
Tok tok tok
"Masuk!" sahut Dirga tanpa mengalihkan pandangannya pada laptop.
"Permisi, Tuan! Saya mengantar dokumen yang harus ditandatangani," ucap Dimas seraya memberikan dokumen yang dibawanya.
"Dokumen untuk apa ini, Dim?"
"Untuk pertemuan minggu depan, Tuan," jawab Dimas.
Tanpa bertanya lagi, Dirga langsung menandatangi dokumen itu lalu mengembalikan pada Dimas. Dimas lantas menerima dokumen itu dari tangan Dirga.
"Maaf, Tuan. Sepertinya Zulfa sedang sakit, tadi saya sempat melihat dia mimisan," ucap Dimas, membuat Dirga langsung menghentikan aktivitasnya.
"Kapan?"
"Baru saja, saat saya ke sini."
Dirga langsung beranjak dari duduknya lalu menghampiri Zulfa di tempatnya.
Dari luar pintu ruangan, Dirga melihat sendiri jika Zulfa sedang membersihkan mimisannya.
"Kamu kenapa?" tanya Dirga khawatir.
"Pak Dirga! Saya nggak kenapa-napa, Pak. Cuma mimisan biasa."
"Jangan bohong! Wajah kamu sangat pucat ditambah mimisan juga, nggak mungkin kalau kamu baik-baik saja."
"Beneran, Pak. Saya baik-baik saja," sanggah Zulfa.
"Baiklah, biar saya percaya sebaiknya saya antar kamu ke rumah sakit sekarang."
"Ja-jangan, Pak! Saya istirahat di rumah saja."
"Kenapa? Apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu?"
"Bu-bukan begitu, saya trauma dengan rumah sakit. Karena dulu bapak saya meninggal setelah dirawat 2 minggu akibat penyakit kanker," jelas Zulfa mencoba mencari alasan yang tepat.
"Ya sudah, lebih baik sekarang kamu pulang dan istirahat! Biar Dimas yang handle pekerjaan hari ini."
"Baik, Pak."
Akhirnya, Zulfa memilih pulang daripada harus diantar ke rumah sakit. Yang ada bosnya itu akan mengetahui penyakit yang dia derita selama ini.
Sementara Dirga, dia masih menyimpan tanda tanya besar. Dia sendiri tak yakin jika Zulfa baik-baik saja, dia merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Zulfa.
Setelah Zulfa tak terlihat lagi, Dirga kembali masuk ke ruangannya. Dan rupanya Dimas masih ada di sana karena tak ingin mengganggu obrolan Dirga.
__ADS_1
"Dim, kamu handle pekerjaan Zulfa hari ini! Saya sudah menyuruh dia untuk pulang dan istirahat."
"Baik, Tuan. Saya permisi dulu!"
Sepeninggal Dimas, Dirga menyandarkan tubuhnya pada kursi kebesarannya. Dia mengambil ponselnya lalu mengetikkan sesuatu.
***
Sementara itu di rumah, Zulfa langsung mencari obatnya. Dia segera meminum obatnya agar sakit di kepalanya berkurang.
Zulfa mulai merebahkan tubuhnya di kasur, air matanya perlahan membasahi pipi. Zulfa terisak karena merasa lelah dengan apa yang terjadi. Dalam hati, dia ingin menyerah dengan segala kondisinya. Untuk apa dia berjuang menjadi orang sukses jika penyakit yang diderita semakin menggerogoti tubuhnya.
"Ya Allah, sampai kapan aku harus bertahan dengan kondisi sini? Aku lelah, aku ingin menyerah," batin Zulfa.
Tak lama kemudian dia mulai menutup matanya, mungkin karena efek obat yang dia minum dan karena terlalu lama menangis, Zulfa langsung terlelap.
Kumandang adzan ashar, membangunkan Zulfa dari tidur nyenyaknya. Dia melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 4 sore. Zulfa bergegas bangun lalu mandi karena hari sudah sore.
Usai mandi dan berganti pakaian, Zulfa memutuskan untuk memasak. Dia membuat nasi goreng dengan telur ceplok, tak lupa membuat teh hangat.
Setelah nasi gorengnya matang, Zulfa memindahkannya ke piring dan siap untuk dimakan. Selesai makan, Zulfa membersihkan tempat makannya, kemudian dia ke kamar untuk mengambil ponsel.
Saat membuka kuncian ponselnya, Zulfa mengerutkan keningnya ketika melihat ada pesan masuk dari nomor baru. Baru saja akan membuka pesan itu, tiba-tiba ada panggilan masuk dari Iwan.
"Assalamualaikum, Mas!" sapa Zulfa setelah menjawab panggilannya.
"A-aku di rumah, Mas. Ada apa, ya?" Zulfa balik bertanya.
"Rumah mana? Aku baru dari rumah kamu, tapi kamu nggak ada," jelas Iwan.
"A-aku di-"
"Keluar sekarang!" Belum sempat Zulfa menyelesaikan ucapannya, Iwan sudah menyelanya.
"Mas Iwan ada di mana?"
"Keluar sekarang! Kamu akan tahu sendiri."
Tak ingin semakin penasaran, Zulfa bergegas membuka pintu rumah. Zulfa begitu terkejut saat melihat Iwan sedang duduk di motornya.
"Masuk dulu, Mas!" ajak Zulfa.
Iwan langsung turun dari motornya lalu duduk di kursi teras. Sementara Zulfa kembali ke dalam untuk membuatkan minuman.
"Silakan, diminum! Maaf adanya cuma air."
"Enggak apa-apa," ucap Iwan lalu meminum tehnya.
__ADS_1
Untuk sesaat keduanya hanya saling diam, hingga suara Iwan mulai memecah keheningan.
"Kamu baik-baik aja kan, Fa?" tanya Iwan.
"Alhamdulillah, aku baik, Mas. Mas Iwan sendiri gimana? Maaf kalau aku lama nggak pernah kabari Mas Iwan."
"Aku juga baik, Fa. Kenapa kamu pergi dari rumah?"
"Kakak pasti sudah cerita ke Mas Iwan, jadi aku nggak perlu jawab lagi, kan."
"Zahra kangen kamu, Fa. Dia nyari kamu terus, tapi nggak pernah ketemu," ucap Iwan.
"Lalu, Mas Iwan tahu dari mana kalau aku di sini?"
"Aku nggak sengaja lihat kamu jalan kaki sendirian, tadinya aku pengen panggil kamu, tapi nggak jadi."
"Jangan bilang ke kakak kalau aku di sini, Mas!"
"Kenapa?" Zulfa hanya menggeleng dan air matanya mulai mengalir.
Iwan segera merangkul tubuh Zulfa karena dia sangat tahu apa yang dirasakan saat ini. Zulfa langsung terisak, meluapkan perasaan yang menjadi beban sampai saat ini.
"Aku capek, Mas. Aku udah nggak kuat lagi, aku nyerah," ucap Zulfa dalam dekapan Iwan.
"Kamu nggak boleh ngomong kayak gitu! Kamu harus semangat! Katanya, kamu mau jadi orang sukses."
"Untuk apa aku sukses kalau umurku nggak lama lagi, Mas. Penyakit ini semakin menggerogoti tubuhku."
"Huss, siapa yang menentukan umur kamu nggak lama? Jodoh, rezeki dan maut itu hanya Allah yang tahu."
Iwan melerai pelukannya lalu menangkup wajah Zulfa.
"Lihat aku! Kamu nggak sendirian, ada aku yang akan selalu membantu kamu. Kapanpun kamu butuh, kamu nggak perlu sungkan untuk ngomong ke aku."
"Tapi sampai kapan, Mas? Aku sudah lelah dengan semua ini," lirih Zulfa lalu membuka hijabnya.
Iwan langsung terkejut saat melihat rambut milik Zulfa sudah menipis.
"Apa aku bisa sembuh, Mas? Mas Iwan lihat sendiri, rambutku akan habis seiring waktu."
Tanpa menjawab, Iwan memakaikan kembali hijab Zulfa lalu kembali memeluknya.
"Kamu pasti bisa sembuh, Fa. Jika Allah sudah berkendak, kamu pasti sembuh. Yakinlah, mukjizat Allah itu nyata!" ucap Iwan menenangkan Zulfa.
Dia sendiri tak tahu harus berbuat apa, seandainya bisa dibagi, dengan senang hati dia akan ikut merasakan apa yang dirasakan Zulfa saat ini.
Tanpa keduanya sadari, ada sepasang mata yang menatap penuh amarah.
__ADS_1