Impian Gadis Yang Malang

Impian Gadis Yang Malang
Bab 32


__ADS_3

Masih dengan isak tangisnya, Zulfa keluar dari kamar dengan membawa tas yang berisi pakaian. Saat melewati ruang tamu, dia melihat kakaknya menangis dipelukan kakak iparnya.


"Aku pergi, Kak! Maaf kalau selama ini aku jadi beban buat Kakak, selalu merepotkan Kakak," ucap Zulfa lalu melangkahkan kakinya keluar dari rumah.


Awalnya dia ingin memberitahukan kabar bahagia pada kakaknya, tapi karena kedatangan Bryan yang tiba-tiba, membuat masalah baru hadir di hidupnya.


Zulfa berjalan tak tentu arah yang dituju, ke mana dia harus mencari tempat tinggal. Dia hanya bisa pasrah dan mengikuti ke mana kakinya melangkah. Saat tiba di jalan raya, Zulfa melihat sekitarnya untuk mencari sebuah kontrakan atau kost.


"Sekarang aku harus ke mana? Apa aku harus ke Kota P lagi? Tapi aku sudah terlanjur diterima kerja di perusahaan," gumam Zulfa.


Dia kembali melanjutkan langkahnya untuk memcari tempat tinggal terlebih dahulu. Dan setiap pergerakannya tak luput dari pantuan Marco. Ya, Marco masih setia memata-matai Zulfa sampai waktu yang belum ditentukan.


Marco langsung mengirimkan informasi pada atasannya, yang tak lain adalah Dirga.


Sementara Dirga yang mendapatkan kabar dari Marco langsung bergerak cepat, dia bahkan harus meredam emosinya, saat tahu jika gadis pujaannya pergi dari rumah karena masalah yang ditumbulkan oleh pria yang pernah dekat dengan Zulfa.


"Dim, kamu cari rumah yang sederhana kalau bisa yang dekat sekitar sini!" titah Dirga.


"Untuk siapa, Tuan?" tanya Dimas bingung karena tiba-tiba Dirga memintanya mencari sebuah rumah.


Dirga langsung menceritakan informasi yang didapat dari Marco tadi, membuat Dimas langsung mengangguk paham.


"Baik, Tuan. Akan saya carikan hari ini juga," ucap Dimas.


"Jangan, pernah bilang kalau ini perintahku!"


"Baik, Tuan. Semua pasti aman," ucap Dimas.


Dimas pun pamit untuk mencarikan sebuah rumah untuk Zulfa, Dimas juga mencari informasi lewat internet tentang rumah yang ada di sekitar perusahaan.


Dan sepertinya, keberuntungan memang sedang berpihak padanya. Ada sebuah rumah sederhana yang dikontrakan, Dimas langsung menghubungi pemiliknya langsung karena kebetulan ada kontak yang bisa dihubungi.

__ADS_1


Usai berbicara panjang lebar pada pemiliknya, Dimas segera mendatangi lokasi rumah itu yang letaknya berjarak 500 meter dari perusahaan, tapi ada di dalam sebuah gang.


Tak lupa Dimas menghubungi Dirga untuk mengatakan hal ini. Dirga pun setuju lalu meminta Dimas untuk membayar sewa kontraknya selama 3 tahun kedepan.


Selesai dengan masalah tempat tinggal, kini saatnya Dimas mencari keberadaan Zulfa. Tak sulit baginya untuk mencari keberadaan Zulfa sebab Marco sudah mengirimkan posisi keberadaan Zulfa.


Di depan sana, Zulfa tengah berjalan gontai karena memang hari masih siang. Ditambah cuaca yang cukup terik membuat Zulfa semakin kelelahan.


Tin tin


Dimas membunyikan klaksonnya, membuat Zulfa langsung menoleh dan bingung saat sebuah mobil berhenti di sampingnya.


Dimas membuka kaca mobil agar bisa berbicara dengan Zulfa.


"Kamu mau ke mana siang-siang begini?" tanya Dimas pura-pura tak tahu.


"Eh, Pak Dimas! Saya mau cari kontrakan di sekitar sini, Pak," ucap Zulfa.


"Ayo, masuk! Kamu pasti capek jalan kaki siang-siang begini," ajak Dimas.


"Enggak apa-apa, masuk aja!"


Akhirnya, Zulfa masuk mobil Dimas. Karena memang kakinya sudah lelah berjalan jauh. Dimas pun melajukan mobilnya kembali.


"Kamu nggak punya keluarga di sini?" tanya Dimas memulai obrolan.


"Ada, Pak," jawab Zulfa.


"Lalu, kenapa kamu cari kontrakan? Jalan kaki sendirian di siang hari."


"Enggak apa-apa, Pak. Saya memang mau mandiri karena nggak ingin terlalu merepotkan keluarga," ucap Zulfa menutupi apa yang sebenarnya.

__ADS_1


Namun, Dimas tahu jika bukan itu alasan Zulfa mencari kontrakan. Dia sadar diri dengan privasi seseorang yang tak harus diumbar pada siapapun.


"Kalau kamu mau, saya ada teman yang mau ngontrakin rumahnya yang udah lama ditinggal. Karena dia harus pindah ke luar pulau ikut suaminya," ujar Dimas.


"Biaya sebulannya berapa, Pak?" tanya Zulfa.


"Kalau itu dia nggak terlalu menargetkan harga, yang penting ada yang ngurus rumahnya dengan baik biar nggak terbengkalai."


"Apa kamu mau? Hari ini juga aku antar ke sana," lanjut Dimas.


"Boleh, Pak. Terima kasih sudah membantu saya," ucap Zulfa dengan tulus.


"Sama-sama," balas Dimas.


Semua berjalan lancar sesuai rencana, tanpa memberitahu yang sebenarnya, Zulfa mau menerima saran darinya yang merupakan perintah dari atasannya.


-


-


-


Sementara itu di rumah, Zahra masih duduk termenung di kamarnya. Pandangannya kosong, apalagi saat melihat adik satu-satunya pergi meninggalkan rumah.


Ingin rasanya dia melarang adiknya pergi, tapi mulutnya seakan kelu untuk mengucap kata. Amir sendiri hanya bisa menasihati istrinya tanpa bisa menghalangi kepergian Zulfa.


"Dek!" panggil Amir sambil duduk di sebelah istrinya.


"Iya, Mas," jawab Zahra dengan suara pelan.


"Enggak seharusnya kamu marah ke Zulfa, kamu pastinya sudah mengenal pribadi dia luar dan dalam. Apa kamu nggak kasihan kalau Zulfa pergi dari rumah, dia mau tinggal di mana?

__ADS_1


Dia sudah nggak punya siapapun, kecuali kita. Bagaimana kehidupan dia nantinya?" tutur Amir berusaha membuat istrinya sadar akan sikapnya yang sudah keterlaluan.


Zahra mulai terisak karena teringat sikapnya yang tak mempercayai penjelasan adiknya, hingga membuat Zulfa meninggalkan rumah.


__ADS_2