
Tok tok tok
"Dek, Kakak boleh masuk nggak?" ucap Zahra dibalik pintu.
"Masuk aja, Kak! Pintunya nggak dikunci," sahut Zulfa.
Zahra pun membuka pintu kamar, terlihat Zulfa tengah membaca buku. Dia lekas menghampiri adiknya itu.
"Lagi sibuk, ya?"
"Enggak, Kak. Ada apa?"
"Ini ada undangan buat kamu," ucap Zahra seraya menyerahkan sebuah undangan pernikahan.
"Undangan dari siapa, Kak?"
"Kamu baca saja sendiri, biar tahu! Kalau gitu Kakak balik ke kamar, ya!"
"Iya, Kak. Makasih."
Zulfa membuka undangan tersebut, dan dirinya dibuat terkejut kala nama Bryan dan Rosa yang tertera di sana.
Seketika ingatan Zulfa kembali pada waktu setahun yang lalu, saat dia baru pulang dari kampus mendapat telepon dari Bryan.
#flashback on
"Assalamualaikum! Ada apa, Bry?"
"Waalaikumsalam! Fa!" panggil Bryan.
"Iya, ada apa?"
"Seandainya nanti ada sesuatu yang terjadi, aku mohon kamu tetap percaya denganku."
"Maksud kamu apa?" tanya Zulfa bingung.
"Kamu tahu kan kalau aku beneran tulus cinta dan sayang ke kamu? Jadi, aku minta percayalah kalau aku nggak pernah berniat untuk mengkhianati kamu!
Fa, kamu mau kan janji ke aku untuk selalu percaya aku?"
"Maaf, Bry. Kalau untuk berjanji aku nggak bisa karena aku takut kalau nggak bisa menepatinya.
Mungkin aku akan berusaha untuk tetap percaya kamu, apapun yang terjadi."
"Makasih, Fa."
#flashback off
"Jadi, ini yang kamu maksud waktu itu, Bry. Apa mungkin aku masih bisa percaya kamu? Secara bukti sudah ada di depan mata, kalau kamu akan bersanding dengan wanita lain, yaitu wanita yang paling mencintai kamu dari dulu.
Mungkin, memang kita nggak berjodoh. Aku akan mencoba buat lupakan semua tentang kita. Karena aku juga tak mau dicap sebagai perusak rumah tangga orang," gumam Zulfa.
__ADS_1
Hatinya seakan hancur berkeping-keping, dulu Bryan yang datang mengemis cinta padanya, tapi dia juga yang menyakiti perasaannya.
Sudah jatuh, tertimpa tangga. Itulah, peribahasa yang tepat untuk Zulfa saat ini. Ditengah kegundahannya karena penyakit yang dia derita, kini dia dihadapkan dengan masalah lain.
Sudah saatnya Zulfa untuk kembali bangkit, dia tak ingin terus larut dalam kesedihan. Dia pasrah akan takdirnya saat ini, ditinggalkan kekasih yang bersanding di pelaminan dengan wanita lain. Juga penyakit yang semakin hari kian menggerogoti tubuhnya.
"Aku harus bangkit demi masa depan yang lebih baik!" ucap Zulfa dengan tekad yang kuat.
***
Dua bulan berlalu, pagi ini Zulfa berencana akan mencari pekerjaan ke kota. Dia sudah menyiapkan berkas yang diperlukan untuk melamar kerja.
"Kak, aku keluar dulu, ya!" pamit Zulfa.
"Mau ke mana, Dek?"
"Aku mau cari kerjaan, Kak. Doain aku, semoga dapat pekerjaan yang baik!"
"Iya, Dek. Doa Kakak pasti selalu menyertai kamu," ucap Zahra sambil membelai lembut kepala Zulfa.
"Kalau gitu, aku berangkat dulu, Kak! Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam, hati-hati!"
Dengan bermodalkan ojek online, Zulfa mencari setiap perkantoran atau tempat yang memang sedang membuka lowongan pekerjaan.
Namun, sampai siang dia belum juga menemukan pekerjaan. Diapun memutuskan untuk istirahat di sebuah cafe, dia memesan lemon tea untuk menghilangkan dahaganya.
Saat akan duduk, tiba-tiba ada seseorang yang tak sengaja menyenggolnya. Dan minuman yang dipegang oleh Zulfa mengenai bajunya.
"Iya, Mas. Enggak apa-apa, lain kali hati-hati!" balas Zulfa sambil mengelap bajunya yang terkena tumpahan minuman dengan tisu.
"Sebagai permintaan maaf, bagaimana kalau saya traktir Mbak makan dan minum di sini?"
"Enggak usah, Mas," tolak Zulfa.
"Sekali ini saja, Mbak! Daripada saya terus merasa bersalah."
Zulfa berpikir sejenak sebelum mengiyakan permintaan orang tersebut.
"Baiklah, kalau nggak ngerepotin."
"Sama sekali nggak merepotkan, Mbak. Mbak tunggu dulu! Biar saya pesan makan dan minumnya."
Orang itu berlalu menghampiri pelayan cafe lalu memesan makan dan minum. Selesai memesan dia kembali menghampiri Zulfa.
"Oh, ya kita belum kenalan. Nama saya Dimas."
"Saya Zulfa."
"Ngomong-ngomong, kamu dari mana atau mau ke mana?" tanya Dimas.
__ADS_1
"Saya tadi habis cari lowongan pekerjaan, Mas. Sudah keliling, tapi belum nemu juga."
"Kalau boleh tahu, kamu lulusan apa?"
"Saya lulusan D3 administrasi perkantoran."
"Wah, kebetulan banget! Bos saya lagi cari sekretaris pribadi, mungkin kamu mau melamar. Siapa tahu diterima."
"Boleh, Mas!" ucap Zulfa dengan semangat.
"Baiklah, kamu ambil kartu nama saya. Kalau kamu sudah sampai perusahaan, kamu bisa tunjukkan kartu nama ini ke resepsionis," ujar Dimas memberikan kartu nama miliknya.
"Baik, Mas. Terima kasih karena sudah membantu saya."
"Sama-sama."
Tak berselang lama pesanan datang, mereka menikmati makanan dan minuman dengan diselingi sedikit obrolan.
-
-
-
"Bagaimana, Dim?" tanya Dirga.
"Misi berhasil, Tuan. Anda tinggal menunggu besok pagi."
"Bagus!"
Ya, sebenarnya pertemuan Zulfa dengan Dimas tadi adalah rencana dari Dirga. Sebab Dirga mendapat informasi dari Marco jika Zulfa sedang mencari pekerjaan.
Dan dia serasa mendapatkan jackpot, hingga muncullah ide tadi agar Zulfa tidak curiga.
Dia tak perlu repot menunggu informasi tentang kabar Zulfa karena dia akan bertemu setiap harinya. Dengan begitu, dia bisa lebih leluasa untuk membuat Zulfa menjadi miliknya.
****
Sementara itu di rumahnya, Zulfa bergegas mencari kakaknya.
"Kak!" panggil Zulfa.
"Iya, Dek."
"Aku tadi ketemu dengan orang baik yang mau bantu aku cari kerjaan. Beliau memberikan kartu namanya agar aku bisa bertemu langsung."
"Kok bisa?"
Zulfa pun menceritakan apa yang terjadi tadi siang. Zahra menyimak dengan seksama cerita adiknya itu.
"Alhamdulillah, kalau gitu! Ternyata, masih ada orang baik yang mau bantu kamu. Semoga saja kamu beneran diterima bekerja di sana!"
__ADS_1
"Aamiin."
Yuk, jangan lupa untuk tinggalkan like dan komen kalian ๐๐