Impian Gadis Yang Malang

Impian Gadis Yang Malang
#IGYM Season 2


__ADS_3

Usai kejadian tadi, Dirga langsung memutuskan untuk pulang. Dia ingin meminta maaf pada istri dan anaknya, hanya karena ego dia tak memikirkan perasaan dua wanita yang paling dicintainya.


"Dim, saya pulang dulu! Tolong, kamu urus semuanya!" pamit Dirga.


"Baik, Tuan."


Saat akan pergi, langkah kaki Dirga dihentikan oleh panggilan Tania.


"Pak Dirga, tunggu!"


"Ada apa, Tan?" tanya Dirga.


"Sa-saya minta maaf untuk kejadian tadi, Pak. Demi Allah, saya nggak punya maksud apapun," ucap Tania dengan kepala yang menunduk.


"Tidak apa-apa. Kalau tidak ada lagi yang ingin kamu bicarakan, saya mau pulang."


"E.. tolong, sampaikan maaf saya untuk istri bapak!"


"Baiklah, nanti akan saya sampaikan."


Usai mengucapkan itu, Dirga langsung bergegas keluar dari kantor dan memacu mobilnya untuk pulang.


Sesampainya di rumah, Dirga langsung menemui Assyifa di kamarnya. Dengan tangan bergetar, Dirga membuka pintu kamar.


Ceklek


Dapat Dirga lihat, putrinya tengah fokus dengan buku di meja belajar. Melihat wajah ayu nan polos putrinya, seketika rasa bersalah itu kembali muncul.


"Lagi belajar apa?" tanya Dirga sembari berjongkok di samping Syifa.


"Aku lagi mengerjakan tugas dari bu guru, Pah."


"Rajinnya anak papa, memang dikasih tugas apa?" Dirga kembali bertanya sambil mengelus kepala Syifa.


"Disuruh menggambar anggota keluarga, aku sekarang lagi gambar mama dan papa. Lalu aku akan menambahkan gambar ayah, bunda, dan kak Reyhan," jelas Syifa lalu menunjukkan hasil gambarnya pada Dirga.


Dirga menerima buku gambar itu, dan terlihat sebuah gambar di mana dia dan Zulfa saling berpegangan tangan. Tak terasa air mata mulai membasahi pipi Dirga, Syifa yang mengetahui langsung mengusap air mata itu dengan jari mungilnya.


"Papa kenapa nangis? Gambar Syifa ada yang salah, ya?"


"Enggak, Nak. Gambar kamu sudah benar dan sangat bagus," jawab Dirga lalu memeluk Assyifa.


"Maafin papa, ya! Papa jarang ada waktu buat kamu dan mama," ucap Dirga.


Assyifa pun segera membalas pelukan papanya tak kalah erat, bahkan dia juga mulai menangis sesegukan karena sangat merindukan papanya.


"Syifa kangen papa, Syifa mau diantar dan dijemput papa lagi."

__ADS_1


"Iya, mulai besok papa akan antar dan jemput kamu seperti biasanya."


Dirga melerai pelukannya lalu mengusap sisa air mata Syifa.


"Mama di mana? Kok, nggak nemenin kamu belajar," tanya Dirga.


"Mama di kamar, Pah. Setiap pagi dan sore mama selalu muntah-muntah, Syifa kasihan lihat mama wajahnya pucat, tapi masih mau antar dan jemput Syifa ke sekolah," ungkap Syifa.


Mendengar perkataan putrinya, hati Dirga kembali berdenyut nyeri. Dia telah gagal menjadi suami dan papa yang baik untuk istri dan anaknya.


"Kamu lanjut lagi belajarnya! Papa mau ke kamar lihat mama," ucap Dirga dan diangguki kepala oleh Syifa.


................


Ketika di dalam kamar, Dirga mencari keberadaan Zulfa. Hingga dia mendengar suara gemercik air di kamar mandi.


Dirga memilih duduk di sofa menunggu Zulfa keluar dari kamar mandi, Dirga melepas sepatu, jas, dan dasinya.


Taj berselang lama, Zulfa keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar setelah mandi. Dia seakan tak melihat keberadaan Dirga, dia langsung duduk di depan meja rias.


"Yang!" panggil Dirga, tapi tak ditanggapi oleh Zulfa.


Tak putus asa, Dirga pun duduk bersimpuh sambil menundukkan kepalanya di pangkuan Zulfa.


"Aku benar-benar minta maaf, aku sama sekali nggak bermaksud menyakiti hati kamu dan Syifa. Dan untuk kejadian tadi, itu nggak seperti yang kamu duga. Kamu bisa dengar penjelasan Tania kalau dia memang nggak bermaksud apa-apa," ungkap Dirga berusaha melunakkan hati istrinya.


"Kamu tahu, Mas? Hidup tanpa seorang ayah lalu ditinggal ibu pergi entah ke mana, rasanya benar-benar hancur. Tidak ada siapa pun yang bisa dijadikan sandaran ketika terpuruk.


Itu yang aku pikirkan saat mendengar keluh kesah Syifa, dia yang paling dekat dengan seorang ayah, tapi dalam waktu sekejap harus kehilangan perhatiannya."


"Aku sadar, aku salah. Aku mohon maafkan kesalahanku!" pinta Dirga.


"Minta maaflah pada Syifa!" cetus Zulfa lalu beranjak berdiri hendak meninggalkan Dirga.


Namun, Dirga menarik tangan Zulfa hingga tubuh Zulfa jatuh dalam pangkuan Dirga.


"Aku juga butuh maaf dari kamu. Aku mau kita mulai dari awal lagi," ucap Dirga.


"Beri aku waktu, Mas! Bukan hal yang mudah untuk aku memaafkan sikap kamu akhir-akhir ini," pungkas Zulfa lalu pergi dari kamar, meninggalkan Dirga sendiri.


***


Keesokan harinya, Dirga tampak malas untuk pergi ke kantor. Terlebih saat mendengar dan melihat sendiri ketika Zulfa yang mengalami morning sickness.


"Yang, kita ke dokter, ya! Muka kamu pucat banget," ajak Dirga.


"Enggak usah, nanti juga baikan sendiri. Ini sudah hal biasa yang dialami ibu hamil," ucap Zulfa menolak ajakan Dirga.

__ADS_1


"Kalau gitu, aku buatin wedang jahe buat kamu. Tunggu sebentar, ya!"


Tanpa mendengar jawaban Zulfa, Dirga langsung menuju dapur untuk membuat segelas wedang jahe. Setelah siap, dia langsung membawanya ke kamar.


"Ini minum dulu!" Dirga memberikan wedang jahe tadi pada Zulfa.


"Terima kasih," ucap Zulfa setelah menerima wedang itu.


Zulfa pun menikmati setiap tegukan wedang jahe yang menghangatkan perutnya.


"Mas!" panggil Zulfa setelah beberapa saat.


"Iya, ada apa? Apa ada yang kamu inginkan?" tanya Dirga antusias karena istrinya sudah mau bicara padanya.


"Enggak, kakak nyuruh kita datang ke rumahnya nanti siang. Ada hal penting yang mau dia sampaikan," ucap Zulfa.


"Hal penting apa, Yang? Kok tumben," tanya Dirga.


"Aku juga nggak tahu, kakak cuma bilang begitu."


"Ok, nanti siang kita ke sana."


Tok tok tok


Terdengar seseorang mengetuk pintu kamar Dirga dan Zulfa.


"Masuk!" sahut Dirga.


Pintu pun terbuka dan ternyata Syifa yang datang.


"Mama, kapan ke rumah bunda? Aku kangen masakan bunda," tanya Syifa sambil bergelayut di lengan Zulfa.


"Nanti siang, kan papa masih kerja," jawab Zulfa sambil mengelus lembut rambut putrinya.


"Padahal aku udah kangen banget sama masakan bunda, pengen jalan-jalan naik sepeda bareng ayah dan kak Reyhan juga," jelas Syifa.


Dirga dan Zulfa saling pandang setelah mendengar ucapan Syifa. Dirga pun mendekati Syifa lalu mencium keningnya.


"Sekarang Syifa siap-siap! Kita berangkat ke rumah bunda," ucap Dirga.


"Beneran, Pah?"


"Iya, Sayang." Saking senangnya, Syifa lantas mencium kedua pipi Dirga dan Zulfa lalu pergi ke kamarnya.


"Mas, kamu kan harus kerja."


"Iya, aku antar kalian dulu setelah itu aku langsung ke kantor," ujar Dirga.

__ADS_1


Setelah mendengar ucapan Dirga, Zulfa ikut bersiap untuk ke rumah kakaknya.


__ADS_2