Impian Gadis Yang Malang

Impian Gadis Yang Malang
Bab 23


__ADS_3

"Dim, berkas untuk meeting sudah kamu persiapkan?" tanya Dirga.


"Sudah, Tuan. Proposal untuk pengajuan kerjasama juga sudah saya persiapkan."


"Baiklah, kita lagsung berangkat sekarang!"


Dimas dan Dirga pergi meninggalkan perusahaan menuju Kota P, dia akan mengajukan kerjasama dengan perusahaan di sana setelah beberapa waktu lalu kunjungan di Perusahaan Vinda Group.


Mereka berangkat dari kantor pukul 8 pagi, dan kemungkinan mereka sampai saat jam makan siang. Selama di perjalanan, Dirga hanya fokus pada laptopnya. Dia mempelajari file yang masuk di emailnya, salah satunya file untuk penandatanganan kontrak kerjasama yang sudah terjalin.


Setelah perjalanan yang cukup lama, mereka telah tiba di Kota P. Sebelum menuju tempat meeting, Dirga mengajak Dimas untuk singgah di restoran karena sudah waktunya makan siang.


"Dim, kita mampi restoran yang dekat sini saja! Kita makan siang dulu."


"Baik, Tuan."


****


Sementara itu, Zulfa dan Giska baru saja keluar dari kampus setelah mengikuti kelas pagi. Giska mengajak Zulfa untuk makan siang di restoran dekat kampus. Awalnya Zulfa menolak, tapi karena paksaan dari Giska mau tak mau diapun ikut.


Saat sudah setengah jalan, Giska teringat jika buku catatannya tertinggal di kelas.


"Fa, buku catatanku ketinggalan. Aku balik buat ambil dulu, ya! Kamu duluan aja, sekalian pesen makan dan minum."


"Kamu gimana sih, Gis? Nanti kamu nggak balik lagi pas udah pesen makan."


"Ya ampun, Zulfa. Kamu itu kayak nggak kenal aku aja, sih. Aku nggak mungkin bohongin kamu, lagipula aku udah lapar jadi nggak mungkin kalau aku nggak balik lagi," gerutu Giska.


"Ya udah, tapi cepetan jangan lama-lama!"


"Iya bawel."


Giska pun berlari kembali ke kampus untuk mengambil buku catatan, sedangkan Zulfa kembali melanjutkan langkahnya menuju restoran.


Zulfa berjalan sambil menggerutu karena sikap ceroboh Giska.


"Kebiasaan banget, apa-apa ketinggalan. Kemarin ponsel, sekarang buku besok apalagi coba?"


Hingga dia sudah sampai di depan restoran sederhana, yang memang bisa di kunjungi mahasiswa karena harga makanan yang cukup terjangkau.


Zulfa melangkah ke dalam restoran, memilih tempat duduk yang nyaman tanpa mengganggu pengunjung yang lain.

__ADS_1


Diapun memilih tempat yang ada di dekat jendela, sehingga dia bisa melihat pemandangan luar sekaligus melihat kedatangan Giska.


"Permisi, mau pesan apa?" tanya salah satu pelayan.


"Saya pesan jus jeruk 2, Mbak."


"Baiklah, ada yang lain lagi?"


"Itu dulu aja, Mbak. Kalau teman saya udah datang, nanti saya pesan makannya."


"Baiklah, tunggu sebentar!"


Zulfa sengaja tak memesan makan lebih dulu, bukan apa tapi dia berjaga-jaga jika Giska tak balik lagi.


Di tempat yang sama, hanya terhalang dua meja dari tempat Zulfa duduk. Dirga terkejut ketika menyadari kehadiran Zulfa di restoran itu.


Beberapa kali dia mengucek matanya untuk memastikan penglihatannya, takut jika dia hanya berhalusinasi karena terlalu merindukan Zulfa.


Namun, sosok Zulfa masih ada di sana. Itu berarti memang penglihatannya tak bermasalah. Tiba-tiba terlintas sesuatu di kepalanya, dia memanggil pelayan lalu memesan sesuatu sambil menunjuk sosok Zulfa.


Setelah pelayan pergi, Dimas bertanya pada Dirga karena heran dengan apa yang dikatakan bosnya itu.


"Apa Tuan butuh sesuatu lagi?" tanya Dimas.


"Lalu?" tanpa menjawab, Dirga menunjuk Zulfa dengan telunjuknya. Dimas yang melihat arah telunjuk Dirga langsung mengikuti arah yang dimaksud.


Dia melihat Zulfa yang tengah duduk sendiri dengan sesekali melihat luar restoran, seperti menunggu seseorang.


"Sepertinya Anda memang berjodoh, Tuan. Tanpa disangka, Anda bertemu langsung dengan gadis itu di sini."


"Kamu benar. Semoga saja memang dia jodohku."


Pelayan yang tadi mencatat pesanan Zulfa, menghampiri Zulfa untuk memberikan 2 gelas jus jeruk dan semangkuk es krim coklat.


"Silakan, dinikmati!" ucap pelayan itu.


"Lho, Mbak. Saya tadi kan nggak pesan es krim."


"Iya, Mbak. Tadi ada seseorang yang memesan lalu meminta saya untuk memberikan pada Anda."


"Siapa, Mbak?"

__ADS_1


"Saya kurang tahu, beliau bilang jika penggemar rahasia. Saya permisi dulu."


Setelah pelayan pergi, Zulfa yang masih heran melihat sekeliling restoran untuk melihat siapa orang yang memberikan es krim untuknya.


Dirga yang melihat Zulfa menatap ke arahnya, dia langsung pura-pura sibuk dengan ponselnya. Sambil sesekali melirik Zulfa yang masih tampak kebingungan.


Namun, setelah itu Zulfa pun mulai menikmati es krim tersebut. Hingga suara yang familiar di telinganya mengalihkan perhatiannya.


"Widih, pesen es krim kok cuma satu. Tega amat sama temen sendiri," protes Giska yang baru datang lalu meminum jus jeruk yang ada di meja.


"Siapa juga yang beli? Ini dikasih orang, tapi nggak tahu siapa."


"Hah? Kok bisa nggak tahu, sih? Emangnya yang ngasih makhluk halus apa?"


"Sembarangan kalau ngomong. Kata pelayannya tadi dari penggemar rahasia."


"Gila! Kamu baru berapa hari di sini? Udah ada penggemar aja."


"Ya mana aku tahu. Aku juga nggak mau ambil pusing, mending nikmatin aja."


"Fa! Kamu nggak takut kalau itu ada racunnya?" tanya Giska dengan suara pelan.


"Kamu cobain aja. Ntar kalau emang ada racunnya biar kita m*ti bareng."


"Enak aja! M*ti kok ajak-ajak, sorry ya aku masih muda belum nikah pula, masa iya harus innalillahi duluan. Kan nggak seru."


"Emangnya lomba, seru."


Giska tak menanggapi ucapan Zulfa karena dia sedang memesan makanan. Giska pesan nasi goreng seafood dua porsi sebab jika Zulfa yang pesan pasti hanya dia sendiri yang makan, sedangkan Zulfa pasti akan beralasan jika masih kenyang.


-


-


-


Setibanya di kost, Zulfa langsung mandi lalu berganti baju dan segera merebahkan dirinya. Sambil menatap langit-langit kamar, dia masih memikirkan hal tadi.


"Kira-kira siapa ya orangnya? Perasaan aku nggak terlalu akrab sama orang sini, kecuali Mbak Anis.


Di kampus juga gitu, cuma akrab sama Giska dan Rangga. Itupun juga nggak terlalu sering ketemu," gumam Zulfa.

__ADS_1


Karena lelah memikirkan siapa penggemar rahasianya, Zulfa pun memejamkan matanya dan tertidur pulas.


__ADS_2