
Dua minggu kemudian.
Dirga dan Zulfa tengah bersiap untuk menghadiri acara pernikahan Iwan dengan Anis. Namun, disisi lain Zulfa sebenarnya merasa heran. Mengapa dirinya harus memakai gaun yang sebenarnya lebih cocok untuk pengantin.
Ingin rasanya dia bertanya pada suaminya, tapi dia urungkan kembali setelah melihat penampilan suaminya, yang mengenakan setelan tuxedo serta jas berwarna hitam.
"Mas, ini kenapa malah kita yang kayak pengantin, ya?" tanya Zulfa.
"Enggak apa-apa, Yang. Anggap aja kita ini juga pengantin baru," jawab Dirga.
"Kamu ada-ada aja sih, Mas," ujar Zulfa sambil menggelengkan kepalanya.
"Kita berangkat sekarang! Takut telat datang ke acara sakral mereka," ajak Dirga.
"Iya, Mas. Ayo!"
Keduanya segera berangkat ke tempat pernikahan Iwan dan Anis digelar, tanpa sepengetahuan Zulfa, Dirga tengah menyiapkan suatu kejutan yang akan menjadi kenangan terindah untuk istrinya.
Setelah beberapa puluh menit perjalanan, kini Dirga dan Zulfa sudah tiba di sebuah hotel.
"Mas, kok kita ke sini? Bukannya di rumah mas Iwan acaranya?" tanya Zulfa bingung.
"Aku yang minta acaranya dipindah ke sini, sebagai hadiah pernikahan sekaligus ucapan rasa terima kasih karena sudah menjadi orang yang selalu menjaga kamu," jelas Dirga.
"Kita masuk, ya! Mereka pasti sudah menunggu kamu," sambung Dirga dan Zulfa mengangguk setuju.
Dirga menggandeng tangan Zulfa lalu mengajaknya ke aula yang menjadi tempat berlangsungnya acara. Setibanya di pintu masuk aula, keduanya langsung disambut oleh tamu undangan yang sudah datang.
"Mas, kita nggak salah tempat acara, kan?" bisik Zulfa dengan tangan yang terus menggamit tangan Dirga.
"Enggak, kok. Memang acaranya di sini," jawab Dirga dengan senyum penuh arti.
Ketika sudah di dalam aula, Zulfa bisa melihat langsung jika Iwan dan Anis sedang duduk di pelaminan. Namun, ada yang sedikit berbeda karena kursi pengantin ada dua pasang.
"Akhirnya, kalian datang juga," ucap Iwan.
"Tentu saja, ini akan menjadi hari paling bersejarah untuk kita," balas Dirga.
"Fa, kenapa diam saja dari tadi?" tanya Anis dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
"Enggak apa-apa, Mbak. Masih bingung aja, kan di undangan acaranya di rumah Mas Iwan bukan di sini," jawab Zulfa.
"Tunggu! Kok, Mas Iwan sama Mbak Anis sudah di sini? Memangnya akad nikahnya sudah selesai, ya?" lanjut Zulfa.
"Akad nikah sudah tadi pagi, sekarang tinggal resepsinya. Sekaligus resepsi untuk kalian juga," ucap Iwan.
"Ma-maksudnya?" tanya Zulfa lalu menatap suaminya seolah meminta jawaban.
__ADS_1
"Hari ini, aku akan menggelar resepsi pernikahan kita sekaligus merayakan satu tahun pernikahan kita," ungkap Dirga.
"Dek!"
Deg
Suara itu, suara yang selama ini begitu dia rindukan, apa mungkin itu orang yang dirindukannya. Zulfa memutar tubuhnya menghadap sumber suara.
"Ka-kakak!" lirih Zulfa dengan suara yang bergetar menahan tangis.
Kakinya perlahan melangkah menghampiri kakaknya, dia ingin memastikan apakah benar atau hanya halusinasinya.
"Cantik," puji Zahra lalu mengelus pipi Zulfa.
"Kakak!"
Zulfa langsung berhambur memeluk tubuh Zahra, dia pun menumpahkan segala kerinduan yang dia pendam. Zahra pun demikian, dia memeluk erat adiknya karena rasa rindunya selama ini.
"Maaf!" ucap Zahra disela tangisnya, sedangkan Zulfa yang menggelengkan kepalanya.
Zahra melerai pelukannya lalu menangkup kedua pipi Zulfa.
"Jangan nangis! Kamu harus tersenyum karena hari ini adalah hari bahagia kamu dan suamimu," ucap Zahra.
"Maaf, Kak! Aku nggak pernah bilang kalau sudah menikah, aku nggak bermaksud untuk lupain Kakak," ungkap Zulfa.
Karena sekarang sudah ada orang yang tepat untuk menggantikan tugas Kakak. Semoga kalian selalu dilimpahi kesehatan dan kebahagiaan," tutur Zahra sambil tersenyum.
"Aamiin."
......................
Acara demi acara sudah terlaksana dengan lancar, kini tamu undangan menikmati hidangan yang sudah tersaji di meja.
"Mau menyanyi?" tanya Dirga pada Zulfa.
"Enggak, Mas."
"Kenapa?"
"Malu dilihat banyak orang," jawab Zulfa.
"Ada aku, jadi nggak perlu malu. Ayo!" ajak Dirga.
Dirga langsung beranjak berdiri lalu menggandeng tangan Zulfa untuk menuju panggung. Dirga mendekati pemain keyboard untuk meminta sebuah lagu yang akan dia nyanyikan.
Musik pun mulai mengalun, semua tamu undangan langsung mengalihkan pandangan mereka pada pengantin itu. Zahra dan yang lain pun ikut menyaksikan.
__ADS_1
Inilah aku apa adanya
Yang ingin membuatmu bahagia
Maafkan bila ku tak sempurna
Sesempurna cintaku padamu (Dirga)
Ini juga ku apa adanya
Yang ingin selalu disampingmu
Ku tahu semua tiada yang sempurna
Dibawah kolong langit ini (Zulfa)
Jalan kita masih panjang
Ku ingin kau selalu disini
Biar cinta kita, tumbuh harum mewangi
Dan dunia menjadi saksinya
Untuk apa kita membuang-buang waktu
Dengan kata-kata perpisahan
Demi cinta kita, aku akan menjaga
Cinta kita, yang telah kita bina
Walau hari, terus berganti hari lagi
Cinta kita abadi selamanya
Dirga dan Zulfa saling berhadapan dengan mata saling bertatapan penuh cinta. Semua tamu langsung memberikan applause pada pasangan pengantin itu.
"I love you, Zulfa. Jadilah, istri dan ibu yang baik untuk aku dan anak-anak kita. Tetaplah disisiku dan menua bersamaku," ucap Dirga.
"Iya, Mas. Aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuk kalian, bimbing aku agar selalu berada di jalan yang benar. Terima kasih sudah menerima aku dengan segala kekuranganku," balas Zulfa.
"You're my everything, apapun akan aku lakukan untuk kamu, sekalipun itu nyawaku."
Dirga langsung menarik Zulfa dalam pelukannya, sedangkan Zahra tak kuasa menahan air matanya melihat kebahagiaan adik satu-satunya.
Dia bersyukur, Zulfa telah menemukan orang yang tepat. Sekarang dia tak perlu khawatir akan keadaan Zulfa saat tak bersamanya. Namun, hingga saat ini baik Zahra dan Amir belum tahu rahasia besar yang tengah disembunyikan Zulfa, yakni tentang penyakit yang diderita Zulfa.
__ADS_1