
Dirga yang sejak masih di kantor menanti balasan pesan Zulfa, berniat mendatangi rumah yang ditempati Zulfa. Sehabis mandi, dia langsung bersiap menuju rumah Zulfa.
Tak lupa dia mampir ke toko buah dan kue untuk dia berikan pada Zulfa. Mungkin terkesan aneh sebab ini pertama kalinya Dirga membawakan sesuatu untuk seorang perempuan.
Setelah mendapatkan apa yang dia beli, Dirga bergegas melajukan mobilnya. Sepanjang perjalanan dia sudah merasa gugup, anggap saja dia seperti ABG yang baru jatuh cinta.
Begitu dia sampai di sebuah gang yang menjadi akses ke kontrakan Zulfa, Dirga memilih turun untuk melihat situasi. Namun, saat tinggal beberapa meter lagi, langkahnya terhenti kala melihat pemandangan yang membuatnya emosi.
Dirga melihat Zulfa sedang menangis dalam pelukan Iwan, ingin rasanya dia menarik Zulfa untuk menjauh dari Iwan, tapi akal sehatnya masih bisa menghalangi.
"Sepertinya aku harus bergerak cepat, aku harus bisa memiliki Zulfa seutuhnya," gumam Dirga.
Dia lantas berbalik arah kembali ke mobilnya.
......................
Sementara itu, Zulfa yang masih terisak dalam pelukan Iwan langsung melepaskan pelukannya.
"Maaf, Mas. Selama ini aku banyak merepotkan Mas Iwan, nggak seharusnya Mas Iwan ikut memikirkan keadaanku sekarang."
"Aku sudah anggap kamu seperti adikku sendiri, Fa. Apapun dan kapanpun kamu butuh, aku pasti akan selalu ada untuk kamu."
"Terima kasih, Mas. Entah, dengan cara apa aku bisa membalas semua kebaikan Mas Iwan?"
"Dengan melihat kamu menjadi sukses dan berjaya, itu sudah sangat membuatku senang, Fa. Jadi, kamu harus tetap semangat meraih impianmu selama ini. Dan yakinlah jika suatu saat akan ada keajaiban yang bisa membuatmu sembuh dari penyakit yang kamu derita."
"Aamiin."
"Tolong, jangan bilang ke kakak kalau aku di sini, Mas!" pinta Zulfa.
"Terus kalau Zahra tanya, gimana? Aku sudah terlanjur bilang kalau bakal bantu cari keberadaan kamu."
"Mas Iwan bilang aja belum ketemu, aku belum siap kalau harus kembali ke rumah. Aku khawatir kejadian waktu itu terulang lagi, dan akan membuat semua jadi makin kacau."
__ADS_1
"Baiklah, kalau memang itu mau kamu. Yang penting, kamu harus selalu kasih kabar ke aku, buat pastiin kalau kamu baik-baik saja."
"Iya, Mas. Mas Iwan masih lama nggak di sini? Atau mau langsung balik ke Kota P."
"Mungkin besok sore aku balik, Fa."
"Em, kalau gitu besok aku nitip sesuatu, ya buat Mbak Anis!"
"Nitip apa?"
"Ada pokoknya, besok Mas Iwan juga tahu sendiri."
"Hem, gitu ya. Sekarang mainnya rahasiaan?"
"Enggak, besok aja aku kasih tahu."
"Ya sudah, aku mau pulang. Daripada nanti kakak kamu nanya terus," pamit Iwan.
"Itu udah cukup, Fa. Kayak siapa aja tamunya, aku pamit, ya. Assalamualaikum!"
"Wa'laikumsalam!"
Setelah Iwan pergi, Zulfa kembali ke dalam rumah. Dia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 5 sore.
"Aku bikin adonan kue aja sambil nunggu waktu maghrib," gumam Zulfa.
Dia langsung mengeluarkan semua bahan dan peralatan yang dibutuhkan. Dengan cekatan, Zulfa mulai menyiapkan bahan untuk membuat kue. Pertama, dia memecahkan beberapa butir telur lalu ditambahkan gula pasir serta baking powder.
Zulfa menyalakan mixernya lalu mulai mengocok telur tadi hingga mengembang, setelah itu dia memasukkan tepung yang sudah dicampur coklat bubuk secara bertahap. Ketika adonan sudah tercampur rata, dia menambahkan coklat leleh dan margarin cair lalu diaduk kembali hingga semua tercampur rata.
Zulfa mengambil loyang yang sudah diolesi margarin, kemudian dia menuang adonan tadi ke dalam loyang dan mengukusnya.
Tepat setelah adonan dikukus, seruan adzan maghrib sudah terdengar. Zulfa membereskan semua peralatan tadi lalu segera berwudhu untuk melaksanakan sholat maghrib.
__ADS_1
****
Hari-hari berlalu, ini bulan ketiga Zulfa bekerja sebagai sekertaris CEO. Kedekatan dan keakraban Zulfa dengan Dirga juga semakin intens, bahkan Dirga sudah berani menunjukkan perhatiannya pada Zulfa.
Hal itu dia lakukan semata-mata karena ingin Zulfa lebih dekat dengannya tanpa rasa canggung.
Seperti siang ini, Dirga pasti selalu memesankan makanan untuk Zulfa. Dirga dan Zulfa selalu makan siang bersama di ruangannya. Tak dapat dipungkiri, perhatian yang selalu diberikan pada Zulfa, membuat rasa cinta perlahan mulai tumbuh di hati Zulfa.
Namun, Zulfa tak mau terlalu berharap lebih, dia menganggap perhatian Dirga padanya karena rasa prikemanusiaan. Zulfa sadar diri, dia tak pantas bersanding dengan pria seperti Dirga. Jika pun Dirga memang memiliki perasaan padanya, dia akan menolak dengan halus.
Dia hanya tak ingin, Dirga hidup dengan wanita yang mengidap penyakit mematikan sepertinya. Masa depan Dirga masih panjang, sedangkan dia hanya tinggal menunggu waktu tiba untuk meninggalkan dunia ini.
Penyakitnya sudah kian parah, jika tak dibantu dengan obat-obatan, mungkin Zulfa sudah tiada. Sampai saat ini, baik Zahra dan Amir belum ada yang tahu tentang kondisi Zulfa sekarang.
"Fa, malam minggu kamu ada acara nggak?" tanya Dirga.
"Tidak ada, Pak. Karena saya memang jarang pergi kalau nggak penting," jawab Zulfa.
"Kalau begitu, malam minggu aku mau ajak kamu ke suatu tempat."
"Ke mana, Pak? Apa cuma saya sendiri?"
"Iya, aku ada sesuatu untuk kamu."
"Sesuatu apa, Pak?"
"Rahasia, kalau aku kasih tahu sekarang, bukan kejutan namanya."
"Tapi saya terlanjur penasaran," ucap Zulfa.
"Udah, pokoknya tunggu aja malam minggu nanti!"
"Baiklah," pasrah Zulfa.
__ADS_1