
Karena kondisi Zulfa yang masih lemah, mau tak mau Dirga melakukan akad nikah di rumah sakit. Dimas dan Iwan yang akan menjadi saksi pernikahan keduanya, sedangkan Anis berdiri disamping brankar Zulfa sembari menggenggam tangannya.
"Bisa kita mulai acaranya?" tanya penghulu pada Dirga.
"Bisa, Pak."
Penghulu menjabat tangan Dirga untuk melakukan akad nikah.
"Bismillahirrahmanirrahim, saya nikahkan dan kawinkan engkau, Dirga Zein Fernandez bin Riko Fernandez dengan Zulfa Nabila binti Sudarto, dengan mas kawin perhiasan seberat 25 gram dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya Zulfa Nabila binti Sudarto, dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Dirga dengan sekali tarikan napas.
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"Sah!"
"Sah!"
Hari ini, di tempat ini Zulfa sudah menyandang status baru, yakni seorang istri dari Dirga. Pria yang merupakan atasannya itu, telah resmi menikahinya. Air mata pun tak kuasa dibendung, Zulfa sangat terharu dengan apa yang dia saksikan hari ini. Di mana, seorang Dirga yang rela dan tulus mempersunting Zulfa, gadis yang sudah 3 tahun terakhir bertahta di hatinya.
"Selamat, Fa. Sekarang kamu sudah punya suami yang akan selalu menjaga kamu setiap saat. Aku mohon, setelah ini bangkitlah untuk sembuh!
Banyak orang yang menyayangi kamu, ingin melihat kamu sehat seperti sedia kala. Karena kamu yang menjadi tujuan kebahagiaan," tutur Anis.
"Terima kasih, Mbak. Terima kasih sudah mau menjadi orang yang selalu ada saat aku butuh, dan maaf aku belum bisa balas kebaikan Mbak Anis."
"Dengan melihat kamu sembuh, itu sudah cukup untukku, Fa. Bagiku kamu adalah adik yang paling baik, walaupun kita tak memiliki ikatan darah, tapi kasih sayangku tulus untuk kamu."
Anis lantas memeluk tubuh ringkih Zulfa, penyakit yang diderita membuat berat badan Zulfa semakin menurun. Sementara Dirga dan yang lainnya hanya menyaksikan keduanya, dua orang yang saling menyayangi meski bukan saudara.
Iwan melangkah mendekati Zulfa, dia mengelus kepala Zulfa penuh kasih sayang.
"Kita pulang dulu, Fa. Cepat sembuh, semua orang pasti sedang menunggu kamu untuk bisa berkumpul bersama," ucap Iwan.
"Iya, Mas. Terima kasih, selama ini Mas Iwan sudah banyak membantu aku. Selalu ada dan support aku sampai saat ini."
"Itu sudah janjiku, kalau aku akan selalu ada saat kamu butuh."
Usai mengucapkan itu, Iwan dan Anis langsung berpamitan pulang. Kemudian disusul Dimas setelahnya, dia tahu jika bosnya perlu waktu berdua dengan istrinya.
__ADS_1
Kini di ruangan itu tinggallah Dirga dan Zulfa yang sama-sama terdiam, keduanya merasa canggung apalagi setelah kata sah terucap.
"Kamu istirahat lagi! Biar aku jaga kamu di sini," ucap Dirga.
"I-iya, Pak."
"Aku bukan lagi atasan kamu, sekarang status kita sudah suami istri. Jadi, rubah panggilan untukku, terserah kamu mau panggil apa yang pasti jangan memanggilku seperti pada atasan."
"Ba-baik, Mas."
Nyess
Hati Dirga serasa disiram air es, ketika mendengar panggilan itu keluar dari mulut wanita yang kini menjadi istrinya.
"Begitu lebih baik," ucap Dirga lalu melabuhkan kecupan di kening Zulfa.
Zulfa memejamkan matanya saat bibir Dirga berlabuh di keningnya. Rasa hangat menjalar di hatinya, semua terasa seperti mimpi. Karena tak sekalipun Zulfa berpikir bisa menikah dengan atasannya. Entah, sebuah keberuntungan atau memang sudah takdir yang harus dia jalani. Zulfa sangat bersyukur karena Tuhan telah mempertemukannya dengan banyak orang baik.
......................
Setelah seminggu dirawat di rumah sakit, hari ini Zulfa sudah diperbolehkan pulang. Dengan pesan tak boleh kelelahan dan obat yang sudah diresepkan harus diminum secara rutin.
Dirga membantu mengemas semua keperluan Zulfa, mulai dari pakaian hingga peralatan mandi. Dia memang sengaja tak ke kantor karena ingin menjemput Zulfa, meskipun sebelumnya Iwan dan Anis sudah menawarkan diri untuk menjemput Zulfa, tapi Dirga menolaknya.
Dirga langsung menggendong Zulfa, membuat Zulfa tersentak karena kaget.
"Mas, turunin! Aku jalan sendiri aja," pinta Zulfa.
"Kamu itu baru sembuh, ingat kata dokter kamu nggak boleh kelelahan."
"Cuma jalan sampai depan, nggak akan capek kok."
"Sudah, nurut apa kata suami," pungkas Dirga, membuat Zulfa menghela napasnya.
Sesampainya di pelataran rumah sakit, Dimas membuka pintu mobil agar Dirga bisa membantu Zulfa duduk dengan nyaman.
Setelah Dirga dan Zulfa masuk mobil, Dimas menutup pintunya. Dia lalu segera duduk dibalik kemudi. Mobil pun mulai melaju meninggalkan area rumah sakit.
Di dalam mobil, Dirga terus menggenggam tangan Zulfa. Sementara Zulfa melihat ke arah luar jendela, melihat pemandangan sekitar jalan yang dilewati.
__ADS_1
Hingga beberapa saat dia tersadar jika mobilnya tak melaju ke arah kontrakan. Zulfa yang bingung langsung bertanya pada Dirga.
"Mas, kok kita lewat sini? Ini kan bukan jalan menuju kontrakan."
"Aku tahu, mulai hari ini kamu akan tinggal di rumahku yang berarti sekarang jadi rumahmu juga," jelas Dirga.
"Tapi, barang-barangku masih di kontrakan."
"Kamu tenang saja, semua sudah dibereskan Dimas."
Mendengar ucapan Dirga, Zulfa langsung mengalihkan pandangannya. Bukan karena marah, melainkan Zulfa merasa malu saat membayangkan Dimas yang mengemas barang miliknya. Yang berarti termasuk sampai pakaiannya.
"Kamu kenapa? Ada yang sakit lagi?" tanya Dirga saat melihat wajah Zulfa yang memerah.
"Enggak, Mas. Mungkin efek karena seminggu ini cuma terbaring di rumah sakit," sanggah Zulfa.
"Syukurlah, kalau kamu baik-baik aja. Kalau ada yang sakit jangan diam saja, bilang aku biar aku merasa berguna jadi suami."
"Iya, Mas."
Suasana kembali hening, hingga mobil yang dikendarai Dimas sudah tiba di sebuah rumah mewah. Zulfa memandang takjub rumah itu, untuk pertama kalinya dia menginjakkan kaki di rumah mewah seperti itu.
Dimas memarkirkan mobilnya di depan teras rumah, kemudian turun keluar dari mobil untuk membukakan pintu. Dirga dan Zulfa segera keluar dari mobil, setelah keduanya keluar Dimas menutup pintunya, lalu mengambil tas yang berisi perlengkapan Zulfa di bagasi.
"Ayo, masuk! Kamu masih perlu istirahat yang cukup untuk pemulihan."
Dirga merangkul bahu Zulfa lalu mengajaknya masuk ke rumah. Setibanya di dalam, Zulfa semakin dibuat takjub dengan isi rumah. Namun, Zulfa masih bertanya-tanya, mungkinkah rumah sebesar ini hanya ditinggali Dirga saja. Lalu, di mana anggota keluarga yang lain?
Dirga mengantar Zulfa ke kamarnya yang ada di lantai dua. Dengan pelan dan sabar Dirga membantu Zulfa menaiki anak tangga. Dan sampailah keduanya di depan pintu kamar, Dirga lantas membuka pintu kamarnya.
Zulfa perlahan mengikuti langkah kaki Dirga yang memasuki kamar, kamar berukuran besar dengan nuansa khas seorang pria. Cat yang berwarna abu-abu terang menambah kesan jika pemiliknya memanglah seorang pria.
"Sekarang kamu istirahat! Biar aku siapin makan siang buat kamu," ucap Dirga lalu menuntun Zulfa dan membantunya untuk merebahkan diri di ranjang.
"Mas Dirga tinggal sendiri?"
"Enggak, kan ada kamu," goda Dirga dengan tersenyum.
"Bukan itu, maksud aku sebelumnya apa Mas Dirga cuma sendiri?"
__ADS_1
"Enggak juga, sih. Kadang Dimas juga sering menginap di sini kalau lagi ada kerjaan yang harus diselesaikan."
"Sudah, sekarang istirahat! Aku tinggal ke dapur dulu," sambung Dirga lalu keluar dari kamarnya.