
Di ruang rawat VIP, Dirga tak henti-hentinya menciumi tangan sang istri. Pasalnya, setelah dokter menyatakan jika Zulfa telah meninggal, seorang suster keluar dari ruang ICU dan mengatakan jika detak jantung Zulfa kembali normal.
"Terima kasih, sudah mau berjuang dan bertahan untuk keluarga kecil kita," ucap Dirga.
"Semua berkat doa dari kamu juga, Mas. Aku sangat bersyukur, masih diberikan kesempatan untuk melihat dan merawat putri kita," balas Zulfa.
"Iya, dia pasti juga ingin berkumpul dengan mamanya. Kamu mau kasih nama siapa untuk putri kita?"
"Em, aku akan memberi nama dia, Assyifa. Kalau Mas punya nama lain juga nggak apa-apa."
"Nama yang indah, kita beri nama dia Assyifa Putri Difa Fernandez," tutur Dirga sembari tersenyum.
"Semoga kelak dia bisa menjadi obat untuk keluarga kecil kita, Mas. Apapun, masalah dan rintangan yang kita hadapi, dia akan selalu ada sebagai penawar luka."
"Iya, Sayang. Kelak dia akan menjadi anak yang kuat dan tangguh seperti kamu."
Tok tok tok
"Masuk!" sahut Dirga.
Pintu ruang rawat Zulfa terbuka dan masuklah Zahra, Amir, Iwan, dan Anis.
"Dek!" panggil Zahra lalu menghampiri Zulfa.
"Akhirnya, kamu kembali. Kakak benar-benar nggak siap jika harus kehilangan kamu secepat itu.
Kenapa, kami nggak jujur dengan kondisi kamu? Apa kamu sudah nggak menganggap kehadiran Kakak?"
"Bukan, Kak. Aku cuma nggak mau lihat Kakak sedih, sudah cukup selama ini Kakak menanggung beban berat karena harus memenuhi segala kebutuhanku, termasuk biaya sekolah.
Aku ingin lihat Kakak terus tersenyum dan bahagia, tanpa ada yang mengganggu pikiran Kakak."
"Kenapa kamu ngomong begitu? Itu sudah menjadi tanggung jawab Kakak sebagai pengganti orang tua kita.
Kakak ikhlas menjalani semuanya, itu karena kamu adalah sumber semangat untuk Kakak. Jadi, Kakak mohon sama kamu, jangan lagi ada rahasia diantara kita! Apapun masalah yang kamu hadapi, kamu akan selalu berbagi dengan Kakak."
"Iya, Kak. Terima kasih untuk semuanya," ucap Zulfa lalu memeluk kakaknya.
................
Sore harinya, setelah Zahra dan yang lainnya pulang, Zulfa tengah duduk termenung di ranjangnya. Dirga yang baru saja dari kamar mandi langsung mendekati sang istri.
"Kamu kenapa? Aku perhatikan dari tadi kok ngelamun terus, apa ada sesuatu yang mengganjal di pikiran kamu?" tanya Dirga sambil memeluk Zulfa dari samping.
Zulfa menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang suami.
"Aku mau ketemu ibu, aku mau ajak ibu kumpul bareng lagi seperti dulu," ucap Zulfa.
"Kalau boleh tahu, memangnya ibu pergi ke mana? Kenapa tiba-tiba kamu pengen ketemu ibu?"
"Aku nggak tahu ibu di mana. Aku cuma mau memenuhi permintaan bapak untuk mengajak ibu kembali berkumpul dengan kita."
__ADS_1
"Permintaan bapak?" tanya Dirga bingung.
"Iya, Mas. Sebenarnya-"
#flashback on
Dibawah alam sadarnya, Zulfa tengah kebingungan mencari jalan pulang. Dia berjalan tak tentu arah, dan kembali lagi di tempat yang sama saat pertama dia melangkahkan kakinya.
"Aku di mana? Kenapa tidak ada jalan keluar? Kenapa aku kembali di tempat yang sama?" gumam Zulfa.
Karena lelah, Zulfa memutuskan untuk duduk di bangku yang ada di tepi danau.
"Fafa!"
Zulfa terhenyak ketika mendengar suara familiar yang memanggil namanya.
"Bapak!" panggil Zulfa.
Dari arah depan, muncullah bapak Zulfa dengan pakaian yang serba putih. Beliau tersenyum pada Zulfa lalu merentangkan kedua tangannya.
Tanpa menunggu lama, Zulfa langsung berlari ke arah bapaknya lalu memeluknya.
"Bapak! Fafa rindu, Bapak," ucap Zulfa yang kini dalam pelukan bapaknya.
"Bapak juga rindu kami, Nak."
"Fafa mau ikut Bapak! Fafa capek, Pak!" keluh Zulfa yang sudah menangis sesegukan.
"Beneran, Pak?" tanya Zulfa sembari mendongakkan kepalanya
"Iya, tapi tidak sekarang. Akan ada saatnya kamu bisa ikut dengan Bapak, masih ada hal penting yang harus kamu lakukan."
"Hal penting apa, Pak?"
"Suami dan putrimu sangat membutuhkan kehadiranmu, dan bawalah ibumu kembali bersama seperti dulu.
Ibumu sedang tersesat, tuntunlah dia ke jalan yang sesungguhnya. Bapak sangat merindukan kalian ketika berkumpul bersama," ucap bapak Zulfa lalu melerai pelukannya.
"Kembalilah! Banyak orang yang menantikanmu, terutama suami dan putri kecilmu," sambung bapak Zulfa kemudian perlahan melangkah pergi.
"Bapak! Bapak ke mana? Bapak!" teriak Zulfa.
Hingga tak berselang lama, ada sebuah cahaya yang menyilaukan mata. Perlahan kaki Zulfa melangkah mendekati sorot cahaya itu.
Dan pada akhirnya, Zulfa yang semula sudah dinyatakan meninggal, kini kembali hidup lagi.
#flashback off
"Oh, begitu. Kamu tenang saja, aku akan minta seseorang untuk mencari keberadaan ibu. Sekarang kamu jangan sedih lagi, kamu harus cepat sembuh agar kita bisa berkumpul bersama."
"Iya, Mas. Terima kasih."
__ADS_1
"Tidak perlu berterima kasih, itu sudah menjadi tanggung jawabku untuk selalu membahagiakanmu."
****
Keesokan paginya, Dirga sedang membereskan perlengkapan milik Zulfa selama dirawat. Pagi ini Zulfa sudah diperbolehkan pulang, tapi dengan catatan tak boleh melakukan aktivitas yang terlalu berat.
"Selamat pagi!" sapa dokter yang menangani Zulfa.
"Pagi juga, Dok," balas Dirga dan Zulfa.
"Sudah baikan? Atau ada keluhan yang lain?" tanya dokter.
"Alhamdulillah, sudah lebih baik, Dok. Dan tidak ada keluhan apapun," jawab Zulfa.
"Baiklah, sebelum pulang biar saya periksa tekanan darahnya dulu," ucap dokter lalu segera memeriksa tekanan darah Zulfa.
"Tekanan darahnya normal, tetap jaga pola makan agar cepat kembali pulih.
Oh ya, untuk hasil pemeriksaan terakhir sudah keluar dan hasilnya sungguh diluar dugaan, Nyonya Zulfa sudah dinyatakan sembuh total dari leukimia."
Haru, bahagia. Itulah yang saat ini dirasakan Dirga dan Zulfa. Keajaiban dari Tuhan yang selama ini mereka nantikan, perjuangan yang berbuah manis.
"Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah," syukur Zulfa.
Disaat sedang merasakan kebahagiaan atas sembuhnya Zulfa, seorang dokter anak masuk ruangan Zulfa.
"Permisi! Maaf jika mengganggu."
"Tidak, Dok. Silakan, masuk!" ucap Dirga.
"Bagaimana, keadaan Nyonya Zulfa?"
"Alhamdulillah, sudah baik, Dok," jawab Zulfa.
"Syukurlah, hari ini sudah diperbolehkan pulang, ya? Saya mau memberi informasi, jika bayinya sudah bisa ikut dibawa pulang.
Karena hasil pemantauan, berat badan dan sistem tubuhnya sudah normal."
"Beneran, Dok?" tanya Zulfa antusias.
"Benar, Nyonya. Anda bisa mulai memberikan asi secara eksklusif pada bayi, apabila ada masalah dengan keluarnya asi, bisa dibantu dengan pijat laktasi."
"Baik, Dok. Terima kasih untuk informasinya," ucap Dirga.
"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu, nanti akan ada suster yang mengantar bayinya ke sini."
Setelah dokter anak tadi keluar, dokter yang menangani penyakit Zulfa juga berpamitan. Kini tinggallah Dirga dan Zulfa di ruangan itu.
"Aku senang banget, Mas. Akhirnya, doaku dikabulkan Allah. Dan juga kita bisa berkumpul dengan putri kita," ucap Zulfa yang kini dalam pelukan suaminya.
"Iya, Sayang. Itu semua berkat usaha dan kesabaran kamu selama ini, semoga seterusnya kita akan selalu bersama sampai ajal yang memisahkan kita."
__ADS_1
"Aamiin."