
Drrtt drrtt
Getar ponsel milik Zulfa, membangunkan dia dari tidur siangnya. Dengan mata yang belum terbuka sempurna, dia meraba kasur untuk mengambil ponselnya.
Setelah mendapatkan ponselnya, dia melihat siapa yang meneleponnya. Ternyata, kakaknya yang menghubungi.
"Assalamualaikum, Kak!" sapa Zulfa dengan suara serak khas bangun tidur.
"Waalaikumsalam, Dek. Kakak ganggu kamu, ya?"
"Enggak kok, ini aku juga baru bangun tidur. Ada apa Kak?"
"Enggak, cuma kangen aja."
"Kan baru seminggu yang lalu ketemu, masa udah kangen lagi?" tanya Zulfa heran, pasalnya tak biasanya kakaknya begini.
"Iya, sih. Tapi nggak tahu kenapa, tiba-tiba kangen kamu. Kalau aja dekat, pasti kakak bakal minta kamu buat pulang," lirih Zahra.
"Kakak kenapa? Nggak biasanya lho kayak gini. Kakak lagi ada masalah?"
"Enggak, Dek. Semalam kakak mimpi buruk, kamu ninggalin kakak sendirian. Dan sejak tadi perasaan kakak jadi nggak enak, kepikiran kamu terus.
Kamu baik-baik aja kan di sana?"
"Aku baik, Kak. Mungkin Kakak lupa nggak baca doa sebelum tidur, makanya mimpi buruk.
Kakak doain aja, semoga nggak ada sesuatu yang buruk menimpa aku."
"Aamiin. Kakak juga nggak mau kalau sampak kamu kenapa-napa."
"Insha Allah, aku nggak apa-apa. Kakak bantu doa juga dari sana, ya."
"Iya, Dek. Doa Kakak selalu menyertai kamu. Ya sudah, Kakak tutup teleponnya."
"Iya, Kak. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Dek."
Setelah panggilan terputus, Zulfa bergegas mandi karena memang waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore.
__ADS_1
-
-
-
Sementara itu, setelah menghubungi adiknya tadi, perasaan Zahra sudah mulai sedikit tenang. Walaupun masih ada perasaan mengganjal dihatinya, tapi dia berusaha menepis hal itu dan berpikir positif.
"Gimana? Zulfa baik-baik aja, kan?" tanya Amir yang memang sedang bersama Zahra saat menelepon Zulfa tadi.
"Iya, Mas."
"Aku bilang juga apa? Itu cuma perasaan kamu aja sehabis mimpi buruk, makanya sampai kepikiran gitu.
Lebih baik bantu doa supaya Zulfa selalu dalam lindungan Allah SWT."
"Aamiin. Iya, Mas. Makasih udah sabar menghadapi sikapku yang nggak menentu begini."
"Sama-sama, Dek. Sudah sepatutnya sebagai kepala keluarga, Mas harus sabar dalam membimbing kamu menuju jalan kebaikan."
Amir langsung memeluk Zahra untuk memberikan kenyamanan. Dia sangat mengerti perasaan istrinya itu, apalagi jika berhubungan dengan Zulfa.
****
Keesokan paginya, Zulfa merasakan kepalanya pusing lalu keluar darah di hidungnya.
"Ya Allah, ada apa ini?" lirih Zulfa sambil memegangi kepalanya.
Dengan perlahan dia bangkit dari tidurnya, tapi pusing di kepalanya semakin menjadi dan dia juga terkejut saat ada darah yang menetes di tangannya.
"Darah?" Zulfa mengusap bawah hidungnya dan ternyata memang benar ada darah.
Perasaannya semakin kalut, dia mencari ponselnya lalu menekan nomor Iwan untuk meminta bantuan.
"Halo, Fa. Ada apa?" tanya Iwan saat panggilan tersambung.
"Mas, tolong kamu ke sini sekarang!" pinta Zulfa dengan suara lirih.
"Kamu kenapa, Fa? Apa terjadi sesuatu?" cecar Iwan dengan nada panik.
__ADS_1
"Cepetan, Mas! Aku udah nggak kuat."
"Ok-ok, aku ke sana sekarang." Setelah mengatakan itu Iwan langsung bergegas menuju kost Zulfa.
Iwan melajukan motornya dengan kecepatan penuh karena perasaannya sudah tidak enak setelah mendengar ucapan Zulfa tadi.
15 menit kemudian Iwan sudah sampi di depan kost Zulfa, saat akan masuk, dia disapa oleh seseorang.
"Mas, mau apa ke kost Zulfa?" tanya Anis yang kebetulan lewat sehabis membeli sarapan.
"Saya mau lihat keadaan Zulfa, soalnya tadi telepon saya buat minta tolong," jelas Iwan.
"Astaga, apa terjadi sesuatu dengan Zulfa?"
"Makanya itu saya mau memastikan langsung. Sebaiknya Mbak ikut saya ke dalam, supaya tidak terjadi fitnah."
"Baik, Mas."
Iwan dan Anis memasuki kost Zulfa karena kebetulan semalam Zulfa lupa mengunci pintu.
Iwan membuka pintu kamar dan betapa terkejutnya dia saat melihat Zulfa sudah tergeletak di lantai dengan wajah pucat dan darah yang keluar dari hidungnya.
"Astaghfirullah, Zulfa!" pekik Iwan lalu segera menghampiri Zulfa.
"Fa, bangun! Zulfa!" ucap Iwan sambil menepuk pelan pipi Zulfa berharap dia mau membuka matanya.
"Sebaiknya langsung kita bawa ke rumah sakit, Mas. Biar saya minta tolong pemilik kost buat antar ke rumah sakit."
"Iya, Mbak. Makasih sudah mau membantu."
"Sama-sama, kalau gitu saya tinggal sebentar."
Sembari menunggu Anis kembali, Iwan masih berusaha membangunkan Zulfa.
Setelah menunggu beberapa menit, Anis sudah kembali bersama pemilik kost. Iwan langsung menggendong Zulfa dan masuk ke mobil pemilik kost.
Pemilik kost langsung mengantar Zulfa ke rumah sakit dengan Iwan yang ikut serta di mobil itu.
Sementara Anis mengikuti dari belakang menggunakan motor Iwan.
__ADS_1