Impian Gadis Yang Malang

Impian Gadis Yang Malang
Bab 9


__ADS_3

Pukul 3 sore Zulfa berangkat ke rumah Bu Novi, dalam perjalanan dia bergumam semoga tidak bertemu Bryan.


Sesampainya di depan rumah Bu Novi, Zulfa lekas mengetuk pintu rumah.


Tok tok tok


"Assalamualaikum," ucap Zulfa memberi salam.


"Waalaikumsalam." Terdengar sahutan dari dalam hingga suara pintu dibuka.


Ceklek


"Eh, Fafa. Nganterin pesanan saya, ya?" tanya Bu Novi saat sudah membuka pintu.


"Iya, Bu. Ini pesanannya!" jawab Zulfa lalu memberikan pesanan Bu Novi.


"Terima kasih, ya. Masuk dulu, yuk! Saya buatin minum," ajak Bu Novi.


"Enggak usah, Bu. Saya langsung pulang aja mau beres-beres di rumah," tolak Zulfa dengan halus.


"Oh, ya sudah kalau begitu, terima kasih ya."


"Sama-sama, Bu. Saya permisi dulu, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Zulfa pun meninggalkan rumah Bu Novi, ketika akan melewati rumah Bryan, Zulfa tiba-tiba menghentikan langkahnya kala melihat Bryan yang baru keluar dari rumah.


Bryan yang kebetulan akan pergi futsal dengan temannya, dia juga melihat keberadaan Zulfa, tapi mengingat ucapan Zulfa tadi Bryan pun melangkah pergi tanpa menyapa ataupun tersenyum pada Zulfa.


Sementara Zulfa yang melihat perubahan sikap Bryan, sudut hatinya langsung berdenyut nyeri. Hatinya merasa sakit ketika Bryan acuh padanya.


"Bukankah ini yang kamu inginkan, Fa? Tapi kenapa seakan kamu nggak rela?" batin Zulfa lalu melanjutkan perjalanannya.

__ADS_1


Bryan yang berjalan menuju tempat futsal juga merasakan apa yang dirasakan Zulfa.


"Maafin aku, Fa. Bukannya aku tega, tapi aku cuma ikutin apa permintaanmu tadi. Sebelum aku tahu apa yang membuat kamu seperti ini, aku akan terus acuh denganmu," gumam Bryan.


Sesampainya di tempat futsal, Bryan mulai bergabung dengan teman-temannya. Sehingga dia mulai sedikit teralihkan pikirannya.


Sementara Zulfa yang baru saja tiba di rumah, dia langsung menuju kamarnya untuk meluapkan sesak di dadanya.


"Kenapa rasanya sesakit ini? Ya Allah, sampai kapan aku harus hidup penuh dengan hinaan, cemoohan dan ancaman orang lain. Apakah aku tidak berhak untuk hidup bahagia? Apa selamanya aku akan hidup seperti ini?" Dengan tangisan pilu, Zulfa meluapkan segala beban yang dipendamnya sendiri.


Meskipun di luar dia tampak biasa dan bersikap ceria, tapi ketahuilah bahwa dia juga menyimpan luka yang menganga di dasar hatinya.


Luka yang tak pernah dia perlihatkan pada semua orang, termasuk kakaknya. Dia bagai makhluk yang bisa berkamuflase, saat bersama dengan orang lain dia akan ceria, tapi saat sendiri dia bagai manusia tak bernyawa.


Larut dalam kesedihan yang tak berkesudahan. Ditinggal sang ayah untuk selamanya, ibu yang dia harapkan bisa menjadi penopang dalam semangat hidupnya malah memutuskan meninggalkan rumah dengan dalih ingin merubah nasib.


Zahra, hanya dialah satu-satunya harapan yang Zulfa punya. Hanya kakaknya itulah dia bisa hidup tegar sampai sekarang ini.


Entah apa yang akan terjadi ke depannya? Zulfa hanya berharap jika Tuhan menghendaki, dia ingin membahagiakan kakaknya. Dia akan berusaha menjadi orang yang sukses di kemudian hari agar bisa menjunjung tinggi martabat keluarga.


Hingga Zulfa tertidur lelap karena terlalu lama menangis.


-


-


-


-


Suara adzan berkumandang, pukul 4 sore Zulfa terbangun karena mendengar suara adzan.


"Ya Allah, kenapa malah ketiduran sih? Pasti sebentar lagi kakak pulang. Aku harus cepat-cepat beresin rumah."

__ADS_1


Zulfa lantas keluar dari kamarnya, kemudian dia menuju dapur untuk mencuci peralatan yang digunakan untuk membuat adonan gorengan.


Tak lupa dia merebus air untuk membuatkan teh kakaknya. Agar saat Zahra sudah tiba di rumah bisa langsung meminum teh hangat yang dia siapkan.


Selesai mencuci perkakas dapur, Zulfa meracik teh karena airnya sudah mendidih. Setelah itu dia mulai menyapu rumah, mulai dari dapur hingga teras.


Setelah dirasa semua pekerjaannya selesai, Zulfa langsung bergegas mandi karena tubuhnya sudah berkeringat.


"Assalamualaikum," ucap Zahra ketika masuk rumah dan meletakkan keranjangnya di dapur.


"Waalaikumsalam," jawab Zulfa yang baru selesai mandi.


"Tumben kamu baru mandi, Dek?" tanya Zahra lalu minum teh yang sudah disiapkan Zulfa tadi.


"Hehehe, iya, Kak. Tadi habis pulang dari anter pesanan aku istirahat di kamar, eh malah ketiduran."


"Kebiasaan banget sih, untung Kakak sayang," ucap Zahra sambil memeluk tubuh adiknya.


"Harus dong, kan Kakak cuma punya aku."


"Kata siapa?"


"Oh iya lupa, kan bentar lagi bakal jadi punyanya Mas Amir. Fafa bakal berbagi Kakak nantinya," lirih Zulfa.


"Kamu tetap adik yang jadi prioritas Kakak. Kakak bakal selalu ada buat Fafa, kapanpun Fafa butuh," balas Zahra sambil mengelus kepala adiknya yang bersandar di bahunya.


"Makasih, Kak. Fafa janji setelah sukses nanti Fafa bakal kasih apapun yang Kakak mau sebagai wujud terima kasihku atas pengorbanan Kakak selama ini."


"Kakak nggak butuh apa-apa. Melihat kamu menjadi orang sukses saja Kakak sudah senang, itu berarti perjuangan Kakak untuk kamu nggak sia-sia," ucap Zahra lalu mencium kening Zulfa cukup lama.


"Aku sayang Kakak," ucap Zulfa sambil terisak.


"Kakak lebih sayang kamu," balas Zahra yang ikut menitikkan air matanya.

__ADS_1


Keduanya pun berpelukan dengan penuh kasih sayang.


Jangan lupa untuk tinggalkan like dan komen


__ADS_2