Impian Gadis Yang Malang

Impian Gadis Yang Malang
Bab 6


__ADS_3

Seperti yang direncanakan Zahra dan Amir beberapa waktu lalu, kini mereka tengah mengurus keperluan untuk pernikahan.


Awalnya Zahra hanya ingin acara biasa saja, tapi orang tua Amir ingin pernikahan mereka diadakan resepsi meski hanya sederhana. Mau tak mau Zahra pun harus menuruti permintaan orang tua Amir.


"Mas, apa ini nggak berlebihan? Beli kebaya yang sederhana aja, kan pakainya cuma sehari."


"Enggak apa-apa, Ra. Kan ini semua ibu yang suruh, kalau nggak dituruti yang ada nanti ibu malah marah," jelas Amir.


Zahra menghela napas panjang, pasrah dengan kemauan Ibu Amir. "Ya udahlah percuma juga kalau aku nolak, pasti dipaksa juga."


Amir hanya tersenyum menanggapi perkataan Zahra. Sebab inilah Amir langsung jatuh cinta pada sosok Zahra.


Walaupun bukan dari kalangan orang kaya, tapi tak membuat Zahra bersikap seperti kebanyakan wanita di luaran sana, yang rela merendahkan harga diri demi menuruti nafsu sesaat.


Setelah membeli kebaya, Amir dan Zahra mendatangi tempat percetakan untuk membuat undangan.


Amir memesan 500 undangan untuk disebarkan. Karena memang dari pihak Amir banyak sanak saudara yang ada di kota juga untuk teman-temannya.


"Kamu nggak mau undang temen, Ra?" tanya Amir setelah selesai memesan undangan.


"Enggak, Mas. Kamu tahu sendiri kan aku nggak punya banyak temen. Paling cuma ada 2 sampai 5 orang, itupun juga masih satu kampung," jelas Zahra.


"Emang lebih baik begitu, walaupun banyak teman belum tentu ada yang tulus berteman dengan kita. Bisa jadi mereka mau berteman dengan kita saat senang aja, tapi pas kita susah mereka bahkan nggak menganggap kalau kita ini teman."


"Iya, Mas. Bahkan Fafa nggak pernah mau bergaul dengan anak sebayanya. Kadang aku kasihan lihat dia hanya mengurung diri di rumah."


"Mungkin itu sudah jadi pilihan Fafa karena memang dia belum menemukan orang yang tepat untuk jadi temannya."


"Iya, Mas."


"Kita pulang, yuk! Udah siang, bentar lagi Fafa pasti udah pulang," ajak Amir dan Zahra pun mengangguk lalu mengikuti Amir keluar dari percetakan.


Sesampainya di rumah, Zahra langsung membersihkan diri kemudian menyiapkan lauk untuk makan siang.


"Tumben Zahra belum sampai rumah, apa mungkin ada tambahan pelajaran ya?" gumam Zahra.


Sembari menunggu kepulangan Zulfa, Zahra mulai meracik bahan dagangannnya.


-

__ADS_1


-


-


-


Sementara itu, Zulfa saat ini sedang fokus dengan mata pelajaran tambahan karena sebentar lagi akan ujian.


Zulfa ingin fokus belajar agar kelak bisa mewujudkan impiannya dan harapan kakaknya.


Dia memperhatikan penjelasan guru dengan seksama, dia juga mencatat poin-poin penting dari penjelasan tersebut.


Satu jam berlalu, pembelajaran pun sudah selesai. Sebelum pulang Zulfa memutuskan ke perpustakaan sekolah untuk meminjam buku yang akan dia pelajari.


Saat sedang mencari buku yang diperlukan, tanpa sengaja Zulfa berpapasan dengan Bryan yang juga sedang mencari buku.


"Hai, Fa. Mau pinjam buku juga?" sapa Bryan.


"Iya, Bry. Buat tambahan belajar di rumah kan sebentar lagi mau ujian," jawab Zulfa.


"Aku duluan, ya!" pamit Zulfa ketika sudah menemukan buku yang dia cari.


"Kapan kamu mau balas perasaanku, Fa? Haruskah aku menunggu lebih lama lagi, aku takut kamu akan dimiliki orang lain," gumam Bryan lalu dia juga segera pergi dari perpustakaan. Namun, sebelum itu dia menghampiri penjaga perpustakaan untuk mencatat buku yang dipinjamnya.


Di tengah perjalanan pulang, Zulfa dihadang oleh Rosa.


"Ada apa?" tanya Zulfa dengan malas karena tak ingin berurusan dengan Rosa.


"Nggak usah pura-pura nggak tahu. Udah gue peringatin jangan pernah dekat dengan Bryan, tapi loe sama sekali nggak menghiraukan peringatan dari gue," ketus Rosa dengan tatapan tajamnya.


"Aku nggak pernah deketin Bryan. Dia sendiri yang datang bukan aku yang minta," ujar Zulfa.


"Halah, nggak usah ngeles. Harusnya loe itu sadar, Bryan sama sekali nggak pantas bersanding dengan loe. Loe dan Bryan itu bagai langit dan bumi, ngerti!" kecam Rosa.


"Ingat ya, Fa! Kalau sampai loe berani deketin Bryan lagi, jangan salahin gue kalau foto ini bakal gue sebar di sekolahan!" ancam Rosa sambil menunjukkan foto Ibu Zulfa yang sedang melayani pria hidung belang di sebuah club malam.


Deg


Jantung Zulfa berdetak tak beraturan ketika melihat foto itu. Dia tidak menyangka jika ibunya bekerja sebagai p*lacur.

__ADS_1


"Kamu pasti cuma mau gertak aku aja kan. Ibu aku nggak mungkin bekerja di tempat itu, ibuku nggak mungkin seperti itu," elak Zulfa berusaha menyangkal tentang foto itu, dia benar-benar tak percaya jika ibunya bekerja seperti itu.


"Mau kamu mengelak pun juga percuma, Fa. Karena aku sendiri bertemu ibumu di tempat itu. Jadi, siap-siap saja foto ini bakal tersebar jika kamu tak menghiraukan peringatanku," ucap Rosa lalu pergi meninggalkan Zulfa yang berdiri mematung dengan air mata yang mengalir.


"Nggak mungkin ibu seperti itu. Aku tahu betul sifat ibu, dia nggak akan mencari uang haram," batin Zulfa yang masih tak percaya dengan foto yang ditunjukkan Rosa tadi.


Dengan langkah gontai, Zulfa melanjutkan langkahnya menuju rumah. Dia tidak ingin membuat Zahra menunggu kepulangannya terlalu lama.


****


"Assalamualaikum," ucap Zulfa ketika sudah di depan rumah dan membuka pintu.


"Waalaikumsalam," jawab Zahra lalu menghampiri adiknya.


"Tumben baru pulang, Dek."


"Iya, Kak. Tadi ada tambahan pelajaran satu jam terus mampir perpustakaan dulu buat pinjam buku."


"Ya sudah, kamu ganti baju dulu habis itu baru makan. Kakak udah buatin telur balado dan tempe goreng."


"Iya, Kak. Aku ke kamar dulu," pamit Zulfa lalu beranjak ke kamarnya untuk ganti baju.


Setelah ganti baju, Zulfa langsung makan siang. "Kakak udah makan belum?" tanya Zulfa sambil mengambil nasi dan lauk.


"Udah, Dek. Habisnya nungguin kamu nggak pulang-pulang jadi Kakak makan duluan," jawab Zahra.


"Hehehe, maaf ya Kak. Kalau gitu aku makan dulu nanti aku bantuin Kakak bikin gorengan."


"Udah kamu makan aja. Kamu pasti capek baru pulang, biar Kakak sendiri aja yang bikin gorengan."


"Ya udah kalau gitu, nanti aku lanjut belajar lagi aja. Soalnya bentar lagi udah mau ujian."


"Belajar yang rajin, biar ujian nanti dapat nilai yang memuaskan agar bisa masuk universitas impian kamu."


"Siap, Kak."


Zulfa pun makan siang dengan lahap karena memang dia hanya makan pagi tadi, sedangkan Zahra kembali melanjutkan pekerjaannya.


Zulfa memang tak pernah menuntut soal makanan, baginya selagi itu makanan yang bisa di makan dia akan makan. Apalagi masakan Zahra sangat enak dan membuat Zulfa begitu menyukai setiap makanan yang dimasak oleh kakaknya.

__ADS_1


Malam guys, jangan lupa like dan komen ya ๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜. Baca juga karya pertamaku Cinta Untuk Tiara.


__ADS_2