Impian Gadis Yang Malang

Impian Gadis Yang Malang
Bab 44. Ending


__ADS_3

Tak terasa usia kandungan Zulfa sudah memasuki usia tujuh bulan. Kemarin, baru saja digelar acara tujuh bulanan. Dan kabar bahagia juga datang dari Zahra juga Anis, yakni keduanya sama-sama sedang hamil dua bulan.


Sungguh, kebahagiaan bagi keluarga dan orang terdekat Zulfa. Namun, masih ada satu hal yang belum bisa terselesaikan, yaitu tentang penyakit Zulfa.


Akhir-akhir ini, Zulfa sering mimisan, tapi dia tak pernah mengatakan hal itu pada siapapun, termasuk suaminya. Dia tak ingin semakin membebani suaminya, dia juga sudah pasrah jika memang umurnya tak akan lama. Harapannya hanya satu, semoga anaknya bisa selamat dan hidup sebagai penggantinya menemani hari-hari Dirga.


"Yang, ke mall beli perlengkapan baby, yuk!" ajak Dirga yang sedang menemani istrinya membaca buku seputar persalinan.


"Mas nggak sibuk?"


"Enggak, kan aku ambil cuti tiga hari. Jadi, masih ada hari ini sama besok."


"Ok deh. Aku siap-siap dulu," ucap Zulfa lalu menutup buku yang dibaca.


Setelah Zulfa bersiap, Dirga langsung mengeluarkan mobil dari garasi. Keduanya pun berangkat menuju mall untuk membeli perlengkapan bayi.


Tak butuh waktu lama, kini mobil yang dikendarai Dirga sudah ada di parkiran mall. Dirga dan Zulfa lantas masuk mall dan melihat-lihat toko yang menjual perlengkapan bayi.


Usai menemukan toko yang dituju, keduanya segera memilih segala yang diperlukan. Mulau dari baju, popok, kain bedong serta kasur bayi.


"Kamu mau pilih warna apa, Yang?" tanya Dirga sembari memilih baju dengan motif macam-macam.


"Pilih warna netral aja, Mas. Kan belum tahu juga jenis kelaminnya apa," jawab Zulfa.


"Ok, kita pilih warna biru dan putih."


Dirga dan Zulfa memilih beberapa pasang baju dengan motif dan warna yang berbeda-beda. Ketika akan menuju tempat stroller bayi, Zulfa menghentikan langkahnya kala kepalanya terasa sakit serta pandangan yang mulai kabur.


"Yang ini kayaknya bagus, kamu suka nggak?" tanya Dirga, tapi tak ada sahutan dari Zulfa.


"Yang!" panggil Dirga lalu menoleh ke belakang.


Dirga langsung terkejut saat melihat Zulfa sedang memegangi kepalanya, dan....


Brukk


Zulfa pun tak sadarkan diri dalam pelukan Dirga, untung saja Dirga bergerak cepat menangkap tubuh istrinya.


"Yang! Bangun!" ucap Dirga sambil menepuk pipi Zulfa.


Tak ingin hal buruk terjadi, Dirga segera menggendong Zulfa untuk dibawa ke rumah sakit.


......................


Setibanya di rumah sakit, Zulfa langsung ditangani oleh dokter. Sementara Dirga masih menunggu di luar ruangan dengan harap-harap cemas.


Sembari menunggu dokter selesai menangani Zulfa, Dirga menghubungi Dimas agar memberitahu Zahra jika Zulfa ada di rumah sakit. Dia juga menghubungi Iwan karena bagaimanapun, Iwan orang yang selalu ada saat Zulfa membutuhkan.


Tak tak tak


Terdengar suara langkah kaki menggema mendekat ke arah Dirga. Ternyata, Zahra dan Amir lalu disusul Iwan dan Anis setelahnya.


"Apa yang terjadi? Kenapa Zulfa bisa masuk rumah sakit?" cecar Zahra.

__ADS_1


"Tadi dia pingsan saat belanja perlengkapan bayi di mall, makanya aku langsung bawa dia ke rumah sakit," terang Dirga.


Ceklek


Pintu UGD terbuka dan keluarlah dokter yang menangani Zulfa.


"Dengan keluarga pasien atas nama Zulfa?" tanya dokter.


"Saya suaminya, Dok. Bagaimana kondisi istri saya?" tanya Dirga lalu mendekati dokter.


"Kami harus melakukan operasi caesar karena keadaan pasien semakin melemah, dan jika tidak segera dilakukan operasi caesar maka akan berdampak pada sang bayi," jelas dokter.


"Tunggu! Sebenarnya, apa yang terjadi pada adik saya, Dok?" sela Zahra.


"Pasien mengidap leukimia stadium lanjut, dan kondisinya sekarang semakin melemah karena sel kanker yang sudah menyebar."


Duarrr


Bagai tersambar petir di siang bolong, Zahra begitu terkejut setelah mendengar ucapan dokter.


"Leukimia? Dokter nggak salah diagnosis, kan? Selama ini adik saya baik-baik saja, nggak mungkin dia mengidap leukimia," lirih Zahra yang kini dalam pelukan Amir.


Sementara Dirga hanya diam membisu, tak tahu apalagi yang harus dia lakukan. Dunianya seolah mulai runtuh, dia belum sanggup kehilangan istrinya.


"Apa yang dikatakan dokter benar, Ra. Zulfa memang mengidap leukimia sejak dia masih kuliah," sahut Iwan yang sejak tadi hanya diam.


Plakkk


"Kenapa kamu diam saja? Kenapa kamu sembunyikan hal sepenting ini dari aku, hah? Apa aku nggak berhak tahu kondisi Zulfa?" teriak Zahra yang tak bisa menahan emosinya.


"Dek, tenang dulu! Ingat, kamu lagi hamil!" ucap Amir menenangkan Zahra.


"Kalian anggap apa aku ini? Apa aku nggak berarti sampai-sampai kalian menyembunyikan hal penting ini?"


"Maaf, Mbak. Kami melakukan ini bukan karena keinginan kami, tapi karena zulfa yang memaksa agar menyembunyikan semua dari Mbak Zahra.


Kita juga sudah membujuk Zulfa agar mengatakan yang sebenarnya, tapi dia tetap dengan pendiriannya. Zulfa nggak mau Mbak Zahra kepikiran dan jadi sedih, Zulfa hanya ingin melihat Mbak Zahra selalu tersenyum dan bahagia," jawab Anis.


Lagi-lagi Zahra merasa terpukul dengan semua ini, dia bagai orang yang tak berguna karena tak mengetahui kondisi adiknya.


"Lakukan apa yang terbaik, Dok! Tolong, selamatkan anak dan istri saya!" pinta Dirga.


"Baik, kami akan berusaha semaksimal mungkin. Kalian bantu doa agar semua berjalan dengan lancar, dan selebihnya Tuhan yang berhak menentukan semuanya," ucap dokter.


"Iya, Dok."


......................


Satu jam menunggu, kini semua yang ada di luar ruang operasi bisa bernapas lega setelah mendengar tangisan bayi.


"Alhamdulillah," ucap semuanya.


"Selamat, Tuan! Anda sekarang sudah menjadi seorang ayah," ucap Dimas yang baru beberapa menit sampai.

__ADS_1


"Terima kasih, Dim."


Ceklek


Pintu ruang operasi terbuka, seorang suster keluar memanggil Dirga.


"Tuan Dirga!"


"Iya, Sus. Bagaimana kondisi anak dan istri saya?"


"Operasi berjalan lancar, anak Anda seorang perempuan. Berhubung bayinya lahir sebelum waktunya, jadi masih dalam masa observasi dan belum bisa ditemui.


Dan untuk ibu bayi, dengan berat hati saya harus menyampaikan jika kondisinya semakin kritis. Tolong, bantu doa agar pasien bisa melewati masa kritisnya," jelas suster itu.


"Lakukan yang terbaik agar istri saya selamat!"


"Kami akan berusaha sebaik mungkin, Tuan. Untuk selebihnya hanya Tuhan yang menentukan. Kalau begitu, saya permisi."


Usai suster pergj, Dirga langsung terduduk lemas dengan kepala yang menunduk dalam.


"Tuan yang sabar, teruslah berdoa agar nyonya dapat selamat dan sembuh seperti sedia kala," ucap Dimas menenangkan Dirga.


"Kita sama-sama berdoa untuk kesembuhan Zulfa, semoga ada keajaiban dari Tuhan," sahut Amir.


......................


Seminggu berlalu, kondisi bayi sudah ada peningkatan yang baik. Berat badannya juga sudah ada kenaikan, sedangkan Zulfa masih bertahan dalam tidur panjangnya.


"Yang! Cepat bangun! Apa kamu nggak mau bertemu dengan putri kita? Dia sangat cantik seperti kamu, dia pasti juga mau digendong mamanya," ucap Dirga sembari menggenggam tangan Zulfa.


Nampak sekali, tubuh Zulfa yang semakin kurus dan wajah yang pucat bak mayat. Belum ada tanda-tanda jika Zulfa akan segera sadar.


Tiba-tiba suara monitor yang mendeteksi detak jantung Zulfa berbunyi nyaring. Dirga segera menekan tombol darurat yang ada di sana.


Dan tak berselang lama, dokter serta dua orang suster masuk ruangan itu.


"Silakan, tunggu di luar! Kami akan berusaha menyelamatkan istri Anda," ucap dokter.


"Tapi saya ingin melihat kondisi istri saya, Dok."


"Biarkan kami melakukan tindakan pada istri Anda! Anda bisa bantu doa dari luar."


Akhirnya, Dirga hanya bisa menurut dan pasrah. Dia pun lantas keluar dari ruangan itu.


"Ya Allah, tolong selamatkan istriku! Berikan dia kesempatan untuk hidup dan berkumpul bersama kami. Aamiin."


Setelah menunggu beberapa saat, dokter pun keluar dan langsung menghampiri Dirga.


"Bagaimana, Dok?"


"Mohon maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkendak lain. Istri Anda tak bisa diselamatkan."


...Tamat...

__ADS_1


__ADS_2