku, Dirga Zein Fernandez memintamu untuk menjadi pendamping hidupku hingga tua nanti."
Bahagia? Tentu saja, wanita mana yang tak bahagia ketika lelaki yang dia cintai ternyata juga mencintainya. Mungkin wanita lain akan langsung menerima pinangan tersebut, tapi tidak dengan Zulfa.
Bukannya munafik, dia memang mencintai pria didepannya ini. Namun, kembali lagi pada kenyataan bahwa dia tak pantas bersanding dengan Dirga. Lagi dan lagi, penyakit yang menjadi momok utama bagi Zulfa untuk tak membina sebuah hubungan.
"Pak Dirga, saya sangat menghargai ketulusan dan kejujuran Anda. Saya akan langsung menjawab pinangan Anda malam ini. Saya, Zulfa Nabila memohon maaf karena saya harus menolak pinangan Anda."
Jederrr
Dirga tak menyangka jika gadis yang selama ini diam-diam dia perhatikan, justru menolak pinangannya. Hancur, kecewa dan sakit hati yang menjadi satu.
"Berikan aku alasan kenapa kamu menolaknya?" tanya Dirga dengan mata yang memerah dan tangan yang terkepal erat.
"Maafkan saya, Pak. Saya tidak pantas bersanding dengan Bapak, saya hanya tidak ingin Bapak menyesal dikemudian hari.
Maka dari itu, lebih baik saya menolak pinangan Bapak."
"Memangnya siapa yang boleh menilai aku mau menikah dengan wanita mana? Apa ada aturan yang mengharuskan aku menikah dengan wanita berkelas dan juga konglomerat?" ucap Dirga dengan emosi.
"Wanita mana? Yang aku mau hanya kamu, Zulfa, bukan orang lain!" tegas Dirga.
Zulfa hanya menundukkan kepalanya dengan isak tangis yang tertahan.
__ADS_1
"Lihat mataku, Zulfa! Sekarang katakan kalau kamu memang benar-benar menolakku karena tidak mencintaiku!"
Mulut Zulfa seakan terkunci rapat, dia tak sanggup mengeluarkan sepatah katapun. Bohong, jika dia tak mencintai Dirga, bahkan rasa cintanya tumbuh semakin besar.