
Pagi harinya, semua keluarga Amir sudah berada di ruang tengah untuk sarapan bersama. Sang pengantin baru pun juga sudah ada di sana, sedangkan Zulfa lebih memilih sibuk di dapur.
"Fa, ayo sarapan dulu! Yang lain udah nungguin," ajak Iwan.
"Iya, Mas. Ini masih nanggung beresin alat masak."
"Udah, nanti dilanjut lagi!" ucap Iwan sambil menarik tangan Zulfa agar ikut dengannya.
Zulfa hanya bisa pasrah ketika Iwan menarik tangannya untuk ikut bergabung bersama keluarga Amir.
Bisa dikatakan Zulfa adalah sosok yang introvert, dia lebih senang menyendiri dibandingkan berkumpul bersama orang.
Semenjak kehidupannya berubah, sikap Zulfa juga berubah. Dia yang dulunya gadis periang, kini menjadi gadis yang pendiam.
"Ayo, Fa makan dulu!" ajak Ibu Amir.
"Iya, Bu," jawab Zulfa.
Sementara Zahra dan Amir saling pandang melihat Iwan yang menggandeng tangan Zulfa. Mereka bertanya-tanya, sejak kapan adik dan sepupunya itu sangat akrab.
Iwan melepas pegangan tangannya agar Zulfa bisa mengambil makanan. Zahra tersadar dari lamunannya ketika mendengar ucapan Iwan.
"Mbak Zahra, selepas sarapan boleh kita ngobrol sebentar? Ajak Amir sekalian."
"Eh, iya boleh."
Semuanya makan dengan tenang sambil sesekali Iwan mencuri pandang pada Zulfa, dan hal itu tak luput dari pandangan Zahra yang penasaran dengan apa yang akan dibicarakan Iwan.
"Apa dia ingin membicarakan tentang hubungannya dengan Zulfa?" batin Zahra.
Selesai sarapan, Zahra dan Amir menemui Iwan dan Zulfa yang ada di halaman rumah. Tepatnya di sebuah bangku yang ada di bawah pohon mangga.
"Ada apa, Wan?" tanya Amir ketika sudah duduk bergabung dengan keduanya.
"Sebelumnya maaf kalau aku terlalu ikut campur, aku dengar Zulfa mau kuliah di Kota P, benar?" tanya Iwan pada Zahra.
"Iya, memangnya kenapa?"
"Gini, Mbak. Aku mau bantuin Zulfa untuk dapatkan formulir pendaftaran di sana karena kebetulan aku ngajar di kampus itu. Aku juga bakal bantu buat cari kost yang cocok buat Zulfa," jelas Iwan.
"Apa enggak ngerepotin kamu nantinya?" tanya Zahra sambil melirik Zulfa yang menundukkan kepalanya.
"Enggak, Mbak. Aku malah senang bisa bantu orang, apalagi ini saudara sendiri."
"Aku terserah Zulfa aja, gimana? Kalau dia mau, ya nggak apa-apa."
__ADS_1
"Gimana, Fa? Kamu mau nggak?" tanya Iwan pada Zulfa.
"Iya, Mas. Aku mau."
"Baiklah, setelah pulang dari sini aku bakal minta formulir buat kamu."
"Iya, Mas."
"Ada nomor ponsel yang bisa dihubungi nggak?"
"Ada, punya Kak Zahra."
"Kamu pakai aja ponselnya, Dek. Kamu lebih butuh daripada Kakak."
"Tapi itukan punya Kakak."
"Udah pakai aja, kan nanti Kakak bisa pinjam Mas Amir."
"Benar kata kakakmu, Fa. Kamu lebih butuh." Sahut Amir.
"Makasih, Kak. Nanti kalau aku udah bisa kerja sendiri, aku bakal beliin ponsel baru buat Kakak."
"Kamu fokus aja sama pendidikan kamu, soal itu kamu nggak usah pikirin. Yang penting bisa berhasil menjadi orang sukses, Kakak sudah senang."
"Iya, Kak."
Sementara Zahra dan Amir akan pulang sore. Ya, setelah menikah Amir memutuskan untuk tinggal di rumah peninggalan orang tua Zahra. Karena dia kasihan melihat istrinya yang selalu memikirkan nasib adiknya.
-
-
-
-
"Zulfa!" panggil Bryan.
"Bryan, ada apa?" tanya Zulfa yang tengah menyapu halaman.
"Enggak apa-apa, kamu sendirian di rumah?"
"Enggak, nanti sore Kak Zahra dan Mas Amir bakal pulang ke sini."
"Oh gitu."
__ADS_1
Untuk sesaat keduanya sama-sama diam karena bingung akan membicarakan apa.
"Fa!"
"Iya, Bry."
"Kapan kamu mau balas perasaanku? Sebentar lagi kita lulus sekolah, apa kamu masih belum mau menjalin hubungan?"
"Maaf, Bry. Aku masih ingin fokus mengejar impian dan cita-citaku."
"Sampai kapan, Fa? Aku udah lama nunggu kamu balas perasaanku. Apa nggak ada sedikitpun rasa kamu buat aku?"
"A-aku nggak tahu, Bry."
"Please, Fa! Kasih aku kepastian, kalau kamu emang nggak ada rasa, kamu jujur aja nggak apa-apa. Begitupun sebaliknya, kalau kamu ada rasa ngomong terus terang, nggak perlu kamu pendam sendiri.
Kamu ngerasain apa yang aku rasakan sampai saat ini kan, Fa?"
Bibir Zulfa mendadak kelu, sekedar mengucap kata iya pun tak mampu. Hanya anggukan kepala yang menjadi jawaban dari pertanyaan Bryan.
"Kamu tenang aja, Fa. Aku nggak akan ganggu kamu kok, aku akan selalu support kamu sampai bisa mewujudkan impian dan cita-citamu," pungkas Bryan sambil menggenggam kedua tangan Zulfa.
"Makasih, Bry. Karena kamu udah mau ngertiin aku."
"Sama-sama, Fa. Berarti mulai saat ini kita jadian," ucap Bryan dan diangguki Zulfa.
"Kalau gitu aku pulang dulu, sampai ketemu lagi!" pamit Bryan lalu meninggalkan Zulfa yang masih termangu di halaman. Hingga suara seseorang mengejutkan dia.
"Kamu ngapain, Fa? Kok bengong sendiri," tanya Iwan yang baru tiba untuk mengantar koper Amir yang berisi pakaian.
"Eh, Mas Iwan. Bawa koper buat apa, Mas?"
"Ini koper Amir, tadinya mau dibawa barengan dia nanti sore. Berhubung bulek suruh bawa makanan dari sana jadinya aku anter aja kopernya," jelas Iwan.
"Oh, kalau gitu bawa ke dalam langsung, Mas! Nanti biar aku yang bawa ke kamar Kak Zahra."
"Iya."
Iwan pun mengikuti Zulfa masuk rumah, lalu meletakkan koper Amir di dekat ruang tamu.
"Silakan duduk, Mas! Aku buatin minum dulu."
"Enggak usah repot-repot, Fa. Aku mau beres-beres soalnya nanti sore harus balik ke Kota P."
"Gitu, ya."
__ADS_1
"Kalau gitu aku pulang dulu, sampai ketemu di sana."
"Iya, Mas. Hati-hati di jalan!"