
Zulfa mengikuti langkah Iwan memasuki rumah, saat sudah di dalam Zulfa melihat sekeliling ruangan.
"Mas Iwan sendirian di sini?" tanya Zulfa.
"Iya, Fa. Tapi kalau kamu mau temenin aku juga boleh."
"Enak aja, kita bukan muhrim, Mas. Yang ada malah kena gerebek warga."
"Kalau udah kena gerebek ya nggak apa-apa, biar langsung dinikahin," goda Iwan.
"Mas Iwan kayaknya seneng banget nikah karena penggerebekan."
"Seneng aja kalau ceweknya kamu."
"Emang aku cewek apaan? Masa nikahnya karena digerebek, kan nggak lucu. Yang ada malah bikin heboh satu kampus.
Bakal jadi berita utama, seorang dosen Universitas P digerebek warga karena membawa mahasiswinya ke rumah untuk menginap."
"Hahahaha, kamu ada-ada aja. Bisa hancur reputasiku sebagai seorang dosen tampan di Universitas P."
"PD banget sih, sampai-sampai muji diri sendiri. Emang nggak pernah dapat pujian dari orang?"
"Memuji diri sendiri juga penting, Fa. Biar hati jadi senang walau tak punya uang."
"Kenapa malah jadi lirik lagu, sih?"
Saking asyiknya ngobrol, mereka tak menyadari jika ada dua pasang mata yang mengawasi sejak tadi.
"Kaki kalian nggak pegel ya, berdiri terus kayak gitu?" ucap Zahra. Sontak membuat Iwan dan Zulfa langsung menoleh ke sumber suara.
"Kakak!" lirih Zulfa.
__ADS_1
"Kalian lagi ngobrol apa sih? Kayaknya seru banget sampai nggak duduk dari tadi."
"Hehe, enggak ngobrol apa-apa kok. Cuma ngobrol biasa, iya kan, Mas?" elak Zulfa sambil melirik Iwan.
"Iya, Ra. Bener apa kata Zulfa, kita cuma ngobrol biasa."
"Aku kira kalian lanjutin ngobrol yang tadi, yang katanya kalian mau nikah."
"Enggaklah, Kakak ngaco. Aku masih pengen fokus kuliah dulu terus cari kerjaan yang sesuai biar bisa bahagiain Kakak. Aku nggak pengen buru-buru nikah, aku mau nikmatin masa mudaku," tutur Zulfa.
Zahra yang semula hanya bercanda karena ingin menggoda adiknya, justru langsung meneteskan air mata saat mendengar ketulusan adiknya.
"Kakak kenapa? Aku salah ngomong ya? Aku janji nggak akan buru-buru nikah, aku mau nyenengin Kakak sebagai rasa terima kasihku karena selama ini Kakak sudah menjadi orang tua dan Kakak yang baik."
"Enggak, Dek. Kamu nggak salah, maaf kalau Kakak terlalu mengekang dan membatasi kehidupan kamu. Kakak cuma belum rela kamu pergi dari Kakak, Kakak masih ingin kamu menjadi adik kecil Kakak."
"Iya, Kak. Aku akan tetap jadi adik kecil Kakak. Kakak nggak usah khawatir, kita akan habiskan waktu kita bersama-sama."
Tapi dia sudah bertekad, apapun yang akan terjadi kedepannya, dia akan tetap hidup mandiri meskipun dia belum menikah.
-
-
-
-
"Co, ada kabar apa tentang gadis itu?" tanya Dirga disela-sela pekerjaannya.
"Sampai saat ini masih kabar baik, Bos. Bahkan sangat baik dan menurut saya, gadis itu sangat bahagia."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Tadi siang saat saya mengikuti dia dan kakaknya makan siang di dekat alun-alun, saya mendengar jika gadis itu akan menikah dengan sepupu dari kakak iparnya. Yang tak lain, laki-laki yang pernah mengantar gadis itu ke kampus."
"Apa kamu yakin? Jangan sampai kamu salah dengar yang nantinya akan membuat nyawa kamu melayang di tangan saya!"
"Benar, Bos. Saya tidak mungkin salah dengar, bahkan interaksi antara gadis itu dengan sepupu kakak iparnya sangat dekat. Siapapun pasti mengira jika mereka adalah sepasang kekasih.
Dan satu lagi, Bos. Gadis itu sekarang menginap di rumah sepupu kakak iparnya itu bersama kakaknya juga."
"Cari cara supaya mereka tak jadi menikah!" pinta Dirga pada Marco.
"Maksud Bos, saya harus menggagalkan pernikahan mereka, begitu?"
"Iya, Zulfa hanya milikku tak akan aku biarkan lelaki manapun mendekatinya."
"Maaf, Tuan. Apa Anda sudah yakin jika gadis itu mau dengan Anda?
Maksud saya, tidak mungkin gadis itu mau menerima Anda, secara dia belum pernah bertemu dan kenal dengan Anda," sela Dimas.
"Haah, lalu saya harus bagaimana?"
"Sebaiknya kita tunggu perkembangan selanjutnya, apalagi gadis itu kan masih kuliah. Besar kemungkinan dia hanya baru berencana saja dan belum tentu segera menikah," usul Dimas.
"Saya setuju dengan usul Dimas, Bos. Masih ada waktu 2 tahun lagi untuk melihat perkembangan hubungan mereka.
Dengan begitu, Anda bisa menyiapkan rencana agar gadis itu bisa terikat dengan Anda. Misalnya, menjadikan dia sekretaris Anda."
"Benar juga apa katamu. Baiklah, kamu lakukan tugasmu dengan baik sampai waktu itu tiba!" tukas Dirga.
"Baik, Bos. Saya permisi dulu."
__ADS_1
Marco langsung beranjak meninggalkan ruangan Dirga. Sementara Dirga menghela napas panjang sambil menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya.