Impian Gadis Yang Malang

Impian Gadis Yang Malang
Bab 21


__ADS_3

Tak terasa waktu cepat berlalu, satu tahun Zulfa menimba ilmu di Kota P. Hari-hari dilaluinya dengan penuh semangat, demi impian yang akan dicapainya. Selama itu pula, Zulfa tak pernah diganggu oleh Keyla. Semenjak kejadian di kantin waktu itu, Keyla seakan menghilang dari hadapan Zulfa.


Mungkin karena ultimatum dari Iwan waktu itu, Keyla mencari aman demi nama baik dia dan keluarganya. Apalagi, dia yang begitu diharapkan agar menjadi penerus usaha ayahnya kelak.


Namun, berbanding terbalik dari Keyla. Rangga yang dari awal sudah menaruh hati pada Zulfa, kini semakin gencar untuk mendapatkan cinta dari Zulfa.


Berbagai cara dan usaha dia lakukan untuk menaklukkan hati Zulfa. Meskipun, dia tahu mungkin semua tak akan sama seperti harapannya.


Zulfa seakan menjaga jarak dengan lawan jenisnya, entah karena ingin fokus pada pendidikannya atau karena ingin menjaga hati untuk seseorang.


Hari ini Zulfa tidak masuk kuliah, lantaran dosen yang berhalangan hadir. Dia hanya sibuk di dalam kost, mulai dari memasak, mencuci pakaian lalu menjemurnya. Setelah itu, dia mandi dan lekas sarapan. Selesai sarapan dia membaca buku, hanya itu yang dilakukannya.


Hingga ketukan pintu membuat Zulfa yang semula fokus membaca, mulai mengalihkan pandangannya.


"Siapa, ya?" gumam Zulfa.


Dia lalu bergegas membukakan pintu, saat pintu sudah terbuka, dia sangat terkejut ketika tahu siapa yang datang.


"Kakak!" seru Zulfa lalu menghambur di pelukan kakaknya.


"Apa kabar, Dek?" tanya Zahra setelah mengurai pelukan adiknya.


"Aku baik, Kak. Kakak kenapa nggak bilang kalau mau ke sini?"


"Sengaja mau buat kejutan. Kamu nggak kuliah?"


"Enggak, Kak. Dosen hari ini berhalangan hadir. Masuk, yuk!" ajak Zulfa.


Zahra dan Amir berjalan mengikuti Zulfa, lalu mereka duduk di lantai yang dialasi karpet.


"Aku buatin minum dulu, Kak."


"Enggak usah, Fa. Nanti aja," sahut Amir.


"Kalian udah sarapan belum? Tadi aku cuma bikin nasi goreng buat sarapan."


"Udah, Fa. Nanti kita makan siang di luar aja bareng Iwan sekalian," usul Amir.


"Iya, Mas."


Mereka lanjut mengobrol sesekali menggoda Zulfa yang tampak salah tingkah. Sebab kakaknya berkata jika Bryan selalu menanyakan kabar dan kapan Zulfa pulang.


Pukul 12 siang Iwan sudah tiba di kost Zulfa, dia ikut bergabung bersama Zahra dan Amir yang duduk di ruang depan.


"Kalian udah dari tadi?" tanya Iwan sambil duduk di samping Zulfa.


"Tadi sekitar jam 9, Wan," jawab Amir.


"Kita makan siang di mana?" tanya Iwan.


"Kan kamu yang lebih hafal daerah sini, kenapa malah jadi tanya ke kita?" sahut Zahra.


"Oh iya lupa," ucap Iwan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Gimana kalau di lesehan dekat alun-alun aja, Mas?" usul Zulfa, membuat Zahra mengernyitkan dahinya.


"Kayaknya kamu udah hafal banget daerah sini, Dek," ucap Zahra dengan tatapan mengintimidasi.


"Enggak juga, Kak. Aku keluar kalau diajak Mas Iwan aja."


"Beneran?"


"Bener, Kak. Aku nggak terlalu percaya orang lain yang baru aku kenal."


"Syukurlah kalau gitu. Awas, kalau sampai berani keluar sama orang lain!"


"Iya-iya, Kak."


"Kita berangkat sekarang aja, Mas! Aku udah lapar," ajak Zulfa seraya tersenyum.


"Baik, Tuan Putri," gurau Iwan.


-


-


-


-


"Kakak nanti pulang apa nginep?" tanya Zulfa disela-sela makan siangnya.


"Mending kalian nginep aja, Zulfa juga pasti masih kangen sama Zahra," usul Iwan.


"Ya sudah, kita nginep malam ini," ucap Amir.


"Makasih ya, Mas. Nanti kalian tidur di kamar aku aja, biar aku tidur di luar," kata Zulfa.


"Enggak!" tolak Zahra.


"Biar Kakak dan Mas Amir aja yang tidur di luar," imbuh Zahra.


"Tapi, Kak. Kan kalian pasti nggak nyaman kalau tidur di lantai."


"Enggak apa-apa."


"Sudah-sudah. Lebih baik kalian tidur di rumahku aja daripada berdebat soal tempat tidur," sela Iwan.


"Maksud kamu?" tanya Zahra.


"Ya, kalian bertiga tidur di rumahku. Adil kan? Kalian bisa tidur di kamar semua."


"Apa nggak ngerepotin Mas Iwan nantinya?" tanya Zulfa.


"Enggak sama sekali, Fa. Lain lagi, kalau kamu doang yang tidur di rumahku."


Plak

__ADS_1


Zahra menepuk pundak Iwan seraya menggerutu.


"Awas aja kalau berani! Bakal aku nikahin kalian berdua."


"Wah, aku malah senang. Atau sekarang aja nikahnya," goda Iwan sambil menatap Zulfa.


"Ayo, Mas! Kalau mau berduaan nggak ada yang marahin."


"Kalian berdua emang bener-bener, ya. Bikin orang tambah kesel aja," gerutu Zahra.


Sementara Zulfa dan Iwan langsung tertawa melihat ekspresi kesal Zahra, sedangkan Amir hanya mengusap bahu istrinya itu sambil tersenyum.


Hari beranjak semakin siang, mereka sudah tiba di kost Zulfa. Zulfa mengambil beberapa baju ganti dan keperluannya yang lain. Setelah selesai, dia langsung menyusul keluar.


"Udah, Fa?" tanya Iwan.


"Udah, Mas," jawab Zulfa.


"Langsung berangkat ke rumahku aja, mumpung masih siang biar kalian bisa istirahat!" ajak Iwan lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju motornya.


Zulfa langsung mengikuti langkah Iwan dan duduk di jok penumpang. Sementara Zahra dan Amir sudah berangkat lebih dulu.


"Ini sebenarnya yang punya rumah siapa, sih? Kok malah mereka yang berangkat duluan."


"Biarin aja, Fa. Mungkin mereka mau sekalian honeymoon."


"Ya kali, honeymoon di rumah orang. Kenapa nggak ke hotel aja? Menodai mata dan telingaku yang masih ting-ting."


"Aku juga masih perjaka lho, Fa."


"Dih, nggak percaya aku. Masa orang setampan Mas Amir nggak pernah punya pacar," ejek Zulfa.


"Serius, Fa. Aku nggak pernah dan belum punya pacar sama sekali."


"Emang Mas Iwan nggak takut apa, jadi perjaka tua? Secara dari umur, Mas kan udah waktunya buat punya pasangan dan berkeluarga."


"Belum ada yang cocok, Fa."


"Kriteria calon istri Mas Iwan yang gimana, sih?"


"Yang pasti dia wanita baik-baik, sopan, nggak neko-neko, taat dan patuh dengan suami. Dan satu lagi, dia juga bisa mengurus keluarga dengan baik."


"Hemm, sebenarnya nggak terlalu sulit, sih. Tapi kenapa belum ada cewek yang mau sama Mas Iwan?"


"Bukannya nggak mau, Fa. Tapi emang aku aja yang belum cocok dengan mereka."


"Ribet amat sih, Mas."


"Ini kenapa malah jadi bahas aku, sih? Kan tadi kita lagi bahas kakak kamu."


"Iya juga, ya."


Tanpa sadar mereka sudah sampai di rumah Iwan. Saking asyiknya ngobrol, perjalanan yang cukup jauh jadi terasa lebih dekat.

__ADS_1


__ADS_2