Impian Gadis Yang Malang

Impian Gadis Yang Malang
Bab 34


__ADS_3

Sore ini cuaca berubah mendung, awan hitam terlihat bergumul di langit. Zahra yang sedang memasak untuk makan malam, bergegas menuju belakang rumah untuk mengangkat jemurannya.


Duarrr


Baru saja kakinya melangkah menuju pintu, suara petir menggelegar mengagetkannya hingga jemuran yang dia pegang terjatuh.


"Astaghfirullahaladzim!" ucap Zahra sambil mengelus dadanya yang berdebar.


Perasaannya mendadak jadi tidak enak, tiba-tiba dia teringat dengan adiknya yang pergi sejak kemarin.


"Dek, kamu di mana? Apa kamu baik-baik saja?" gumam Zahra.


Zahra memutuskan untuk mencari Zulfa, dia sangat merasa bersalah karena membiarkan adiknya pergi dari rumah. Dia memunguti jemuran yang terjatuh tadi, lalu meletakkannya di sebuah keranjang pakaian. Dia pun langsung keluar rumah untuk mencari Zulfa.


Namun, baru saja akan melangkah menuju halaman rumah, langkah kaki Zahra terhenti karena ucapan suaminya.


"Kamu mau ke mana, Dek? tanya Amir yang baru pulang dari bengkelnya.


"Aku mau cari Zulfa, Mas. Dia pasti bingung nggak punya tempat berteduh," jawab Zahra lalu melanjutkan langkahnya, tapi ditahan oleh Amir.


"Sebentar lagi mau hujan, sebaiknya tunggu sampai cuacanya kembali cerah."


"Tapi, Mas. Zulfa nggak punya keluarga selain aku, lalu dia tinggal di mana? Dia pasti kedinginan semalam, apalagi sekarang hari mau hujan."


"Iya, nanti kita cari sama-sama. Sekarang masuk, sebentar lagi sudah mau hujan," bujuk Amir.


Mau tak mau, Zahra pun menuruti ucapan suaminya, meskipun dalam hati dirinya merasa tak tenang karena memikirkan keadaan Zulfa.


***


Sementara itu, Zulfa yang baru saja pulang dari kantor langsung membersihkan diri lalu membuat makanan.


Cuaca mendung seperti ini mengingatkan dia pada kakaknya, ketika tengah turun hujan, kakaknya selalu membuatkan minuman hangat dan mie rebus kesukaannya.


"Kak, aku kangen! Maafin aku yang selalu nyusahin dan ngerepotin kakak," gumam Zulfa.


Tak terasa air matanya mengalir di pipi, dia sangat merindukan saat-saat berkumpul bersama kakaknya.


Drrtt drrtt


Ponsel yang ada di meja dapur bergetar, Zulfa langsung menghapus air matanya lalu menjawab panggilan tersebut.


"Halo, assalamualaikum!" sapa Zulfa.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam, Zulfa. Kamu apa kabar?"


"Alhamdulillah, aku baik. Maaf, ini siapa ya?" tanya Zulfa.


"Oh iya, aku Anis. Tetangga kamu dulu."


"Masya allah, Mbak Anis! Maafin aku ya, Mbak. Aku nggak tahu kalau ini Mbak Anis."


"Enggak apa-apa, Fa. Kamu sekarang kerja di mana?"


"Aku baru mulai kerja tadi pagi, Mbak. Jadi sekertaris CEO di perusahaan, Mbak Anis gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah, aku juga baik. Selamat, ya! Semoga kamu bisa jadi orang yang sukses, yang tadinya hanya seorang sekertaris berubah menjadi seorang bos," ucap Anis.


"Aamiin, semoga Mbak Anis juga jadi orang yang sukses."


"Aamiin."


"Mbak Anis tahu nomor aku dari siapa?"


"Hehe, kemarin nggak sengaja ketemu sama saudara kamu pas dia lagi belanja di minimarket tempat aku kerja."


"Saudara? Oh, Mas Iwan ya, Mbak?"


"Iya, Mbak. Dia namanya Mas Iwan, orangnya ramah dan baik."


"Gimana kondisi kamu sekarang? Masih sama atau sudah ada perubahan yang baik," tanya Anis.


"Ya begitulah, Mbak. Aku nggak yakin kalau bisa sembuh, aku cuma bisa pasrah dengan keadaanku sekarang. Apalagi, rambutku sudah mulai rontok dengan sendirinya."


"Sabar, Fa. Kamu harus semangat dan optimis untuk sembuh, kalau Tuhan sudah berkehendak, kamu pasti bisa sembuh dari penyakitmu saat ini."


"Semoga saja, Mbak. Aku nggak mau terlalu berharap sesuatu yang belum pasti."


"Obatnya masih kamu minum, kan?"


"Masih, Mbak. Entah sampai kapan aku harus bergantung pada obata-obatan. Jujur saja, aku sudah lelah dengan semua ini. Aku cuma jadi beban keluarga, nggak ada yang bisa diharapkan dari aku."


"Huss, nggak boleh ngomong gitu! Kamu anak baik, pasti akan ada sesuatu yang baik sedang menunggu kamu," ucap Anis.


-


-

__ADS_1


-


Satu bulan kemudian.


Pagi ini Zulfa sedang buru-buru karena bangun kesiangan, dia juga tak sempat untuk memasak sarapan. Alhasil, dia hanya minum susu saja.


Setelah itu dia langsung bergegas berangkat ke kantor, dan tanpa dia sadari obat yang harus dia konsumsi setiap hari tertinggal di kamarnya.


Sesampainya di kantor, Zulfa menuju ruangannya lalu menyalakan komputernya untuk menyelesaikan berkas yang akan digunakan pertemuan minggu depan.


Tak berselang lama, Dirga dan Dimas sudah tiba di kantor. Dirga yang tak sengaja memperhatikan Zulfa, langsung membuka suara.


"Apa kamu sakit, Fa?"


"Enggak, Pak. Saya baik-baik saja," jawab Zulfa dengan sopan.


"Lalu kenapa muka kamu pucat sekali?" tanya Dirga lagi.


"Oh, mungkin karena tadi saya bangun terlambat, lalu buru-buru takut telat masuk kantor."


"Kalau memang kamu lagi sakit, kamu bisa istirahat di rumah," saran Dirga.


"Insha allah, saya baik-baik saja, Pak," jawab Zulfa.


Dirga pun lantas masuk ke ruangannya, tapi di dalam ruangannya dia masih memantau Zulfa. Dia merasa jika Zulfa sedang tidak baik-baik saja.


Pukul 9 pagi, Zulfa teringat jika belum meminum obatnya. Dia lalu mencari obatnya di dalam tas miliknya, tapi yang dicari tak kunjung ketemu karena memang obatnya tertinggal.


"Ya Allah, obatku kok nggak ada! Perasaan selalu aku simpan di tas, tapi kok nggak ada," batin Zulfa.


Zulfa kembali mengingat di mana terakhir dia minum obatnya. Dia menepuk keningnya saat ingat jika obatnya ada di meja kamar, semalam dia lupa memasukkan ke tas karena tubuhnya yang lelah.


"Gimana ini? Semoga saja nggak kambuh, biar aku bisa fokus kerja," gumam Zulfa lalu kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat terhenti.


Tepat pukul setengah dua belas, Zulfa merasakan sakit di kepalanya, tapi sebisa mungkin dia tahan rasa sakitnya karena tak ingin mengganggu pekerjaannya.


"Fa, hidung kamu mimisan," ucap Dimas yang kebetulan melintasi tempat Zulfa.


Zulfa yang terkejut dengan ucapan Dimas langsung mengusap darah yang keluar dari hidungnya. Dia tak ingin ada orang yang tahu tentang penyakitnya, dia tak ingin kehilangan pekerjaannya karena penyakit yang dia derita.


"Kalau kamu sakit, sebaiknya kamu istirahat di rumah. Jangan dipaksa bekerja, takutnya nanti malah tambah parah," timpal Dimas.


"Enggak apa-apa, Pak. Nanti juga berhenti mimisannya."

__ADS_1


Tanpa menanggapi ucapan Zulfa, Dimas berlalu ke ruangan Dirga, meninggalkan Zulfa yang masih membersihkan darah dengan tisu.


__ADS_2