Impian Gadis Yang Malang

Impian Gadis Yang Malang
#IGYM Season 2


__ADS_3

Seperti yang dikatakan Dirga, pagi ini dia akan mengantarkan istri dan anaknya ke rumah Zahra.


"Sudah siap semua?" tanya Dirga selesai sarapan.


"Sudah, Pah." Assyifa menjawab dengan penuh semangat, sedangkan Zulfa hanya mengangguk.


Mereka pun berangkat menuju rumah Zahra, hanya memakan waktu sekitar 45 menit dari kediaman Dirga. Disela-sela perjalanan mereka diisi dengan suara Assyifa yang melantunkan Asmaul Husna.


"Masya Allah, anak mama pinter banget sudah hafal Asmaul Husna," puji Zulfa setelah Assyifa selesai melantunkan Asmaul Husna.


"Makasih, Mah. Kata ustadzah di sekolah, kalau ingin menjadi anak sholehah yang beriman dan bertaqwa, kita harus mendekatkan diri pada Allah SWT. Salah satunya dengan sholat lima waktu dan menghafal surah yang ada dalam Al-qur'an," ucap Assyifa.


"Selalu berbuat baik kepada siapa pun, dan juga bersedekah kepada yang membutuhkan, Insha Allah hidup kita akan menjadi lebih berkah," imbuh Zulfa.


Dirga yang sejak tadi mendengarkan obrolan istri dan anaknya, hanya mampu terdiam karena dia hampir saja menyia-nyiakan istri dan anaknya. Tak lama kemudian, mobil yang dikemudikan Dirga sudah sampai di halaman rumah Zahra.


Tanpa menunggu lama, Assyifa keluar dari mobil lebih dulu, meninggalkan Dirga dan Zulfa yang sedang melepas seatbelt.


"Aku turun dulu, Mas. Hati-hati di jalan!" ucap Zulfa seraya mencium punggung tangan Dirga.


"Iya," jawab Dirga.


Ketika Zulfa akan membuka pintu mobil, mendadak Dirga menarik tangan Zulfa hingga langsung beradu tatap dengannya.


Dirga melabuhkan bibirnya di bibir Zulfa, Zulfa yang mendapati serangan mendadak dari sang suami, hanya diam terpaku. Setelah beberapa saat saling beradu bibir, Dirga menghentikan ciumannya lalu mengusap lembut bibir Zulfa.


"Baik-baik di sini, nanti sebelum istirahat siang aku langsung ke sini," ucap Dirga seraya mengelus kepala Zulfa yang berbalut hijab.


"Iya," jawab Zulfa lalu keluar dari mobil.


Dirga segera melajukan mobilnya, meninggalkan Zulfa yang masih berdiri di halaman rumah.


"Mau sampai kapan berdiri di situ?" celetuk Zahra.


Sontak, Zulfa langsung berbalik badan ketika mendengar celetukkan kakaknya.


"Ayo, masuk!" ajak Zahra kemudian berlalu kembali masuk rumah.


Zulfa lantas mengikuti kakaknya ke dalam rumah, di dalam Zahra sedang menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya. Tak lupa pula membuatkan makanan kesukaan ponakannya yang paling cantik, siapa lagi kalau bukan Assyifa.


"Suami kamu mana, Fa?" tanya Amir disela-sela sarapannya.


"Mas Dirga langsung ke kantor, Mas. Nanti siang dia ke sini," jawab Zulfa lalu menarik kursi di samping putrinya.

__ADS_1


"Bunda, aku mau disuapi Mama Zulfa!" pinta Reyhan, anak Zahra dengan Amir.


"Nanti aja, ya. Mama biar ikut sarapan juga," kata Zahra memberi pengertian putranya.


"Enggak apa-apa, Kak. Aku tadi udah sarapan, kok," sela Zulfa lalu mengambil piring makan Reyhan.


"Sini, mama suapi!" Zulfa mengarahkan sendok yang berisi nasi dan lauk ke mulut Reyhan. Dengan senang hati Reyhan menerima suapan dari Zulfa.


"Apa kita sedang bertukar anak saat ini?" gurau Zahra. Sebab Assyifa manja padanya, sedangkan Reyhan manja pada Zulfa.


"Anggap saja begitu, Kak," sahut Zulfa sambil terkekeh.


Amir hanya diam menyimak obrolan keduanya, dan setelah selesai sarapan dia langsung pamit ke bengkel.


Zahra pun mengantar Amir sampai depan rumah, tak lupa mencium punggung tangan sang suami.


Zahra kembali bergabung dengan Zulfa yang sedang membereskan piring bekas sarapan tadi.


"Kak, sebenarnya apa yang ingin kakak bicarakan?" tanya Zulfa yang sedang mencuci piring.


"Ada pokoknya, nanti kamu juga akan tahu sendiri," jawab Zahra.


Zulfa pun pasrah saja, mau bertanya sampai mulutnya berbusa, Zahra tetap pada pendiriannya.


................


"Papa!" panggil Assyifa ketika membuka pintu rumah.


Dirga langsung menghampiri putrinya yang berdiri diambang pintu.


"Mama mana? Kok, kamu yang buka pintunya," tanya Dirga.


"Mama lagi di dapur bikin kue sama bunda, Pah."


"Ini jajan dan mainan, dibagi sama kak Reyhan, ya!" Dirga mengulurkan dua paperbag di tangannya pada Assyifa.


"Yeay, makasih, Pah." Setelah menerima pemberian papanya, Assyifa langsung berlari ke kamar Reyhan.


"Mas, kamu udah dari tadi?" tanya Zulfa yang baru selesai dari dapur lalu menghampiri Dirga dan mencium tangannya.


"Baru sampai, Yang," jawab Dirga setelah mencium kening Zulfa.


"Kamu duduk dulu, aku ambilkan minum!" Zulfa kembali ke dapur untuk membuatkan Dirga teh hangat.

__ADS_1


Dirga duduk di kursi ruang tamu sambil melepaskan dasi dan jasnya. Sembari menunggu Zulfa kembali, dia memainkan ponselnya.


"Minum dulu, Mas!" Zulfa ikut duduk di samping Dirga seraya meletakkan secangkir teh hangat.


"Makasih, Yang," ucap Dirga lalu meminum tehnya.


"Mas Amir belum pulang, Yang?" tanya Dirga.


"Belum, Mas. Biasanya pulang pas adzan dhuhur, sholat di rumah sekalian makan siang," jawab Zulfa.


Sesaat suasana hening, hingga perlahan tangan Dirga menyentuh perut Zulfa. Zulfa yang merasakan sentuhan di perutnya langsung menatap Dirga.


"Gimana keadaannya?" tanya Dirga sembari mengelus perut Zulfa yang masih rata.


"Dia baik-baik aja," jawab Zulfa.


"Apa sering rewel tiap pagi?" lanjut Dirga bertanya.


"Enggak, sama seperti hamil Assyifa dulu," kata Zulfa beralibi. Sebenarnya dia lebih sering mual serta muntah saat pagi dan sore hari.


Dia hanya tak ingin membuat Dirga khawatir dengan kondisinya. Melihat sikap suaminya yang sudah mau berdamai dengan hati, cukup membuat Zulfa bahagia.


"Besok kita ke dokter buat lihat keadaan dia," ucap Dirga dengan tatapan yang tertuju pada wajah damai Zulfa.


Zulfa mengangguk seraya berkata, "Iya, Mas. Yang penting kamu nggak lagi sibuk."


"Jadwalku besok nggak terlalu banyak, jadi aku bisa anter kamu ke dokter untuk cek kandungan."


Seruan adzan dhuhur sudah terdengar, Zulfa lantas mengajak Dirga untuk sholat berjamaah. Sebelum berwudhu, Zulfa memanggil Assyifa untuk ikut sholat juga.


Zulfa membuka pintu kamarnya, masih sama seperti terakhir kali dia tinggal. Dia segera menggelar sajadah lalu menyiapkan sarung serta mukena untuknya dan Assyifa.


Diakhir sujudnya, Zulfa berdoa pada Sang Pencipta agar keluarganya selalu diberikan kesehatan, kebahagiaan dan rezeki yang berkecukupan.


Tak berselang lama setelah selesai sholat, pintu kamar diketuk oleh Reyhan.


"Mah, disuruh bunda makan siang bareng. Ayah dan bunda udah nunggu di meja makan," ucap Reyhan di depan pintu kamar Zulfa.


"Iya, Rey. Bentar lagi mama nyusul," sahut Zulfa.


"Syifa keluar dulu, ya! Mama mau siapin baju ganti buat papa," kata Zulfa menyuruh Assyifa menyusul Zahra dan Amir di meja makan.


"Iya, Mah." Dengan patuh, Assyifa menuruti perkataan Zulfa.

__ADS_1


Zulfa membuka lemari pakaian untuk mencari celana pendek serta kaos milik Dirga. Setelah mendapatkan yang dicari, Zulfa memberikannya pada Dirga.


"Ini baju gantinya, Mas." Dirga menerima baju dari Zulfa, kemudian langsung memakainya.


__ADS_2