Impian Gadis Yang Malang

Impian Gadis Yang Malang
Bab 8


__ADS_3

Selepas pulang dari sekolah, Bryan duduk termenung di balkon kamarnya. Dia masih memikirkan penyebab Zulfa yang tak ingin bertemu dengannya.


"Sebenarnya apa sih yang Zulfa sembunyikan? Apa ini ada hubungannya dengan Rosa?" gumam Bryan.


"Bry, kamu nggak makan? tanya Papa Bryan yang baru saja masuk kamar.


"Nanti aja, Pah. Aku belum lapar," jawab Bryan sambil menatap papanya.


"Kamu kenapa? Nggak biasanya pulang sekolah ngurung diri di kamar."


"Enggak apa-apa, Pah. Bryan lagi pengen santai aja."


"Pah!" panggil Bryan.


"Ada apa?"


"Papa tahu Zulfa kan?" tanya Bryan.


"Zulfa? Yang mana, Bry?"


"Itu loh, Pah. Bapaknya dulu kerja di kebun Papa."


"Oh anaknya Pak Darto, kenapa emangnya? Bukannya dia sekolah bareng kamu."


"Iya, Pah. Cuma beda kelas aja. Menurut Papa dia anaknya gimana?"


"Kalau setahu Papa sih, dia anaknya baik, ramah, enggak neko-neko kayak kebanyakan anak seusia dia."


"Kamu suka dia?" lanjut Papa Bryan.


"Iya, Pah. Kalau Papa ijinin, aku mau serius dengan Zulfa."


"Papa nggak akan melarang kamu untuk berhubungan dengan siapapun, selagi dia anak perempuan yang baik dan tahu adab sopan santun, silakan! Tapi untuk saat ini Papa mau kamu fokus dulu untuk belajar, agar apa yang kamu cita-citakan bisa terwujud."


"Iya, Pah. Bryan akan belajar dengan baik. Terima kasih sudah ijinin Bryan untuk memilih pilihan Bryan sendiri."


"Sama-sama. Papa harap kelak kamu bisa menjadi anak yang bertanggung jawab dalam hal apapun."


"Iya, Pah."


Bryan pun memeluk papanya, dia merasa seperti mendapat angin segar karena papanya tak mengekang apa yang akan jadi pilihannya kelak.


-


-


-

__ADS_1


-


Setelah kejadian tadi di lorong sekolah, Zulfa lebih sering melamun. Bahkan ketika sedang berjalan pulang pun, dia tak menghiraukan sapaan dari orang yang berpapasan dengannya.


"Fa, kamu kenapa ngelamun?" tanya Ria yang membuat Zulfa langsung terkejut.


"Eh kamu, Ri. Aku nggak ngelamun kok" elak Zulfa.


"Itu menurutmu. Dari tadi aku perhatiin kamu terus, kamu disapa orang aja nggak denger," jelas Ria.


"Emang siapa? Perasaan nggak ada yang papasan tadi."


"Ya iyalah nggak ada. Orang kamunya aja ngelamun, udah ada 5 orang sapa kamu, tapi kamu kayak orang kesambet," gerutu Ria.


"Hehe, masa sih?"


"Tau ah. Mending buruan pulang, jangan ngelamun sambil jalan. Entar kamu diculik genderuwo baru tahu rasa."


"Mana ada genderuwo siang-siang gini?" sanggah Zulfa.


"Zulfa Nabila anaknya Bu Diana, adiknya Mbak Zahra dengerin ya. Justru setan itu suka nempel sama orang yang sering ngelamun, nggak pandang siang atau malam. Ngerti!" jelas Ria dengan ekspresi geregetan.


"Ngerti Ustadzah Ria similikiti."


"Dasar kampret, enak aja main ganti nama orang!" protes Ria sambil menoyor pundak Zulfa, sedangkan Zulfa tertawa melihat temannya itu.


"Aku duluan ya, Ri. Hati-hati di jalan! Takutnya kamu nanti diajak nongkrong sama Mbak Kunti," pamit Zulfa disertai ledekan.


"Enak aja, yang ada Mbak Kunti takut lihat aku."


"Berarti mukamu lebih serem daripada mereka."


"Dasar, Zulfa ngeselin. Pulang ajalah daripada makin naik darah gara-gara kamu," gerutu Ria dan berlalu dari hadapan Zulfa.


Setelah Ria pergi, Zulfa masuk rumah tak lupa dia mengucap salam.


"Assalamualaikum, Kak."


"Waalaikumsalam, nggak ada pelajaran tambahan lagi ya?"


"Enggak, Kak. Makanya pulang cepet, tapi udah pinjam buku sih di perpustakaan. Buat tambahan belajar nanti."


"Ya udah, buruan ganti baju terus makan!"


"Iya, Kak. Aku ke kamar dulu."


Zulfa melangkahkan kakinya menuju kamar, setelah di dalam kamar dia langsung melepas semua atribut sekolahnya.

__ADS_1


"Mandi ajalah biar seger," ucap Zulfa lalu mengambil baju ganti dan bergegas ke kamar mandi yang ada di samping dapur.


Setelah 15 menit di kamar mandi, Zulfa keluar dengan kepala yang dililit handuk karena sehabis keramas.


"Tumben, kamu mandi jam segini?" tanya Zahra yang melihat adiknya baru keluar dari kamar mandi menuju dapur.


"Iya, Kak. Soalnya gerah banget. Mungkin karena udah masuk musim kemarau makanya cuaca jadi panas banget," jawab Zulfa lalu mengambil makan yang ada di meja dapur.


"Dek, tunggu!"


"Apa Kak?"


Zahra mendekati adiknya dengan tatapan menyelidik, sedangkan Zulfa yang ditatap kakaknya seperti itu menjadi salah tingkah. Karena tak biasanya kakaknya menatap seperti itu.


"Bibir kamu kenapa merah gitu?" tanya Zahra.


Deg


Jantung Zulfa seakan berhenti berdetak, dia bingung harus menjawab apa. Dia juga tidak menyangka jika kakaknya bisa seteliti itu.


"Eh, ini tadi pas mau pulang aku beli jajan yang pedes, Kak. Mungkin karena kepedesan makanya jadi merah gini," alibi Zulfa dengan ekspresi yang setenang mungkin.


"Beneran, cuma habis makan pedes? Kamu enggak macem-macem kan."


"Enggak kok, Kak. Ini gara-gara makan pedes."


"Ok, awas kalau kamu sampai berani macem-macem di belakang Kakak!" ancam Zahra lalu dia meninggalkan Zulfa yang masih menetralkan perasaannya.


"Huh, untung aja kakak langsung percaya. Maaf kak, aku jadi harus bohongin kakak," batin Zulfa sambil mengelus dadanya.


Zulfa melanjutkan mengambil makanan, lalu dia makan di kursi yang ada di dekat meja.


Walau hanya makan yang sederhana, tapi Zulfa sudah sangat senang. Baginya, yang penting bisa makan setiap hari itu sudah cukup.


Karena banyak orang-orang diluaran sana yang harus bekerja keras demi mendapat sesuap nasi. Bahkan ada yang tak makan sampai berhari-hari.


"Fa, nanti tolong anterin pesanan Bu Novi ya!" pinta Zahra saat Zulfa mencuci piring bekas makannya.


"Bu Novi yang mana, Kak?"


"Itu loh yang rumahnya dekat rumah Pak Deni, papanya Bryan temen kamu."


Untuk sejenak Zulfa hanya diam, ingin dia menolak tapi dia tak tega melihat kakaknya yang sudah lelah berkutat di dapur sejak pagi.


"Iya, Kak." Dengan berat hati Zulfa menyanggupi permintaan kakaknya, dalam hati dia berharap semoga tidak bertemu Bryan.


Jangan lupa untuk tinggalkan like dan komen kalian ๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2