
Saat ini Iwan dan Anis sedang menunggu Zulfa di depan UGD dengan harap-harap cemas. Iwan sangat khawatir jika sesuatu yang buruk menimpa Zulfa, dia bingung apa yang harus dikatakan pada Zahra jika menanyakan kabar Zulfa.
Setelah beberapa lama menunggu, dokter yang menangani Zulfa keluar dari ruangan.
"Keluarga Nona Zulfa?" tanya dokter pada Iwan.
"Iya, Dok. Saya kakaknya."
"Bisa kita bicara sebentar? Ini tentang kondisi adik Anda."
"Baik, Dok."
Iwan bergegas mengikuti dokter tadi menuju ruangannya. Sesampainya di ruangan dokter, Iwan dipersilakan duduk berhadapan dengan sang dokter.
"Bagaimana kondisi adik saya, Dok?"
"Saya membutuhkan persetujuan Anda untuk melakukan tes darah. Karena dugaan saya, sepertinya adik Anda mengidap leukimia."
"Leukimia?"
"Iya, kanker darah karena produksi sel darah putih yang berlebihan."
"Lalu, apa itu bisa disembuhkan?"
"Bisa, dengan rutin melakukan kemoterapi atau obat khusus untuk menghambat penyebaran sel kanker pada organ lain.
Tapi untuk memastikannya, kita lakukan tes darah terlebih dahulu untuk lebih akuratnya."
"Baik, Dok. Lakukan yang terbaik untuk adik saya."
"Baik, nanti akan ada perawat yang mengambil sample darahnya untuk dibawa ke laboratorium."
Setelah mendengarkan penjelasan dokter, Iwan kembali ke UGD. Saat tiba di sana, Anis mengatakan jika Zulfa sudah dipindah ke ruang perawatan.
"Mas, saya pulang dulu. Soalnya saya shift siang, titip salam buat Zulfa."
"Iya, Mbak. Terima kasih sudah mau membantu saya tadi."
"Sama-sama, saya permisi."
Usai Anis berpamitan pulang, Iwan bergegas menghampiri Zulfa yang ada di ruang perawatan. Ketika baru membuka pintu, pemandangan pertama yang dia lihat adalah Zulfa terbaring lemah dengan wajah yang pucat.
Hatinya sangat sakit melihat keadaan itu, dia merasa telah gagal menjaga Zulfa sesuai dengan amanah dari Zahra.
Dia menarik kursi yang ada di samping brankar lalu duduk sambil menggenggam tangan Zulfa.
"Permisi, saya mau ambil sample darah pasien," ucap suster yang baru saja masuk.
"Silakan, Sus!"
Suster langsung mengambil sample darah Zulfa untuk dibawa ke laboratorium. Selesai mengambil darah, suster segera meninggalkan ruang rawat.
"Fa, cepet sembuh! Aku bingung, apa yang harus aku katakan ke kakakmu kalau sewaktu-waktu dia tanya keadaan kamu?"
"Mas Iwan!" lirih Zulfa sambil mengerjapkan matanya.
"Iya, Fa. Aku di sini."
__ADS_1
"Aku di mana, Mas?"
"Kamu sekarang ada di rumah sakit, soalnya tadi pas aku sampai, kamu udah pingsan."
"Maaf ya, Mas. Aku jadi ngerepotin kamu."
"Enggak apa-apa. Ini sudah jadi tanggung jawab aku selama kamu di sini, kakakmu sudah meminta aku untuk jaga kamu."
"Mas, tolong jangan ngomong ke kakak kalau aku dirawat di rumah sakit!"
"Kenapa, Fa? Dia wajib tahu kondisi kamu saat ini."
"Jangan, Mas! Kemarin kakak telepon aku, dia bilang ada firasat nggak enak soal aku. Makanya aku minta Mas Iwan jangan ngomong ke kakak," jelas Zulfa.
"Ok, aku nggak akan ngomong ke kakak kamu."
"Makasih, Mas."
"Sama-sama. Oh ya, kamu mau sarapan apa biar aku beliin?"
"Bubur aja, Mas."
"Ya sudah, kamu tunggu dulu! Aku keluar beliin bubur buat kamu."
Setelah Iwan keluar, Zulfa memejamkan matanya dengan perasaan gundah.
Dia merasa jika ada yang tidak beres dengan kondisi tubuhnya. Ya, kondisi yang dialaminya saat ini persis seperti yang dialami mendiang bapaknya.
Hatinya seketika berdenyut nyeri jika apa yang dia pikirkan benar-benar terjadi. Bagaimana jika sewaktu-waktu dia pergi dari dunia? Mampukah, dia meninggalkan kakaknya?
"Apa aku sanggup jika harus meninggalkan kakak untuk selamanya?" batin Zulfa.
Tak berapa lama, Iwan sudah kembapi dengan membawa 2 kotak bubur ayam.
Zulfa yang menyadari kedatangan Iwan, langsung menghapus air matanya.
"Fa, ini makan dulu! Sengaja punya kamu nggak ada sambalnya, soalnya kamu masih belum pulih," ucap Iwan seraya memberikan bubur ayamnya.
"Iya, Mas. Makasih."
-
-
-
Sore harinya, dokter yang menangani Zulfa masuk ke ruang rawat Zulfa dengan membawa hasil tes darah.
"Selamat sore!" sapa dokter.
"Selamat sore, Dok!" balas Zulfa dan Iwan bersamaan.
"Apa ada keluhan?"
"Tidak ada, Dok."
"Baiklah, saya ke sini untuk memberitahu hasil tes darah Mbak Zulfa. Sebelum itu, saya periksa dulu tekanan darahnya."
__ADS_1
"Baik, Dok."
Dokter langsung mengecek tekanan darah Zulfa, setelah selesai barulah dokter itu memberitahukan hasil tes darah.
"Setelah saya teliti dan memastikan keakuratan hasilnya. Ternyata, Mbak Zulfa positif mengidap leukimia," jelas dokter.
Deg
Jantung Zulfa serasa berhenti berdetak, napasnya terasa tercekat di kerongkongan. Apa yang dia pikirkan menjadi kenyataan, dia mengidap penyakit yang sama seperti mendiang bapaknya.
"Lalu, bagaimana penanganannya lebih lanjut, Dok?"
"Untuk penanganan bisa kita lakukan operasi donor sumsum tulang belakang yang cocok dengan penderita."
"Apa ada yang lain, Dok?" tanya Zulfa setelah beberapa saat terdiam.
"Ada, mengkonsumsi obat khusus secara teratur. Tapi obat itu hanya untuk menghambat penyebaran sel kanker saja.
Jadi, Mbak Zulfa bisa memutuskan sendiri opsi yang akan dipilih."
"Saya pilih opsi kedua saja, Dok."
"Tapi, Fa-" sanggah Iwan, tapi terhenti karena tatapan memelas dari Zulfa.
"Baiklah, akan saya siapkan resepnya dan bisa ditebus di apotek."
"Baik, Dok."
Dokter pun meninggalkan ruang rawat, tinggallah Zulfa dan Iwan di ruangan tersebut.
"Fa, kenapa kamu nggak pilih opsi pertama? Kamu tahu kan penyakit ini bisa mengancam nyawa?"
"Aku tahu, Mas. Aku nggak mau siapapun tahu tentang penyakitku ini, terutama kakak."
"Jangan ngaco kamu, Fa! Kamu itu perlu dampingan dari keluarga biar nggak down karena penyakit kamu ini," sentak Iwan.
"Udah cukup aku membebani kakak selama ini, biarkan kakak merasakan kebahagiaannya sekarang tanpa harus terbebani dengan kondisiku ini.
Aku nggak mau terlalu berharap, Mas. Jika memang takdirku harus pergi cepat, aku ikhlas. Begitupun sebaliknya jika aku masih diberi umur panjang, dengan cara apapun pasti aku bisa sembuh atas izin Allah," jelas Zulfa dengan mata mengembun.
Iwan yang melihat kepasrahan Zulfa langsung menarik tubuh Zulfa dalam pelukannya.
"Aku akan temani kamu berjuang untuk sembuh."
Zulfa yang merasakan perhatian dan kasih sayang yang tulus dari Iwan, tak kuasa menahan air matanya.
Dia sangat terharu mendapatkan perhatian dari orang selain kakaknya.
"Berjanjilah, Fa! Apapun yang kamu hadapi, tetaplah semangat dan optimis. Kamu nggak sendirian, ada aku yang akan selalu di garda terdepan untuk terus menemani kamu."
"Makasih, Mas. Mas Iwan udah banyak bantu aku, selalu ada buat aku," ucap Zulfa dengan isak tangis yang masih terdengar.
"Nggak perlu terima kasih, Fa. Karena bagiku kamu itu adalah adikku, jadi apapun yang kamu butuhkan dan yang kamu rasakan, jangan sungkan untuk ngomong langsung ke aku."
"Iya, Mas."
maaf baru bisa up lagi ๐๐
__ADS_1