Impian Gadis Yang Malang

Impian Gadis Yang Malang
Bab 39


__ADS_3

Setelah percakapan antara Zulfa dengan Dirga, kini Dirga mulai merencanakan sesuatu. Sementara Zulfa sudah kembali ke kubikel kerjanya.


Saat akan mulai bekerja, ponsel Zulfa bergetar tanda pesan masuk. Dia membuka pesan tersebut lalu membacanya.


Fa, besok jadwal kamu untuk kontrol. Jangan sampai lupa! Sebelum pulang kamu izin sekalian untuk cuti sehari besok. Begitulah isi pesan yang ternyata dari Iwan.


Mas, aku kayaknya nggak perlu kontrol lagi. Aku sudah capek tiap 2 minggu sekali harus kontrol, tapi sama sekali nggak ada perubahan yang terlihat. balas Zulfa.


Ting


Kamu, pasti sembuh. Jangan menyerah, Fa! Selagi kita mau berusaha dan Allah meridhoi usaha kita, nggak menutup kemungkinan kalau kamu bisa sembuh.


Zulfa langsung meletakkan ponselnya tanpa membalas pesan dari Iwan. Hatinya mulai bimbang, antara lanjut atau menyerah. Zulfa merasa jika dia tak mungkin bisa sembuh dari penyakitnya.


Zulfa hanya bisa pasrah menjalani semuanya, jika Allah masih menghendaki dia berumur panjang, maka dia pasti sembuh. Namun, sebaliknya jika Allah berkendak lain, dia hanya bisa menerima dengan lapang dada.


Pukul 4 sore, Dirga sudah merapikan meja kerjanya kemudian bersiap untuk pulang. Saat membuka pintu ruangan, pemandangan pertama yang dia lihat adalah Zulfa yang sedang melamun.


"Fa!" panggil Dirga.


"Eh, iya Pak. Ada yang bisa saya bantu?"


"Kamu ngapain ngelamun? Apa ada masalah?"


"Enggak ada, Pak. Cuma lagi kangen kakak saya."


"Memangnya, kakakmu ke mana?"


"Ada di rumah, Pak."


"Kalau ada di rumah, kenapa kamu lebih memilih hidup sendiri?"


"Saya ingin mandiri, Pak. Nggak selamanya saya harus hidup membebani keluarga."


"Kalau begitu, lusa kita bertemu kakakmu!" ucap Dirga membuat Zulfa langsung terhenyak.


"Untuk apa, Pak?"


"Melamar kamu secara resmi di hadapan keluargamu," jelas Dirga.


"Maaf, Pak. Saya belum bisa!" tolak Zulfa.


"Kenapa? Apa kamu masih belum percaya, kalau aku benar-benar tulus mencintai kamu dan menerima kamu apa adanya?"


"Bu-bukan begitu, Pak. Saya belum siap bertemu dengan kakak saya."


"Kamu ada masalah apa? Kenapa kamu seperti menghindar dari keluargamu?" cecar Dirga.


Zulfa hanya diam membisu, bingung harus menjelaskan seperti apa. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah tak ingin bertemu siapapun, dengan kondisi yang memilukan.

__ADS_1


Dirga menatap lekat wajah Zulfa, dia tahu apa yang sedang dirasakan Zulfa. Rela menjauh dari keluarganya, agar tak terjadi masalah yang bisa menjatuhkan harga diri keluarga. Meskipun, itu bukan sepenuhnya kesalahan yang dia lakukan.


"Enggak, Pak. Saya nggak menghindar, tapi saya cuma nggak mau buat kakak sedih setelah melihat keadaan saya," sanggah Zulfa.


"Lalu kapan kamu siap?" tanya Dirga, tapi hanya dijawab gelengan kepala oleh Zulfa.


"Kalau begitu biar saya sendiri yang bertemu kakakmu," usul Dirga.


"Jangan, Pak!" tolak Zulfa.


"Kasih saya waktu untuk berfikir, paling tidak sampai besok," pinta Zulfa.


"Baiklah, besok siang kamu harus sudah memberi jawaban!"


"Iya, Pak."


......................


Pukul lima sore, Zulfa baru saja selesai membuat rawon untuk Iwan. Dia sengaja membuat rawon karena itu salah satu makanan favorit Iwan. Zulfa bergegas mandi karena sejak pulang dari kantor dia belum membersihkan diri, bahkan memasak pun masih mengenakan pakaian kerjanya.


Tok tok tok


"Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumsalam, sebentar!" sahut Zulfa kemudian membuka pintu.


"Mbak Anis!" seru Zulfa ketika pintu sudah terbuka.


"Mentang-mentang ada yang lain, yang lama dilupain," protes Iwan yang sejak tadi diabaikan Zulfa.


"Eh, ada Mas Iwan juga. Maaf, Mas. Aku nggak tahu kalau Mas Iwan udah di sini," ucap Zulfa setelah melepas pelukannya.


"sudahlah, anggap saja aku ini angin," ucap Iwan dengan raut wajah yang dibuat menyedihkan.


"Masuk dulu, yuk! Biar lebih enak ngobrolnya," ajak Zulfa lalu masuk rumah.


Zulfa mengajak Iwan dan Anis duduk di ruang tamu.


"Maaf ya, Mbak. Rumahnya agak berantakan."


"Enggak apa-apa, Fa."


"Aku tinggal sebentar! Soalnya tadi belum sempat mandi," pamit Zulfa lalu bergegas mengambil baju ganti di kamar.


Kemudian Zulfa langsung menuju kamar mandi, selesai mandi Zulfa segera membuatkan minuman untuk Iwan dan Anis.


"Silakan diminum, Mas, Mbak!" ucap Zulfa setelah meletakkan cangkir yang berisi teh.


"Mas!" panggil Zulfa.

__ADS_1


"Ya," jawab Iwan.


"A-aku mau ketemu kakak, kira-kira kakak masih marah atau enggak, ya?"


Iwan dan Anis saling tatap, mereka berpikir apakah Zulfa mau mengungkapkan kondisinya.


"Kenapa tanya begitu?"


"Aku cuma khawatir kalau kakak nggak mau ketemu lagi."


"Dia pasti juga kangen kamu, Fa. Mau semarah apapun kakakmu, dia masih menyayangi kamu karena kamu harta satu-satunya yang dia punya," tutur Iwan.


"Apa yang dikatakan Mas Iwan benar, Fa. Kalaupun kakakmu masih belum mau bertemu dengan kamu, masih ada kami yang selalu ada untuk kamu. Kamu nggak perlu khawatir, kamu bisa minta ditemenin Mas Iwan kalau kamu mau ketemu kakakmu," imbuh Anis.


"Iya, Mbak."


......................


Keesokan harinya, Zulfa sudah berkutat di depan layar komputernya. Dia sampai tak sadar jika hidungnya mengeluarkan darah.


Lama-lama kepalanya mulai terasa sakit, ini terjadi karena Zulfa sudah tak mengonsumsi obat yang harusnya dia konsumsi setiap hari.


Zulfa mencoba beranjak dari duduknya, dia ingin ke toilet agar tak ada yang tahu dia sedang menahan sakit. Namun, baru beberapa langkah dia mendengar seseorang memanggil namanya, hingga semua berubah gelap dan dia pun tak sadarkan diri.


***


Di sebuah rumah sakit, Zulfa mulai mengerjapkan mata menyesuaikan cahaya yang masuk retina matanya.


"Kamu sudah sadar?" ucap Dirga.


"Saya di mana?" lirih Zulfa.


"Kamu di rumah sakit, tadi kamu pingsan di kantor."


Zulfa pun kembali mengingat, dia tadinya ingin ke toilet, tapi ada seseorang yang memanggilnya setelah itu dia pingsan.


"Kita berobat ke luar negeri, ya!" tawar Dirga.


"Enggak, Pak. Biarkan semuanya seperti ini, Bapak nggak perlu membuang waktu dan uang hanya untuk membawa saya berobat.


Saya sudah ikhlas menjalani semua ini, apapun hasil kedepannya saya sudah siap lahir batin," ujar Zulfa dengan tatapan kosongnya.


"Kalau begitu, ijinkan aku untuk menikahi kamu. Karena hanya dengan cara ini aku bisa selalu menjaga dan mengawasi kamu setiap saat."


"Apa Bapak yakin? Apa Bapak tidak akan menyesal suatu saat nanti?"


"Ini sudah keputusanku, apapun konsekuensinya aku sudah ikhlas menerima," ucap Dirga lalu menggenggam lembut tangan Zulfa.


"Percayalah, Fa! Aku akan selalu ada disaat kamu membutuhkan, aku akan selalu mendampingi kamu saat susah maupun senang."

__ADS_1


"Terima kasih, Pak. Terima kasih untuk ketulusan dan perhatian Bapak selama ini. Maaf jika nantinya saya hanya akan merepotkan Bapak."


__ADS_2