
Hari demi hari berlalu, saat ini adalah waktu yang sangat ditunggu oleh Zulfa dan seluruh siswa kelas xii, yakni pengumuman kelulusan sekolah.
Di dalam kelasnya Zulfa sangat harap-harap cemas, lantaran menanti hasil dari ujian beberapa waktu lalu.
"Baiklah, anak-anak. Sekarang saya akan memberikan kalian amplop yang di dalamnya berisi kertas bertuliskan lulus atau tidak lulus.
Setelah kalian membuka amplop tersebut, kalian bisa langsung keluar dari kelas lalu menuju mading untuk melihat hasil yang sebenarnya," terang wali kelas Zulfa.
"Baik, Bu," jawab anak-anak serempak.
Setelah menjelaskan tadi, wali kelas langsung membagikan satu per satu amplop pada siswa di kelas itu.
"Sekarang, kalian bisa buka amplopnya!"
Dengan tangan yang bergetar, Zulfa mulai membuka amplop tersebut dan melihat isinya. Di kertas itu tertulis jika Zulfa lulus, tak ingin terlalu bertanya-tanya, Zulfa kemudian keluar dari kelas dan menuju mading untuk melihat daftar kelulusan.
Dia mulai meneliti satu per satu nama siswa, hingga di berhenti tepat di nomor urutan terakhir. Namanya tertulis dengan keterangan lulus dan mendapat nilai paling tinggi di sekolahnya.
"Alhamdulillah, Ya Allah. Akhirnya, usahaku tak sia-sia. Aku bisa melanjutkan pendidikanku untuk kuliah," ucap Zulfa dengan air mata yang menganak sungai lantaran terharu dengan pencapaiannya.
"Selamat, Fa. Kamu benar-benar membanggakan, semua usahmu berbuah manis," ucap Bryan yang kebetulan juga baru dari melihat daftarnya di mading.
"Makasih, Bry. Kak Zahra pasti senang mendengar kabar ini. Semua berkat do'a dan restu dari kakak."
"Selamat berjuang di tahap selanjutnya, Fa. Jangan lupa untuk tetap semangat!"
"Iya, Bry."
Setelah melihat mading, Zulfa kembali ke kelasnya. Dia masih tidak menyangka dengan hasil ujiannya.
"Fa, kamu dipanggil kepala sekolah! Katanya disuruh ke ruangannya," ucap Widya yang diperintahkan kepala sekolah untuk memanggil Zulfa.
"Iya, Wid. Makasih, ya."
Zulfa bergegas ke ruangan kepala sekolah. Dia bertanya-tanya kenapa dipanggil ke sana. Setibanya di depan ruangan kepala sekolah, Zulfa menghela napas sebentar lalu mengetuk pintu.
Tok tok tok
"Masuk!" sahut dari dalam.
"Permisi, Pak. Bapak memanggil saya?" tanya Zulfa setelah masuk ruangan itu.
"Iya, silakan duduk!"
Zulfa menarik kursi yang ada di depannya, tepatnya berhadapan dengan kepala sekolah, tapi masih terhalang meja.
"Sebelumnya saya ucapkan selamat untuk kamu. Karena kamu murid yang sangat berprestasi, kamu mendapat nilai tertinggi di sekolah," ucap Pak Guntur.
"Terima kasih, Pak."
"Saya memanggil kamu ke sini karena ada hal yang ingin saya sampaikan. Kamu berhasil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Jadi, saya harap kamu pergunakan kesempatan ini dengan baik, agar kamu bisa mengharumkan nama sekolah kita karena prestasimu," jelas Pak Guntur.
__ADS_1
"Baik, Pak. Saya akan berusaha dengan baik, semoga kedepannya ada siswa lain yang seperti saya."
"Ya sudah, kamu bisa kembali ke kelas."
Zulfa pun meninggalkan ruang kepala sekolah dengan hati yang gembira. Sebentar lagi dia akan memulai menggapai impian dan mewujudkan cita-citanya.
**
Sesampainya di rumah, Zulfa segera menuju kamarnya untuk ganti baju. Lalu dia menghampiri kakaknya yang ada di belakang rumah.
"Kakak!" panggil Zulfa lalu duduk disebelah kakaknya yang sedang menanam sawi.
"Lho, udah pulang jam segini?"
"Iya, Kak. Hari ini pengumuman kelulusan dan aku ada kabar baik buat Kakak."
"Apaan, Dek?" tanya Zahra lalu berhenti sejenak sambil menatap serius adiknya.
"Aku dapat beasiswa buat lanjut ke perguruan tinggi karena nilai ujianku paling tinggi di sekolah."
"Alhamdulillah, Kakak senang banget dengernya. Selamat, ya! Selamat berjuang untuk masa depan yang cerah," ucap Zahra lalu memeluk adiknya.
"Semua berkat do'a dan restu dari Kakak. Akhirnya, aku bisa mewujudkan impian dan cita-citaku. Do'akan kelak jika aku sukses, aku akan berikan apapun yang Kakak mau, sebagai wujud terima kasihku untuk Kakak."
"Itu sudah jadi kewajiban Kakak, Dek. Karena sekarang Kakak yang jadi pengganti bapak dan ibu. Yang Kakak harapkan cuma satu, jadilah manusia yang tetap rendah hati meskipun kamu sudah berjaya dan berhasil menjadi orang sukses."
"Iya, Kak."
Satu minggu kemudian.
Kini Zulfa tengah menyiapkan segala persyaratan untuk mendaftar ke perguruan tinggi. Saat tengah sibuk memasukkan persyaratan ke dalam amplop coklat, ponsel yang ada di kasurnya berbunyi.
"Assalamualaikum, Mas!" sapa Zulfa setelah menerima panggilan telepon.
"Wa'alaikumsalam, Fa. Kamu apa kabar?"
"Alhamdulillah aku baik, Mas. Mas Iwan apa kabar?"
"Alhamdulillah aku juga baik, Fa. Oh ya, aku telepon kamu cuma mau bilang kalau formulirnya udah aku bawa. Jadi, kamu tinggal berangkat ke sini sekalian bawa persyaratan yang lain."
"Iya, Mas. Makasih udah bantuin aku."
"Sama-sama, Fa. Kamu jangan sungkan, anggap aja aku ini seperti kakakmu sendiri."
"Iya, Mas."
"Soal tempat kost, kamu tenang aja. Aku udah dapat tempatnya yang kebetulan nggak jauh dari kampus."
"Biaya per bulannya berapa, Mas?"
"Untuk sementara kamu nggak usah mikirin itu, biar aku yang urus. Seandainya nanti kamu sudah diterima di kampus itu, kamu bisa pikirin bulanannya."
__ADS_1
"Tapi, aku udah terlalu banyak ngerepotin Mas Iwan."
"Enggak apa-apa, Fa. Suatu saat jika aku butuh bantuan, kamu bisa gantian bantu aku."
"Iya, Mas. Aku nggak akan lupain jasa Mas Iwan, sekali lagi terima kasih untuk semuanya."
"Iya, Fa. Udah berapa banyak terima kasih yang kamu ucapin?" tanya Iwan sambil terkekeh.
"Hehehe, ya udah aku tutup dulu teleponnya. Mau siapin persyaratan sama keperluan aku."
"Iya, sampai ketemu di kampus."
"Iya, Mas. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam, Fa."
Setelah panggilan terputus, Zulfa meletakkan kembali ponselnya. Dia lantas melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti karena menerima panggilan dari Iwan.
****
Hari ini Zulfa akan berangkat ke Kota P diantar Amir dan Zahra. Sebelum berangkat, Zulfa menyempatkan diri untuk membeli keperluan untuk di sana.
Ketika di jalan sepulang dari toko, Zulfa bertemu dengan Bryan yang baru pulang mengantar papanya ke kebun.
"Dari mana, Fa?"
"Dari toko, Bry. Beli keperluan mandi buat aku bawa ke Kota P."
"Kamu jadi kuliah di sana?"
"Iya, Bry. Ini sebentar lagi mau berangkat."
"Kita bakal LDRan dong."
"Kamu kayak anak kecil aja sih, Bry. Aku ke sana karena mau memulai perjuangan menggapai cita-citaku."
"Iya, Fa. Kamu hati-hati, ya! Jaga hati kamu untuk aku!"
"Iya, Bry. Do'ain semoga usahaku nggak berakhir sia-sia."
"Pasti, Fa. Jangan lupa untuk selalu hubungi aku kalau kamu udah nggak sibuk."
"Iya, Bry. Aku duluan, ya. Takut ditunggu Kak Zahra."
"Iya."
Setelah percakapan itu, Zulfa bergegas pulang karena takut kakaknya menunggu terlalu lama.
Sementara di tempat lain, Dirga juga tengah bersiap untuk berangkat menuju Kota P. Dia akan melakukan tinjauan sekaligus menandatangani dokumen kerjasama.
Yuk, kasih semangatnya dong. Berikan like, komen, dan gift kalian ๐๐๐๐
__ADS_1